Sendiri

Farah Rachmat

Senja itu hujan rintik-rintik membasahi kotaku yang selalu semrawut. Aku masih berada dalam taksi.
Rasanya aku tidak sabar melihat lalu lintas padat
menghambat laju taksiku. Sesekali aku melihat
jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku.
Oh Tuhan, berilah kesabaran Brahim menunggu.
Kumohon. Andai saja aku tidak terlambat membeli
voucher isi ulang telepon selular, aku bisa mengabari
keterlambatanku. Akhirnya aku sampai juga di
Galery & Café Minami. Yap, terlambat 15 menit!
Segera kubayar taksi. Kulihat dari jauh, raut wajah putih,
dengan lesung pipit dan mata bundar tak sabar menunggu.
Kupercepat langkahku menuju pintu. Ia pasti tidak melihat
aku datang, karena ia masih termangu menatap
hujan di luar sana. Ah, Brahim.
Selengkapnya

sonkski ekalya

Leave A Comment