31 tahun bersama Ibu

Ani Mulyani

Apa yang membuat seorang wanita tidak menikah lagi selama 31 tahun dan mengabdikan seluruh hidupnya untuk kerja berat mengurus anaknya?

Aku bisa langsung menjawabnya: ketulusan hati dan pengabdian.

Dia adalah ibuku, makanya aku tahu jawabannya langsung biarpun terdengar seperti kotbah. Aku hidup bersama dia selama 31 tahun kesendirian itu.

Selama 31 tahun –coba reka-reka apa yang bisa dilakukan orang selama 31 tahun- ibuku menjadi single parents mengurus dua anak: aku dan adikku. Bapak meninggal ketika aku masih berumur satu setengah tahun sedang adik laki-lakiku kurang lebih tujuh bulan kala itu, begitulah kisah ibu. Kukenang ibu perlu amat banyak tahun untuk mengulang kisah itu tanpa tanpa harus berakhir dengan diam yang panjang.

Aku tidak bisa mengingat kapan persisnya bapakku meninggal, apakah kala itu aku sedang berlari-lari atau tidur siang atau minum susu atau menangis. Juga tak tersisa kuat wajahnya. Aku pun tidak tahu bagaimana ibuku berduka ketika bapak meninggal, beberapa puluh tahun silam. Tapi aku tahu sejumlah titik-titik duka selama 31 tahun.

Ketika aku di Sekolah Dasar, mungkin sekitar tujuh tahun, ibu memperlihatkan foto bapak dan itulah gambar yang melekat di benak dan hatiku. Banyak orang mengatakan aku mewarisi wajah bapak. Pernah aku membanding foto itu dan wajahku di cermin, aku tak terlalu yakin sebenarnya. Begitupun aku merasa sendang dan bangga, ada bapak di wajahku, walau hanya di wajahku.

Sedang ibu ada bersamaku setiap hari, menjadi wanita mandiri yang berperan sebagai ibu sekaligus bapak bagi kami.

Ya begitulah kami bertiga. Setiap hari ibu bekerja keras untuk menghidupi dua anaknya. Memasuki remaja aku mulai berpikir sekali-kali apakah tidak ada keinginan beliau untuk menikah lagi? Tak pernah cukup berani kuajukan pertanyaan itu dan jika pertanyaan itu muncul lagi aku menjawabnya sendiri: sepertinya pertanyaan itu tidak pernah sebersit pun terlintas di benak ibu.

Padahal ibu waktu kehilangan bapa masih muda. Usia baru dua puluhan dan dia cantik: bukan hanya aku yang mengatakan itu tapi juga beberapa saudara dan teman –tidak, jelas aku tidak bermaksud mengatakan aku juga cantik. Ibu rasa-rasanya sangat mudah untuk mencari suami kedua dan aku pernah mendengar-dengar memang ada yang pernanh meminang dia.

Sekali waktu ibu pernah berucap kalau dia menikah lagi, takutnya suaminya tidak akan bisa sayang kepada kami sebagai anak-anaknya. Sederhana memang, tapi ibu memang mengajarkan kami hidup sederhana, berpikir sederhana dan bertanggung jawab sederhana –pada tindakan-tindakan kami sendiri.

Kerja berat ibu sepertinya yang mendorongku untuk langsung bekerja selesai SMA. Masa itu banyak yang masih melanjutkan sekolah ke universita tapi aku yakin kami tak punya uang. Aku ingin menjadi seperti ibu dan membuat dia bangga: bekerja, menghasilkan uang, membantu menghidupi keluarga. Itulah saat yang tepat membalas kebaikan ibu serta membahagiakannya.

Aku sangat beruntung diterima bekerja di sebuah industri besar hanya dengan bermodalkan SMA. Jarak kantor dari rumah cukup jauh. Bangun pukul 4.30 pagi dan bergegas naik angkutan umum menjadi rutinitas sehari-hariku. Aku ternyata sangat menikmatinya dan bertahun-tahun kujalani rutinitas itu. Aku juga bisa merasakan bisa menemani Ibu untuk memenuhi kebutuhan kami bertiga.

Aku bukan lagi menjadi sekedar beban ibu, tapi juga rekannya, mitranya, kawannya.

Semakin besar kedua anaknya, ibu juga bisa mengurangi beban kerjanya. Dan kuputuskan untuk pindah ke Jakarta, mencari pekerjaan yang lebih baik.

Aku kemudian memutuskan pindah ke Jakarta dengan pekerjaan baru yang lebih baik. Sekaligus kujahit kembali mimpi lamaku: melanjutkan sekolah. Dan kusyukuri hidupku: bekerja dan bersekolah. Ini bisa jadi sederhana, tapi ibu memang mengajari hidup sederhana.

Memang amat berat ketika aku harus tinggal jauh dari ibu, 200-an kilometer tak bisa kutempuh bolak balik setiap hari. Apalagi ketika adikku juga langsung bekerja selepas SMA dan terpisah lautan sampai ribuan kilometer dari ibu.

Siapa yang akan mengurus ibu? Iibu melepas kami dengan bangga yang meringankan hati kami berdua. Dan ada banyak jalan menuju Roma, apalagi cuma 200-an kilometer: begitu selepas kerja Jumat sore aku lamgsung antri ke bus umum dan kembali ke kantor Senin subuh.

Akhir pekan menjadi masa-masa indah kami berdua, walau sesekali kami merindukan adiikku. Ibu semakin tua, helai-helai ubannya semakin terlihat tapi ibu tetap tampak sehat, senang, dan riang. Rasa lelah dan capek dari perjalanan 200-an kilometer seolah tidak aku rasakan: lega bila bertemu ibu.

Walau tak pernah kami saling mengucapkan sayang, obrolan kami tentang tetangga yang mau kawin, atau saudara yang sedang sakit, maupun mantan guruku yang meninggal dunia menjadi benang-benag halus yang berpintalan kusut tak berbentuk. Tiga puluh satu tahun besar bersama kemandiriannya, kebijakannya, kesederhanaannya, aku tak mungkin lari lagi dari perasaan sayang yang sepenuh hati, dari kesiapan melakukan yang terbaik untuknya, dari kemauan membahagiakannya.

Aku yakin ibu juga tak cukup berani untuk bertanya langsung tentang pasangan hidupku. Juga aku tak banyak bercerita tentang pria idamanku. Jelas pria itu harus mengerti bahwa orang tua adalah aset bagi kelangsungan hidup hidup, sebagai laki-laki kuat, tegar dan bijaksana yang mendampingi sisa hidupku ini.
***