Tanah Sejengkal Adalah Hidup

Yayak Kencrit
Dari seorang romo Jesuit yang pernah sibuk mendampingi orang-orang sial di tempat penampungan sampah di daerah Cilincing, Jakarta, aku dapat kabar ; “Pemulung sampah yang mencoba mempertahankan tanah bekas gunungan sampah sudah ada korban sekitar 10-an orang mati. Ditembak atau disiksa.” Wah serius, pikirku. Meskipun gelandangan, mereka warga negeri yang mempunyai hak hidup sama dengan yang lain. Tak di bantu untuk memperbaiki taraf dan harkat hidupnya, malah diusir-usir, bahkan dibunuh. Soalnya, ternyata tak sederhana seperti kenaifan yang kubayangkan sebelumnya. Ada petinggi tulen waktu itu yang mendengar ada putaran duit milyaran rupiah setahunnya hanya dari mulung sampahnya manusia-manusia Jakarta –tapi pemulungnya dianggap binatang.
selengkapnya

sonkski ekalya

Leave A Comment