Di Zimbabwe, Namanya Masih Mugabe

Liston P. Siregar

Lahir, besar, dan mendapat pendidikan guru Kutama Mission di Zvimba, Barat Laut Zimbabwe, Robert Gabriel Mugabe pada usia 17 tahun sudah mengajar di sekolah misionaris pada tahun 1941 sampai 1943. Sebagai guru, Mugabe mengajar berkeliling di Rhodesia Selatan –sekarang Zimbabwe– dan sebelum dapat bea siswa ke Fort Hare College di Afrika Selatan. Disitulah Mugabe mulai berkenalan dengan buku-buku Komunisme, Marxisme, dan perlawanan tanpa kekerasan Mahatma Gandhi. Lulus sarjana, ia kembali mengajar di Zimbabwe, pindah ke Rhodesia Utara — sekarang Zambia– dan kemudian ke Ghana.

Tahun 1961, Mugabe menikah dengan Sarah Francesca Hayfron atau Sally. Walau Mugabe dikenal sebagai penganut Katolik taat, dia pacaran dengan sekretarisnya, Grace Marufu, dan lahirlah dua orang anak. Tahun 1992, istri pertamanya meninggal kena kanker dan bagi orang Zimbabwe, Sally dikenang sebagai pahlawan perempuan yang tidak punya kepentingna pribadi serta aktif dalam pekerjaan sosial, sementara Grace tak disukai rakyat Zimbabwe karena dianggap hanya memikirkan dirinya sendiri..

Perkawinan Mugabe –waktu itu 72 tahun– dengan Grace –yang masih berusia 35 tahun– pada tahun 1996 menjadi gunjingan rakyat Zimbabwe namun Mugabe berhasil melewatinya dengan selamat dan setahun kemudian Grace melahirkan anak ketiga mereka. Sampai sekarang Mugabe rajin ke gereja dan jemaat di Katedral Harare sudah terbiasa dengan serbuan para pengawal presiden saat misa Minggu. Mugabe juga rajin berolahraga –menurut Grace setiap pagi dia bangun jam empat pagi untuk olahraga– dan sampai sekarang pada usia 78 tahun –pada masa periode kekuasaan yang keenam– Mugabe masih tampak sehat.

Catatan Korupsi
Mugabe lebih dikenal karena pelanggaran hak asasi manusia dan kebijakan penguasaan tanah milik kaum kulit putih, jadi bukan kekayaannya walau –sama seperti pemimpin-pemimpin negara berkembang lain– Mugabe tak kalah korupnya namun lebih rapi. Dalam istilah wartawan The Guardian Inggris, David Pallister, “tidak seperti perampokan siang hari oleh Sani Abacha dan kelompoknya di Nigeria, jejak uang yang ditinggalkan kawan-kawan Mugabe tampaknya lebih canggih.”

Salah satu alat Mugabe dan kawan-kawannya bermain adalah lewat kerja-sama dengan sebuah perusahaan bernama Zidco, yang didirikan tak lama setelah kemerdekaan Zimbabwe. Zidco punya andil dalam beragam aspek perekonomian Zimbabwe, mulai dari bisnis property, pertokoan bebas pajak, bahan bangunan, sampai ke pasokan perlengkapan dan peralatan tentara. Konon Zidco dikendalikan oleh keluarga asal Malaysia, dan dua rekan dekat Mugabe duduk di Dewan Komisarisnya.

Mugabe pernah mengatakandia tak punya kekayaan dan kelak kalau tak punya pekerjaan lagi maka dia akan kembali mengajar sedang istrinya akan menambah pendapatan dengan menjahit. Nyatanya Mugabe dan istrinya punya jadawal rutin berbelanja ke London sebelum dilarang berkunjung ke 15 negara Eropa. Tahun 1990an Mugabe tercatat sebagai presiden Afrika yang paling banyak melakukan perjalanan ke luar negeri dengan prestasi 150 negara selama sepuluh tahun dan menghabiskan biaya perjalanan 180 juta Poundsterling.

Di kalangan keluarga, saudara kesayangan Mugabe, Sabina Mugabe dan anak-anaknya menjelajah di panggung politik dan bisnis. Sabina menjabat anggota parlemen sejak tahun 1985 mewakili kampung halaman, Zvimba, dan aktif di Liga Wanita Partai Zanu-PF. Anak tertuanya, Innocent Mugabe, memegang kendali Badan Intelijen Negara yang paling ditakuti sampai ia meninggal Juni. Anak kedua Sabina, Leo, punya konsorsium konstruksi dan terlekomnikasi. Integrated Engineering Group IEG, yang selalu kecipratan kontrak milayran dollar untuk proyek-proyek negara karena dimenangkan dari perusahaan-perusahaan yang jauh lebih berpengalaman.Satu-satunya anak Sabina yang tidak menggunakana nama keluarga Mugabe, Patrick Zhuwawo, kebagian mengelola usaha-usaha IEG.

Situs partai oposisi MDC menyebut skandal terbesar adalah ketika IEG mendapata kontrak pembangunan Bangdara International Harare tahun 1996. Dengan partner Air Harbour Technology asal Cyprus, IEG tetap dimenangkan walau tendernya berada di peringkat keempat di bawah perusahaan-perusahaan lainnya. Selain menguasai proyek kontruksi Zimbabwe, Leo Mugabe, juga menjabat Ketua Asosiasi Sepakbola Zimbabwe.

Selain keluarga Sabina, beberapa keluarga lain yang terkena ‘dampak’ hubungan keluarga antara lain keluarga, Ushewokunze dan Chikereka –dari garis ibu Mugabe– lantas Mushayakarara yang garis kekeluargaannya ditarik jauh ke belakang sana. Dari keluarga ini Elisha Mushayakarara menguasai kelompok keuangan Financial Holdings (Finhold), yang mmiliki bank terbesar keempat di negara itu, Zimbabwe Banking Corporation. Keluarga lainnya, Chiyangwa –yang berasal dari klan sama dengan Mugabe– juga terkenal berpengaruh. Salah satunya, Philip Chiyangwa, punya sayap sampai ke Republik Demokratik Kongo –dilaporkan kalau keterlibatan militer Zimbabwe di Republik Kongo mengorek kantong pemerintah Zimbabwe sampai 15 milyar dollar.

Sebuah perhitungan kasar dari situs internet Focus mencatat angka kerugian di Zimbabwe selama lima tahun belakangan ini –akibat kesalahan penggunaan dana– mencapai 33 milyar dollar Amerika. Angka itu masih belum termasuk ekonomi gelap yang tak kalah besarnya berhubung di Zimbabwe — sama seperti Indonesia jaman Suharto dan sepertinya di jaman Megawati masih belum banyak berubah– korupsi menyebar ke seluruh tingkatan dan seluruh sektor ekonomi, politik maupun sosial.

Catatan Politik
Selasa, 4 Maret 1980; warga kulit putih Rhodesia terdiam bingung mendengar berita radio pagi itu. Selama berpekan-pekan mereka menghidupkan terus harapan agar Uskup Muzorewa yang akan menjadi pemimpin pemerintahan kulit hitam pertama di negara baru Zimbabwe. Namun kabar-kabar yang tidak menyenangkan selama tiga hari belakangan –bahwa teroris Marxis Robert Mugabe akan menang– yang justru terbukti. Partai ZANU meraih mayoritas di parlemen dan Mugabe menjadi Perdana Menteri pertama Zimbabwe.

Waktu itu warga kulit putih Rhodesia baru saja melewati perang melawan perjuangan kemerdekaan warga kulit hitam –yang disebut warga kulit putih sebagai teroris. Dan pemimpin kulit putih terakhir, Ian Smith, sudah berulang kali mengingatkan kalau warga kulit putih akan kehilangan segalanya jika teroris yang menang dalam pemilihan demokratis pertama di Zimbabwe. Rhodesia tua, dalam satu malam saja, akan berubah menjadi negara Marxis dan pada masa itu rasanya tidak ada yang lebih buruk daripada hidup dalam sebuah negara ‘kiri.’ Namun suasana Selasa siang itu terasa riang. Di jalanan ibukota saat itu, Salisbury, warga kulit hitam bernyanyi dan berdansa ketika para warga kulit putih panik membeli barang-barang keperluan untuk menghadapi ketidak-pastian esok hari, di bawah Mugabe.

Malamnya warga kulit putih tercengang karena orang yang mereka sebut sebagai pemimpin teroris itu muncul dalam siaran televisi sebagai Kamerad Robert Mugabe namun meminta agar semua orang saling memaafkan dan melupakan masa lalu. Ajakan rekonsiliasi dan bukan balas dendam itu mempesona kaum kulit putih. Malam itu juga –seperti di Rhodesians Never Dies dari Peter Godwin dan Ian Hancock– mayoritas kaum kulit putih yakin kalau Robert Mugabe mewakili harapan terbaik dalam memulihkan perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran.

Mestinya kemenangan Mugabe tidak mengejutkan karena dia sudah malang melintang dalam politik dan militer pergerakan kulit hitam. kawakan sejak tahun 1960, ketika Mugabe berhenti mengajar dan bergabung dengan kelompok nasionalis Persatuan Nasional Afrika Zimbabwe, ZANU. Pada tahun itu pulalah ZANU mendeklarasikan perang kemerdekaan dan pemerintah kulit hitam menangkapi para pendukung ZANU. Tahun 1964 giliran Mugabe tertangkap dan diganjar sepuluh tahun penjara. Selama di penjara dia malah belajar hukum dan mendapat gelar sarjana hukum. Di dalam penjara itu juga dia ditunjuk menjadi pemimpin ZANU. Begitu bebas pada tahun 1974 Mugabe –yang sudah sarjana hukum dan orang nomor satu di ZANU– menyeberang ke negara tetangga Mozambik untuk melancarakan perang gerilya.

Selepas perang gerilya Mugabe masuk panggung politik. Tak ada kekuatan, baik di Rhodesia, di negara-negara Afrika lain, maupun di kalangan pergerakan kulit hitam Zimbabwe, yang bisa mengabaikan Mugabe –walau awalnya orang kulit putih lebih menganggap Joshua Nkomo yang memimpin kelompok nasionalis ZAPU. Isu-isu yang diangkat Mugabe menarik mayoritas penduduk Zimbabwe.

Dia mengatakan ekonomi Zimbawe disabotase dunia barat –antara lain karena tahun 1991 IMF menekan Mugabe untuk menempuh reformasi pasar bebas yang mencabut negara dari posisi penyedia dana utama untuk proyek-proyek berskala besar. Bagi Mugabe, dan para pemimpin teras Zimbabwe lain, rupanya lebih mudah membagi-bagi kue seadanya daripada membesarkan kue tapi mengancam perolehan. Dan ketika perekonomian Zimbabwe semakin anjlok, Mugabe beralih ke jualan reformasi tanah –atau penguasaan tanah ala Zimbabwe– dan anti kolonilaisme.

Praktis sejak tahun 1980 Mugabe berhasil mencengkram kekuasaan sampai pemilihan presiden awal Maret lalu. Hampir semua orang yakin bahwa Mugabe pasti kalah dari calon oposisi Morgan Tsvangirai, dengan syarat jika pemilihan jujur dan adil. Tapi sejak awal semua orang tahu pemilihan bakal curang. Usai pemilihan, para pemimpin Afrika menyambut kemenangannya sedangkan negara Barat mengecam kecurangan pemilihan.

Mugabe diam saja sampai pelantikan Hari Minggu 17 Maret 2002 kemaain. Wartawan BBC di kawasan Afrika, Gran Ferret, menduga Mugabe mendiamkan semua kritikan karena masih menunggu semua komentar sebelum mengeluarkan pernyataan, walau mungkin juga ia mendapat tekanan dari Afika Selatan agar tidak memanas-manasi suasana. Bisa jadi itu perilaku pemimpin besar yang baru mau bicara jika sedang ingin bicara, bukan karena diharapkan untuk bicara atau diperlukan bicara.

Percepatan Perampokan Tanah
Dan saat pelantikan di ibukota Harare –yang dihadiri para pemimpin Afrika dan diboikot pemimpin Barat– Mugabe mau bicara lagi untuk kembali mengecam Barat –yang di mata kaum nasionalis pejuang Rhodesia dulu diwakilkan oleh Inggris. Di masa kampanye, Mugabe –yang mengeksploitir penguasaan tanah kaum kuli t putih– mengutuk Tony Blair akan segera jatuh. Jadi kemenangan dalam pemilihan presiden kali ini juga dilihat sebagai kemenangan melawan Inggris dan Tony Blair –yang berdiri paling depan mengecam lembaga-lembaga pemilihan umum Zimbabwe yang tidak mandiri. Kepada rekan-rekan pemimpin Afrika dalam upacara pelantikannya, Mugabe mengucapkan terimakasih atas dukungan mereka dalam melawan Tony Blair –berhubung Uni Eropa serta Amerika Serikat membekukan asset-asset milik Mugabe dan 19 pejabat tinggi Zimbabwe serta larangan berkunjung..

Di tanah Zimbabwe sana, Tony Blair terwakili oleh para petani-petani kulit putih yang memiliki lahan-lahan pertanian luas. Dan pernyataan pertama Mugabe sejak terpilih kembali juga berisi janji percepatan redistribusi tanah milik kaum kulit putih untuk menghadapi krisis pangan –yang menurut Mugabe disebabkan kekeringan tapi menurut pengecam Mugabe karena direbutnya lahan-lahan produktif yang sampai sekarang masih dilantarkan.

Senin pagi 18 Maret 2002 atau satu hari setelah pernyataan Mugabe tersebut, seorang petani kulit putih ditemukan tewas karena tanahnya jadi sasaran apa yang disebut ‘penguasaan kembali’ oleh para veteran perang Zimbabwe. Petani itu, Terry Ford, merupakan petani kulit putih kesepuluh yang mati dibunuh sejak aksi perampokan tanah dimulai dua tahun lalu. Tak ada yang menjamin Terry Ford akan menjadi korban terakhir, selama yang berkuasa masih Robert Mugabe, di Zimbawe.