Wanita Yang Datang Pukul Enam

Gabriel Garcia Marquez

Pintu ayun dibuka. Pada saat itu tidak ada orang di restoran Jose. Jam mulai saja berdentang enam kali dan laki-laki itu tahu bahwa para langganan tetapnya tidak akan tiba sebelum pukul enam tiga puluh. Langganannya memang sangat kolot dan teratur, dan jam belum selesai berdentang enam kali ketika seorang wanita masuk, sama seperti hari-hari sebelumnya, dan duduk di bangku tinggi tanpa mengatakan apapun. Di bibirnya ada rokok yang tidak menyala, yang diapit ketat.

”Hallo ratu,” Jose menyapa ketika melihatnya duduk. Kemudian ia pergi ke ujung meja yang lain, membersihkan permukaan dengan lap kering. Setiap kali orang datang ke restorannya, Jose selalu melakukan hal yang sama. Bahkan juga terhadap wanita yang hampir ia rasakan tingkat keintimannya, pemilik restoran yang gemuk dan merah ini selalu memainkan komdei hariannya tentang seorang pria pekerja keras.

”Apa yang kau inginkan hari ini?” tanyanya.
” ”Pertama-tama aku ingin mengajarkan padamu bagaimana menjadi seorang gentlemen,”” kata wanita itu. Ia duduk di ujung bangku, dengan siku di atas meja dan rokok yang tidak menyala di bibir. Ketika berkata mulutnya ditekan sehingga Jose sadar tentang rokok yang tidak menyala itu.
“Aku tidak tahu,” kata Jose.
”Kau tetap tidak belajar untuk memperhatikan apapun,” balas wanita itu.

Laki-laki itu meninggalkan lap pembersih di meja, berjalan ke arah lemari yang menyebarkan aroma tembakau dan kayu berdebu, untuk segera kembali dengan korek api. Wanita itu bersandar lebih ke depan untuk meraih nyala api di tangan berbulu yang kaku. Jose melihat rambut lebat wanita itu, yang dilumasi dengan Vaseline tebal murahan. Dia melihat bahunya yang terbuka di atas kutang yang berenda. Dia melihat awal senja dari payudaranya ketika wanita itu mengangkat kepalanya, rokoknya sekarang sudah menyala.

“‘Malam ini kau cantik, ratu,” kata Jose
“‘Hentikan omong-kosongmu,” kata wanita itu. ”Jangan kira itu akan membuatku membayar.”
“‘Bukan itu maksudku, ratu,” balas Jose. ”Aku berani bertaruh hari ini makan siangmu tidak menyenangkan.”
“Wanita itu mengisap tarikan pertama rokoknya yang tebal, menyilangkan lengannya –sikunya tetap di atas counter– dan tetap menatap ke jalan lewat jendela restoran yang lebar. Ia menunjukkan ekspresi yang kesedihan. Kesedihan murahan dan membosankan.

“Aku akan siapkan steak yang enak,” kata Jose.
“Aku tetap tidak punya uang,” kata wanita itu.
”Kau tidak pernah punya uang selama tiga bulan ini dan aku selalu menyiapkan sesuatu yang enak untukmu,” kata Jose
”Hari ini berbeda,” kata wanita itu murung, tetap melihat ke jalan.
”Setiap hari selalu sama,” kata Jose. ”Setiap hari jam mengatakan jam enam, dan kau datang mengatakan sangat lapar seperti anjing dan kemudian aku menyiapkan sesuatu yang enak. Satu-satunya perbedaan adalah; hari ini kau tidak mengatakan lapar seperti anjing tapi hari ini berbeda.”
”Dan itu betul,” kata wanita itu. Dia berbalik menghadap laki-laki itu, yang sedang berada di ujung meja memeriksa lemari es. Ia perhatikan laki-laki itu selama dua atau tiga detik. Kemudian melihat ke jam yang terletak di atas lemari. Waktu itu pukul enam lewat tiga menit.
“Benar Jose. Hari ini berbeda,” katanya. Ia lepaskan asap rokok dan terus berbicara dengan kata-kata singkat yang bersemangat. “Aku tidak datang pukul enam hari ini, itulah perbedaannya, Jose.”

Laki-laki itu melihat ke jam.
”Aku akan potong tanganku kalau jam itu terlambat satu menit,” katanya.
”Bukan itu, Jose. Hari ini aku tidak datang pukul enam,” kata wanita itu. “
”Jam itu baru saja berdentang enam kali, ratu,” kata Jose. ”Ketika kau datang baru saja selesai berdentang.”
”Aku sudah seperempat jam di sini,” kata wanita itu.

Jose berjalan ke arah wanita itu. Ia sodorkan wajah gembungnya pada wanita itu sambil mengangkat alis mata dan mengangkat telunjuknya.
”Pukul aku di sini,” katanya.
Wanita itu menarik kepalanya ke belakang. Ia sangat serius, jengkel, dan melembut –tertutup awan kesedihan dan kelelahan.
”Hentikan kebodohanmu, Jose. Kau tahu aku tidak pernah minum lagi selama enam bulan.”
”Bilang itu sama orang lain,” katanya, ”Jangan samaku. Aku bertaruh kau baru saja minum sedikitnya satu atau dua gelas.”
”Aku minum beberapa gelas dengan teman,” katanya.
”Oh, sekarang aku mengerti,” kata Jose.
”Tidak ada yang perlu dimengerti,” kata wanita itu. ”Aku sudah di sini selama seperempat jam.”

Laki-laki itu mengangkat bahunya.
”Baik, kalau itu yang kau inginkan, kau mendapatkan seperempat jam yang menyatakan kau sudah di sini,” katanya. ”Setelah itu, perbedaan apa yang dibuatnya, sepuluh menit di sini, sepuluh menit di sana?”
”Itu berbeda, Jose,” kata wanita itu. Ia memanjangkan lengannya melewati meja kaca dengan bebas dan sembarangan. Ia berkata: ”Dan itu tidak berarti bahwa aku menginginkan sepuluh menit di sana; itu hanya berarti bahwa aku sudah berada di sini selama lima belas menit.” Ia melihat ke jam itu lagi dan meralatnya, “Yang kumaksud adalah sudah dua puluh menit.”
”OK, ratu,” kata laki-laki itu . ”Aku akan beri seluruh hari dan malam yang berjalan dengannya demi untuk melihat kau gembira.”

Pada saat-saat Jose sudah berkeliling meja, memindahkan barang-barang, mengambil sesuatu dari satu tempat dan meletakkannya di tempat yang lain. Ia memainkan perannya.

”Aku ingin melihat kau gembira,” ia mengulang. Tiba-tiba ia berhenti, berbalik ke wanita itu. ”Kau tahu bahwa aku sangat mencintaimu?”
”Yaaa…? Apanya yang baru, Jose. Kau pikir aku akan pergi bersamamu demi jutaan peso?”
”Bukan itu maksudku, ratu”, kata Jose. ”Aku ulangi, aku bertaruh makan siangmu tidak menyenangkan.”
”Bukan karena itu aku mengatakannya,” kata wanita itu. Suaranya menjadi lamban. ”Tidak ada perempuan yang bisa dengan beratmu itu, walaupun untuk jutaan peso.”


Jose marah padam. Ia membelakangi wanita itu dan mulai membersihkan botol-botol di rak. Ia berkata tanpa memutar wajahnya.
”Kau keterlaluan hari ini, ratu. Aku kira yang paling baik adalah makan steakmu dan pulang ke rumah.’
”Aku tidak lapar,” kata wanita itu. Ia berdiri lagi melihat ke jalan, memperhatikan orang yang lewat di kota suram itu. Ada diam yang gelap di restoran itu. Kedamaian yang hanya dipecahkan oleh suara gesekan tangan Jose di lemari. Tiba-tiba wanita berhenti melihat ke jalan di luar dan berbicara denan lembut dan sabar, suara yang berbeda.
”Apakah kau benar mencintaiku, Pepillo?”
”Ya,” balas Jose kering, tidak melihat ke arahnya.
”Walaupun apa yang telah kukatakan padamu?” tanya wanita itu.
”Apa yang kau katakan padaku,” Jose bertanya, tanpa merubah suaranya, tanpa melihat wanita itu.
”Soal jutaan peso,” kata wanita itu.
”Aku sudah melupakannya,” kata Jose.
”Jadi kau mencintaiku?” tanya wanita itu.
”Ya,” kata Jose.

Diam sejenak. Jose tetap bergerak, wajahnya berbalik ke lemari, tetap tidak melihat wanita itu. Si wanita menghembuskan asap rokok yang penuh, meletakkan buah dadanya ke meja, dan kemudian, dengan hati-hati dan nakal, menggigit bibirnya sebelum berkata –seperti sambil mengangkat tumit kaki.
”Walaupun kau tidak tidur bersamaku?” ia bertanya.

Hanya setelah itu Jose berbalik melihat ke arahnya.
”Aku sangat mencintaimu dan aku tidak akan pergi tidur bersamamu,” katanya. Kemudian ia berjalan melewati tempat wanita itu. Ia berdiri melihat ke wajah wanita itu, tangannya yang kekar bersandar di meja persis di depan wanita itu, melihat ke matanya. Dia mengatakan, “Aku amat mencintaimu dan setiap malam aku akan membunuh laki-laki yagn pergi bersamamu.”

Pada mulanya wanita itu tampak bingung. Ia melihat laki-laki itu penuh perhatian, dengan gelombang ekspresi haru dan seperti mengolok-olok. Kemudian terhenyak. Dan ia tertawa riuh.”
” ”Kau cemburu, Jose. Itu biadab, kau cemburu!””
Jose merah padam lagi, terus terang dan agak malu-malu, seperti seorang anak kecil ketika menyatakan semua rahasia yang disembunyikan. Ia berkata: ”Hidup yang susah ini merusak kau.”

Tetapi kemudian wanita itu merubah ekspresinya.
”Jadi, kalau begitu,” katanya. Dan ia melihat ke mata laki-laki itu lagi, dengan pandangan asing, bingung dan –pada saat yang bersamaan– menantang.
”Jadi kau tidak cemburu.”
”Dengan caraku sendiri, aku cemburu,” Jose berkata. ”Tapi bukan seperti yang kau pikirkan.”

Ia kendorkan kerahnya dan meneruskan membersihkan diri, mengeringkan lehernya dengan lap.
”Jadi?” wanita itu bertanya.
”Kenyataannya adalah aku sangat mencintaimu dan aku tidak suka kau melakukan itu,” kata Jose
”Apa?” wanita itu bertanya.
“Pergi dengan laki-laki yang berbeda setiap hari,” kata Jose.”
”Apakah kau sungguh-sungguh membunuhnya untuk menghentikan dia pergi bersamaku?” wanita itu bertanya.
”Tidak untuk menghentikan kau pergi dengan dia.” kata Jose. ”Aku akan membunuhnya karena pergi dengan kau.”
”Itu sama saja.” kata wanita itu.

Percakapan sudah sampai pada titik yang menggairahkan. Wanita itu berbicara dengan lembut, pelan, suara yang mengagumkan. Wajahnya hampir saja merangsang nafsu laki-laki yang berwajah damai, yang berdiri tanpa gerakan –seperti terpesona oleh kata-kata yang menguap.
“Itu benar,” kata Jose.
”Jadi,” kata wanita itu, dan melepas tangannya untuk memegang tangan kasar si laki-laki. Dengan tangan yang lain ia lemparkan rokoknya. ”Jadi kau bisa membunuh orang?”
”Untuk apa yang aku katakan, ya,” kata Jose. Dan suaranya hampir seperti tertekan kuat.

Wanita itu meledak terbahak-bahak, dengan maksud yang sangat jelas untuk mentertawakan.
”Begitu hebatnya, Jose. Begitu hebatnya,” ia berkata, tetap tertawa. ”Jose membunuh orang. Siapa sangka bahwa di balik tubuh laki-laki gemuk yang pura-pura suci, yang tidak pernah meminta bayaran dari aku, yang memasakkan aku steak setiap hari dan menikmati omongan denganku sampai aku menemukan laki-laki, ternyata bersembunyi seorang pembunuh. Mengerikan Jose. Kau bikin aku takut.”

Jose menjadi bingung. Mungkin ia sedikit dongkol. Mungkin, ketika wanita itu mulai tertawa, ia merasa ditipu.
”Kau mabuk, tolol,” katanya. ”Pergilah tidur sebentar. Kau bahkan tidak punya selera makan apapun.”

Tetapi wanita itu sekarang sudah berhenti tertawa dan kembali serius lagi, termenung, bersandar di meja. Ia memandang si laki-laki berjalan menjauh. Melihat si laki-laki membuka lemari es dan menutupnya lagi tanpa mengambil apa-apa. Kemudian ia lihat laki-laki itu bergerak ke sudut meja yang lain. Ia melihat laki-laki itu melap gelas yang mengkilat, sama seperti tadi. Kemudian wanita itu kembali mengatakan dengan nada lunak dan sabar, “Apakah kau benar-benar mencintaiku Pepillo.”
”Jose,” katanya.
Laki-laki itu tidak melihat ke arahnya.
”Jose!”
”Pulanglah dan tidur,” kata Jose. ”Dan mandi dulu supaya kau bisa tidur nyenyak.”
”Serius, Jose,” kata wanita itu. ”Aku tidak mabuk.”
”Kalau begitu kau berubah menjadi tolol,” kata Jose.
”Mendekatlah, aku perlu bicara dengan kau,” kata wanita itu.

Laki-laki itu berjalan sedikit terhuyung-huyung, antara setengah gembira dan tidak-percaya.
”Lebih dekat lagi!”
“Ia berdiri di hadapan wanita itu. Si wanita bersandar ke depan, menarik laki-laki itu di rambutnya, tapi dengan gerakan-gerakan yang lembut.
”Katakan sekali lagi apa yang kau katakan tadi,” katanya.
”Apa maksudmu?” tanya Jose. Ia mencoba melihat wanita itu dengan kepala yang terbalik –karena rambutnya ditarik.
”Bahwa kau akan membunuh laki-laki yang tidur denganku,” kata wanita itu.
”Aku akan membunuh laki-laki yang tidur dengan kau, ratu. Itu benar,” kata Jose.

Wanita itu melepas ia pergi.
”Dalam soal itu, kau akan membelaku kalau aku membunuh orang,” ia bertanya dengan pernyataan, mendorong kepala Jose dengan gerakan genit yang brutal. Laki-laki itu tidak menjawab. Ia tertawa.
”Jawab aku, Jose,” kata wanita itu. ”Apakah kau akan membelaku kalau aku membunuh orang?”
”Itu tergantung,” kata Jose. ”Kau tahu itu tidak semudah yang kau katakan.”
”Polisi tidak akan lebih percaya pada siapapun dibanding kau,” kata wanita itu.”

“Jose tertawa, penuh degan rasa bangga, puas. Wanita itu kembali bersandar di meja menghadapnya lagi, menyeberang meja.”
”Itu betul, Jose. Aku bertaruh kau tidak pernah berbohong sepanjang hidupmu,” kata wanita itu.
”Kau tidak mendapatkan apa-apa dengan mengatakan itu,” kata Jose.
”Sama saja,” kata wanita itu. ”Polisi mengenalmu dan mereka akan percaya tanpa bertanya dua kali.”

Jose mulai mengetuk-ngetuk meja di depan wanita itu, tidak tahu mau berkata apa. Wanita itu melihat ke arah jalan lagi. Kemudian ia melihat ke jam dan merubah nada suaranya, seperti ingin menyelesaikan pembicaraan sebelum langganan pertama datang.
”Maukah kau berbohong untukku, Jose?” ia bertanya. ”Serius.”

Jose melihat ke arahnya lagi, tajam, dalam, tampaknya sebuah ide dashyat mengetuk kepalanya. Ide yang masuk lewat satu telinga, berputar-putar sebentar, samar-samar, membingungkan dan keluar dari kuping yang lain –meninggalkan sisa-sisa teror yang masih hangat.

”Kau terlibat apa, ratu?” Ia bersandar ke depan, kedua lengannya kembali terlipat di atas mejai. Wanita itu menghirup uap nafas yang kuat dengan bau amoniak, yang semakin kuat karena permukaan meja menekan perut si laki-laki.
”Ini sangat serius, ratu. Apa yang terjadi denganmu?” tanyanya.

Wanita itu memutar kepalanya dengan arah yang berlawanan.
”Tidak ada apa-apa,” katanya. ”Aku hanya ngobrol supaya gembira.”

Kemudian ia melihat laki-laki itu lagi.
”Kau tahu kau tidak mungkin membunuh seseorang?”
”Aku tidak pernah berpikir membunuh orang,” kata Jose bingung.
”Tidak ada laki-laki,” kata wanita itu. ”Maksudku tidak ada laki-laki yang tidur dengan aku.”
”Oh!” kata Jose. ”Sekarang kau bicara terus-terang. Aku selalu berpikir tidak ada gunanya berputar-putar. Aku bertaruh jika kau menghentikan semua itu, aku akan memberikan steak terbaik yang aku punya. Setiap hari, gratis.”
”Terima kasih, Jose,” kata wanita itu. ”Tapi itu bukan gara-gara itu. Soalnya aku tidak bisa tidur dengan siapapun lagi.”
”Kau membingungkan lagi,” kata Jose. Ia menjadi tidak sabar.

”Aku tidak membuat bingung,” kata wanita itu. Ia selonjor di bangku dan Jose melihat payudara yang datar dan muram di bawah kutangnya.
”Besok aku akan pergi jauh dan berjanji tidak akan kembali, dan tidak akan menganggumu lagi. Aku berjanji aku tidak akan tidur dengan siapapun.”
”Darimana kau dapat demam itu?” tanya Jose.
”Aku baru memutuskan beberapa menit yang lalu,” kata wanita itu. ”Baru beberapa menit lalu aku sadar bahwa ini pekerjaan kotor.”

Jose mengambil kain lap lagi, dan mulai membersihkan gelas di depan wanita itu. Ia berbicara tanpa melihat wanita itu.
”Tentu saja, apa yang kau lakukan adalah pekerjaan kotor. Mestinya kau tahu itu sejak dulu.”
”Aku sudah mengetahuinya dari dulu,” kata wanita itu, ”tetapi aku baru saja yakin tentang itu beberapa menit lalu. Laki-laki menjijikkan.”

Jose tertawa. Ia angkat kepalanya untuk melihat wanita itu –tetap tertawa– tapi ia lihat wanita itu sedang berkonsentrasi, bingung, berbicara dengan bahu yang diangkat, berputar-putar di atas bangku dengan ekspresi hampa, wajah yang disepuh dengan butiran gandum yang mentah.

”Tidakkah kau berpikir mereka akan memecat wanita yang membunuh seorang laki-laki, karena setelah ia tidur dengan laki-laki itu ia merasa jijik dengan semua yang pernah tidur dengannya?”
”Tidak ada alasan untuk bertindak sejauh itu,” kata Jose, segumpal rasa iba terasa di suaranya.
”Bagaimana jika seorang wanita mengatakan kepada seorang laki-laki ketika sedang berpakaian bahwa ia menjijikkan karena wanita itu mengingat sudah berguling-guling dengannya sepanjang siang, dan merasa tidak akan ada sabun dan sikat yang bisa mengenyahkan bau laki-laki itu dari tubuhnya.
”Itu terlalu jauh, ratu,” kata Jose –sedikit berbeda sekarang– membersihkan meja. ”Tidak ada alasan untuk membunuhnya. Cukup membiarkan dia pergi.”

Tetapi wanita itu tetap melanjutkan pembicaraannya, dan suara datar mengalir –sekarang lebih bernafsu.
“‘Tetapi bagaimana kalau si wanita mengatakan kalau laki-laki itu menjijikkan, namun laki-laki itu berhenti berpakaian dan mendatanginya lagi, menciuminya lagi, apakah…?”
”Tidak ada laki-laki sopan yang begitu,” kata Jose.”
”Bagaimana kalau ia melakukannya?” tanya wanita itu, bingung dan jengkel. ”Bagaimana kalau laki-laki yang tidak sopan, dan ia melakukannya dengan wanita yang jijik melihatnya sampai si wanita mau mati, dan wanita itu tahu bahwa satu-satunya cara untuk menghentikannya adalah menikamkan pisau ke badannya.”
”Itu mengerikan sekali,” kata Jose. ”Untunglah tidak ada laki-laki yang akan melakukan seperti yang kau katakan itu.”
”Ya,” kata wanita itu, sekarang sudah benar-benar jengkel. ”Bagaimana jika ia melakukannya? Andaikan ia melakukannya.”
”Dalam setiap kasus pastilah tidak seburuk itu,” kata Jose. Ia tetap membersihkan meja tanpa merubah posisinya, dan minatnya terhadap pembicaraan sudah berkurang.

Wanita itu mengetuk-ngetuk meja dengan ujung kukunya. Ia menjadi tegas.
”Kau adalah orang biadab, Jose,” katanya. ”Kau tidak mengerti apapun.” Ia tarik lengan baju Jose kuat. ”Mari sini, katakan padaku bahwa wanita itu sebaiknya membunuh laki-laki itu.”
”OK,” kata Jose dengan niat mendamaikan. ”Mungkin saja yang kau katakan adalah satu-satunya jalan.”
”Bukankah itu membela diri?” tanya wanita itu, sambil merangkulnya dengan lengannya.”

Jose memberinya padangan hangat yang baik.
”Hampir, hampir,” kata Jose. Ia mengerling kepada wanita itu, dengan ekspresi pemahaman yang baik dan kekuatiran terhadap suatu kompromi. Tetapi wanita itu sangat serius. Ia lepaskan pria itu.

”Apakah kau akan berbohong untuk wanita yang membela diri dan melakukan itu?” tanyanya.
”Itu tergantung,” kata Jose.”
”Tergantung apa?” tanya wanita itu.
”Tergantung wanitanya,” kata Jose”
”Andaikan wanita itu adalah wanita yang sangat kau cintai,” kata wanita itu. ”Tidak tidur dengan dia, tetapi seperti yang kau katakan, kau sangat mencintainya.”
”OK, semua yang kau katakan, ratu,” kata Jose, santai dan bosan.”

Ia pergi menjauh. Ia melihat jam. Ia lihat sudah hampir 30 menit lewat pukul enam. Ia berpikir bahwa dalam beberapa menit lagi restoran akan diisi dengan orang-orang dan mungkin karena itulah ia mulai membersihkan gelas dengan lebih sungguh-sungguh, melirik diam-diam ke jalan melalui jendela. Wanita itu tetap di bangkunya, diam, berkonsentrasi, melihat gerakan laki-laki itu dengan udara yang pelan-pelan meyedih. Memperhatikannya ketika lampu-lampu mulai mau menyala. Tiba-tiba, tanpa bereaksi, ia bicara kembali dengan suara yang bermanis-manis dan menghamba.

”Jose!”
Laki-laki itu melihatnya sekilas, dengan kesedihan yang dalam, seperti seekor serigala tua. Ia tidak melihat wanita itu untuk mendengarkannya, tapi untuk mengetahui bahwa wanita itu masih ada di sana, untuk menunggu untuk sebuah pandangan bahwa tidak ada alasan untuk menjadi meindungi atau soldaritas. Hanya melihat sebagai sebuah permaianan.

”Aku katakan bahwa aku akan pergi dan kau tidak mengatakan apa-apa,” kata wanita itu.”
”Ya,” kata Jose. ”Kau tidak mengatakan kemana.”
”Jauh ke sana,” kata wanita itu. ”Dimana tidak ada laki-laki yang mau tidur dengan orang lain.”

Jose tersenyum lagi.
”Apakah kau benar-benar mau pergi?” ia bertanya seperti tiba-tiba sadar tentang hidup dan dengan cepat merubah eksresi yang ada di wajahnya.
”Itu tergantung dari kau,” kata wanita itu. ”Kalau kau cukup tahu untuk mengatakan jam berapa aku sampai di sini, aku akan pergi besok dan aku tidak akan pernah berurusan dengan semua ini lagi. Apakah itu yang kau inginkan?”

Jose mengangguk meyakinkan, tersenyum dan berkonsentrasi. Wanita itu bersandar ke arahnya.
”Kalau suatu waktu aku datang kembali ke tempat ini aku akan cemburu melihat kau berbicara dengan wanita lain, pada waktu yang sama di bangku yang sama ini.”
”Kalau kau kembali ke sini lagi kau harus membawaku sesuatu,” kata Jose.
“Aku berjanji bahwa aku akan pergi ke semua tempat mencari seekor beruang jinak dan membawanya untukmu,” kata wanita itu.

Jose tersenyum dan melambaikan lap-nya di udara kosong antara ia dan wanita itu, seperti sedang membersihkan kaca gelas yang tidak terlihat. Wanita itu juga tersenyum, kini dengan ekspresi hangat dan genit. Kemudian si laki-laki pergi menjauh, membersihkan gelas di ujung meja lainnya.

”Kemudian apa?” kata Jose tanpa melihatnya.
”Apakah kau akan mengatakan kepada siapa saja yang bertanya bahwa aku sampai di sini pada jam enam kurang seperempat?” tanya wanita itu.
”Untuk apa?” kata Jose, tetap tidak melihatnya, seperti tidak mendengar wanita itu.”
”Itu tidak jadi soal,” kata wanita itu. ”Yang penting adalah kau melakukannya.”

Kemudian Jose melihat tamu pertama masuk melewati pintu ayun dan berjalan ke sudut meja. Ia melihat ke arah jam. Itu sudah pukul enam tiga puluh persis.
”OK, ratu,” katanya bingung. ”Apapun yang kau katakan. Aku selalu melakukan apa yang kau inginkan.”
”Baiklah,” kata wanita itu. ”Sekarang mulailah masak steakku.”

Laki-laki itu pergi ke lemari es, mengambil piring dengan sepotong daging di atasnya, dan meninggalkannya di atas meja. Kemudian ia nyalakan kompor.
”Aku akan masakkan steak terbaik sepanjang masa, ratu,” katanya.
”Terimakasih, Pepillo,” kata wanita itu.

Ia tetap berpikir, sepertinya secara tiba-tiba tenggelam di antara sekumpulan orang asing yang penuh lumpur, suatu bentuk yang tidak diketahui. Di seberang meja ia tidak mendengar suara ketika daging mentah dijatuhkan ke minyak lemak babi yang mendidih. Setelah itu ia juga tidak mendengar gemiricik kering ketika Jose membalikkan daging itu di kuali dan bau lezat dari daging yang dibumbui itu memenuhi udara restoran. Dia tetap seperti itu, berkonsentrasi, memaksa berkonsentrasi lagi sampai ia mengangkat kembali kepalanya, mengedipkan mata seperti ia baru saja bangkit dari kematiaan sesaat. Kemudian ia melihat laki-laki di samping kompor, riang gembira, membesarkan api.

”Pepillo.”
”Apa!”
”Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya wanita itu.
”Aku bertanya-tanya apakah kau akan dapat menjumpai beruang mainan kecil di suatu tempat,” kata Jose.”
”Tentu saja aku bisa,” kata wanita itu. ”Tetapi apa yang kuinginkan darimu adalah memberi semua yang aku minta selama aku pergi.”

Jose melihatnya dari tempat kompor.
”Berapa kali aku katakan?” katanya. ”Kau ingin sesuatu yang lain di samping steak terbaik yang aku punya?”
”Ya,” kata wanita itu.
”Apa itu?” tanya Jose.
”Aku mau seperempat jam lagi.”

Jose berbalik dan melihat ke arah jam. Kemudian ia melihat kepada langganan, yang tetap diam menunggu di sudut, dan akhirnya pada daging yang sedang terpanggang di atas kuali. Baru setelah itu ia berkata.
”Sungguh aku tidak mengerti, ratu,” katanya.
“Jangan bodoh Jose,” kata wanita itu. ”Cukup ingat saja bahwa aku sudah di sini sejak pukul lima tiga puluh.”
***

Diterjemahkan dari The woman who came at six o’clock, Gabriel Garcia Marquez