Beri Aku Detakmu


Suhendri Cahya Purnama

Beri aku
detakmu di sini. Dan kan kubagi kisah kita pada dunia. Memahat hidup dan merangkai mimpi untuk meraih nirwana. Meleburkan surga-neraka jadi satu dunia.

Beri aku
detakmu di sini. Biarkan ia berkicau dalam nada harmoni. Membungkusnya dengan tarian aurora ketika ia menjinakkan cahaya. Dan memedarkan sinar terindah yang pernah tercipta sejak manusia mulai pandai mereka.

Tapi, kau
tak hendak. Kau lepaskan aku dalam tembang yang tak lagi bisa kumainkan. Kau henyakkan aku saat nada itu bertumbukkan dengan sesuatu. Yang kita pun tak tau apa itu. Sebuah takdir? Mungkin.

Yang kutau,
saat ini tanganku kelu. Lidahku tergugu. Hatiku membeku. Dan aku pun menghilang di keramaian. Sendiri dan semakin tersesat oleh hitung-hitungan waktu. Tenggelam dalam permainan hidup yang menyengatku untuk berkata: “Aku tak berdaya…”

Aku hanya
bisa mengirimkan sepotong tanya pada malam. Untuk apa ia menciptakan seiris hati yang terbelah alam dua raga yang berbeda? Untuk apa ada jejaring rasa bila ia hanya meremukkan mimpi? Untuk apa hidup dijalani dua insan ketika kasih tak sudi bertaut?

Kini,
kutertidur tanpa lelap. Meskipun suaramu tetap bernyanyi. Nun di sana, dalam ketidakberadaanku. Mengalun menemani hening yang tercipta bukan oleh kita. Bukan oleh dua hati yang hendak bergumul mencari arti.

Dalam lelahku
kembali aku bertanya: “Inikah cinta yang tak mungkin jadi?”
***

pencerita

Leave A Comment