Aku dan Kau, Kekasih

Nita

Pada mulanya, biasa. Sebuah perbincangan yang teramat sederhana dan terlampau datar. Aku tak mengenalnya. Dia tak mengenalku. Mataku sembab pagi itu. Kering oleh bulir-bulir perihnya, pecah kantung air matanya dan menguap sudah isinya. Tiada lagi rasa yang mampu kucengkram atau impian yang ingin kukejar. Tiada lagi. Kosong oleh pilu. Pilu oleh perih. Perih oleh rasa.

Hari masih subuh, mentari masih tak kutemu dan tak menyapaku. Aku masih berdiam sendiri ditemani dinding-dinding bisu, langit-langit kaku. Rumah yang dikerumuni semut hitam, tiada merahnya. Dan hanya kelabu yang hadir sedang senang tiada bosannya mengalpa. Jerit sakit hatiku sudah mencapai puncaknya, lemas tak mampu berkutik. Lelah, tak ingin lagi mengulah.

Lalu, tiba-tiba. Tiada tanda, tiada dara atau merpati datang menyapa. Kuterima salam kenal dari seorang hawa.

Menyapaku bukan dengan kata manis atau penyejuk jiwa. Tetapi kalimat-kalimat yang digurah dengan emosinya. Berbisik dan mendesis, ingin meremukkan kepiluanku dan menyadarkanku kalau aku tidak sedang bermandi kelabu.

Mengapa rupamu hanya 2 dimensi? Yang ketiga kau buang kemana? Parasmu tak kulihat bentuknya. Kau hawakan?

Aku mengoles sedikit asin pada senyumku, dan ingin sekali mengganti sebaris gigi seriku dengan gigi taring tajam yang siap mengkerat dagingnya dan menjawab pengisahan suramnya dengan lantang,

Ya! Aku hawa. Masih penuh dengan serat rasa dan liang yang tertanam di selangkanganku. Juga seonggok hatiku yang terkena kista. Meresapi tiap dera karena aku tak bisa mengerat hatiku dan membuangnya begitu saja. Tidak bisa kan!! Aku masih saja hidup dengan hati ini, tanpa peduli jika dia terasa berat sekali, tanpa peduli ketika ia tak berasa lagi, seperti batu. Aku tetap harus membawanya bersamaku. Di dalam aku.

Walau masih saja rasa hitam dan putih yang menyelubungi adaku, tapi entah kenapa aku menikmati tiap cawan katanya. Walau tiap rajutan kalimatnya tak kutemui kehangatan, dan dari bibirnya tak kutemukan sarang madu. Aku tak tahu kenapa, semut-semut mulai mendatanginya dan menyenanginya. Aku sungguh tak tahu.

Jangan tanya aku!!! batin hatiku.

Jika tadi malam, tubuh tergeletak tak bernyawa, darah berkelana, bernyanyi dan mengairi rumah yang penuh semut hitam itu. Dengan sebilah pisau yang mungkin telah mengorek lubang di dadaku, dengan segumpal daging terkuak, darah segar yang terus berkelimpahan dan secarik nafas enggan membaca cerita lagi.

Memang aku tak berani, ketika sumbu fikirku masih menyala. Otak warasku masih bekerja. Aku takut darah.

Mungkin, mungkin saja. Kita tak’an pernah ada kesempatan berbagi receh dongeng bahasa. Tapi takdir telah menulis rasi bintang, malam ini dan besok tak’an hadir gerhana mentari. Aku hidup dan masih sangat hidup. Dan karena itu, aku menemukanmu. Kau datang padaku tanpa petanda.

Dia datang, tanpa muasal dan muara kata cinta yang mengalir padaku, tanpa seikat bunga segar di cengkraman tangannya, tapi dia tlah membuatku terbangun dari tidur, tidur yang tidur, tidur  yang tanpa mimpi, dari tidur yang gelap dan sunyi, dari tidur yang membuatku serasa mati, tak ingin bangun, tak ingin menyapa hari.

Terimakasih

Adamu membuatku yakin aku masih hidup. Bernafas lewat rongga keresahan, melupakan segala perih. Aku hidup, tak lagi meyirami kepedihan dengan kesendirian. Adamu sungguh berarti.
***

TAGS :