Comandante Gusmao 2

Mohamad Susilo
Dili adalah kota dagang. Tak seperti desa kelahiran saya, Dili panas, berdebu, dan penuh dengan babi yang berkeliaran di sana sini. Ketika kali pertama tiba di kota ini, saya tiba di sebuah gubuk kayu kecil. Gubuk ini terletak di sebelah toko milik pedagang Cina. Keluarga Cina ini menjual minyak, kue yang terbuat dari nasi goreng, dan pakaian anak-anak. Kue dan pakaian ini dibuat oleh istri pedagang Cina. Dia gemuk dan suka mengenakan celana longgar yang terlihat kotor. Mungkin sabun terbaik dari minyak kopra Baucau tak bisa membersihkan celana biru gelap tersebut. Suami istri Cina ini mempunyai pelayan yang baik hati. Dialah yang mengijinkan kami membentangkan tikar sekedar untuk beristirahat. Dia juga memberi kami air yang diambil dari sumur di belakang rumah. Malam itu, bersama bapak, saya tidur di beranda berdebu, berbagi tikar, roti, dan sardin. Sebelum tidur, sambil bergumam, Bapak sempat mengatakan ; “Paling tidak, kita lebih berbudaya dibandingkan dengan orang-orang Cina.”
selengkapnya