Sebuah Kota Dengan Seribu Pretensi


I. Wibowo
Saya sudah berulangkali naik kereta api bawah tanah di Singapura yang bersih dan mengkilat itu, tetapi baru hari itu saya sadar. Sadar tentang suara pengumuman supaya para calon penumpang berdiri di belakang garis kuning. Pasti bukan suara wanita Singapura. Maksud saya bukan suara wanita dengan aksen Singapura. Pasti seorang native speaker, entah Inggris, Australia, atau Amerika. Begitu bagus, dan begitu mengalun. Dalam hati saya bertanya mengapa harus native speaker? Di Hong Kong, yang juga punya tujuan serupa ; menginternasional, sama sekali tidak memakai suara native speaker. Jelas suara wanita Hong Kong dengan bahasa Inggris beraksen Hong Kong. Saya menduga ada perasaan malu pada pengelola kereta api di Singapura. Tapi malu karena apa? Kalau memang keadaannya memang begitu, mengapa harus malu?
selengkapnya

penulis edisi 18

TAGS :