jiwa pecinta

(episode kedua) DRA
dan beginilah jiwa sang pecinta. selalu ingin bebas. lepas. tak kuasa satu pun menahan gejolaknya. ia terbang. ia menari. menggantung. mengawang. membuat rahasia. seperti sebungkus rindu yang ia buat untuk kita. disini.

jiwa ini mempertemukan kita. pada suatu masa. pada suatu dunia. yang lain dari dunia kita. mungkin nirwana. lepaskan kita dari tubuh. membentuk tubuh baru untuk memasuki dunia para pecinta. disinilah kita bisa belajar. bercinta-cintaan. berkasih sayang. mengulas senyuman.

dalam sebuah gedung yang megah ini. ada sebuah altar persembahan. bila kamu mau ada dihadapannya, mandi dan basuhlah seluruh tubuh. mandilah dengan air penyucian itu. basuhlah seluruh ragamu hingga tak bersisa kotoran sedikitpun dalam hatimu. kemudian bercerminlah. saksikan wajah putih ceria.

di dalamnya. seperti wajah bayi yang baru saja melihat dunia. begitu bahagia. pakailah jubah kebesaran atas nama cinta. tutup semua auratmu. dari ujung rambut hingga kakimu. rapikanlah ia. sampai kamu merasa sudah sempurna. demikian adanya bila kamu ingin menjalani ritual cinta.

sementara kamu sedang mempersiapkan segalanya. disini aku memandikan dan membasuh diriku dengan darah. biar darah itu menutup semua pori-pori. kamu akan bertanya, mengapa aku mau bermandi darah untuk sebuah penyucian? ah itulah sebuah pengorbanan. darah menjadi simbol kesetiaan. dalam bercinta. kalau tidak dengannya maka tak sempurna. karena darah itu yang menjadikan gelora. darah itu yang menjadikan gejolak yang bergumul dalam setiap urat nadi. menjadi-jadi.

kemudian aku pergi ke telaga. ku renangi telaga bening untuk penyucian jiwa. kubasuh muka, tangan, sebagian kepala dan kakiku. biar muka itu nanti bisa terus memandangmu. dan tak berkedip mata karena indahmu. tangan ini yang menyentuhmu. merabamu. membelai seluruh tubuhmu. sebagian kepala ini, wadah akal berdiam. dimana kita berpikir jernih. tanpa harus takut akan dibantah oleh bermacam alasan dan pasal-pasal yang tak membebaskan.

kamu bisa tahu apa saja yang ada dalam pikiranku. dan turun kemudian ke dasar hatiku. kaki ini untuk melangkah. bersamamu. menuju altar persembahan itu.

kini, kita sudah mempersiapkan segalanya. kita sudah sampai di depan altar persembahan. ada secangkir anggur merah. mari kita reguk bersama. biar kita mabuk dalam cinta. tapi tetap sadar dengan apa yang kita perbuat setelahnya. kita bisa mengawang. kita makin jatuh cinta.

kita makin kasih dan sayang. tak ada sedih. gundah. ataupun pula gelisah. disini kita hanya berdua. tak perlu ada rasa cemburu lagi. karena, walaupun banyak pasangan jiwa hadir dalam ritual ini, mereka tetap ada dalam genggaman cinta masing-masing kekasih yang mereka miliki. tak ada ragu. tak ada pilu. tak pula airmata menjadi beku. membatu.

airmata itu hanya boleh jatuh saat musim panen tiba. ketika kita sudah bisa memetik hasil panen dengan perasaan bahagia. ketika kita sudah menggapainya. bahagia.

TAGS :