Senja di Tanah Abang

M. Hussyn Umar (1953) Djakarta Dalam Puisi Indonesia

Lusuh kaki membawa daki
bukan jalan-jalan, bukan leha-leha, tapi lari
lari dokar, lari trem, lari beca
abang-abang buru-buru mencari rumah dan jalan-jalannya
ada yang menghindari kelam
atau ada yang datang menyongsong malam

Di gerbang kosong, di dengkul jembatan
aku cium bau orang, mayat terdampar yang enggan mati
aku liha kafilah bangkai-bangkai hidup
hanyut tergayut-gayut di aliran pergi penuh daki
yang penuh matahari lemah pudar bertolak ini
dari pusat satu hari kekalahan yang bertubi-tubi
pelan-pelan sekarang memadu lagi: suara kendang
tukang obat, tukang sate, tukang soto dengan lengking
dan baunya yang memakasa datang harapan-harapan yang enggan
dan malan inipun Sinah akan berdadan lagi
mengibar bendera yang aus bolong dalam pangkuan

Lusuh kaki masih menghadap daki
Matahari menjanjikan satu hari lagi
satu hari lagi
yang tidak buat mati, tidak buat mimpi
untuk cari
untuk lari, untuk…
***