Surat Buat Pa Said


Ajip Rosidi (1956) Djakarta Dalam Puisi Indonesia

Kita hidup atas satu bumi tapi dua dunia
Kita hidup dalam satu hari tapi lain mimpi
Impian yang sederhana, impian dalam mimpi
Yang mengendap, jadi keyakinan: Warna kan jadi hijau, malam secerlang pagi

Bertolak pada keyakinan, kita lepaskan
impian demi kepercayaan masing-masing
bertolak atas kasih sayang, kita lepaskan
kekasih paling tercinta. Kita lebih percaya
pada hari akan datang. Di mana manusia menancapkan hati di bumi yang dia cintai

Kita hadapi apa yang musti datang
Kita hadapi apa yang musti kita hadapi
Kuingin kita rapat berbareng menyongsong
Kuingin jarak tiada lagi, walau harapan telah gosong
walau apa yang kita percayakan dan impikan adalah
Dua wanta dua hati

Tugas kita adalah tugas mencintai bumi
Tugas kita mencintai apa yang harus kita cintai
Cintaku adalah panas matahari
yang mewarnai cintaku, merah atau hijau

Manusia datang dan menetap di sini
Bicara tentang hari depan tapi ia sendiri telah lama mati
Mereka benalu yang hidup atas kematian orang lain
Mengisap hingga zat penghabisan

Tapi manusia lama pergi
Manusia yang mencari bumi subur, yang hidup menggelora
Manusia yang mengepalkan angan karena percaya
Bekas jari-jari kakinya terpeta atas rumput, embun turun malam tadi
Ia telah pergi dan takkan kembali ke mari
Karena yang ia cari, yang ia mau temui
Tak ada di sini: Bumi subur buat manmusia berjiwa hidup
Kaerna yang ingin ia punyai, yang ingin ia genggam
Tidak ada lagi di bumi ini: Alam yang ragam warna

Di sini bumi satu warna saja
Hanya subur bagi manusia berjiwa mati
Tangan yang kau ulaskan adalahh ulasan abadi
Cinta yang kau curahkan jadi beku, karena
warna cuma satu

Kupercayakan nasib di genggaman tangan sendiri
Kupercayakan hari depan pada langkah yang kulangkahkan
Kutolak kasih yang kau berikan, ingin hidup sendiri
Ingin memilih satu warna, antara warga beragam macam
ingin satu cinta, antara cinta beragam macam

Aklu adalah diri mereka yang hadir
Yang berani menolak kehadiran diri sendiri

Ranting-ranting mati menemui bumi subur di sini
Jika malam habis dan pagi jernih, rumput kusam
Tapak-tapak mereka pergi takkan kembali, angin menghembuskan

Nafas satu keyakinan yang diragami warna-warni
Mereka yang menetap namun yang tak hidup di sini
Karena kehilangan arah, jantungnya terhenti

Kuhitung segala impian yang ingin kulepaskan
Kutimbang segala bintang yang melekat di langit dan di bumi

Karena aku tahu arah dalam keragaman arah
Karena aku tak tahu arah dalam ketunggalan arah
karena aku mencari bumi yang kucari
Kulepaskan kasih dalam keragaman arah
Dan arahku sudah pasti

Manusia datang dan pergi
Manusia bicara, hidup atau mati, manusia bicara
Membicarakan kehidupan dengan jiwa yang telah lama mati
***

pencerita

Leave A Comment