Srey Karaoke

Rustam Pakpahan

Perdana Menteri Hun Sen, atas nama pemerintah Kamboja, pernah mengeluarkan perintah menutup seluruh karaoke, night clubs, dan hiburan malam lainnya. Di Phnom Penh saja, sebanyak 1.053 tempat hiburan malam resmi ditutup. Kelihatannya ancaman Hun Sen akan mengirim tank untuk meruntuhkan tempat yang masih buka menciutkan nyali pengusaha. Tapi hanya seminggu setelah perintah tegas 23 November 2001 itu dikeluarkan, pengusaha hiburan malam kembali membuka bisnisnya hanya dengan mengubah istilah karaoke atau night club menjadi restoran, beer garden dan sebagainya. Di Kamboja, kelihatannya bukanlah keputusan bijak untuk menghentikan bisnis esek-esek ini, terutama ketika sistem yang ada tidak memberikan pilihan lebih baik dan lebih mudah bagi puluhan ribu perempuan yang mencoba survive dengan lowongan yang tak mensyaratkan tetek-bengek sertifikasi, keahlian, dan pengalaman kerja

June 2, 2004, 01.00 am, aku mengunjungi salah satu tempat hiburan malam di downtown Phnom Penh: Champa Karaoke.

Lantai bawah bangunan ruko berlantai tiga ini terlihat remang. Aku melangkah masuk bersama empat orang teman. Belasan perempuan duduk di bangku plastik yang dideretkan di depan tv. Dari luar mereka tidak kelihatan. Tak terdengar canda tawa. Semua kelihatan khusuk. Persis seperti di kelas. Tapi mereka tidak sedang belajar. Mereka menonton tv sambil menunggu tamu yang datang. Mungkin drama India yang telah di dubbing ke dalam bahasa Khmer itu begitu menariknya bagi mereka, atau mungkin juga sebagian sudah merasa kelelahan menemani tamu sejak sore tadi.

Dalam keremangan kulihat satu dua cewek coba menawarkan senyum sementara yang lain seolah tak perduli. Beberapa wajah kelihatan lebih putih karena didempul bedak, seperti topeng putih. Sebelumnya aku sering lihat cewek-cewek di kompleks pelacuran bermake-up menor seperti itu. Katanya, itu menjadi salah satu ciri pekerja seksual komersial (PSK) Khmer. Mungkin juga untuk menandingi PSK keturunan Vietnam, yang secara alami memang berkulit lebih putih.

Beberapa saat Bong Phiep –bodyguard yang biasa menemani aku kerja turun ke lapangan di malam hari– ngobrol dengan pengelola karaoke parlor. Aku sempatkan lagi mengamati cewek-cewek yang masih tetap duduk tertib itu. Tak seorangpun kelihatan berusia di bawah 18 tahun. Menurut taksiranku, mereka berusia antara 19 hingga 24 tahun. Hilang harapan untuk mendapatkan subjek penelitian di tempat ini. Tapi siapa tau tempat ini masih punya koleksi lain, aku kembali berharap.

Diam-diam sambil duduk di atas motor yang diparkir di ruangan, aku kembali amati wajah-wajah itu satu persatu, coba mencari seseorang yang mungkin akan enak diajak ngobrol. Setidaknya aku bisa mendapatkan informan awal yang mungkin akan bisa membawaku ke informan inti. Atau setidaknya, jika memang ada keharusan setiap tamu ditemani satu cewek, aku tak mau nantinya duduk dengan seseorang yang tak komunikatif, yang hanya bisa menawarkan senyum yang dipaksakan. Tapi wajah wajah itu seperti patung. Dingin tanpa expresi.

“Mau yang mana?” tanya Rith, seorang teman Khmer, sambil melihat arah pandanganku. “Ga ada yang menarik,” jawabku sambil menggeleng dan mengikutinya melewati koridor sempit menuju tangga ke atas. Dia tertawa. “Kamar karaoke yang di lantai ini untuk dua atau tiga pasang, kita pakai kamar yang di atas,” jelasnya. Sekitar sepuluh orang cewek mengikuti kami dari belakang.

Seorang cewek sedang sibuk di kamar operator yang ada diantara ruang tunggu dan satu kamar karaoke yang katanya untuk dua atau tiga pasang. Aku baru melangkah ke tangga pertama ketika kulihat seorang cewek keluar dari toilet. Wajahnya manis tanpa make-up menor. Dengan blue jeans dan t-shirt, dia jauh dari sosok seorang pekerja seks. Dia lebih kelihatan seperti cewek baik-baik, meski aku juga sadar tak kan bisa berharap ketemu cewek baik-baik di tempat seperti ini. “Kamu mau dia?” Rith menebak apa yang ada dipikiranku. “Iya,” jawabku tetap memperhatikannya sambil menaiki anak tangga. “Tapi biar aku panggil sendiri nanti.”

Di lantai dua ada tiga ruang karaoke, dan kami masuk ke kamar paling besar, sekitar 4 x 6 meter, yang terletak di ujung koridor. Satu set sofa di susun letter-u, cukup untuk lima pasang, dengan meja Oshin tempat minuman dan snack. TV 36 inci ada dipojok dekat pintu masuk dan satu speaker JBL digantung di setiap pojok ruangan. Ruangan ini dilengkapi dengan AC dan kipas sirkulasi. Lumayan nyaman untuk nyantai sambil berdendang.

Bong Phiep tanya harga minuman, fasilitas, dan layanan lain. Aku senantiasa ingatkan dia untuk melakukan [prosedur itu setiap pertama kali datang ke tempat entertainment. Satu kaleng bir atau soft drink US$ 1 (dua kali lipat harga normal di luar, tapi jauh lebih murah dibanding US$ 2,5 per kaleng di tempat lebih elit seperti Sparks Discotheque), kamar karaoke US$ 3 per jam, dan cewek yang menemani duduk diberi tip US$ 1 per orang tanpa hitungan jam (di banyak tempat lain, cewek teman duduk dibayar US$ 2,5).

Sebagian srey karaoke masuk ke kamar, sebagian lagi berdiri di koridor di depan pintu. Tak ada kesan merayu atau menggoda dari mereka. Tak ada senyum yang dipamerkan. Mereka sama sekali jauh dari agressif. Mereka hanya berdiri menunggu apa ada yang berminat ajak mereka menemani duduk. Mereka menunggu dengan sabar. Hanya untuk tip satu dollar.

Orang Khmer memang dikenal tidak ekspresif. Menunjukkan kemesraan di depan orang lain bukan bagian dari tradisi mereka. Itu pantangan besar. Jangan harap pernah ketemu dengan cewek Khmer yang kementelan atau kemayu-kemayu. Bahkan pekerja sex pun tidak. Mereka juga cenderung menjaga jarak dengan orang asing. Aku tidak kelihatan asing bagi mereka, dan tak seorangpun tau aku bukan orang Khmer sebelum mereka dengar aku ngomong. Tapi bagi mereka, Pak Rony, temanku asal Indonesia Timur, lebih kelihatan seperti orang Pakistan atau India.

Pak Rony dan Rith sudah pilih pasangannya, dan mulai larut dengan obrolannya. Aku lihat Pak Rony sedang mencari-cari lagu dari buku daftar lagu. Kebanyakan lagu Khmer, tapi di beberapa halaman terakhir ada lagu bahasa Inggeris dan Cina. Dua teman lain kelihatan saling sungkan karena mereka adik dan kakak ipar. Aku masih menunggu. Tak satupun dari cewek yang berjejer di dekat pintu itu menarik perhatianku. Dalam keremangan ruangan aku perhatikan tiga cewek yang datang membawa satu kotak bir Anchor, beberapa kaleng soft drink, snack, dan es batu. Aku berharap kalau salah seorang darinya adalah cewek manis yang kulihat di bawah tadi. Tapi ternyata bukan.

Aku putuskan cari dia ke luar kamar, melintasi srey-srey karaoke yang masih tetap menunggu di koridor. Aku tak mau ditemani seseorang yang bagiku mungkin akan lebih banyak mengganggu dari pada bermanfaat. Di ujung koridor di dekat tangga aku lihat dia berdiri bersandar ke dinding. Seorang diri. Kuhampiri dan kutawarkan senyum. Dalam bahasa Khmer, kuajak dia duduk menemaniku ke kamar karaoke. Tak ada jawaban. Dia juga tidak mengangguk atau senyum menandakan setuju. Tapi aku tau dia pasti mau, atau harus mau, karena itu memang pekerjaannya di sini. Kugamit tangannya dan dia mengikuti langkahku ke ruang karaoke. Kami duduk bergabung dengan teman lain.

Salah seorang cewek meredupkan lampu ruangan. Srey-srey karaoke yang tadinya menunggu di koridor mulai melangkah pergi. Mereka kurang beruntung kali ini. Atau mereka malah lebih beruntung? Dua teman lain –si bodyguard dan adik iparnya– ternyata terlalu sungkan untuk mengambil pasangan. Pintu kamar ditutup.

Pak Rony tengah asyik berdansa dengan pasangannya mengikuti irama lagu Khmer. Berpelukan erat, berciuman. Persis sepasang kekasih. Kulihat mereka begitu menikmati. Si cewek, Srey Pov, juga kelihatan akomodatif, ceria, sering menawarkan senyum. Dia balas setiap ciuman dan sentuhan. Aku tertegun. Entah cewek itu benar-benar atau pura-pura menikmati. Kelihatannya dia srey karaoke termuda di tempat ini, dan mungkin salah seorang cewek langka yang bisa memberikan pelayanan seperti itu. Aku bisa lihat dengan jelas, dia berbeda dengan srey karaoke lainnya. Senyumnya lebih lepas dan kemesraannya terlihat tidak dipaksakan.

Aku perhatikan cewek yang duduk di dekatku. Dari tadi dia hanya diam. Dia bahkan belum menyentuh gelas birnya. Kuajak dia toss, dan dia minum sedikit. Minum bir pakai sedotan. Bong Pheap, si bodyguard, datang mendekatinya.

“Kamu minum yang banyak, layani temanku ini,” katanya dengan nada agak marah dan kesal.

Bong Phiep tak pernah tau untuk apa aku datang ke tempat-tempat seperti ini, dan dia tak perlu tau. Cewek tadi langsung ambil gelasnya dan ajak toss dengan senyum yang dipaksakan. Dia minum sampai kandas, sampai dia tersedak. Bong Phiep kelihatan puas dan kembali ke tempat duduknya.

“Kamu ga harus minum kalau ga mau,” kataku sambil tersenyum.
“Aku cuma pengen duduk ngobrol dan dengar kamu nyanyi.” Dia memandangiku. Ada keheranan di wajahnya. Mungkin ia heran mengapa aku cuma inginkan itu. Mungkin dia juga heran Bahasa Khmer ku yang tidak pas.
“Bukan orang Khmer, bang?” Aku mengangguk mengiyakan, tapi dia kelihatan masih heran.
“Aku orang Indonesia. Kerja disini sembilan bulan. Bulan 10 aku pulang ke Indonesia.” “Kamu orang Phnom Penh?”
“Tidak. Orang tuaku di Battambang. Aku sewa kamar di Phnom Penh.”

Aku senang dia mulai mau bercerita.
“Baru 1,5 bulan aku kerja disini. Mungkin bulan depan aku pulang ke Battambang.”
“Kenapa? Ga enak kerja disini?”

Srey Sothie lalu cerita tentang ketidaksenangannya kerja di karaoke. Banyak pnyiu ot laor (tamu tak baik), yang suka berbuat kasar, minta macam-macam dan suka meraba-raba. Banyak juga yang mengajak tidur. Kebanyakan teman-temannya memang bisa diajak tidur ke hotel, guest house atau kamar-kamar penginapan yang terdapat di setiap pojok di Phnom Penh atau di pinggir kota ini.

Tamu menanggung semua biaya penginapan, konsumsi dan transport plus US$ 20 per malam untuk seorang srey karaoke –hampir separuh gaji tetap sebulan yang diterimanya di karaoke parlor (US$ 45). Lima dari dua puluh dollar ini harus dibayarkan ke pengelola karaoke sebagai kompensasi libur satu hari kerja. Tapi menurut Srey Sothie, dia tak pernah mau setiap kali ada tamu yang mengajak tidur. Penghasilan extra satu atau dua dollar perhari biasanya dia dapatkan dari tamu yang ia temani di kamar karaoke. Selama dia bercerita, beberapa kali aku harus tanya kata-kata yang tak kumengerti kepada teman penerjemah.

Mungkin karena rapportku yang berhasil, atau karena dia tidak menganggapku sebagai pnyiu ot laor, dia tak lagi kelihatan terlalu kaku. Senyumnya tak lagi kelihatan dipaksakan. Dia nyanyikan beberapa lagu. Suaranya bagus. Aku bisa nikmati meski tak terlalu memahami artinya.

Hari semakin dini. Belasan lagu sudah didendangkan. Belasan kaleng kosong berserakan di bawah meja. Aku lelah dan mulai mengantuk. Kami putuskan pulang. Jam menunjukkan pukul 3.00 pagi ketika aku melangkah keluar dari karaoke room. Di lantai bawah masih ada beberapa srey karaoke. Di seberang jalan juga masih tiga tukang ojek menunggu penumpang. Selebihnya sunyi…
.***
*
. Srey : secara literal berarti cewek karaoke.
*. Semua nama bukan yang sebenarnya

TAGS :

sonkski ekalya

Leave A Comment