Parodi Surat Pembaca

Imron Supriyadi
Budi, salah seorang wartawan teman dekatku di Palembang, tiba-tiba uring-uringan. Dari wajahnya, sepertinya, kawanku itu benar-benar marah. Sekalipun gaya marah Budi memang tidak seperti marahnya seorang redaktur kepada Kepala Humas, yang lalai memberi amplop seusai jumpa pers. Marahnya Budi biasanya terlihat biasa-biasa saja, sama seperti marah-marah sebelumnya. Semula, aku tidak mau tahu dengan sikap Budi. Aku tahu persis cara marah Budi. Paling-paling beberapa menit. Sudah itu sudah. Menit ini kesal, maka beberapa menit kemudian sudah kembali normal. Seperti marahnya orang yang antri di depan WC hanya lantaran kebelet buang air besar. Marahnya hanya ketika menahan ledakan bom isi perut saja. Setelah dapat giliran, maka sekeluarnya dari WC pasti akan lebih ramah. Tapi aku merasa marahnya Budi terasa agak lain. Biasanya dia marah meledak-ledak, mencaci-maki, membanting pintu, menghantam meja, tapi matanya tetap lembut mengalirkan kesegaran hidup. Kali ini sorot matanya memerah dan amat tajam menusuk ke ulu hati orang-orang, dan dia juga lebih banyak diam daripada mencaci-maki.
selengkapnya

sonkski ekalya

Leave A Comment