Virus Corona, Semangat Kampung, London Pinggiran

Gereja di kampung kami di rantau, London Tenggara,  menunda kebaktian, biarpun Mothering Sunday 22 Maret –untuk menghormati para ibu- merupakan tradisi tahunan Kristen penting di Inggris. Kebaktian hanya lewat Facebook, dan liturgi dibagikan lewat email atau diantar ke rumah jemaat yang sudah tua. Jadi Minggu jam 12 siang semua membuka laman Facebook gereja dan jam tujuh malam, pasang lilin di jendela untuk mendoakan dunia yang sedang dilanda virus corona atau Covid-19.

Pintu gereja tetap terbuka setiap hari –walau hanya dua jam- untuk siapa saja yang mau berdoa sendiri, bersaat teduh, menaruh sumbangan makanan tahan lama untuk gelandangan, atau sekedar duduk tenang membaca -tak harus alkitab.  Walau London belum kena ‘lockdown’, rasanya berat juga kalau orang tak ke luar rumah sama sekali selama dua pekan, dan ruang gereja yang luas dengan langit-langit amat tinggi jelas merupakan pilihan aman untuk rehat dari rumah.

Di gereja kami itu, saya perkirakan kalaupun 50 orang datang bersamaan, mereka tetap bisa duduk berjarak dua meter –dua kali lipat dari saran WHO. Kalaupun ada yang bersin atau batuk, maka titis yang mungkin mengandung virus corona tidak terhirup orang lain. Dan kecil kemungkinan tiba-tiba memang ada puluhan yang masuk ke gereja, yang rata-rata jumlah jemaat saat kebaktian Minggu normal saja sekitar 40-an orang. Semangatnya adalah melayani komunitas sebisanya, ketika café, restoran, pub dan perpustakaan sudah tutup –yakinlah bukan upaya Kristenisasi.

Kampung kami, Bexley di sebelah tenggara London, relatif kecil jumlah kasus positif covid-19: data terakhir tengah pekan di koran The Guardian adalah 17 kasus dari total 247.000 jiwa (proporsinya cuma 0.006%) dan tanpa korban jiwa. Berbeda dengan pusat kota London yang mulai kosong, orang masih lalu lalang di Bexley atau ngantri di super market –toko kelontong di pojok jalan yang biasa lenggang juga panjang antrian, termasuk di toko kelontong milik orang Turki, langganan saya beli buah. Jalanan tidak seramai hari-hari biasa karena banyak yang mulai berprinsip ‘kalau tidak penting ngapain ke luar’ tapi jelas bukan kawasan mati, seperti di banyak tempat di Italia atau Spanyol.

Namun orang tua berusia 70 tahun ke atas disarankan tidak ke luar rumah dan banyak yang patuh karena seperti diketahui kasus fatal banyak di kalangan manula. Maka acara minum bir rutin bulanan saya dengan seorang senior sekampung yang berusia 72 tahun sudah tertunda. “Kita tunggu situasi membaik,” pesannya di WA. Janjian ngobrol sambil ngebir dengan kawan seusia 50-an akhir, juga batal dengan alasan ‘tak usahlah cari-cari risiko’.

Tapi sebagian orang malah siap ke luar rumah untuk membantu orang lain.

Warga kampung kami menggunakan aplikasi Nextdoor untuk berbagi informasi tentang apa saja –entah itu kucing hilang, jualan lemari bekas, restoran enak yang murah, pengasuh anak, pembersih kaca jendela, sampai ketokan pintu dari orang yang mencurigakan. Walaupun saya tak pernah ngobrol langsung dengan tetangga seberang rumah, misalnya, saya tahu kalau dia, umpamanya, sedang mencari tukang mesin cuci yang trampil dan jujur.

Sejak pekan lalu, bermunculan tawaran membantu kaum yang rentan terserang virus corona. Ada beberapa pesan yang siap membelikan obat-obatan atau makanan kebutuhan sehari-hari tanpa bayaran -Gojek gratisan. Tawaran bantuan itu penting karena slot untuk pengantaran supermarket online sudah penuh: ada yang menunggu satu minggu dan ada dua minggu ke depan sudah penuh. Seorang ibu bahkan membuat grup WA -orang Inggris tak terlalu kecanduan grup WA- untuk minta bantuan, berbagi cadagan pangan, maupun sekedar ngobrol.

Seperti di tempat-tempat lain di dunia, selalu saja ada orang-orang tamak yang egois dan yang panik -atau bodoh- walau pemerintah dan supermarket menegaskan stok pangan dan kertas tissue cukup. Banyak supermarket yang membatasi jumlah pembelian untuk tiap barang, namun orang-orang tamak itu malah bolak-balik ke supermarket untuk menumpuk stok pribadinya. Di toko kelontong Turki tempat saya sering beli buah, seorang karyawannya marah-marah, “Itu orang-orang kaya yang tamak itu membeli semuanya,” ketika meyakinkan pembeli stok daging akan masih akan datang. Biarpun tokonya semakin laris berkat Covid-19, dia kesal dengan perilaku egois. 

Sebagai pensepeda aktif, saya juga menawarkan bantuan ke empat kenalan berusia 80 hingga 90 tahun, dan dapat dua order: membeli susu botol dan koran akhir pekan. Yang seorang lagi sudah punya ‘pembantu’ sedang yang lainnya merasa perlu menjaga kesehatan dengan jalan sendiri ke toko kelontong kecil di dekat rumahnya.

Tinggal di rantau hampir 25 tahun, baru sekali ini saya merasakan semangat seperti di kampung kami di Medan dulu. Hanya caranya berbeda, kalau dulu langsung mengetok pintu sebelah rumah, “Ompung mau titip apa, kami mau belanja ke pajak” maka sekarang pakai telepon, aplikasi Nextdoor, atau WA.

Pastilah semangat komunitas –yang malah mungkin lebih kuat- masih hidup di Indonesia. Lewat Twitter, misalnya, seorang kawan bersama teman sealumni-nya dari UNAIR mengelola produksi cairan pembersih tangan yang akan dibagikan gratis ke pedagang kaki lima. Atau seruan supaya orang-orang tidak memborong cairan pembersih tangan agar rumah sakit tak kehabisan karena di rumah orang bisa mencuci tangan pakai sabun batangan, dan sebaran poster seruan dari petugas kesehatan supaya orang-orang jangan mentang-mentang libur dari kantor teus lontang-lantung di tempat-tempat umum, “Kami tetap di rumah sakit, anda tetap di rumah.”

Jelas tetap ada pasien yang ‘sakit politik’, yang heboh mencela pemerintah maupun yang membabi-buta memuji pemerintah, termasuk di Inggris, yang apa-apa menuding Brexit dan PM Boris Johnson yang pro-Brexit. Ada pesan di Twitter, yang mengeluh rasain ke luar dari Brexit karena bakal sulit dapat obat dan peralatan kesehatan dari Uni Eropa untuk menangani virus corona walaupun setahun ini Brexit masih sekedar di atas kertas tanpa pembatasan arus orang, barang, dan jasa di lapangan.

Tapi parahnya di Indonesia, Presiden Jokowi malah sempat mengumumkan strategi mengalihkan wisatawan asing ke Indonesia ketika Covid-19 masih pada tahap awal –begitu naifnya???- sementara Menteri Kesehatan memamerkan pasien yang diklaim sembuh dari virus corona di depan umum. Atau di tingkak lokal, ada bupati yang bikin repot rumah sakit –yang sudah sibuk- dengan meninjau pasien positif Covid-19 langsung ke kamar rawat inap.

Seorang warga kampung Bexley, selain menawarkan bantuan belanja juga siap ngobrol berjarak berduaan di kursi panjang di udara terbuka dekat perpustakaan –keluar ke udara terbuka termasuk saran WHO. Lewat pesan di aplikasi Nextdoor, dia siap ngobrol tentang Perang Dunia I dan II, Brexit, sepakbola (khususnya klub Queens Park Rangers) maupun Komunisme Eropa Timur. Sepele, tapi buat beberapa orang – yang tak paham Zoom, Skype, atau WA- yang terkunci di rumah sendirian ketika aktifitas rutin kelompoknya ditutup, maka ngobrol -berjarak satu meter di udara segar- bisa membantu menjaga kewarasan.

Pandemi virus corona mestinya disikapi dengan semangat komunitas, bukan bersisa konflik pemilu, peningkatan ekonomi, atau propaganda pemerintah.
***

pencerita

Leave A Comment