Dokter Zhivago 22

Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)
Sekalipun sejak Desember arus penghidupan pulih seperti biasa, sekali-sekali masih ada tembakan, dan meskipun ada lagi rumah-rumah terbakar, seperti yang biasa terjadi, tapi kelihatannya sebagai sisa-sisa kebakaran dari Bulan Desember yang membakar habis sendiri. Anak-anak tak pernah selama itu naik kereta. Sebetulnya Hotel Montenegro hanya sejauh lemparan batu –cuma lewat Bulevar Smolensky, turut Jalan Sadovaya– tapi salju beku yang ganas serta kabut telah mengacaukan jarak-jarak dan memanggal-manggalnya, seolah sifat ruangan di dunia ini berbeda-beda. Asap rumbai yang meroyak dari api di tepi jalan*, derap langkah kaki serta gerat-gerit kereta salju yang lewat, semua itu membantu timbulnya kesan bahwa mereka sudah berjalan entah berapa lamanya, pun tengah menuju ke suatu tempat terpencil yang mengerikan. Di depan gerbang hotel ada kereta salju sempit yang indah; kuda-kudanya ditutup kain dan pada kakinya terikat bantalan-bantalan. Kusirnya meringkuk di tempat duduk penumpang hendak berhangat-hangat; kepalanya terbebat dan teruruk oleh tangan-tangannya yang besar lagi bersarung. Serambi depan hotel itu hangat; si pelayan duduk dengan ngantuk di situ, di belakang kamar pakaian ; terdengar oleh dengkur kipas angin, oleh bunyi kerosok dari tungku dan samovar yang lagi mendidih, iapun sekali-sekali terbangun oleh ngoroknya sendiri.
selengkapnya

sonkski ekalya

Leave A Comment