Lonceng-lonceng Indah

Mula Harahap

Lonceng sekolah kami –ketika saya masih bersekolah di SD Immanuel, Jalan Diponegoro, Medan–adalah lonceng yang paling indah di dunia. Saya berani mengatakan demikian, karena saya sudah mengamati begitu banyak sekolah dan begitu banyak lonceng.

Ada sekolah yang loncengnya terbuat dari peleg ban mobil. Agar berdentang, maka peleg itu harus dipukul dengan sepotong besi.

Ada sekolah yang loncengnya terbuat dari potongan besi rel. Alat pemukulnya juga terbuat dari mur besar, yang biasanya dipakai untuk menahan rel tersebut ke bantalan kayu jati di bawahnya.

Sekolah-sekolah modern memang memakai sistem lonceng atau–tepatnya–bel elektronik, yang tombolnya ada di kantor guru dan sumber suaranya ada di setiap kelas.Tapi, menurut pendapat saya, lonceng ini juga jauh dari indah. Kita tidak pernah bisa melihat sosok lonceng itu.

Padahal, sosok lonceng yang tergantung disana dan bisa terlihat, bagi anak-anak, akan memberikan kepastian dan harapan. Walau pun jam isitirahat telah lewat waktu, tapi kalau ibu atau bapak guru belum terlihat di sekitar lonceng, maka itu berarti bahwa kita masih boleh melakukan berbagai transaksi “at the last minute”.

Bunyi bel elektronik juga tidak menyenangkan. Hanya sedikit bel elektronik di dunia ini yang berbunyi ‘kriiing.’ Sebagian besar bel berbunyi ‘trooot’ atau ‘kreeek.’ Dan bunyi itu sangat jauh dari merdu. Kita mungkin masih bisa mentolerir bunyi itu kalau merupakan tanda berakhirnya jam pelajaran. Tapi kalau merupakan tanda dari awal pelajaran, sungguh sangat menyesakkan hati.

Lonceng sekolah kami –ketika saya masih bersekolah di SD Immanuel, Jalan Diponegoro, Medan– terbuat dari tembaga. Tingginya sekitar 40 cm dan garis menengahnya 30 cm. Ia tergantung dengan kokoh pada sebuah balok jati yang melintang di antara 2 tiang penahan atap di dekat kantor Bapak ‘Meneer’ Sibuea –Kepala Sekolah kami.

Lonceng itu memiliki tali. Dan tali itulah yang ditarik naik-turun agar lonceng berdentang. Tapi tali lonceng itu dibuat sedemikian rupa, agar anak-anak tidak mudah untuk menggapainya. Memang, saya bisa memahami, betapa kacaunya suasana sekolah, kalau lonceng boleh berbunyi pada waktu yang sembarangan.

Namun guru-guru kami, saya rasa, cukup bijaksana juga. Mereka sadar, bahwa ada kalanya mereka terlalu sibuk untuk membunyikan lonceng tersebut, dan mereka memerlukan bantuan anak-anak. Karena itu, di bawah lonceng tersebut diletakkan sebuah tempat sampah yang terbuat dari potongan drum. Untuk dapat menggapai tali lonceng maka kami harus berdiri di pinggiran tempat sampah tersebut.

Lonceng sekolah adalah lambang otoritas, sama halnya seperti tongkat komando yang terselip di ketiak Panglima TNI atau stempel berbentuk cincin yang ada di jari Kaisar-kaisar Cina.

Kadang-kadang, saya pikir, lonceng sekolah juga mirip dengan ‘buah pohon pengetahuan yang baik dan buruk,’ yang ada di tengah-tengah Taman Firdaus. Kecuali Tuhan, tidak ada seorang pun yang boleh memakan buah tersebut.

Tapi, sejak zaman Adam dan Hawa, manusia memang selalu tergoda untuk melanggar apa yang dilarang, dan menggugat otoritas yang ada di atasnya. Kami anak-anak juga selalu tergoda untuk merasakan bagaimana nikmatnya membunyikan lonceng dan melihat seisi sekolah tunduk di bawah aba-aba kami.

Seperti prajurit TNI, kawula kekaisaran Cina atau Adam–Hawa, kami juga sebenarnya sadar hukuman apa yang bakal kami terima kalau berani menggugat otoritas yang ada. Karena itu, kalau tidak diperkenankan guru, tidak ada yang berani menyentuh lonceng itu.

Tapi kadang-kadang, ada saja anak yang nekad dan mencoba mengganggu lonceng itu. Entah ‘setan’ apa yang berbisik di kepalanya, suatu ketika, saudara sepupu saya –Edison Siregar–membidik lonceng itu dengan ketapelnya. Teng!

Dengan serta-merta Bapak ‘Meneer’ Sibuea keluar. Edison tertangkap basah sedang melakukan bidikan yang kedua. Meneer berteriak lantang; “Hei, Orang Langsa, Orang Langsa, kowe pikir ini sekolah nenek-moyang kowe….” Edison Siregar, yang ayah dan ibunya tinggal di Langsa, tak jauh dari perbatasan Aceh dan Sumut, digelandang ke kantor sekolah.

Seperti telah saya uraikan terdahulu, pada jam istirahat adakalanya guru terlalu sibuk mengobrol dan tak sempat membunyikan lonceng. Guru akan menyuruh salah seorang dari kerumunan anak yang ada di dekatnya. “Hei, kau, anu, bunyikan dulu lonceng itu, sudah musti masuk kita….” Karena sosok yang disebut tidak jelas, maka semua anak akan merasa dirinya “anu” dan berlari ke arah lonceng.

Anak yang berlari paling depan akan melompat ke atas tempat sampah, menggapai tali dan mulai menarik. “Teng! Teng! Teng” Lalu temannya yang lain akan menariknya turun dan ingin pula merasakan kenikmatan membunyikan lonceng. “Hoi, sekarang gilirankulah…”. Kembali lonceng berbunyi,” Teng! Teng! Teng”

Kita bisa membedakan mana bunyi lonceng yang dibuat guru dan mana yang dibuat oleh anak-anak. Bunyi lonceng yang dibuat anak-anak akan panjang sekali dan tidak beraturan.

Pada masa itu, bagi kami anak-anak, lebih mudah membunyikan lonceng gereja GPIB yang ada di depan sekolah, ketimbang membunyikan lonceng sekolah sendiri.

Adakalanya gereja GPIB menyelenggarakan kebaktian pemberkatan pernikahan. Kalau acara tersebut bersamaan dengan jam istirahat atau bubaran sekolah, maka itu berarti kesempatan bagi kami untuk membunyikan lonceng gereja.

Sementara iringan pengantin melangkah menuju altar, confetti ditabur-taburkan dan jemaat berdiri, maka lonceng pun dibunyikan. Petugas gereja biasanya mengijinkan kami untuk menarik tali lonceng itu. Tapi pekerjaan membunyikan lonceng gereja tidak semudah membunyikan lonceng sekolah. Lonceng gereja baru berdentang kalau dua atau tiga anak bergelayut di tali. Teng! Teng! Teng!

Bunyi lonceng gereja jauh lebih berwibawa daripada bunyi lonceng sekolah. Dahulu saya percaya bahwa bunyi lonceng ini terdengar sampai ke surga.

Di dunia ini hanya ada beberapa lonceng yang membuat saya terkagum-kagum. Pertama, tentu, lonceng penjual Es Baltic. Pada awal tahun 60-an, ketika saya tinggal di Jakarta, di daerah Menteng, ada es potong dan es krim yang dijajakan dengan kereta berkuda. Es Baltic
namanya. Bunyi loncengnya selalu memberikan sensasi tersendiri di dalam diri saya.

Kedua, lonceng gereja HKBP Sipirok, Tapanuli Selatan. Pada suatu malam pergantian tahun, saya dan anak-anak lainnya–tidak perduli apa agamanya– boleh membunyikan lonceng itu sepanjang malam!

Ketiga, Independence Bell yang ada di Pennsylvania, Amerika Serikat, yang di badannya terukir nama-nama ‘ the founding fathers AS.’ Lonceng itu sangat besar, dan walau pun ia telah retak, tapi dentangan kebebasan serta persamaan hak-hak manusia yang dinyatakannya masih terus bergaung hingga ke masa kini.

Dan yang keempat, ya itu tadi; lonceng SD Immanuel, di Jalan Diponegoro, Medan.