Pangeran Jawa Atawa Jagger Melayu

Bramantyo Prijosusilo


Di Indonesia dahulu, menjelang akhir rejim yang dinamakan Orde Lama oleh musuhnya, musik dunia yang direproduksi lewat piringan hitam dan radio, menembus batin satu golongan pada satu generasi muda. Histeria massa muda itu terjadi sedunia, dan gelombang gairah muda yang merasa memperoleh panutan tersebut, dilawan Presiden Sukarno yang tua, dengan melarang musik ngak-ngik-ngok The Beatles, dan menjebloskan epigonnya, Koes Bersaudara, ke dalam penjara. Sejarah mencatat Presiden Sukarno jatuh, dan Beatles berjaya. Tetapi ada pengaruh band yang saat itu dianggap lebih liar, lebih ngak-ngik-ngok dan lebih brutal. The Rolling Stones. Kelompok The Rolling Stones dengan segala citra yang diasosiasikan orang padanya, hidup di alam batin sebagian pemuda Indonesia. Persona panggung seorang Mick Jagger, musisi yang saat itu terlalu bengal, dengan sex’n’drugs’n’rock’n’roll, seolah mengibarkan bendera filosofi hedonisme. Dan hedonisme itu mendapat persemaian subur di kalangan anak-anak remaja elit generasi pertama dari rejim yang menamakan dirinya Orde Baru.
selengkapnya

sonkski ekalya

Leave A Comment