Penulis edisi 231

Iwan Simatupang (18 Januari 1928 – 4 Agustus 1970). Lokot Martua Dongan Simatupang lahir di Sibolga dari keluarga Katolik. Iwan, demikian ia menyebut dirinya, wafat di Jakarta sebagai, menurut istilahnya juga, gelandangan intelektual walaupun sedang ikut memimpin koran Warta Harian. Pernah menetap di Eropa Barat, Iwan juga menyerap eksistensialisme dan sebagaimana Sitor Situmorang, hal itu terbias pula dlam sajak-sajak, cerpen-cerpen, esei-esei, dan drama-drama karangan Iwan Simatupang. Dramanya, Petang di Taman (1966) serta Kemerdekaan dan Kaktus. Novelnya berturut-turut adalah Merahnya Merah (1968), Ziarah (1969), Kering (1972), dan Koong (1975), sedangkan kumpulan cerpennnya, Tegak Lurus Kaki Langit (1981) berisi cerpen-cerpen lama sesudah Iwan sendiri wafat. Ia juga terkenal humoristis. Di tahun 1978 Ziarah merebut Hadiah Sastra ASEAN.

Elfira Arisanti, penikmat seni, penulis, dan fotografer.

Sapardi Djoko Damono (lahir 1941) mulai muncul dengan sajak-sajaknya pada awal tahun 1960-an. Sebagian muncul di antaranya kemudian terbit dengan judul DukaMu Abadi (1969) tetapi lebih banyak lagi sajaknya yang masih bertebaran dalam berbagai majalah dan penerbitan. Ia mengajar di Fakultas Sastra Universitas Diponegoro di Semarang. Ia tidak pernah tinggal di Jakarta dan sajak-sajaknya tentang Jakarta agaknya ditulis ketika dia pada tahun 1964 berkunjung ke Jakarta. Di samping menulis sajak, Sapardi pun banyak menulis esai dan menterjemahkan sajak-sajak asing ke dalam Bahasa Indonesia.

Sang Agung Murbaningrad (lahir 1924) adalah salah satu nama samara yang dipergunakan oleh Suradal A. Manan, banyak menulis sajak dan cerita pendek terutama pada sekitar tahun 1950. Kemudian setelah tahun 1954 ia tiba-tiba lenyap dan mengasingkan diri. Baru sekitar tahun 1970 ia kembali lagi muncul dengan tulisan-tulisannya. Di samping menulis berbagai karangan ia pun menulis mengenai berbagai karangan mengenai masalah dan juga melukis.

________________________