Pembinatangan Peringatan 17 Agustus


Imron Supriyadi

Hingar bingar peringatan Hari Kemerdekaan ke-70 Republik Indonesia baru saja berlalu. Pekik merdeka dan lagu kebangsaan, sesekali masih terdengar di sejumlah stasiun televisi, radio dan tertayang di media cetak, internet dan jejaring sosial. Tak kalah seru, dalam hitugan detik SMS dan BBM beruntun masuk ke hand phone di hampir setiap kita.

Bahkan bekas peringatan akbar bagi negeri ini hingga sekarang masih tampak di sejumlah rumah, kantor dan tempat-tempat umum lainnya. Ada bendera terpasang yang belum dilepas, ada baliho 17-an tertengger, dan ronce-ronce berwarna merah putih juga masih terlilit di sebagian atap atau teras kantor pemerintah dan instansi swasta lainnya.

Bahkan di sejumlah perkampungan ada deretan potongan bambu tertata rapi yang dimodifikasi dalam bentuk gapura. Di sana masih terpampang tulisan “Memperingati HUT ke-70 RI” disertai dengan deretan huruf slogan perjuangan 17-an. 

Seolah, ada rasa yang menggumuli dalam setiap diri warga bangsa ini tetap ingin berada dalam semangat 17 Agustus. Sebab, pada saat HUT RI inilah, pekik merdeka dan semangat perlawanan terhadap penjajahan kian digemakan. Menggelora dalam detak napas. Terpompa keras dalam denyut jantung. Air mata mengalir dari setiap veteran yang masih hidup. Ada keengganan untuk menyia-nyiakan makna dan arti kerdekaan yang telah mereka perjuangkan.

Namun harapan para pendiri bangsa, faktanya jauh panggang dari api.

Perlawanan terhadap kaum penjajah dirayakan dengan deretan agenda yang jauh dari makna kemerdekaan. Penderitaan para pejuang saat merebut kemerdekaan nyaris tergerus oleh pendaran kembang api kepalsuan dan hingar bingar balap karung dan lomba makan krupuk.

Nun jauh di Kota Tanjung Enim di tahun 2010, peringatan HUT RI disajikan tarian modern ala 17-an. Seragam para penari berwarna merah darah dan putih kesucian. Tapi suasana 17-an yang hikmat itu hancur ketika kemudian para penari membuat konfigurasi ala pejuang dengan iringan musik India.  Kali itu, sebagian peserta upacara bertepuk. Tapi deretan pejabat lainnya berbisik. Tak jelas apa yang mereka bisikkan. Kecewa, merasa lucu atau bahkan mengagumi. Entahlah.

Seketika nuansa peringatan HUT RI lenyap ditelan oleh lagu Kuch-Kuch Ho Ta Hai ala Syahrukh Khan. Di Palembang, tarian serupa mengusung tema 17-an. Sebuah tim tari menampilkan modern dance dengan kostum merah putih. Ironis. Lagi-lagi senandung “Sakitnya Tuh Disini” lagu milik Cita Citata yang menggema.

Aduh! Hati saya seketika terasa nyeri kali itu.

Pulang ke rumah, anak saya berbisik, di sekolahnya menggelar lomba goyang Inul di Hut RI.

Aduh! seakan dada saya dirobek oleh belati untuk kesekian kalinya.

Tak jauh dari rumah saya, peringatan HUT RI tahun ini juga sebelumnya, mengusung permainan yang jauh dari nilai kemerdekaan. Perjuangan berdarah-darah guna merebut harga diri bangsa, kini diisi dengan lomba makan krupuk tergantung di seutas tali yang memanjang.

Anak-anak menjulurkan mulutnya keatas dengan tangan diikat di belakang. Merebut krupuk hingga ludes. Lalu di lokasi lain, gerombolan anak-anak muda tanggung juga berebut mengambil koin dalam tepung dengan mulut. Tangan mereka juga terikat di belakang. Demikian juga di sebagian kampng lainnya. Lomba mengambil koin dengan mulut pada buah kates tergantung. Buah itu berlumur minyak dan arang hitam. Lagi-lagi tangan mereka juga diikat ke belakang.

Ah, kemerdekaan!

Demikian pilunya nasibmu kini. Sejak manusia tercipta, Tuhan sudah mengaruniakan tangan untuk mengantarkan krupuk ke mulut, mengambil koin untuk dimasukkan ke saku atau dompet. Tapi kali itu fungsi tangan dibunuh. Mulut harus bertindak untuk mengeksekusi krupuk tergantung pada seutas tali. Mengambil koin dalam kates berlumur minyak goreng dan arang hitam. Para penonton pun terkekeh, tertawa girang menyaksikan kelucuan itu. Ow, inikah makna kemerdekana itu? Jika iya sungguh nista penghargaan terhadap nilai-nilai dan makna kemerdekaan di perjalanan sejarah bangsa ini.

Tak sadar, jauh sebelum kita meminta, Tuhan hanya memerintahkan kepada anjing, babi, kuda, harimau dan hewan lainnya untuk memakan dengan mulut tanpa perantara tangan. Tuhan  sudah demikian cerdas ingin menempatkan manusia sebagai mahluk yang sempurna dengan akal pikirannya lengkap dengan nafsu yang tidak dimiliki malaikat sekalipun. Melengkapi  kaki, tangan dan mulut agar difunsgikan sebagaimana takdirnya.

Tapi, pada setiap peringatan HUT RI tanpa sadar sebagian kita menempatkan diri dalam posisi terendah. Lomba makan krupuk, mengambil koin dengan mulut adalah perilaku yang merupakan mengingkari takdir dan membunuh keberfungsian tangan dan mulut.  

Dari jaman azali, sejak ruh ditiupkan dalam janin, tangan bertugas mengantarkan makanan ke mulut, dan mulut bertugas mengunyah makanan atas jasa tangan. Meski hanya sebatas perlombaan, tapi akankah ini terbiar begitu saja?  

Tidak adakah jenis perlombaan pada HUT RI yang lebih menggelorakan napas perjuangan demi pemaknaan kemerdekaan yang hakiki? Sepertinya deretan ironi inilah yang wajib dipikirkan oleh semua!
***
Bukit Lama – Palembang, 20 Agustus 2015