sajak Fragmen


Harijadi S. Hartowardojo (1953) Djakarta Dalam Puisi Indonesia

Ada suara membenam ke dalam
tidak mau ‘nggelegak
seperti pusaran di laut dalam
lahir hanya riak mencumbu lunas
kapal yang lewat agak terlambat
Hanya hujan dan angin sering berputing seperti cerita kelas di ibukota
menyuruk ke gubuk di tengah ladang:
Tidak tahan kegaduhan dan kehidupan dan kegagalan
bersatu dalam diri anak dara di tengah remang
ia membujuk memninta cinta
serta lupa dari kelaluan sebentar
Di mana kelasi bisa bercinta sambil berlupa
peluh dingin sudah mengucur tubuhnya
anara mimpi kemalaman di sambar dewata
diri diayun antara tali temali

Sekali kami bertemu di ujung lengang
Ia memanggilku anara kelam dan gerimis melayah lebar
menayang dengan perahu motor lewat di Pasar Ikan
Menjelang Teluk Jakarta
Menyusuri layar
Menyusuri jala
Menyusuri nyanyi nelayan sayang kesepian

Apa yang ada antara ia, aku dan perahu ini?
Deru mesin hampir mati!
Pelayaran akan terhenti terkatung hingga di sini
Ibukota sesudah tenaga tenaga
mencipta kebenaran dari kelancungan merajarela

Aku? Aku hendak di bawa ke mana
dengan perahu motor dan mesin yang hampir mati
Nafas berlalu antara batuk-batuk tiada henti
tangis bayi menyesali kelupaan dan hidup yang tersambut

Seperti guruku
tidak mengerti beban membebani
Wajib mewajibi
Kemudian ia lari dari laut ke laut
Mimpi ke mimpi tak minta arti
Ia menyendiri, asing, dan sepi
***

pencerita

Leave A Comment