Djakarta, OK, OK Saja

Lenah Susianty

Djakarta. Ouupps, majalah baru (newish/kebaru-baruan) macam apa pula ini? Namanya tidak mencerminkan kebaruan ; D-j-a-k-a-r-t-a. Jakarta, ibukota Republik Indonesia, dalam bentuk majalah sengaja dieja dengan ejaan lama (orde lama, masa Soekarno). Entah maksudnya untuk menggoda Ibu Wakil Presiden Megawati (barangkali?) atau sekedar ungkapan kegenitan, seperti para remaja yang walau lahir sesudah EYD (Ejaan yang Disempurnakan) diberlakukan, tetap entah belajar darimana berani-beraninya menuliskan kesengsaraan ataupun kebahagiaan mereka dengan oe dalam akoe, soekaboemi, soerabaya, soesah, ataupun barang-barang lain yang sebenarnya memakan waktu lebih sedikit jika singkat saja dituliskan dengan huruf u, bukan oe. Mungkin niat untuk tampil beda, atau sekedar nostalgia terhadap masa lalu, atau supaya mudah diingat. Entahlah, lagipula apalah artinya nama.
selengkapnya