Menolak Menjadi Elite – Iin Farliani

Odyssee Publishing

Judul: Semesta Murakami
Penulis: John Wray, dkk
Penerjemah: Dewi Martina
Penerbit: Odyssee Publishing, Januari 2020
Tebal: 155 halaman

“Menolak menjadi elite”, kiranya pernyataan yang dapat menggambarkan garis besar isi dari buku Semesta Murakami (2020). Buku ini menghimpun enam wawancara Haruki Murakami bersama editor, jurnalis, kritikus, penulis fiksi, hingga penyiar dari berbagai negara. Sikap menolak menjadi elite itu tergambarkan melalui struktur cerita yang dipilih Murakami, kecenderungan para protagonisnya, dunia paralel yang dibangun dalam karyanya, serta sikap hidup Murakami sendiri yang ia ceritakan di sela-sela penjabaran akan proses kreatifnya dan kenangan akan masa kecil di Kobe, kota pelabuhan Jepang di mana ia menghabiskan waktu untuk menyendiri membaca buku-buku sastra hingga cerita detektif yang dibawa oleh para pelaut dan berbicara dengan kucing-kucing. 

Bila kita membahas salah satu contoh sikap menolak menjadi elite melalui pilihan struktur cerita, maka kita bisa melihatnya melalui pola yang ada dalam novel Murakami berjudul Kronik Burung Pegas. Novel itu dibuka dengan telepon misterius yang diterima Toru Okada. Sang penelepon menyebutkan segala hal yang ia tahu perihal Toru Okada, sementara Toru Okada sendiri tetap tidak mengenal siapa penelepon itu. Pembaca kemudian dibawa menuju petualangan-petualangan berdimensi supranatural. Muncul tokoh-tokoh unik seperti Malta Kano, Kreta Kano, Letnan Mamiya, Kopral Honda, dan Nutmeg yang masing-masing menceritakan kisah tragisnya lalu meninggalkan misteri yang mesti dipecahkan oleh Toru Okada.

Haruki Murakami mengaku bahwa ia menggunakan struktur cerita detektif dalam novelnya tetapi dengan menggunakan isi yang berbeda. Ia menulis hal-hal yang rumit dan serius dengan kekhasan struktur cerita detektif perihal pencarian dan penemuan akan sesuatu. Hal-hal yang rumit dan serius ini dalam novel Kronik Burung Pegas tergambarkan melalui narasi besar perihal Perang Nomonhan atau yang dikenal juga dengan Insiden Nomonhan yakni perang perbatasan yang melibatkan Jepang, Uni Soviet, Mongolia (sekutu Soviet), dan Manchukuo (negara boneka Jepang) pada tahun 1939. Melalui cerita panjang yang dituturkan oleh Letnan Mamiya kepada Toru Okada, kita bisa melihat kekejian peristiwa perang yang digambarkan begitu hidup dalam novel ini, juga betapa dalam penderitaaan yang menimpa korban perang. 

Tidak hanya membuat cacat fisik permanen tetapi juga meninggalkan bekas ingatan akan trauma yang merongrong seumur hidup. Seperti yang dikatakan oleh Letnan Mamiya, “Tak ada apa pun yang tersisa bagi saya. Saya merasa seperti saya ini sungguh-sungguh menjadi kosong. Sejak kembali ke Jepang, saya hidup bagaikan cangkang yang sudah kosong. Dan seberapa lama pun hidup sebagai cangkang kosong, itu tidak berarti hidup dalam arti yang sesungguhnya. Yang dihasilkan oleh hati cangkang kosong dan tubuh fisik cangkang kosong hanyalah kehidupan cangkang kosong belaka.” (Hal. 230-231)

Ada pula hal-hal mendalam lainnya seperti pengaruh kepercayaan sekte sesat yang menimbulkan luka trauma pada anak kecil. Dalam novel Murakami berjudul 1Q84 kita bisa melihat perjuangan Aomame untuk keluar dari masa lalunya sebagai korban kekerasan emosional yang diakibatkan pola asuh orangtuanya. Masa kecil Aomame diwarnai oleh keterlibatan dengan aktivitas orangtuanya yang di akhir pekan selalu mendatangi rumah-rumah untuk menyebarkan selebaran berisi ajakan bergabung dengan kepercayaan mereka. Masa kecil penuh luka berkelindan dengan petualangan Aomame yang memasuki dunia paralel itu mengisi sebagian besar novel 1Q84.

Pembaca setiakarya Murakami tentu sudah merasa akrab dengan plot cerita Murakami yang selalu membuat penasaran, keinginan untuk menuntaskannya segera menjadi motivasi utama meski tebal novelnya berjilid-jilid. Efek yang sering pula kita dapatkan bila membaca cerita-cerita detektif. Sedangkan, dalam hierarki kesusastraan, cerita detektif maupun karya pop lainnya diakui secara terang-terangan maupun tidak, sering dianggap sebagai karya “kelas bawah”. Karya yang tak layak dibicarakan atau tak pantas bersanding dengan karya-karya lain yang dianggap lebih masuk “kategori serius”. 

harukimurakami.com

Dalam hal ini, Murakami seperti menempuh jalan simpang dari arus utama yang lebih dianggap “elite”. Buku-bukunya laris terjual namun hal itu menimbulkan ketidaksukaan oleh mereka yang berkecimpung dalam penulisan karya pop maupun dari kalangan “sastra serius” di Jepang itu sendiri sebab Murakami seperti tak mutlak berpijak pada salah satu dari dua kalangan itu. Ia seperti berada di “antara”. Penolakan masuk dalam kategori mana pun sama dengan ketidaksetujuannya memisahkan definisi antara yang “supranatural” dan “nyata” dalam bangunan dunia paralel cerita-ceritanya. Baginya, keduanya adalah hal yang sama.

Sebagaimana karya sastra merespon realitas sehari-hari serta wakil dari “suara lain”, ciri masyarakat Jepang yang penuh etos kerja berseberangan dengan para protagonis Murakami yang sebagian besar digambarkan sebagai “pengangguran”. Mereka adalah tokoh yang cenderung tenang, pasif, menghabiskan waktu untuk memasak spageti, pergi ke swalayan, berakhir pekan dengan mencuci dan menyetrika pakaian kemudian masuk dalam petualangan spritual. Mereka tidak terikat oleh sistem-sistem besar. 

Dalam wawancara bersama jurnalis dan kritikus Laura Miller, Murakami menyatakan simpatinya untuk anak-anak muda, khususnya di Jepang yang telah memilih untuk tidak bergabung dengan perusahaan-perusahaan solid dan oleh karena pilihan itu mereka menjadi “orang luar” di masyarakat, tidak dianggap menjadi bagian yang “elite”. Sikap berdiri di luar arus tentu sangat tercermin jelas pada para protagonis Murakami.

Toru Okada (Kronik Burung Pegas) memilih untuk berhenti bekerja dari kantor advokat. Ia menghabiskan waktunya di rumah menggantikan tugas istrinya dari mulai memasak spageti, mencuci dan menyetrika baju. Pekerjaan rumah tangga itu ia kerjakan dengan suka rela. Mengutip kata Toru Okada, “Bagi orang yang baru menjadi penganggur sepertiku, kehidupan semacam itu justru terasa menyegarkan dan mengasyikkan. Sudah tidak perlu naik kereta yang ekstrapadat untuk pergi ke kantor, juga tidak perlu lagi menemui orang yang tidak ingin kutemui. Tidak harus diperintah, tidak pula harus memerintah. Ini barangkali semacam libur di dalam hidupku.” (Hal. 30)

Dalam cerita pendek Murakami berjudul Kemarin, tokoh bernama Kitaru mencerminkan pula sikap anti kemapanan itu. Ia menolak masuk universitas. Alih-alih merancang masa depan yang gemilang, ia justru menghabiskan waktunya dengan belajar keras menguasai dialek Kansai hanya agar bisa diterima di komunitas fans tim bisbol kesayangannya. Sikapnya ini membuat hubungan dengan keluarga dan pasangannya menjadi renggang.  

Penolakan terhadap sesuatu yang mapan dalam hal ini sastra tradisonal Jepang yang sangat didominasi sistem keluarga, oleh Murakami tercermin pula pada latar belakang protagonisnya yang tidak terikat oleh hubungan yang “vertikal’. 

Paparan di atas menelisik sikap menolak menjadi elite dari segi kecenderungan karya Murakami dan unsur-unsur di dalamnya. Sementara itu, sikap tersebut tercermin pula dalam rutinitas yang dijalaninya. Demi mempertahankan kerja kepengarangannya sendiri, Murakami membangun kedisiplinan dengan berolahraga lari dan berenang. Ia bahkan pernah menempuh ultramaraton 100 km. Disiplin menjaga fisik agar tetap sehat tentu menolak mentah-mentah “pandangan romantik” perihal “sastrawan besar” yang bila ingin menghasilkan karya mumpuni mesti dengan jalan mabuk-mabukan atau menjadi perokok berat. “Anda harus tangguh supaya dapat menulis untuk waktu yang lama,” kata Murakami.

Membaca Semesta Murakami (2020)seperti belajar memandang tidak dari tempat tinggi. Kita tidak harus mengagungkan sesuatu yang telah mapan karena seringkali pandangan semacam itu mengaburkan apa yang sesungguhnya terjadi di sekitar kita. Kita perlu turun atau berada di garis luar.

Mengutip kata Murakami, “Untuk dapat menulis hal-hal yang sulit itu, Anda harus rela turun lebih dalam.”
***

Iin Farliani, penulis buku kumpulan cerita pendek berjudul Taman Itu Menghadap ke Laut (2019). Lahir di Mataram, Lombok, 4 Mei 1997. Alumnus Jurusan Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Mataram. Sejak tahun  2013 hingga sekarang masih terlibat aktif dalam kegiatan Komunitas Akarpohon Mataram, sebuah komunitas sastra dan penerbitan buku. Di tahun 2020, ia terpilih sebagai salah satu Emerging Writers MIWF 2020.