Ladu

Tosca Santoso
Penerbit Kaliandra, 322 halaman

Matahari cepat sekali bangkit dari ke puncak bukit ini,. Panas segera menjalar ke dalam tenda. Membangunkan Arti dan Yanis, lebih awal dari biasa. Mereka tak sempat sarapan. Bahkan tak juga sekedar menyedu kopi. Kedua segera bergegas merapikan tenda, dan memasukkan barang bawaan ke dalam ransel panjang. Setelah meneguk air secukupnya, mereka mulai berjalan menuruni bukit. Menuju kawan Anak Kelud.

“Nanti kita bikin kopi di bawah saja, dekat kawah,” kata Yanis. Arti mengangguk. Pilihan itu lebih baik, ketimbang terpanggang matahari terik di puncak bukit. Mereka melangkah  cepat ke arah kawah. Dulu, ada terowongan yang menghubungkan bukit ini dengan batas danau. Sebelum danau mengering. Tetapi, pintu terowongan tersumbat oleh materi letusan. Sama sekali tak dapat dilalaui. Mereka tak dapat mendekat ke kawah.

Yanis mengumpulkan ladu, dari tempat yang sedekat mungkin mirip dengan materi kawah. Batu kehitaman. Rapuh bekas disulut suhu teramat panas. Ada banyak mineral dalam bebatuan itu. Mungkin besi atau nikel. Yanis bergerak mengikuti hati, meski tahu batuan apa yang dicarinya. Ia otomatis saja, menggerakkan kaki seirama dengan langkah Yanis.

“Ini tampaknya salah satu belas aliran lava?” Arti bertanya.
“Iya, kita ikuti ke bawah mau?” Yanis menawarkan.
“Dengan kamu, apa yang aku nggak mau?” Arti melempar senyum. Dekiknya versi ketiga.

Senyum lepas yang meruar bahagia. Membuat pagi Yanis terasa lebih ringan. Langkah kakinya gesit, meski ia belum sarapan.

Mereka susuri bekas aliran lava. Semacam sungai kering yang terluka oleh guratan lahar panas. Ke arah hilir. Di beberapa tempat, tepi aliran itu masih ditumbuhi rumput. Para perintis kehidupan yang tak takluk oleh kerasnya bebatuan. Mereka tak menunggu lama untuk menancapkan akar. Dan tak berhitung berapa banyak daun yang ditumbuhkan. Kalau suatu hari lahar kembali lewat, daun-daun itu juga yang pertama bersiap untuk luluh. Kering seketika. Anis mengambil ladu di tepi alur lahar yang memberi landasan untuk hidup rerumputan. Ia merasakan kehidupan berdenyut. Bahkan tak lama setelah lahar menghilang ke hilir sungai.

Yanis memberi label “ladu Anak Kelud” pada lodong tempatnya menyimpan endapan dari jalur lahardi sini. Ini ladu ke empat yang dikoleksinya sejak perjalanan ke Kaliadem.
***
Selanjutnya baca Ladu