Kerja Berat Presiden Lula

Alex Bellos

Pemimpin sayap kiri yang terkenal Luiz Inacio da Silva hampir pasti memenangkan pemilihan Presiden Brasil Hari Minggu dalam upayanya yang keempat, dan menjadi warga kelas pekerja pertama yang berhasil menjadi pemimpin sepanjang sejarah negara itu.

Tiga minggu setelah ia gagal tipis untuk memenangkan langsung pemilihan di babak pertama, dia maju ke babak kedua dengan selisih angka kemenangan 30 persen.

Dua calon yang kalah dalam babak pertama sudah memutuskan untuk mendukung Lula –begitulah ia dikenal di dunia internasional– dan melawan calon dari partai sayap tengah, Jose Serra, sehingga kemenangan mantan pegiat sarikat buruh yang militan ini tidak bisa dihalangi lagi.

Jika dia memang menang maka dia merupakan pemimpin kedua yang menerima kekuasan dari presiden yang terpilih di sepanjang sejarah kekacauan politik Brasil selama 113 tahun sebagai republik. Kemenangannya juga menjadi lambang dari presiden yang punya latar belakang kemiskinan.

Brasil –dengan penduduk 170 jta dan merupakan negara dengan ketimpangan pendapatan yang paling tidak adil– sebelumnya diperintah, kalau tidak oleh perwira militer maka oleh tamatan universitas. Sedangkan pendidikan Lula putus di tingkat sekolah dasar.

Pria yang berusia 57 tahun ini memanfaatkan gelombang rasa frustasi atas reformasi pasar bebas yang ditempuh Presiden Fernando Henrique Cardoso selama delapan tahun berkuasa. Walaupun tingkat inflasi bisa bertahan rendah, dan mendorong investasi asing, namun tetap gagal meningkatkan perbaikan sosial yang dijanjikan.

Tingginya tingkat pengangguran dan kriminalitas mendorong rakyat Brasil untuk memberikan kesempatan kepada Lula. Dalam pemilihan presiden tahun 1989, 1994 dan 1998 dia hanya berada di urutan kedua.

Terpilihnya dia di negara terbesar di Amerika Latin ini akan menjadi penegasan terkuat dari ayunan ke arah para calon yang menentang ekonomi neo-liberalisme di daratan Amerika.

Lula dan Partai Pekerja memang sudah keluar dari jalan mereka dengan menjadi lebih moderat dan sudah berjanji untuk mempertahankan makro ekonomi ortodoks yang dijalankan pemerintah saat ini. Namun kekuatiran akan ketidak-pastian menimbulkan kegelisahan dan mata uang Brasil tahun ini kehilangan nilainya sampai 40 %.

Namun makin banyak saja pengusaha yang bergabung dengan Lula karena yakin dia merupakan calon yang paling mungkin untuk memicu pertumbuhan dan merangsang industri dalam negeri, maupun menciptakan lapngan kerja dan membela kepentingan Brasil di luar negeri.

“Brasil sudah berubah, Partai Pekerja sudah berubah dan saya sudah berubah,” katanya pada masa kampanye.

Namun yang lebih ditunggu daripada hasil pemilihan adalah siapa yang akan dia masukkan dalam tim transisi dan bagaimana pasar internasional akan bereaksi.

Soalnya para investor mempertanyakan kemampuannya dalam nengatasi hutang negara sebesar US$ 260 milyar, dan ini berarti transisi akan menjadi krusial dalam menjamin pemerintahan sayap kiri pertama selama 40 tahun ini, atau pemerintah itu akan bangkrut sebelum memulai apa-apa.

TAGS :

sonkski ekalya

Leave A Comment