Smaradina Muda Mangin

Syam Asinar Radjam
Bersamaku, Mangin menembus pekat aspal yang mulai berkabut. Mengejar 32 km di depan. Yang aku paham Mangin, mengejar sepasang mata yang satu malam sebelumnya melupakan dia tentang keindahan bintang. Secara eksplisit dia pernah kelepasan omongan tentang ini. Mangin mengendus keindahan, terbawa riung angin yang meriapkan rambut tak akrab sisir nya.
Bergantian lampu dekat jauh menyentuh marka dan rambu, berpendar fluoresenct. Beriringan berberapa kendaraan dengan arah lampu beradu arah. Kadang ketika jalur aspal bersisian dengan jalur kereta api aku merasa berkejaran dengan kereta menuju batubara yang kosong.
Mangin malam itu, yang aku paham bukan hendak menemui raut gadis malam sebelumnya semata.
selengkapnya