Sejarah Sumpah Serapah – Yuditeha

Pagi itu aku mendengar keributan di samping rumah. Ada pertengkaran. Sekilas dari apa yang mereka lontarkan, perselisihan itu terjadi karena masing-masing merasa paling benar. Tidak ada yang mau mengalah. Tingkat pertengkaran mereka sudah tinggi, terbukti begitu banyak sumpah serapah yang keluar dari mulut mereka. Kata umpatan dan laknat begitu mudah tumpah hingga menyesaki gendang telinga. 

Aku sendiri tidak heran dengan peristiwa itu, bukan karena aku setuju atau tidak merasa terganggu, tetapi di zaman milenia  ini, di mana keterbukaan telah dijunjung tinggi, apapun bisa dengan mudah muncul di permukaan. Baik itu hal yang menyenangkan maupun hal yang memuakkan. Baik itu sebuah sanjungan maupun sebuah kutukan. 

Kurasa terkhusus masalah itu, kecaman dan laknat memang lebih banyak munculnya dibandingkan dengan sesuatu yang bersifat pujian. Aku tidak tahu, apakah karena mereka belum bisa melihat segala sesuatu secara adil hingga kisah yang bersifat kecaman lebih gampang muncul. Jika sedikit saja orang mendapati kecewa, segala jenis sumpah serapah langsung bisa dihadirkan dan meluncur bebas tanpa halangan.

Karena peristiwa seperti itu telah dianggap lazim di masyarakat, lantas aku menduga apa yang terjadi itu juga akan dianggap lumrah. Kelogikaan yang kupakai untuk mengatakan begitu karena aku berpikir tentu saja orang-orang akan memaklumi keadaan. Alasannya mudah saja, mereka juga melakukannya? Ah, tetapi hidup ini apakah memang bisa sekaku itu? Aku penasaran ingin mengamati. 

Saat kebiasaan mudah menyumpahserapahi terjadi di masyarakat, aku menangkap mulai ada beberapa reaksi. Kabarnya sebagian dari mereka merasa tidak kuat tinggal di tempat yang punya kebiasaan seperti itu. Aku mencoba mencari tahu alasan yang membuat mereka tidak nyaman.

Dari beberapa orang yang berhasil kutanya, aku bisa menarik kesimpulan bahwa ketidaknyamanan itu bukan karena mereka tidak tahan dengan sumpah serapah yang ditujukan kepadanya, tetapi lebih condong karena mereka tidak punya keberanian untuk menyumpahserapahi orang-orang bila mereka dilecehkan. Mereka tidak punya mental kuat untuk melontarkan sumpah serapah kepada orang yang melakukan kesalahan kepadanya. 

Melihat itu, lantas aku yang masih pengangguran ini punya ide. Aku akan membuka jasa sewa orang yang diberi tugas untuk menyumpaserapahi. Pikirku, jasa yang akan kudirikan ini pasti akan laku., Mereka yang tidak punya mental menyumpahserapahi akan menyewa orang-orangku untuk melakukannya. Dengan tekad mantap aku mulai merintis usaha jasa sewa tersebut. Dan nama usahaku ini kunamai dengan Jasa Misuh. Memberi layanan sumpah serapah yang paling bangsat.

Usahaku Jasa Misuh rupanya disambut baik oleh masyarakat, khususnya bagi mereka yang selama ini tidak punya mental kuat untuk menyumpahserapahi orang. Bahkan dalam waktu singkat usahaku semakin maju. Orang yang bekerja di tempatku sebagai pemisuh selalu laku, bahkan sering kurang-kurang. Karenanya aku mencari pegawai pemisuh lebih banyak lagi. Karena itu pula model pisuhan yang dilontarkan menjadi berkembang. Mereka berlomba-lomba membuat pisuhan yang paling bangsat, dan paling mematikan.

Saking sibuknya aku mengurusi usahaku, sampai tidak begitu memperhatikan apa yang selama ini terjadi di masyarakat. Aku hanya bisa mengira, tentu saja dinamika masalah sumpah menyumpahserapahi berkembang pesat.

Sampai suatu hari aku didatangi beberapa pejabat desa dan orang-orang yang selama ini dianggap suci. Rupanya tujuan mereka menemuiku untuk memperingatkan agar aku menutup usahaku Jasa Misuh. Tentu saja aku tidak mau melakukannya, karena kupikir usahaku ini tidak merugikan orang lain. Aku merasa justru telah membantu memberi jalan keluar bagi mereka yang tidak bisa misuhi orang. 

Tetapi para pejabat dan orang-orang suci itu menjelaskan alasannya  mengapa aku harus menutup usahaku. Katanya elektabilitas saling menyumpahserapahi sangat tinggi, hal itu sangat memicu terjadinya pertikaian, bahkan sampai menjurus ke perang saudara. Kata mereka, jika usahaku tidak segera ditutup, kemungkinnan besar akan terjadi perang sungguhan. Menurut mereka, salah satu penyebab terjadinya itu semua karena adanya Jasa Misuh yang kudirikan.

Tapi aku tidak menyerah, apapun penjelasan mereka aku tetap tidak bersedia menutup usahaku. Aku merasa tidak ada masyarakat yang protes mengenai hal itu. Bahkan mereka dengan senang hati melakukannya. Menyewa orang-orangku untuk melakukan pisuhan yang paling bangsat. Para pejabat dan orang suci itu merasa gagal membujukku hingga akhirnya mengalah dan pulang. 

Kejadian itu membuatku penasaran, apakah yang terjadi di masyarakat seperti yang mereka ceritakan atau hal itu hanya karangan saja. Karenanya aku berniat mengamati mereka. Dan aku terkejut, ternyata sumpah serapah memang telah menjamur di masyarakat. Tidak ada sedikit pun waktu luang untuk lepas dari lengkingan sumpah serapah. Bahkan aku menemukan gejala yang lebih gawat, pisuhan-pisuhan itu membuat mereka tidak nyaman dengan keadaan. Hari-hari dipenuhi dengan kecurigaan. Rasa percaya terhadap orang lain kian lama kian terkikis. Kepercayaan itu lambat laun menjadi barang langka. 

Keadaan itu membuatku berpikir, apakah benar aku turut menumbuhkembangkan rasa benci di antara mereka. Karenanya aku memikirkan segala yang diutarakan para pejabat dan orang-orang suci tempo hari. Tetapi aku juga menimbang, andai aku sampai menghentikan usahaku, bagaimana nasib mereka yang tidak kuat untuk melakukan pisuhan terhadap orang yang telah melakukan kesalahan? Menurutku jika aku menghentikan usahaku, justru akan menciptakan kesenjangan di antara mereka. Orang-orang yang tidak bisa melakukan pisuhan akan menderita. Selamanya mereka akan menjadi korban.

Malam ini aku kembali memikir ulang apa yang para pejabat dan orang-orang suci itu sampaikan, tetap menjalankan usahaku atau menghentikannya. Malam itu kulalui dengan perasaan bimbang. Aku tidak segera menemukan pencerahan, bahkan sampai dini hari aku juga belum bisa menentukan keputusan. Sialnya, sebelum aku benar-benar punya keputusan, aku telah diberitahu salah satu tetanggaku bahwa ada peraturan baru yang dikeluarkan pemerintah desa yang didukung oleh orang-orang suci.

Isi peraturan itu adalah dilarang bagi siapapun untuk menyumpahserapahi orang yang lain. Jika ada orang yang melanggar aturan tersebut akan dikenai hukuman penjara. Entah kenapa, justru ketika ada larangan itu aku malah tidak merasa bimbang lagi. Itu berarti tanpa aku harus repot-repot menutup usahaku, tentu saja orang-orang tidak akan melakukan pisuhan lagi. Artinya usahaku dengan sendirinya akan terhenti. Tetapi menurutku bisa juga justru sebaliknya, usahaku akan semakin laris karena adanya larangan itu tentu saja semua warga desa tidak melakukan pisuhan karena takut dihukum. Bisa jadi jika mereka punya masalah, mereka datang kepadaku dan menyewa pegawaiku untuk melakukan pisuhan.

Rupanya perkiraanku yang kedualah yang terjadi, sejak hari itu warga datang kepadaku untuk menyewa jasa pisuh semakin banyak. Saat mereka datang, kulayani mereka dengan senang hati. Dan pegawaiku menjalankan tugasnya dengan baik, melakukan pisuhan yang paling bangsat. Tetapi tidak lama kemudian, para pejabat dan orang-orang suci mendatangiku lagi, mereka menuntutku di pengadilan, bahkan termasuk seluruh pegawaiku yang melakukan pisuhan. Kami dianggap telah melanggar aturan. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Keputusan pengadilan telah ditetapkan. Kami dianggap bersalah dan harus dipenjara.

Saat di penjara, aku tidak bisa memantau lagi apa yang terjadi di masyarakat. Yang kutahu peraturan untuk tidak boleh saling menyumpahserapahi tetap diberlakukan. Dan pada awal-awal kami di penjara, para pejabat dan orang-orang suci itu sempat memberi informasi bahwa sekarang masyarakat bisa hidup dengan tenang dan damai. Saat aku mendapat kabar itu aku berpikir mungkin usahaku Jasa Misuh yang dulu memang menjadi salah satu pemicu tumbuhnya rasa benci di masyarakat.

“Hai, kamu! Cepat sini!” Tak kusadari sebelum memanggilku, petugas penjara telah membuka pintu sel.
“Ada apa, Pak?” tanyaku ketika aku telah berada di dekatnya.
“Kamu dikeluarkan,”
“Saya dibebaskan, Pak?”
“Juga teman-temanmu.”

Sebenarnya aku ingin bertanya, mengapa aku bisa dibebaskan sebelum waktu hukumanku lunas, tapi aku mengurungkannya. Pikirku aku akan mencari tahu sendiri di luar nanti, termasuk aku juga ingin tahu apa sesungguhnya yang terjadi. Setelah aku keluar penjara, sungguh aku dikejutkan oleh keadaan masyarakatnya.

Di sana aku mendapati lebih dari setengah warga desa menderita sakit. Kabarnya, mereka sakit liver akut. Ketika aku mencari tahu penyebab munculnya sakit itu, di situlah aku mendapati keterkejutan yang lebih besar. Sakit itu muncul karena mereka tidak bisa melampiaskan emosi yang dideritanya. Mereka tidak bisa melakukan sumpah serapah yang paling bangsat.
***

Yuditeha, pegiat Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Telah menerbitkan 16 buku. Buku terbarunya Sejarah Nyeri (Kumcer, Marjin Kiri, 2020).