Demonstran


Wahid Situmeang (1966) Djakarta Dalam Puisi Indonesia

Melengking ringkik kuda lepas kendali
suara yang telah lama hilang
suara saksi yang tak diperlukan kesaksiannya
suara yang dirindukan anak negeri
menghingarkan ibukota
membentur tembok istana

Mereka berangkat ke istana
tanpa upeti
karena bukan mau menghadap raja
mereka berbondong ke istana
barisan pemuda yang habis sabar
menunggu janji

Bukan barisan kehormatn dalam upcara resmi
Barisan kebangkitan menjalarkan api
menuntut janji kepada pemimpin

Siapa orangnya bisa tahan
dibanting gelombang datang beruntun
musnahlah engkau pemimpin yang linglung
***