Edi, Adikku

Susan Ismianti

Sebagai kakak beradik kami tumbuh bersama dalam keluarga sederhana, yang bahkan boleh dikatakan miskin dengan segala keterbatasan fasilitas hidup. Dengan selisih umur enam tahun maka saya lebih banyak berperan ganda sebagai kakak dan pengasuh, karena ketidakmampuan orangtua menggaji seorang pengasuh untuk dia. Tapi barangkali istilah penjaga lebih tepat.

Jadi begitulah, Ayah pergi bekerja dari pagi sampai malam sedangkan Ibu sepanjang hari menjahit dan membereskan urusan ini itu rumah tangga. Maka sebagai kakak sulung, sayalah yang bertugas menjaganya. Tapi tentu sebagai anak kecil saya juga tidak mau kehilangan waktu bermain dengan teman-teman. Maka jadilah ia saya bawa kemana-mana.

Lucu juga mengenang masa itu. Saya masih SD, menggendong dia yang berusia tiga tahun dengan selendang panjang. Pada masa itu periode tahun 1970-an, permainan anak-anak sangat sederhana dan serba tradisional. Paling petak umpet, lompat tali, kasti dan ‘pasaran,’ kata orang Jawa. Pasaran adalah satu jenis permainan yang biasanya dilakukan oleh anak perempuan; bermain sebagai penjual dan pembeli seperti layaknya kegiatan di pasar.

Untuk keperluan pasaran itu maka saya akan membawanya ikut menyusuri kampung untuk memetik daun dan bunga pada setiap pagar rumah. Daun dan bunga itu lalu dipotong-potong sedemikian rupa hingga menyerupai berbagai sayur-sayuran. Lalu saya akan berlaku sebagai penjual dan dia saya atur sebagai pembeli yang harus membeli ini dan itu semau saya.

Kalau ada banyak teman dalam kelompok pasaran itu maka dia cukup sebagai pelengkap penderita saja, pura-pura menjadi anak si Anik atau Tuti. Kalau rewel, saya pukul pantatnya atau saya takut-takuti. Ah, rupanya saya telah melakukan tindakan represif di usia dini.

Paling sering saya membawanya ke rumah seorang teman yang punya ‘padang rumput’ di rumahnya. Padang rumput itu sebenarnya lebih tepat sebagai halaman dan yang berumput itu sesungguhnya hanya sepetak, tapi bagi kami yang masih anak-anak, maka halaman itu rasanya luaaaaas sekali.

Teman saya itu juga mempunyai adik yang sebaya adik saya, sehingga adik saya mendapatkan teman bermain yang klop, dan kami masing-masing bisa bermain tanpa saling merepotkan. Hanya saja rumah teman ini agak jauh, jadi setiap kali saya mesti menahan pegal di kaki dan pundak sementara adik saya seringkali tertidur di gendongan.

Pada pertumbuhannya kemudian dia menjadi anak yang gembul. Dia sangat suka makan. Apa saja dilahapnya hingga menjadi sedemikian gendut. Di kemudian hari, seringkali kala melihatnya saya mesti bergumam heran pada diri sendiri; mengenang dia yang dulu begitu kecilnya dan saya gendong kemana-mana.

Kegendutannya ini pula yang menghambatnya untuk belajar naik sepeda. Sebagai keluarga tak mampu, orangtua tak mampu membeli sepeda kecil untuk kami. Yang ada hanyalah sepeda besar yang dipakai Ayah untuk pergi bekerja, tapi saya dan adik sulung saya agak beruntung karena bisa belajar bersepeda dengan sepeda pinjaman. Kami berdua dengan mudah mendapatkan sepeda pinjaman dari tetangga, tapi tidak demikian halnya dengan adik bungsu saya itu. Karena kegendutannya maka teman-teman kuatir sepedanya akan rusak bila dipinjamkan kepadanya dalam proses belajar. Tidak bisa disalahkan, karena memang begitulah kenyataannya.

Tapi sesungguhnya dunia tidak pernah kekurangan orang baik. Pada masa itu ada saja orang yang mau memberi tumpangan pada adik saya untuk pulang bersama seusai sekolah bila kebetulan kami sedang berhalangan menjemputnya. Barangkali wajah lucu dan kegendutannya itu menimbulkan iba di hati banyak orang.

Saya ingat ada satu anak teman sekelasnya yang paling sering mengantarnya pulang. Mereka berboncengan naik sepeda. Teman ini sama gendutnya dengan adik saya. Untuk membalas kebaikan hati anak itu, Ibu saya cukup membalasnya dengan bon-bon, sekantung kerupuk, semangkuk kolak, atau bahkan hanya segelas air sirup karena memang hanya itulah yang kami mampu pada saat itu. Entah dimana teman ini sekarang. Patut disesali betapa mudahnya kami melupakan budi baik orang lain.

Masa SMP barulah adik bungsu saya itu terpacu untuk belajar naik sepeda. Pemacu semangatnya adalah janji Ayah untuk membeli sepeda motor baru untuknya bila dia berhasil lulus SMP. Seiring dengan membaiknya kondisi ekonomi, orangtua kami berhasil membelikan masing-masing sepeda motor untuk ketiga anaknya ketika masuk SMA. Padahal saat itu dia sudah sangat gemuk, barangkali sudah mencapai sekitar 70 kg.

Tapi naik sepeda bukan ketrampilan langsung begitu jadi yang dibawa sejak lahir, walau dengan iming-iming sepeda motor sekalipun. Dan bagi adik saya ada masalah kondisi berat badan yang menyulitkan, begitu pula untuk pengajarnya.

Tapi tidak ada pilihan lain. Dan dilaksanakanlah proses itu. Pengajarnya adalah Ayah dan adik sulung. Waktunya dipilih malam hari, dengan pertimbangan jalan raya sudah sepi dari lalu lalang kendaraan lain, dan juga para tetangga sudah tidur sehingga kami tidak menjadi bahan tontonan.

Saya selalu terharu mengingat masa-masa itu. Saya dan Ibu menahan napas dan berdebar-debar menyaksikan adegan itu. Sementara adik bungsu saya belajar mengayuh sepeda, Ayah dan adik sulung saya harus berlari-lari mengiringnya sambil menahan sepeda supaya tidak jatuh, padahal sepeda itu sendiri harus menahan beban seberat dia. Dan itu terjadi berulang-ulang, bermeter-meter, lengkap dengan jatuh bangunnya dan lecet sana sini. Bermalam-malam mereka bertiga bersimbah keringat. Bayangkan.

Lucunya, para tetangga ternyata penasaran dengan apa yang kami lakukan dan ternyata melihat kejadian itu bukan dijadikan sebagai bahan tontonan seperti yang kami kuatirkan; mereka justru memberi semangat dan membantu bergantian menahan sepeda.

Pada malam ke lima, berkat bantuan Ayah dan adik sulung dan juga para tetangga, adik saya itu sudah lancar bersepeda. Di ujung jalan kami bersama para tetangga berteriak-teriak dan bertepuk tangan seperti layaknya supporter menyambut pemenang lomba maraton. Lucu sekaligus mengharukan.

Ada satu hal yang tak pernah saya lupakan. Dulu setiap kali Ayah dan Ibu bertengkar, yang kemudian biasanya berlanjut dengan saling mengancam untuk berpisah, maka di antara rasa takutnya itu adik bungsu ini selalu mengatakan tidak mau ikut Ayah atau ikut Ibu. Bila sesuatu terjadi dia hanya mau ikut saya.

Pernyataan yang sederhana, yang barangkali dikatakan tanpa proses pertimbangan apapun juga, melainkan sekedar naluri alamiah anak-anak untuk mengatasi rasa takut. Tapi sesungguhnya pernyataan itu tanpa sadar berpengaruh pada proses pendewasaan saya di kemudian hari. Pada lingkungan keluarga, dalam banyak hal saya menempatkan diri sebagai pihak yang mengambil alih tanggungjawab.

Pada perkembangannya kemudian kondisi keluarga kami mulai membaik, baik secara ekonomi maupun psikologis. Kami bertiga usai menyelesaikan sekolah langsung mendapatkan pekerjaan yang layak. Bahkan adik sulung saya sudah berkeluarga, dan adik bungsu dalam tahap bertunangan.

Dan datanglah musibah itu.
***bersambung

Akan diterbitkan dalam kumpulan memoar ceritanet