Serumpunku Menyapa ‘Mati Dem Asal Ngetop’

Taufik Wijaya

Udara panas. 33 derajat Celcius. Keasingan mengiringi awan yang bergerak menuju kota Sekayu. Dari dalam bus ber-AC dan puluhan minuman kaleng, aku menyaksikan rumah panggung, rumah limas, sapi-sapi tiduran, padang sawah, ribuan ikan di anak sungai, pepohon karet. Membuka pintu pertemuan. Pertemuan saudara serumpun.

“ Dulu, kota ini tak ada di peta,” kata Ahmad Tajuddin Nur, seorang pegawai pemerintah.

Aku menemukan dosa. Dosa yang memakan sejarah para puyang di ibukota distrik Palembang Ilir di masa kolonial Belanda ini. Aku berusaha menyembunyikan jutaan kata. Diam di dalam dua batang rokok. Entahlah, aku hanya butuh tiga jam tapi harus menunggu puluhan tahun.

“Aku yang menghapus Sekayu di peta.”

Beberapa tahun yang lalu, Sekayu adalah kecemasan. Perampok dan kemiskinan membawa masyarakatnya menuju pasar-pasar di Palembang. Mencari makan dan beranak. Puluhan keluarga menghabiskan malam di dalam warung-warung kecil.

Tapi kepolosan membuat mereka ditertawakan. Mereka melawan: “Mati dem asal ngetop”

Palembang berdarah hingga ke Sekayu. Semua dicatat dalam kegelapan, seperti para penyair yang dibuang bersama Sultan Mahmud Badaruddin II ke Ternate. Tak kembali lagi. Buku-buku mereka terbakar di sepanjang perjalanan.
***

Jauh sebelum Indonesia merdeka, ketika sapi menyeret gerobak membawa kabar perjuangan melawan Belanda, dan puluhan perahu mengangkut kecemasan Palembang, Sekayu bergelora. Api peperangan membakar kampung: Tua dan muda mati, emas dan permata menjadi senjata. Teriakan merdeka mengalir di sepanjang anak sungai Musi.

Tetapi saat Soeharto berkuasa, jutaan barrel minyak dan jutaan kubik kayu ditemukan di atas taman-taman nasional. Seperti diserang pasukan Barbar dari Mongolia, Sekayu hanya dapat mengenang kemerdekaan. Darah mereka dihidangkan di atas meja berukir batu pertama di Singapura atau Jakarta.

Sekayu terasing dan aku juga menghisap darahnya melalui kapal-kapal.

“Maafkan aku,” kataku kepada Ahmad Tadjuddin Nur.

Malamnya aku tak mampu menyelesaikan tidurku.
***

Seorang esais dan penyair yang menetap di Bandung, Argus Firmansyah, menyodorkan sebuah puisi, seusai berkenalan dengan para sastrawan dan esais dari Indonesia, Malaysia, dan Brunai, di Hotel Rengganong, Sekayu, Musi Banyuasin, Sumatra Selatan.

Sesaat lolos dari sadar
Memangku tubuh
Terayun di atas perahu…

Dia bercerita, dirinya menyintai pesisir. Mengibaratkan gelombang menghantam dadanya tiap malam. Dia pun menulis berpuluh puisi di dalam kamar. Dingin dan rasa lelah mencari Tuhan, menjelma menjadi kecemasan pada dinding gambar yang tak mampu menampilkan laut.

Dari kesunyian malam Argus Firmansyah membacakan puisi, teruntuk saudara serumpun: Hajah Shararah, Awang Haji Usman, Budi Darma, Suminto A. Sayuti, Haji Hashim bin Haji Abdul Hamid, Dato Haji Baharuddin Zainns, Maman S Mahayana, A. Rahim Abdullah, Haji Mohd Tamin, Hasta Indriana, Saidul Tombang, Nisa Haron, Mohammad Shenidan, Dayang Norhayati, Hasan Albana, Asmyati Amat, Awang Alimin bin Haji Abdul Hamid, Awang Haji Asri bin Haji Putih, Ganjar Harimansyah Wijaya, Awang Azman, dan aku.

Inilah petikan kerinduannya itu.

…Pada serambi sungai musi
Seorang lelaki terusik sunyi
Menjelang senja ia menepi
Duduk di tepi kamar merintih
Hari-hari sunyi lagi-lagi hadir
Mengoyak hati rindu pada kekasih

Dialah cahaya
Atau sejenis lentera
Di hati
Seorang perempuan
Yang tak lekang
Berikan senyuman damai

Pada serambi sungai musi
Seorang lelaki rindukan kekasih…

Pada saudara serumpun menyusun kata dan rasa. Menggambar Sekayu dalam peta di dada. Dada peradaban dunia. Penuh kekasih yang menghembusan angin, sehingga tak dapat dilupakan dalam perjalanan menuju selat Malaka.

Angin berbisik
Menyelinap
Di telinga yang menganga
Ungkapkan kisah
Kerajaan laut

***
Dari pertemuan esais Asean 2004 di Sekayu, Musi Banyuasin, yang digelar Majelis Sastra Asia Tenggara (MASTERA)
-. Mati Dem Asal Ngetop; gaya Palembang, matipun jadilah asal ngetop