Air Wangi Gunung Kapur

Yayak Kencrit
Diajak aku suatu hari, tahun 1987, oleh Syeh Cempe Lawuwarta, seorang seniman jalanan, bekas anak buah Bengkel Teater, untuk menengok gurunya yang juga lagi ketitipan seorang kawan yang tergegar jiwanya akibat tekanan selama aktivitas kerja sosial politiknya di Lombok. Aku turuti saja.Menuju Pacitan selewat Wonogiri, mulailah kami memasuki daerah perbukitan kapur. Lepas dari jalan aspal, mulai masuk jalan tanah atau batu. Bayangkan ketidaknyamanannya, karena pantat tak pernah nempel nyenyak di jok mobil. Tanganpun tak pernah lepas dari pegangan pengaman, bila tak mau kepala terbentur atap. Goyang sana, goyang sini. Hanya beberapa tempat hijau. Daerah yang berpenduduk ditandai dengan tanaman singkong dan jagung atau ladang-ladang kering. Meski tampak beberapa ternak, kebanyakan lebih sering menunjukkan sebentuk kehidupan yang berat. Selebihnya tanah coklat dan batu kapur. Di beberapa tempat agak terhibur melihat pohon-pohon jati mulai berbunga. Meski naik mobil, melelahkan benar perjalanan itu.
selengkapnyapenulis 20