Pernahkah Saya ke Magelang?

Syam Asinar Radjam

Pernahkah saya ke Magelang?

Hampir pukul 8 malam, Jum’at 2 hari menjelang Natal 2005, saya dan Ria –calon istri– tiba di Bandara Adi Sucipto, Yogyakarta. Kami pun segera memesan taksi untuk meneruskan perjalanan ke Magelang. “Berangkatnya nanti, ya. Kami makan malam dulu,” kata saya ke petugas di tempat pemesanan taksi.

Sesaat sebelum kami siap berangkat, saya ke toilet dan berlanjut ke wartel untuk menelepon keluarga di Prabumulih, Pulau Sumatra –di luar Jakarta ponsel CDMA saya tidak berguna. Dan Ria, menemukan seseorang. Adalah Aryo, saudara sepupu Ria yang tinggal di Magelang. Rupanya Aryo menjemput Dini, kakak perempuannya yang hanya berbeda pesawat dengan kami. Kami batalkan taksi dan ikut mobil Aryo.

Kebetulan sekali! Saat memesan taksi, kami sempat bertanya apakah taksi akan melalui pusat kota Yogya
agar kami sempat menikmati wedang ronde di alun-alun kota kesultanan itu. Tapi taksi menuju Magelang tidak melalui pusat kota, melainkan melalui jalan lingkar. Lagipula, kalaupun sopir taksi bersedia mengantarkan kami berjalan sebentar, kami harus menyisihkan tambahan biaya. Bersama Aryo, kami bisa!

Tak lama kemudian kami berempat sudah menikmati wedang ronde di depan SDN Keputran di Alun-alun Utara Keraton Yogya. Lagu-lagu berdendang dari sebuah band pengamen. Tapi menjelang pukul sepuluh kami sudah harus menyudahinya dan segera menuju Magelang.

Ini adalah perjalanan pertama saya ke kota asal sepasang calon mertua. Saya diajak hadir pada acara keluarga Ria; mengunjungi Eyang –ibu dari ibunya Ria– yang merayakan Natal. Momen ini juga dimanfaatkan oleh keluarga Ria untuk melakukan pemotretan pra-nikah kami. Begitulah riwayatnya mengapa saya sampai mengunjungi Magelang.

Kota itu berjarak 45 kilometer di sebelah Utara Yogyakarta, kata Aryo. Berarti sekitar 45 menit ke depan
kami akan sampai. Ria menanyakan, apakah saya tertidur? Kujawab, sayang sekali kalau perjalanan ke
kota yang pertama kali kukunjungi dilewatkan dengan tertidur.

Perjalanan menuju Magelang dilewati dengan jalan aspal aneh. Di jalur menuju Yogya, kondisi aspalnya tampak mulus. Tapi jalur menuju Magelang –yang selanjutnya menuju Semarang– tidak rata. Menurut Aryo, itu akibat pembangunan di ibukota propinsi. Maksudnya, Semarang. Setiap hari barisan truk berat membawa pasir dari Gunung Merapi menuju Semarang. Sementara saat truk kembali dari Semarang menuju Yogyakarta, truk-truk sudah dalam keadaan kosong.

Begitu masuk kota Magelang –kota kecil yang dilingkupi wilayah Kabupaten Magelang— banyak cerita tentang Magelang yang dikenalkan ke pada saya. Salah satunya adalah Bukit Tidar, di sebelah kiri mobil kami. Aku hanya melihat gelap di sana-sini, kecuali bagian yang ditimpa lampu-lampu.

Tidak tinggi, sih –belakangan dari referensi di internet aku tahu ketinggiannya 500 dari permukaan laut— tapi capek sekali mencapai puncaknya, kata Ria. Ditambahkannya pula, bukit itu dianggap sebagai “pakuning Pulau Jawa” atau paku Pulau Jawa. Legenda menyebutkan pulau Jawa dulu terapung-apung di tengah lautan. Agar tidak terombang-ambing, pulau ini dipakukan hingga ke pusat bumi.

Ada banyak yang dikenalkan. Tapi saya lupa satu demi satu. Hingga kami pun sampai ke penginapan. Udara sejuk pegunungan kota menerbitkan rasa nyaman luar biasa. Saya berencana akan mengelilingi Magelang dan banyak menulis saat di kota ini.

Malam itu kami berempat ngobrol ringan sambil menunggu kedatangan rombongan Bapak dan Ibu Ria dari Surabaya, keluarga calon ipar dari Malang, dan pakde dari Solo.
***

24 desember 2005, separuh hari kami lewati dengan membuat foto. Sesi pertama, Pak Win, pakde yang datang dari Solo mengiringi kami dengan senang hati sambil menenteng kamera. Ia menjeprat-jepretkan kamera dengan cara yang membuat kami rileks. Tidak perlu berakting. Kami hanya cukup berjalan-jalan di tepian Kali Progo, dalam kawasan penginapan. Kami saling berpegangan tangan sambil melompati batu, atau duduk di batu besar di tengah kali. Saling berbisik, menyelipkan bunga liar di telinga Ria, atau duduk berhadapan di bangku kayu. Kami juga tak harus bermake-up. Pak Win mengambil gambar dengan cara mencuri, snap-shot.

Sesi selanjutnya, cukup melelahkan. Nang, adik Ria yang berprofesi sebagai fotografer profesional
sekaligus mengusahakan studio foto di Malang menginginkan foto-foto yang menurutnya memenuhi
standar. Mulailah kegiatan foto-foto tidak semenyenangkan sebelumnya.

Sambil difoto, Ria seringkali cemberut mendengar instruksi Nang, “Tangan Mbak Ria, yang rileks dong”
atau, “Mas Chan coba tumitnya agak ditekuk. Tidak. Bukan dijinjit. Pandangannya pandangannya ke sini.
Geser dikit. Ya. Lihat ke tangan Nang.” Katanya sambil melambaikan tangan di sebelah kepalanya. “Mbak Ria lihat ke Mas Chan, dong.” Dan lain-lain.

Pada tengah hari kegiatan berfoto usai untuk sementara. Akan dilanjutkan lagi sore manakala sinar
matahari mulai lindap. Siang itu keinginan saya untuk segera keluar dari penginapan dan berkeliling kota
dengan becak atau jalan kaki dikalahkan oleh rasa kantuk dan letih. Sampai kemudian dibangunkan lagi
untuk melanjutkan mengambil foto dengan latar sunset di Gunung Sumbing, dan beberapa titik lain di taman penginapan.

Malam hari, acara dilanjutkan menyambangi Eyang di rumahnya di Wates. Sampai hampir pukul 01.00. Dan begitu kembali ke penginapan, saya sudah letih. Menulis pun rasanya tak sanggup lagi.
***

Karena kecuali saya dan Ria sepertinya tidak ada yang puas dengan hasil pemotretan yang telah dilakukan,
akhirnya pemotretan diulangi pada hari Minggu, 25 Desember 2005. Kelemahan itu dinilai terdapat pada
banyak sisi, make-up yang terlalu tipis, warna pakaian kurang cerah. Juga tidak telalu bagus pada pengadeganan, ekspresi wajah dan gerak tubuh.

Pemotretan berlangsung sampai dengan waktunya bersiap check-out. Kami pun sempat mampir lagi ke rumah Eyang di Wates. Dan sempat ke rumah yang dibangun Bapak dan Ibu di Jurang Ombo. Cuma ke sana saja, Meskipun sempat melihat kota ini dari balik jendela mobil. Di Jurang ombo tak lama. Tidak sampai satu jam. Lalu segera menuju Yogyakarta.

Tak terasa, kami pun sampai bandara Adi Sucipto. Di ruang tunggu bandara saya bertanya-tanya dalam hati. Kemudian tersenyum-senyum sendiri. Pernahkah saya ke Magelang? Sebenanrnya saya bisa jawab: pernah!

Harap jangan melanjutkan pertanyaan. Terutama, “Sudah kemana saja di Magelang?!” Hehehe, saya cuma ke Hotel Puri Asri, kok.