Merindu Purnama


Suhendri Cahya Purnama

Dulu, suatu waktu, kau pernah berkata: “Lepaskan semua egomu, kau akan bertemu Tuhanmu. Ia hanya akan tersibak kala segala keberhalaanmu kau campakkan. Bahkan, untuk melafaskan namamu pun, kau tak kuasa. Manunggaling kawula gusti, dalam arti yang murni.”    

Dulu, suatu ketika, kau pernah berujar, “Hafalan ayat-ayat suci yang setiap masa menaburi waktumu, tak pernah berfaedah. Bila hafalan itu hanya sekadar pemanis di bibirmu, tapi tidak di hatimu, apalagi di lakumu. Sujud yang lakukan kepada Nya pun sia-sia. Jika dirimu tak pernah benar-benar bersujud untuk Nya, tapi untuk dirimu, kekasih hatimu, atau anak istrimu.”      

Dan dulu, kau pernah bertanya, “Siapa di hatimu kala kau tatap senja memerah menyemburatkan pesonanya? Siapa di hatimu saat benderangnya purnama mengitarimu dengan tarian indahnya? Dan siapa di hatimu ketika hari ini, saat ini, berjuta nikmat sedang kau rasakan?”   

Kini, di suatu masa, aku berucap, “Menyibak tirai yang menghijab antara pencipta dan hamba tak pernah mudah. Bagaikan mengurai warna-warni pelangi, bila tak bijak, keindahan pelangi akan sirna. Bahkan, kau dan aku bisa menyublim menjadi Tuhan bagi diri sendiri. Ia yang sebenarnya pun akan menguap. Tertebas kepongahan. Terjungkir oleh dialektika akal yang tak muhlis.”        

Kini, di suatu saat, aku berbisik, “Kurindukan purnama yang dulu terpatri pada wajahmu. Yang tak pernah jera menarikku dalam kesendirian dunia yang kuciptakan. Memberi warna merah merona ketika hanya hitam dan putih tertoreh dalam kitab hidupku. Tak lelah menaburiku dengan doa langit untuk kebebasan jiwa, kala aku masih terpekur dengan hitungan dosa dan pahala.”              

Dan kini, aku menjawab, “Cuma Ia Sang Maha Ada yang bertahta di hatiku. Kau dan mereka bukanlah siapa-siapa. Selalu kujaga agar tak jadi berhala bagi jiwaku. Tapi aku tak pernah mampu melepas kerinduan ini. Rasa yang kubutuhkan untuk menuntun penaku agar tetap tergores memuja Nya. Seperti purnama merindukan surga, begitulah wujud kerinduanku. Kerinduan untuk bersama menapaki negeri di balik purnama.”

Itu janjiku. Janjimu. Janji kita.

Ku tak pernah lupa.

Ku masih fasih.

***
Bandung, awal Juli 2011

pencerita

Leave A Comment