Selama Bulan Menyinari Dadanya

Selama bulan menyinari dadanya jadi pualam
ranjang padang putih tiada batas
sepilah panggilan-panggilan
antara aku dan mereka yang bertolak
Aku bukan lagi si cilik yang tidak tahu jalan
di hadapan berpuluh lorong dan gang menimbang
ini tempat terikat pada Ida dan ini ruangan ‘pas bebas’
Selama bulan menyinari dadanya jadi pualam
ranjang padang putih tiada batas
sepilah panggilan-panggilan
antara aku dan mereka yang bertolak
Juga ibuku yang berjanji
tidak meninggalkan sekoci

Lihatlah cinta jingga luntur:
Dan aku yang pilih
tinjauan mengabur, daun-daun sekitar gugur
rumah tersembunyi, dalam cemara rindang tinggi
pada jendela kaca tiada bayang datang mengambang
Gundu, gasing, kuda-kudan, kapal-kapalan di zaman kanak
Lihatlah cinta jingga luntur
Kalau datang nanti topan ajaib
menggulingkan gundu, memutarkan gasing
memacu kuda-kudaan, menghembus kapal-kapalan
aku sudah lebih kaku
***
1948, awalnya tanpa judul namun diberi judul oleh Pamusuk Eneste

pencerita

Leave A Comment