Dokter Zhivago

Boris Pasternak
(alih bahasa Trisno Sumardjo), disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960)

Maka pergilah Yury ke stasiun Yaroslavsky untuk menyelidiki.

Antrian penumpang tak berujung bergerak lewat bangsal-bangsal turut titian antara sandaran kayu. Menggeletak di lantai batu, di bawah mereka ada orang-orang yang berbaju tentara kelabu yang batuk-batuk, meludah, berguling-guling dan bicara dengan suara yang tak terduga kerasnya, tanpa memperhitungkan bahwa ruangan berkubah di situ memperganda gema.

Kebanyakan mereka ada pasien-pasien typhus yang sering dilepas oleh rumah-rumah sakit yang penuh sesak itu, sehari sehabis krisis. Sebagai dokter, Yurypun kerapkali harus berbuat begitu, tapi tak pernah dibayangkannya bahwa sebanyak itu orang-orang celaka ini atau bahwa mereka terpaksa mengungsi ke stasiun kereta api.

“Tuan mesti dapat prioritet,” tutur seorang kuli yang memakai apron putih. “Dan harus datang tiap hari untuk menanyakan apa ada kereta api. Sekarang kereta api sama jarangnya dengan emas, jadi soal untung-untungan. Dan tentunya (ibu jarinya menggeser-geser pada dua jari lainnya) sedikit tepung atau apa… Roda tak berputar tanpa minyak, yang penting lagi(ia mengetuk jakunnya) tuan tak sampai jauh kalau tak ada vodka.”
***