Kucing Jalanan

Victoria Tokareva, diterjemahkan oleh Victor Pogadaev

Untuk sarapan dia mendapat sosis dengan kubis rebus, bubur sekoi, donat dengan jem, kopi susu, dan sekeping mentega di piring. Pelayan Lida mengambil semuanya sekaligus dari dulang dan menaruhnya di meja supaya tidak sampai ditunggu. Dia tersenyum manis dan pergi.

Klimov memandang piring dan menilai keadaan: di depannya di meja ada makanan yang cukup untuk seluruh hari. Bubur patut dimakan pagi, sosis dengan kubis pada sore hari, sedang donat untuk malam. Dan ini agak banyak untuk lelaki berumur empat puluh tahun dengan berat badan berlebihan yang gaya hidupnya tidak aktif. Tetapi Klimov sejak masa kanak-kanak punya tabiat: kalau sudah dibayar, harus dimakan habis. Tabiat itu kekal sejak zaman kanak-kanak kelaparan sesudah perang k,etika keluarga hidup melarat ibarat mengais makan pagi pagi, mengais makan sore.

Tetapi zaman kanak-kanak dan hidup melarat sudah lama berlalu. Usia Klimov sudah masuk pertengahan dan hidup berkecukupan. Karena usia dan hidup serba cukup itu, dia bertambah gemuk dan ketika dia mau memakai jins beldu yang bergaya, dia terpaksa menarik perutnya dan barulah bisa mengancing ritsleting. Perutnya menjadi datar, tetapi gasternya menganjur dan kancing susah tersemat dan tampak baju itu seakan-akabn padat diisi dengan Klimov.

Ketika Klimov datang ke sanatorium, dia bersumpah akan menurunkan berat badan: makan sedikit dan bergerak banyak. Sekarang ketika makan donat, perasaannya bercampur: dari satu segi –bukankah dia, lelaki dengan tingkat kecerdasan yang tinggi, yang menerbitkan artikel dalam jurnal ilmiah tidak punya cukup tekad untuk menolak makan donat? Setelah itu bangkit, dan pergi.

Tetapi dari segi yang lain – apa itu donat?

Mula-mula orang menanam gandum. Ini disebut musim tanam. Kemudian orang memanen gandum. Ini disebut musim panen. Kemudian orang membawa gandum ke pabrik penggilingan gandum dan di situ mereka menghasilkan terigu. Tetapi itu baru separuh perkara saja. Orang memungut apel -buah bundar hasil bumi dan matahari- memasukkannya dalam kotak dan membawa ke pabrik pembuatan makanan kaleng, tempat apel itu dijadikan jem, yang dimasukkan ke dalam kaleng.

Seterusnya, terigu dan jem datang ke juru masak yang sepanjang pagi tadi membuat donat dengan jem dan memasaknya dengan minyak sayur. Jika berpikir dalam-dalam maka bisa dimengerti betapa banyak kerja dibutuhkan untuk itu. Patutkah kerja itu diabaikan? Dan untuk apa?

Nah, apa yang akan berubah jika badan Klimov, misalnya, susut sebanyak tiga kilogram selama berada di sanatorium? Tidak ada apapun yang akan berubah. Klimov nanti adalah tetap Klimov, hanya tanpa tiga kilogram. Tak ada orang yang akan mememerhatikan itu. Dan kalaupun ada orang yang memerhatikan dan bertanya: “Tolya, apakah kamu susut badan?” maka dia akan menjawab: “Ya, saya berdiet, tidak makan barang dari tepung dan manisan”. Itu saja.

Apakah layak menghabiskan begitu banyak usaha demi kata-kata orang bodoh. Atau bahkan orang yang dihormati.

Selama Klimov makan dan merenung, tetangga-tetangganya yang duduk di meja yang sama datang ke ruang makan juga. Tetangga di sebelah kanan adalah wanita tua yang sopan, yang kelihatan seperti belalang kering. Orang berkata, pada masa lalu dia adalah orang penting, entah balerina yang terkenal atau istri seorang pemikir besar. Dan mungkin kedua-duanya: balerina dan istri. Tetapi wanita tua itu sendiri tidak mengatakan apa-apa, dan Klimov tidak bertanya. Dia tidak berminat mengetahui kehidupan orang lain jika tidak punya hubungan dengannya. Wanita tua itu juga tidak mengatakan apa-apa tentang dirinya, walaupun mungkin ingin menceritakan sesuatu.

Di depan dan di kirinya duduk Oleg dan Lena. Mereka berbahagia dan karena itulah selalu terlambat, baik untuk sarapan pagi, maupun untuk makan siang, dan makan malam. Oleg berbadan besar seperti beruang perang, dan juga seperti membongkok. Dia senantiasa berkelakar dan berbicara dengan suara kuat, seperti serigala dari katun, “Awas! Nanti aku beri.”

Dan Klimov, apabila melihat Oleg, jadi tertanya-tanya dalam diri sendiri: apakah begitu sukar untuk menarik perhatian orang dengan kepribadiannya sendiri? Apakah perlu berbicara dengan suara kuat untuk menarik perhatian? Apakah tidak cukup berkelakuan sederhana? Atau mungkin Klimov hanya iri hati, tetapi tidak menyadarinya.

Lena masih muda, tetapi dia bukan dalam masa muda pertengahan pertama tetapi mungkin pertengahan kedua, ketika segala-galanya yang sepatutnya mekar memang sudah bermekaran, dan sesuatu yang sedikit pun melayu. Seperti mekarnya kecantikan bukan pada bulan Mei, tetapi sudah bulan Juli. Di lehernya yang terbuka tergantung kalung manik-manik, rantai, dan rantai kecil. Biasanya itu berlebihan dan tidak cantik, tetapi di lehernya malah tampak cantik.

Wajahnya berkilat sedikit karena krim yang disapu. Adalah jelas bahwa dia menjaga kulitnya, tetapi dia tidak perdulikan yang lain, misalnya Klimov. Saat melihat mukanya tanpa make-up, Klimov membayangkan bahwa Lena adalah istrinya dan mereka sarapan bersama di rumah. Pikiran itu membuat dia jadi malu dan teringat pada apa yang sedang dia ingin lupakan.

“Lihat, saya makan habis segalanya,” Klimov mengaku kepada tetangganya semeja.

“Pada pagi hari tidak apa-apa,” wanita tua menghiburnya, “Yang penting tidak makan pada waktu malam.”

“Harus makan banyak, tapi sering!” Oleg berkelakar dan ketawa karena leluconnya sendiri itu.

 Lena diam sambil melihat dengan alpa ke depan. Dia minum teh dan memanaskan tangannya dengan memegang gelas.  Kemudian dia memotong sekeping roti Oleg. Dengan tidak sadar dia ingin bertalian dengangnya. Senantiasa dan dalam segala-galanya.

Sesudah sarapan, Klimov pergi berjalan-jalan untuk menghabiskan kalori yang berlebihan. Dia tidak pandai dan tidak suka berjalan-jalan karena otak yang tidak sibuk akan terpusat pada kenangan dan renungan yang dia tidak mau dia pikirkan hingga akhir. Ada situasi yang lebih berguna untuk tidak dipikirkan sampai akhir.

Klimov meninggalkan wilayah sanatorium, menuju ke hutan. Dari semua fenomena alam, atau lebih tepatnya, dari seluruh gejala alam yang sudah terjadi -seperti api, laut, gunung, padang rumput, dan sebagainya- Klimov paling menyukai hutan. Pada suatu ketika pada masa kanak-kanak, kawannya Slavka mengatakan bahwa pohon adalah orang meninggal, dan ada kemungkinan bahwa di hutan, di antara pohon-pohon, terdapat seorang nenek moyang yang sangat jauh, yang pernah hidup pada zaman Ivan Ganas.

Klimov percaya. Dan percaya hingga hari ini. Sudah tentu dia tahu bahwa itu tidak benar. Tetapi tak ada orang yang membuktikan sebaliknya.

Selama di hutan, Klimov merasa tenang dan tenteram, seolah-olah dia pulang ke kampung halaman untuk cuti belajar. Hutan mendamaikannya dengan masa lalu dan sekarang. Di dalam hutan, dia tidak merasakan kesepian yang justru dirasakannya, misalnya, di kereta bawah tanah. Kesepian terbesar malah mendatanginya di tengah-tengah orang ramai karena orang-orang yang tidak perduli dengan kehadirannya. Mereka menempuh kehidupan sendiri, dan dia menempuh kehidupan sendiri juga.

Berhampiran dengan pohon pinus yang tinggi, jalan itu bercabang tiga. Klimov berhenti seperti wira Rusia yang termenung dengan jalan yang mana diantara yang tiga itu yang harus dipilihnya, dan saat itu seekor kucing muncul dari belakang pohon. Kucing yang begitu kurus dan ganas sehingga kehilangan penampilan kucingnya. Di belakang hutan ada sebuah desa liburan. Mungkin kucing ini menghabiskan seluruh musim dingin di sebuah rumah kosong menunggu pemiliknya namun kini tersinggung, putus asa, dan ke luar ke jalan sambil membawa segala keputusasaan dan kemarahannya.

Kucing itu mengangkat mata besar ke arah Klimov, mata yang hampir tidak termuat di segitiga muncungnya, dan mulai menjerit. Ia tidak mengeong tetapi, tepatnya, menjerit sambil membuat jeda pendek untuk menarik napas dan melanjutkan jeritannya. Matanya berwarna kuning serupa warna abu gergaji, dengan anak mata yang membujur.

“Mengapa ia begitu?” tanya Klimov dengan heran pada perempuan yang berlalu.

“Ia mau makan,” perempuan itu menjelaskan dengan tenang, tanpa berhenti.

“Apa harus saya lakukan dengan kamu?” Klimov berpikir dan sesudah membuat keputusan berkata dengan kuat: “Baiklah. Ayo.”

Klimov berbalik dan berjalan kembali ke sanatorium. Kucing berhenti menjerit dan mengikutinya. Bukan di sebelah kaki, seperti anjing, tetapi di belakangnya. Ia tidak mau berjajar di depan dan berjalan di tempat dia lebih nyaman.

Sebuah mobil yang menggunakan kendali manual  datang dari arah bertentangan. Di dalamnya orang cacat dengan kawannya. Tampaknya mereka berjalan-jalan pada hari Ahad. Wajah mereka adalah orang yang mau bersenang-senang. Klimov melangkah meminggir ke luar dari jalan, memberi jalan kepada mobil, dan segera terperosok sampai lututnya. Kucing juga meninggalkan jalan namun dengan mudah bisa melangkah di atas kerak salju. Ia begitu kurus sehingga sama sekali tidak berberat.

Mobil itu berlalu, mengendus dengan asap ungu, dan udara bersih jadi berbau kota.

Klimov dan kucing menghampiri sanatorium. Di dekat gedungnya Klimov berpaling kepada kucing dan berkata: “Tunggu sebentar.”

Kucing duduk dan menunggu.

Klimov masuk ke ruang makan dan mencari pelayan Lida.

            “Apakah anda punya sisa-sisa makanan?”dia bertanya sambil tersenyum secara menawan.

“Untuk siapa?” Lida kurang paham.

“Ada kucing yang sangat lapar…” Klimov mengambil satu rubel dari sakunya dan memasukkannya ke dalam saku celemek putih Lida.

“Oh, jangan. Mengapa?” Lida marah dengan lembut, tetapi semangatnya tetap baik.

Dia kemudian menggelengkan kepalanya, seolah-olah mencela Klimov karena kepicikannya dan menghilang ke dalam ruangannya. Sejurus kemudian dia kembali sambil membawa periuk kecil dengan sisa-sisa makanan. Di dalam periuk ada bubur, kubis, donat yang sudah digigit, dan bahkan beberapa sosis yang utuh. Jadi, ada orang yang mampu mengekang dirinya sendiri, walaupun membayar paket penuh. Tanpa diskon.

 Klimov kembali ke kucing, meletakkan periuk di hadapannya, bimbang, namun bersamaan bergairah karena kucing akan gembira. Tetapi kucing tidak menunjukkan sebarang kegembiraan. Ia dengan cepat menurunkan muncungnya ke dalam periuk dan tidak mengangkatnya lagi sampai dia makan habis segala-galanya dan menjilat periuk hingga bersih steril. Perutnya secara berangsur-angsur membengkak, seperti nyamuk yang hinggap di lengan dan mengisap darah. Akhirnya, kucing itu mengeluarkan muncungnya dari periuk dan memandang kepada Klimov. Anak matanya yang dulu membujur kini membulat.

“Mau lagi?” Klimov bertanya.

Kucing berdiam dan terus memandangnya.

Klimov sekali lagi pergi ke Lida yang kembali memberikan sisa-sisa makanan. Kali ini Klimov memperhatikan bahwa dalam periuk kebanyakannya bubur. Kucing juga memperhatikan hal ini, tetapi sama saja mulai makan, mungkin, untuk hari mendatang. Ia tidak pasti tentang esok dan bahkan malam ini.

 Dari gedung itu datang seorang perempuan tua, jiran Klimov. Dia memakai mantel bulu lebar yang hitam dengan bahu persegi, mirip dengan burka Kaukasia.

“Periuk kedua ia makan,” Klimov berkata dengan heran.

“Perutnya akan pecah…” perempuan tua itu membelalakkan matanya yang kecil seperti mata kanak-kanak yang terkejut. “Mana boleh begitu memberatkan perut kosong?”

Klimov merampas periuk dari kucing dan membawanya balik ke dapur. Ketika kembali, dilihatnya ibu asrama sanatorium bernama Elena Dmitrievna menghampiri. Dia memakai jaket berlapik di atas jubah putih. Dia memegang timbunan handuk, karena itu pungguknya tegak dan posturnya segak, yang memberikan kesegakan pada seluruh badan. Biasanya, orang yang menduduki anak tangga rendah pada tingkatan yang bergengsi yang suka menunjukkan kuasa mereka –begitulah cara keyakinan diri mereka sendiri.

Dan Klimov yang menerbitkan artikel dalam jurnal ilmiah, menurut ibu asrama itu, cuma seorang biasa yang beristirahat, bahkan lebih buruk dibanding orang biasa karena melanggar peraturan sanatorium.

“Kucing siapa itu?” Elena Dmitrievna bertanya tegas.

“Bukan kucing siapa-siapa.”

“Bagaimana ia sampai di sini?”

“Saya membawanya,” Klimov mengaku dan entah mengapa merasa segan.

“Jadi, kucing itu kamu punya?”

“Jadi, saya punya…”

“Jangan coba membiarkan ia di sini. Ia akan dicabik oleh anjing-anjing.”

Klimov teringat bahwa di sanatorium memang ada dua anjing gelandangan -satu tanpa ekor- dan kedua-duanya tak punya kebanggaan. Anjing-anjing pengemis. Setiap kali sesudah makan, orang yang beristirahat akan membawa potongan sisa makanan kepada mereka, dan anjing-anjing itu dengan taat memandang kepada tangan dan mata ​​orang. Anjing-anjing itu tidak mungkin mau menanggung persaingan dengan kucing.

Ibu asrama berbalik dan pergi dengan meluruskan, bahkan melengkungkan badan. Klimov teringat bahwa pada musim panas perempuan itu membuat selada herba yang tumbuh di bawah kaki: plantain, jelatang, tangkai dandelion, dan akar burdock. Herba ini diketahui oleh hewan, tetapi orang tidak memakannya. Orang hanya makan apa yang ditanamnya. Dan ini adalah kesilapan besar. Dalam rumput liar terkandung kekuatan penting yang memberikan keyakinan kepada jasad, dan jasad memberi keyakinan kepada jiwa dan, sebagaimana diketahui, dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa sehat juga.

Klimov mengeluh, mengangkat kucing dari tanah, menaruh di bahunya dan pergi kembali ke persimpangan tiga jalan. Di persimpangan itu dia menurunkan kucing dari bahunya, menempatkannya di jalan, dan masuk ke dalam hutan. Kucing itu mengikutinya. Klimov berpaling dan berkata:

“Jangan ikut saya. Kau kan mendengar segala-galanya.”

Dia mempercepat langkahnya, tetapi kucing itu juga semakin laju.

“Nah, pergi nyah!” Klimov membuat muka yang sengit dan menghentakkan kakinya, seolah-olah dia berlari ke kucing, walaupun tetap berada di tempat.

Klimov berhenti berjalan di kawasna itu, berpaling, dan pergi. Kucing itu berpikir dan juga masuk ke dalam hutan, di belakang Klimov tetapi menjaga jaraknya.

Klimov memandang sekeliling dan membuat kesimpulan:

“Malu kan… Itulah namanya kucing.”

Kekurangan rasa malu pada satu pihak melahirkan ketidakjujuran di pihak yang lain. Klimov melihat-lihat di sekeliling, mengambil dahan hitam yang kecil dari tanah dan melemparkannya ke kucing. Kucing melompat ke belakang untuk mengelak dari barang yang dilemparkan. Ia memandang ke dahan itu, kemudian ke Klimov, dan di matanya dengan mudah bisa dibaca: “Kamu bajingan betul!”

“Ya, dan itu sangat baik,” kata Klimov dan pergi.

Di dalam hutan, dua pemain ski meluncur, seorang berpakaian biru terang, yang lain berpakaian jingga terang. Klimov memerhatikan  dengan teliti. Mereka adalah Oleg dan Lena. Lena berhenti, menunggu Oleg sambil melengkungkan badan, bersandar pada tongkat ski. Kiranya dia gembira memandang kepada Oleg yang menghampirinya, besar dan berwarna jingga seperti obor.

Dan Oleg suka mendekati Lena yang tampak berwarna biru langit dilatarbelakangi hutan bersalju. Keduanya tersenyum, dan udara nafas yang membeku melayang-layang di sekitar bibir mereka.

Klimov teringat bagaimana dia bermain ski. Biasanya dia berpakaian sama seperti untuk kerja gotong royong dengan memakai baju kusam dan karena itu jadi kelihatan seperti  seorang tahanan Jerman. Jadi apa yang istimewa? Apakah penting bagaimana berpakaian untuk berski? Tetapi sekarang dia seolah-olah merasa sesuatu yang berkaitan dengan harga dirinya hilang dalam kehidupan.

Klimov berpaling ke belakang. Kucing tiada lagi.

Jalan itu beralih menjadi jalur ski. Berjalan mengikuti jalur ski tidak nyaman tetapi dia tidak mau kembali. Dia tidak mau bertemu kucing lagi. Habis, hubungan mereka terputus. Klimov mengeluh dan berjalan sembarangan sambil kadang-kadang terperosok ke dalam salju dan perlahan-lahan menarik kakinya.

Tiba-tiba dia sampai ke sungai. Sungai itu di bawah salju. Ada dua lubang es beruap. Dua anak lelaki dengan tas sekolah berjalan melalui jalan sempit menyeberangi sungai  -mungkin dari sekolah dan mungkin jalan ini lebih pendek. Klimov berdiri dan memerhatikan bagaimana dua sosok badan hitam putih itu bergerak, seperti dalam film bisu. Salju berkilau di bawah sinar matahari. Kedua anak lelaki itu berjalan menghadapi kehidupan dan nasib mereka, yang mungkin luar bisa dan tidak dibebani dengan kehidupan keseharian saat ini.

“Saya sepatutnya mengundang seseorang,” Klimov berpikir. – Biar mereka datang”. Dan kemudian berpikir lagi: “Mereka akan datang dari kota dan membawa bersama mereka sebagian kota yang saya tinggalkan…”

Yang dua sejoli, seperti biasa, terlambat, dan perempuan tua yang sopan duduk di tempatnya. Klimov sudah merasa lapar dan dengan nikmat mula mengambil makanan ringan.

“Di manakah kucing kamu?” perempuan tua itu bertanya.

“Saya menempatkannya kembali,” jawab Klimov sambil mencucuk sekeping sardin yang lembut dan berminyak dengan garpu.

“Ke mana?” perempuan tua itu tidak paham.

“Ke jalan raya.”

“Anda meninggalkannya di jalan?” – perempuan tua terkejut.

“Ke mana saya harus menaruhnya?” giliran Klimov terkejut.

“Apa maksud ‘menempatkannya’? Anda berbicara tentang makhluk hidup itu seakan-akan barang…”

Klimov berhenti makan. “Saya tidak paham apa kesalahan saya? Bahwa saya memberi makan kepada kucing yang lapar?”

“Jika anda mulai memprihatinkan nasib yang lain, maka anda mesti melakukannya sampai akhir. Atau tidak melakukannya sama sekali.

“Ya. Tetapi ini tidak ada kaitan dengan kucing.”

“Anda salah. Kucing adalah binatang yang memiliki kepribadian. Anda bahkan tidak bisa bayangkan apa kucing itu. Ia berkaitan dengan Bulan. Seperti laut.”

“Bagaimana Anda tahu?”

“Saya tahu. Saya sendiri dalam kehidupan pertama saya adalah kucing,” perempuan tua itu tersenyum, seolah-olah mengejek kata-katanya sendiri.

“Orang gila,” pikir Klimov.

Mereka berhenti berbicara. Mereka menutup satu halaman dalam pikiran.

Pelayan Lida datang dan meletakkan sepiring borscht di hadapan Klimov. Klimov menyadari tidak mau duduk dengan perempuan tua itu dan mengganti halaman pikiran. Dia dengan sesal memandang pada bulatan krim masam dalam borsch yang merah-emas itu dan bangkit dari kursi.

“Dan hidangan kedua?” Lida terkejut.

“Saya menjaga berat badan,”  kata Klimov dengan singkat dan pergi ke kamarnya.

Di dalam kamar dia duduk di kursi dan memerintahkan dirinya: jangan berpikir lagi. Ketika sesuatu mengganggu dan dia tidak tahu jalan keluar, maka dia melarang dirinya untuk memikirkan keadaan itu.

Klimov duduk di kursinya beberapa waktu, dan membiarkan dirinya tidur sebentar. Dia tidak makan malam yang banyak dan berhak untuk tidak bergerak, tetapi berbaring dan tidur selama empat puluh lima menit.

Klimov membuka bajunya dan berbaring di ranjang sambil nyaris merasakan kebahagiaan karena sarung bantal putih, rasa nyaman, dan tenteram. Diambilnya buku dari meja di tepi ranjang, membukanya dan masuk ke dunia yang ditawarkan oleh penulis buku itu kepadanya.  Dia berdesak-desakan di dunia itu sebagai orang luar yang tidak perduli apapun dan menutup matanya. Ketika dia membuka matanya, sudah jam tiga pagi. Klimov tidur bukan selama empat puluh lima menit, sebagaimana maunya, tetapi sepuluh jam, ukuran tidur malamnya. Mungkin badannya letih dan menawarkan kaidah istirahatnya sendiri.

Atau, mungkin karena sesuatu yang macet sekejap, maka komunikasi dan refleks jadi kacau.

Di luar jendela gelap. Dia merasa lapar.

Klimov mulai berpikir apa yang perlu dilakukan: dia tidak mau membaca, tidak mau tidur juga -sudah cukup tidurnya. Hanya berbaring dan memandang kepada langit-langit tidak menarik. Dia bangun, berpakaian, dan ke luar.

Pada waktu malam cuaca menjadi lebih sejuk. Salju terasa mengerup di bawah kaki. Klimov menuju ke hutan melalui jalan yang dulu. Bulan mulai bergerak dan mengikuti Klimov seakan-akan menemani dia. Pohon-pohon berdiri sebagai orang yang dikenal dan dia sama sekali tidak merasa takut, tetapi sebaliknya, adalah baik berjalan sendirian dan membawa bulan seperti dengan tali anjing. Cahaya bulan ada di langit dan di bumi. Klimov tiba-tiba sadar bahwa dia sudah pernah melihatnya. Tetapi kapan? Di mana?

Itu adalah dua puluh dua tahun lalu. Dia belajar di kelas 10, dan mereka merayakan Tahun Baru di bungalo Lenochka Chudakova. Tepat waktu itu, pada pukul tiga pagi, mereka bergegas ke luar dari rumah. Langit dan pohon-pohon sama seperti sekarang: terang tampak disinari cahaya bulan. Dan ada sesuatu yang membuatnya gemetar. Bukan kedinginan. Bukan Lenka Chudakova. Bukan bukan anggur murah yang membuat gigi hitam. Itu adalah luapan kebahagiaan yang kuat seperti tekanan air dalam selang yang memaksa dia gemetar. Itu adalah keyakinan bahwa dia akan sukses dalam kehidupan cintanya. Dia berdiri di anjungan dan memegang sikunya agar tidak gemetar dengan kebahagiaan itu.

Hal itu terjadi dua puluh dua tahun lalu…

Dan kemudian? Kemudian dia sangat berbahagia dan juga begitu malang. Tetapi lebih baik itu tidak diingat-ingat. Tidak memikirkan keadaan sampai ujung. Tetapi sebenarnya, mengapa tidak memikirkan itu? Mungkin, perlu memikirkannya sampai akhir dan membetulkan serta menyelaraskan segalanya sesuai hati nuraninya… Mungkin karena waktu itulah dia ke luar malam yang pertama kalinua dalam dua puluh dua tahun…

Klimov berhenti dan tiba-tiba melihat bahwa dia berdiri di persimpangan tiga jalan. Dia mulai memandang ke sekeliling, memerhatikan dengan mata setiap inci tanah yang putih karena salju. Jantungnya berdebar kencang. Kucing duduk di bawah pohon, tidak bergerak menunggu dia. Mungkin tertidur, atau bersedia menunggu lama, dan termenung.

Klimov merasa panas karena luapan rasa terima kasih yang mendalam. Jadi kucing menilai potensi sumber mentalnya. Jadi kucing memang ada keperibadiannya: semakin mulia individu, maka semakin banyak kebaikan dilihatnya dalam individu lain.  Satu kemulian melahirkan kemulian yang lain. Klimov lari dengan cepat ke pohon sambil terpelosok hampir sampai ketiak. Mendadak dia seakan-akan didorong di bagian dada.

Ternyata itu bukan kucing tetapi dahan yang dilemparkannya tadi kepada kucing.

Klimov berdiri dan merasakan kekosongan dalam dirinya. Dalam kekosongan itu  terdengar jantung yang berdebar dengan susah dan kuat, seolah sia-sia. Bulan berhenti di atas Klimov dan kelihatan bukan serupa tengkorak yang bersinar, seperti pernah dia baca entah di mana, tetapi serupa planet jika dilihat dari jarak jauh. Yaitu bulan kelihatan seperti bulan dan bumi mungkin kelihatan sama jika dilihat dari bulan.

Hanya saja bulan berwarna kuning. Dan bumi berwarna biru.
***

Victor Pogadaev: Associate Professor di Lomonosov Moscow State University, Rusia. Kerap menerjemahkan karya sastra Malaysia dan Indonesia ke Bahasa Rusia dan sebaliknya. Aktif di Nusantara Society, organisasi nir-laba yang terdiri dari para akademisi yang mempunyai perhatian pada Nusantara.