Ziarah Gunung – Sitor Situmorang

seharisebelum purnamakudekap ia di bukit pasirpantai selatan tiba di lorong merapipandangnya tercurahjadi lahar dinginkali krasak nirwana kesehariankudesa-desa batunpetani-petani salam di atas sawah ladangselatan jalan ambarawatergantung langitdi sela-sela gunung moksa menghimbaudi keramaian pasar borobudurbiksu berjubah kuningdi antara alat-alat.

Mengenang Munir, Menolak Lupa (08121965 – 07092004) – A. Nur Ahmad

Munir namanya,berkumis berperawakann kecilbernyali bak panglimasuara lantang terdengarmenentang ketidakadilanmenantang para koruptor, pelanggar HAM, dan penindas jelata teriakannya menggaungmerontokkan nyali para penindasnamun suara itu tak ada lagimenghilang diterpa angin Munir pergimati diracun atas pesawatMunir mati, menimbulkan tanya hingga detik.

Terbang di Atas Sawah Ladang Jawa Tengah

Puisi Sitor Situmorang Di bibirku garam dan pasir samudraakupun menyanyiterbang Garudadi udara Jawa Tengahmeninggalkan pantai Bali Yogya tujuan hari inikarena aku rindudank arena rinduku kinirindu sejarah bangsatanpa pemali Kunyanyikan tanah airkunyanyinya cinta alamsawah-sawah dan desa-desa.Ya peradaban dan.

Hamilmu

Sitor Situmorang Hamilmu bulan redupbulan sabit bertukarbulan purnamadalam usapan tanganku di malam tanpa bintangdi malam penuh bintangkutating bayi bakal lahirsenyummu yangmenyusukan tidurku -kehamilan-alam bukan lelakimengisi kesendiriankumelimpah ruahdi suara bakal jerit sakitmutanpa padanan kata -bahagia-yang mendera danmenderes getah.

Hamilku

Sitor Situmorang Hamilmu ini hamilku jugasekiranya tak senjangantara kebatinanmudan kejantananku Kusebar serbuk lendirdi rahim tak nyanatanpa pengakuan cinta atausedang terlalu cintaketika aku sendiri tak nyana Hamilmu ini hamilku pertamawalau aku sudah beranak pinakwaktu aku masih tak punya.

Nyanyian Tanah Air

Sitor Situmorang Salamku pada negeri tercinta,Salam pada gunung-gunungnya,Salam pada lembah dan ngarai,Salam pada Danau Toba permai. Salam kawan, jabat tanganku,Ini aku kembali menjenguk engkau,Salam pada desa tercinta –kutinggal lama, lupa tak bisa. Salam pada putra dan putri,Padamu.

Si Anak Hilang

Sitor Situmorang Seorang kaya mempunyai dua putra,Dua remaja berlainan perangai,Si Bapak sama-sama sayang,Bagaimana akan memisah darah? Putra sulung rajin lagi tekun,Bertani, bertukang, merawat hewan,Sepanjang hari bekerja di kebun,memelihara warisan nenek moyang. Putra bungsu suka ke tempat pesta,Pesiar.

Pernikahan Sendal

Di pernikahan esok hari, aku bersyukur kau mendapat pasangan sehidup sematiPernikahan di gedung telapak kaki, sepasang sendal janji akan hilang, putus dan dicuri***

Tanya Sendal

“Apa yang lebih menggertak dari sayu rindu seorang telapak kaki nan rupawan terhadap kerling mata sendal jepit yang jelita?”Tanya emperan musala tua pada pacarnya“Dalam siksa kuburnya, seorang pencuri sendal musala menyiapkan kereta kencana pada jepit sendal yang.

Kapal Sendal

Dengan dua puluh mimpi semalamBujangan sendal pergi menggendong penasaran jodoh, sambil menerka kehendak alam“Ternyata pasanganmu ada di Teluk Bayau, Ndal, kau harus pergi ke sana dengan mengendarai kapal.“Ketika mimpinya ditafsirkan tukang jamu,Sendal jepit siap terbang mengendarai tungkai.

Upacara di Rumah Adat

Terbalut selimut pengantinkita, perlukan dan nafsubagian dari margasanggama di pangkuannya Dari pori-pori tubuhkumenetas nafas hayatberdiang di liang pusarmu(di luar angin kemarau) (dengarkan ia mengelucak danaumengguncangguncang tutup sarkopakdi pusat lembah) Fajar tibamennyinari tubuhmuhangat menyusukan tubuhkudi pelaminan angin redajagad.

Balige

rasa tak ada yang berubahdi kota kecil iniwalau setengah abad sudahpertama kali di siniaku masuk sekolah rasa tak ada yang berubahnamun kutahu banyak terjadiseperti juga di pedalamanhatiku yang berdalih-dalih kembali pulangnamun tiada kembalidi negeri sekali ditinggalduludi suatu.

Kosmologi Mutakhir

air terjunkesan luar skalaakuarel gejolak-bumiterhimpit mastodon dataranmenggelegarsepi hutanbeku di cakrawalawaktu angin –di atasnyapohon di bekas rimbagubukberasap kerak bumibertudungrumput kering padanglebuhterpencil di atas laharbanjirmenangis***

Pelangi Sore Hari di Siguragura Asahan

Seratus pelangi di udaratebing terjal hutan pegunungandi bias air terjunmengorak dari lengkung terowongan pengalih alurriam besarmenembus gunungke powerstation di perut bumisaat arus dahsyatjadi pembangkit listrik menyadap tenagaair Danau Toba di hulu kekaldalam lembahnya***

Bianglala Siguragura

biang dari riam tak terkiramemantulkan puluhan bianglaladi matahari sore Siguraguramengingatkan janji Tuhan di atas bendungan hampir selesaimahkota bianglalamembangkit kenanganpada desa pernah di sana dunia impian rohkini di dasar danau buatan***

Kristus di Danau

Ibarat binatang lepas dari jaringan,Pahlawan lintas di angkasa purba,Jejaknya menyala sekejap di udaraHilang setelah membakar segala ikatan. Bintang itu hangus, lalu lenyap,Tiba-tiba meteor lain muncul dari awan,Kali ini alam seluruh hening senyap,Mengamati cahaya terang dari kayangan. Dari.

Di Hutan Lintong

jalan setapak inijalan ayah, jalannya nenekjalan nenek dari neneknya jalan berawal berlumutsamar di dasar hutanjalan ziarahku kini ke permukiman 8 generasikini kosong terbukadi tengah rimba tanpa hewan tanpa manusiatinggal batu peti tengkorakdi benteng berbambu ciut tinggal angin.

Tamasya Danau Toba

seribu gunungseperti kawanan gajahmenyerbu air danaulalu beku-kejadian lapisan bumi30.000 lalu-kata ilmu-ketika perut bumimemuntahkan ke langitbatu berapi lahar mendidihjadi gunung-gunung gundul ribuan tahun lalu-rumput tumbuhair menggenangjadilah danaudi kawah raksasa-sebelum hutan tumbuhsebelum puak pengembaratiba dari benua utaramembuka ladangkemudian sawah.

Dunia Leluhur

Hutan jadi bayang-bayangroh leluhur kutanam bambubiar hangat kampung halaman daunnya hijaulebih hijau kala rimbun Ditenun anginroh bertengger di ubun-ubun mata tombaktertancap di daratan kurajut benang hidupwaktu yang kulalui jejak pemburudi pegunungan burungdi malam berbulan hidup dari sepiminum.

Topografi Danau Toba

Dari pantai Haranggaolkutatap pulaudanau biru membuai perahunelayan Bandar Saribudengan lagu kasihadat Simalungundi tanah Purba dari seberang ke seberangsawang gunungmendekap telukmendekap lembahhati bunda pertiwiair biru kedamaiandi tengah riuh duniahatiku yang memeluklangitnya Ayahdi atas sawah ladangkaumku hari ini aku.

Urat Bona Pasogit

sebatang beringin, tempat leluhurdi bayangnya bermusyawarah hal hidupdan hal bakasebuah mata air dari batu karangsumber pelepas dahaga 7 keturunankali 7 keturunan, aku pun lahirsebuah rumah asal disebut parsantianperlambang jagat tiga tingkatbumi atas bumi tengah bumi bawahdari halamannya.

Danau Toba

Aku rindu pada bahagia anak,Yang menunggu bapaknya datang,Dari gunung membawa puput,Sepotong bambu tumbuh di paya-paya. Pada perahu tiba-tiba muncul sore,Dari balik tanjung di teluk danau,Membawa Ibu dari pekan,Dengan oleh-oleh kue beras                           bergula merah. Aku rindu pada malam berbulan,Kata.

Krawang-Bekasi

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasitidak bisa teriak ‘Merdeka’ dan angkat senjata lagi Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kamiterbayang kami maju dan berdegap hati? Kami bicara padamu dalam hening di malam sepiJika dada rasa hampa.

Kepada Peminta-Minta

(Saduran oleh) Chairil Anwar Baik, baik aku akan menghadap DiaMenhyerahkan diri dabn segala dosaTapi jangan tentang lagi akuNanti darahku jadi beku Jangan lagi kau berceritaSudah tercacar semua di mukaNanah meleleh dari lukaSambil berjalan kau usap juga Bersuara.

Aku Berada Kembali

Aku berada kembali. Banyak yang asingair mengalir tukar warna, kapal-kapal, elang-elangserta mega yang tersandar pada khatulistiwa lain; rasa laut telah berubah dan kupunya wajahjuga disinari mataharilain HanyaKelengangan tinggal tetap sajaLebih lengang aku di kelak-kelok jalan:lebi lengang pula.

Derai-derai Cemara

cemara menderai sampai jauhterasa hari akan jadi malamada beberapa dahan di tingkap merapuhdipukul angin yang terpendam aku sekarang orangnya bisa tahansudah berapa waktu bukan kanak lagitapi dulu memang ada suatu bahanyang bukan dasar perhitungan kini hidup hanya.

Yang Terampas dan Yang Putus

kelam dan angin lalu mempesiang diriku,menggigir juga ruang di mana dia yang kuinginmalam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu di Karet, di Karet (daerahku y.ad.) sampai juga deru      dingin aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau      datangdan aku.

Aku Berkisar Antara Mereka

Aku berkisar antara mereka sejak terpaksaBertukar rupa di pinggir jalan, aku pakai mata      merekapergi ikut mengunjungi gelanggang bersenda:kenyataan-kenyataan yang didapatnya(bioskop Capitol putar film Amerika,lagu-lagu baru irama mereka berdansa)Kami pulang tidak kena apa-apaSungguhpun Ajal macam rupa jadi tetanggaTerkumpul di.

Puisi Drawing

Drawing ke kiri drawing ke kananTengah tengah drawing fotomuParuh baya baru sudah gambarmuAda garis garis tegas di keningmuAda titik titik di pipimuKulit mulai berlipat keriputPandangan mata menggambarkan pahit getirnya garis kehidupanDrawing ke kiri drawing ke kananGara-gara drawing.

Warung Kopi

Tak mengapa cinta ini kan kurahasiakan, karena tak dapat kubagiKau tahu aku kan menantimu tiada ujungSimpanlah saja dalam album, masa tak kan berulang samaEntahlah mesti kubuang ke mana rasa cinta yang terlanjur untukmu ini Rupanya cukup tidaklah cukup.

Penulis Edisi 281

Jajang Kawentar, mengajar di SMA Pusri Palembang dan sebagai pegiat seni ikut mengelola Sanggar Air Seni Palembang. Chairil Anwar, (1922-1949), pelopor Angkatan 45 yang besar pengaruhnya terhadap perkembangan kesusastraan Indonesia. Sajak-sajaknya baru diterbitkan setelah dia meninggal, yaitu.

Buat Nyonya N

Sudah terlampau puncak pada tahun yang laludan kini dia turun ke rendahan datar.Tiba di puncak dan dia sungguh tidak tahuBurung-burung asing bermain keliling kepalanyadan buah-buah hutan ganjil mencap warna pada       gaun Sepanjang jalan dia terkenang akan jadi satuAtas.

Mirat Muda, Chairil Muda

Dialah, Miratlah, ketika mereka rebahMenatap lama ke dalam pandangnyacoba memisah matanya menantangyang satu tajam dan jujur yang sebelah Ketawa diadukannya giginya padamulut Chairil; dan bertanya: Adakah, adakahkau selalu merasa mesra dan aku bagimu indah?Mirat raba urut Chairil,.

Selama Bulan Menyinari Dadanya

Selama bulan menyinari dadanya jadi pualamranjang padang putih tiada batassepilah panggilan-panggilanantara aku dan mereka yang bertolakAku bukan lagi si cilik yang tidak tahu jalandi hadapan berpuluh lorong dan gang menimbangini tempat terikat pada Ida dan ini ruangan.

Buat Gadis Rasid

Antaradaun-daun hijaupadang lapang dan teranganak-anak kecil tidak bersalah, baru bisa lari-larianburung-burung merduhujan segar dan menyebarbangsa muda menjadi, baru bisa bilang ‘aku’Danangin tajam kering, tanah semata gersangpasir bangkit mentanduskan, daerah dikosongiKita terapit, cintaku-mengecil diri, kadang bisa mengisar setapakMari.

Puncak

Pondering, pondering on you, dear… Minggu pagi di sini. Kederasan ramai kota yang        terbawatambah penjoal dalam diri -diputar        atau memutar-terasa tertekan; kita berbaring bulat telanjangSehabis apa terucap di kelam tadi, kita habis kata        sekarangBerada 2000 m, jauh dari muka.

Prajurit Jaga Malam

pro Bahar + Rivai Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktuPemuda-pemuda yang lincah, yang tua-tua keras,        bermata tajamMimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya  kepastianada di sisiku sekala kau menjaga daerah yang matiini Aku suka pada mereka yang berani hidupAku suka pada.

Ina Mia

Terbaring di rangkuman pagi-hari baru jadi-Ina Mia mencarihati impi,Teraba Ina Miakulit harapan belakaIna Miamenarik napas panjangdi tepi jurangnapsuyang sudah lepas terhembusantara daun-daunan megelabukabut cinta lama, cinta hilangTerasa gentar sejenakIna Mia menekan tapak di hijau rumput,Angin ikut-dayang penghabisan.

Sudah Dulu Lagi

Sudah dulu lagi terjadi beginiJari tidak bakal teranjak dari petikan bedilJangan tanya mengapa jari cari tempat di siniAku tidak tahu tanggal serta alasan lagiDan jangan tanya siapa akan menyiapkan liang    penghasilanYang akan terima pusaka: kedamaian antara    runtuhan menaraSudah.

Persetujuan Dengan Bung Karno

Ayo! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janjiAku sudah cukup lama dengar bicaramu,     dipanggang atas apimu, digarami oleh lautmu Dari mulai tgl 17 Agustus 1945Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimuAku sekarang api aku sekarang laut.

Tuti Artic

Antara bahagia sekarang dan nanti jurang ternganga,Adikku yang lagi keenakan menjilat es arcticSori ini kau cintaku, kuhiasi dengan susu + coca colaIstriku dalam latihan: kita hentikan jam berdetik Kau pintas benar bercium, ada goresan tinggal terasa– ketika.

Malam Di Pegunungan

Aku berpikir: Bulan inikah yang membikin dingin,Jadi pucat rumah dan kaku pohonan?Sekali ini aku terlalu sangat dapat jawab kepingin:Eh, ada bocah cilik main kejaran dengan bayangan!***1947

Dua Sajak Buat Basuki Resobowo

IAdakah jauh perjalanan ini?Cuma selenggang! – Coba kalau bisa lebih!Lantas bagaimana?Pada daun gugur tanya sendiri,Dan sama lagu melembut jadi melodi! Apa tinggal jadi tanda mata?Lihat pada betina tidak lagi menengadahAtau bayu sayu, bintang menghilang Lagi jalan ini.

Sajak Buat Basuki Resobowo

Adakah jauh perjalanan ini?Cuma selenggang! – Coba kalau bisa lebih!Lantas bagaimana?Pada daun gugur tanya sendiri,Dan sama lagu melembut jadi melodi! Apa tinggal jadi tanda mata?Lihat pada betina tidak lagi menengadahAtau bayu sayu, bintang menghilang Lagi jalan ini.

Sorga*

buat Basuki Resobowo Seperti ibu + nenekku jugatambah tujuh keturunan yang laluaku minta pula supaya sampai di sorgayang kata Masyumi + Muhammadiyah bersungai susudan bertabur bidari beribu Tapi ada suara menimbang dalam dirikunekat mencemooh: Bisakah kiranyaberkering dari.

Malam di Pegunungan

Aku berpikr: Bulan inikah yang membikin dingin,Jadi pucat rumah dan kaku pohonan?Sekali ini aku terlalu sangat dapat jawab kepingin:Eh, ada bocah cilik main kejaran dengan bayangan!*1947

Pemberian Tahu

Bukan maksudku mau berbagi nasib,nasib adalah kesunyian masing-masingKupilih kau dari yang banyak, tapisebentar kita sudah dalam sepi lagi terjaringAku pernah ingin benar padamu,Di malam raya, menjadi kanak-kanak kembali*1946

Sajak Putih

Chairil Anwar Bersandar pada tari warna pelangiKau depanku bertudung sutra saljuDi hitam matamu kembang mawar dan melatiHarum rambutmu mengalun bergelut senda Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tibaMeriak muka air kolam jiwaDan dalam dadaku memerdu laguMenarik menari seluruh.

Sajak Putih

buat tunanganku Mirat Bersandar pada tari warna pelangiKau depanku bertudung sutra saljuDi hitam matamu kembang mawar dan melatiHarum rambutmu mengalun bergelut senda Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tibaMeriak muka air kolam jiwaDan dalam dadaku memerdu laguMenarik menari.

Dari Dia

Buat KChairil Anwar Jangan salahkan aku, kau kudekapbukan karena setia, lalu pergi gemerincing ketawa!Sebab perempuan susah mengatasiketerharuan penghidupan yang ‘kan dibawakan padanya… Sebut namaku! Ku datang kembali ke kamarYang kautandai lampu merah kaktus di jendelaTidak tahu buat.

Kepada Kawan

Sebelum Ajal mendekat dan mengkhianat,mencengkram dari belakang ‘tika kita tidak melihat,selama masih menggelombang dalam dada darah     serta rasa belum bertugas kecewa dan gentar belum ada,tidak lupa tiba-tiba bisa malam membenam,layar merah terkibar hilang dalam kelam.kawan, mari kita putuskan.

Situasi

………………………………………………………………………………Tidak perempuan! yang hidup dalam dirimasih lincah mengelak dari pelukanmu gemasgelap,bersikeras mencari kehijauan laut lain,dan berada lagi di kapal dulu bertemu,berlepas kemudi pada angin,mata terpikat pada bintang yang menanti.Sesuatu yang mengepak kembali menandungkanTai Po dan rahsia Laut.

‘Betina’-nya Affandi

Betina, jika di barat nantimenjadi gelapturut tenggelam sama sekalijuga yang mengendapdi mukamu tinggal bermain Hidup dan Mati Matamu menentang -sebentar dulu!Kau tidak gamang, hidup kau sintuh, kau cumbusekarang senja gosong, tinggal abu…Dalam tubuhmu ramping masih berkejaran             Perempuan dan.

Senja di Pelabuhan Kecil

          buat Sri AjatiChairil Anwar Ini kali tidak ada yang mencari cintadi antara gudang, rumah tua, pada ceritatiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlautmenghembus diri dalam mempercaya mau berpaut Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elangmenyinggung muram, desir.

Cintaku Jauh di Pulau

Cintaku jauh di pulau,gadis manis, sekarang iseng sendiri Perahu melancar, bulan memancar,di leher kukalungkan ole-ole buat si pacarangin membantu, laut terang, tapi terasaaku tidak ‘kan sampai padanya Di air yang tenang di angin mendayudi perasaan penghabisan segala.

Buat Album D.S.

Seorang gadis lagi menyanyiLagu derita di pantai yang jauhKelasi bersendiri di laut biru, dariMereka yang sudah lupa bersuka Suaranya pergi terus meninggi,Kami yang mendengar melihat senjaMencium belai si gadis dari pipiDan gaun putihnya sebagian dari mimpi Kami.

Nocturno

Nocturno(fragment) …………………………………………………………………………………. Aku menyeru – tapi tidak satu suaramembalas, hanya mati di beku udaraDalam diriku terbujur keinginanjuga tidak bernyawa.Mimpi yang penghabisan minta tenaga,Patah, kapak, sia-sia berdayaDalam cekikan hatiku Terdampar… Mengiyam abu dan debuDari tinggalannya suatu laguIngatan pada.

Dengan Mirat

Kamar ini jadi sarang penghabisandi malam yang hilang batas Aku dan dia hanya menjengkaurakit hitam ‘Kan terdamparkahatau terserahpada putaran pitam? Matamu ungu membatu Masih berdekapankah kami ataumengikuti juga bayangan ini ***8 Januari 1946*. Dalam Debu Campur Debu,.

Catetan Th. 1946

Ada tanganku, sekali akan jemu terkulaiMainan cahya di air hilang bentuk dalam kabutDan suara yang kucinta ‘kan berhenti membelaiKupahat batu nisan sendiri dan kupagut Kita -anjing diburu- hanya melihat sebagian dari sandiwara sekarangTidakk tahu Romeo & Juliet.

Penulis Edisi 269

Liston P Siregar, editor www.ceritanet.com Chairil Anwar, (1922-1949), pelopor Angkatan 45 yang besar pengaruhnya terhadap perkembangan kesusastraan Indonesia. Sajak-sajaknya baru diterbitkan setelah dia meninggal, yaitu Tiga Menguak Takdir (bersama Rivai Apin dan Asrul Sani), Deru Campur Debu.

Kepada Pelukis Affandi

Adalah karena kesementaraan segalayang mencap tiap benda, lagi pula terasamati kan datang merusak Dan tangan ‘kan kaku, menulis berhenti,kecemasan derita, kecemasan mimpi;berilah aku tempat di menara tinggidi mana kau sendiri meninggi atas keramaian dunia dan cedera,lagak lahir.

Sebuah Kamar

Sebuah jendela menyerahkan kamar inipada dunia. Bulan yang menyinar ke dalammau lebih banyak tahu.“Sudah lima anak bernyawa di sini, Aku salah satu!” Ibuku tertidur dalam tersedu,Keramaian penjara sepi selalu,Bapakku sendiri terbaring jemuMatanya menatap orang tersalib di batu!.

Sajak Lagu Siul

Chairil Anwar Laron pada matiTerbakar di sumbu lampuAku juga menemuAjal di cerlang caya matamuHeran! ini badan yang selama berjagaHabis hangus di api matamu‘Ku kayak tidak tahu saja II Aku kiraBeginilah nanti jadinyaKaiu kawin, beranak dan berbahagiaSedang aku.

Malam

Malam Mulai kelambelum buntu malamkami masih saja berjaga-Thermopylae?--jagal tidak dikenal?-tapi nantisebelum siang membentangkami sudah tenggelam                                       hilang… ***1945

Di Mesjid

Kuseru saja DiaSehingga datang juga Kami pun bermuka-muka Seterusnya Ia bernyala-nyala dalam dadaSegala daya memadamkannya Bersimpah peluh diri yang tak bisa diperkuda Ini ruangGelanggang kami berperang Binasa-membinasaSatu menista lain gila 29 Mei 1943

Kabar Dari Desa

Nenek tak lagi ke sawah, kakek tak lagi mengayunkan cangkul. Meskipun makan tak sebanyak dulu. Meskipun sawah harus terusdisemai padi. Karena cucu nenek semakin banyak dan gampang beranak. Hampir semua ke kota menjual keringat ke pabrik. Menanami.

Cerita

kepada DarmawijayaChairil Anwar Di pasar baru merekaLalu mengada-menggaya Mengikat sudah kesalTak tahu apa dibuat Jiwa satu teman lucuDalam hidup dalam tuju Gundul diselimuti tebalSama segala berbuat-buat Tapi kadang pula dapatIni renggang terus terapat

Kota Melampai Perutmu

Jajang Kawentar Menemui kota hancur karena birahimu. Sengaja kupinjam matamu yang tidur di pelupuk senja agar menemaniku mengenang lalu ke muka. Agar mimpimu bersamaku terbawa gelisah sementara usai pinjamkan mata mata-mata. Tiada keindahan kota kini selain petuah.

Selamat Tinggal

perempuanChairil Anwar Aku berkacaIni muka penuh lukaSiapa punya? Kudengar seru menderu-dalam hatiku-Apa hanya angin lalu Lagu lain pulaMenggelepar tengah malam butaAh…!!! Segala menebal, segala mengentalSegala tak kukenal Selamat tinggal…!!! *. versi naskah asli

Selamat Tinggal

Aku berkacaBukan buat ke pesta Ini muka penuh lukaSiapa punya? Kudengar seru menderu-dalam hatiku?-Apa hanya angin lalu? Lagu lain pulaMenggelepar tengah malam buta Ah…!!!Segala menebal, segala mengentalSegala tak kukenal… Selamat tinggal…!!! 12 Juli 1943 *. Versi Kerikil.

Dendam

Berdiri tersentakDari mimpi aku bengis dielak Aku tegakBulan bersinar sedikit tak nampak Tangan meraba ke bawah bantalkuKeris berkarat kugenggam di hulu Bulan bersinar sedikit tak nampak Aku mencariMendadak mati kuhendak berbekas di jari Aku mencariDari tercerai dari.

Mulutmu Mencubit di Mulutku

Chairil Anwar Mulutmu mencubit di mulutkuMenggelegak benci sejenak ituMengapa merihmu tak kucekik pulaKetika halus-perih kau meluka?? 12 Juli 1943

Kita Guyah Lemah*

Kita guyah lemahSekali tetak tentu rebahSegala erang dan jeritanKita pendiam dalam keseharian Mari tegak merentakDiri sekeliling kita bentakIni malam purnama akan menembus awan***22 Juli 1943 *. Judul sajak berasal dari Pamusuk Eneste, semula sajak ini tanpa judul

Merdeka

Aku mau bebas dari segalaMerdekaJuga dari Ida PernahAku percaya pada sumpah dan cintaMenjadi sumsum dan darahSeharian kukunyah-kumamah Sedang meradangSegala kurenggutIkut bayang Tapi kiniHidupku terlalu tenangSelama tidak antara badaiKalah menang Ah! Jiwa yang menggapai-gapaiMengapa kalau beranjak dari siniKucoba.

1943

Racun berada di reguk pertamaMembusuk rabu terasa di dadaTenggelam darah dalam nanahMalam kelam membelamJalan kaku lurus. PutusCanduTumbangTanganku menadah patahLuluhTerbenamHilangLumpuhLahirTegakBerderakRubuhRuntuhMengaum. MengguruhMenentang. MenyerangKuningMerahHitamKeringTandasRataRataDuniaKauAkuTerpaku***1943

Jangan Kita Di Sini Berhenti

Jangan kita di sini berhentiTuaknya tua, sedikit pulaSedang kita mau berkendi-kendiTerus, terus dulu….!! Ke ruang di mana botol tuak banyak berbarisPelayannya kita dilayani gadis-gadisO, bibir merah, selokan mati pertamaO, hidup, kau masih ketawa***24 Juli 1943*. Judul sajak.

Saat Petani

Petani penebar bibit buahPetani penebar bibit PadiPetani penebar bibit PalawijaPetani penebar bibit ikan Petani penebar bibit cintaPetani penebar bibit senyumPetani penebar bibit dukaPetani penebar bibit suka Petani penebar bibit kepalsuanPetani penebar bibit kebencianPetani penebar bibit perumahanPetani penebar.

Menghadap Gunung

Menghadap gunung mulai melangkahWahai sahabatku hutan belantara sahabatkuAku dalam pangkuanmu Di hiruk-pikuk kepala sesak kebutuhanHarga diri dalam kemasan berbaris di etalase-etalaseuntuk menyambung nafsu hidup dalam gelimang puja-puji Gaya hidup menjadi ruh, tubuh menuju ketiadaanKetiadaan kembali pada ketiadaan.

Sajak Siap Sedia

kepada angkatankuChairil Anwar Tanganmu nanti tegang kaku,Jantungmu nanti berdebar berhentiTubuhmu nanti mengeras batuTapi kami sederap menggantiTerus memahat ini Tugu Matamu nanti kaca sajaMulutmu nanti habis bicaraDarahmu nanti mengalir berhentiTapi kami sederap meggantiTerus berdaya ke Masyarakat Jaya Suaramu.

1945

kepada penyair BohangSuaramu bertanda derita laut tenang…Si Mati ini padaku masih berbicaraKarena dia cinta, di mulutnya membusahDan rindu yang mau memerahi segalaSi Mati ini matanya terus bertanya Kelana tidak bersejarahBerjalan kau terus!Sehingga tidak gelisahBegitu berlumuran darah Dan.

Doa

kepada pemeluk teguhChairil Anwar TuhankuDalam termanguAku masih menyebut namaMu Biar susah sungguhmengingat Kau penuh seluruh cayaMu panas sucitinggal kerdip lilin di kelam sunyi Tuhanku aku hilang bentukremuk Tuhanku aku mengembara di negeri asing Tuhankudi pintuMu aku mengetukaku.

Isa

kepada nasrani sejatiChairil Anwar Itu tubuhmengucur darahmengucur darah rubuhpatah mendampar tanya: aku salah? kulihat Tubuh mengucur darahaku berkaca dalam darah mengatup luka aku bersuka Itu Tubuhmengucur darahmengucur darah*** 12 November 1943

Dalam Kereta

Dalam keretaHujan menebal jendela Semarang, Solo… makin dekat sajaMenangkup senja Menguak purnamaCaya menyayat mulut dan mataMenjengking kereta. Menjengking jiwa, Sayatan terus ke dada*** 15 Maret 1944

sajak Bercerai

Kita musti berceraiSebelum kicau murai berderai Terlalu kita minta pada malam ini Benar belum puas serah-menyerahDarah masih berbusah-busah Terlalu kita minta pada malam ini Kita mesti berceraiBiar surya ‘kan menembus oleh malam di perisai Dua benua bakal.

Aku

Melangkahkan aku bukan tuak menggelegakCumbu buatan satu biduanKujauhi ahli agama serta lembing katanya Aku hidupDalam hidup di mata tampak bergerakDengan cacar melebar, barah bernanahDan kadang satu senyum kukucup minum dalam dahaga***8 Juni 1942

Kawanku dan Aku

Kami jalan sama. Sudah larutMenembus kabutHujan mengucur badan Berkakuan kapal-kapal di pelabuhan Darahku mengental pekat. Aku tumpat pedat. Siapa berkata? Kawanku hanya rangka sajaKarena dera mengelucak tenaga Dia bertanya jam berapa! Sudah larut sekaliHingga hilang segala maknaDan.

Kawanku Dan Aku

(Chairil Anwar) Kami sama pejalan lautMenembus kabutHujan mengucur badanBerkakuan kapal-kapal di pelabuhan Darahku mengental pekat. Aku tumpat pedat Siapa berkata-kata…?Kawanku hanya rangka sajaKarena dera mengelucak tenaga Dia bertanya jam berapa? Sudah larut sekaliHilang tenggelam segala maknaDan gerak.

Hampa

kepada Sri yang selalu sangsi Sepi di luar, sepi menekan-mendesakLurus-kaku pohonan. Tak bergerakSampai ke puncak.Sepi memagutTak satu kuasa-berani melepas diriSegala menanti. Menanti-menantiSepiDan ini menanti penghabisan mencekikMemberat-mencekung pundaSampai binasa segala. Belum apa-apaUdara bertuba.Rontok-gugur segala. Setan bertempikIni sepi terus.

Hampa

kepada SriChairil Anwar Sepi di luar. Sepi menekan-mendesakLurus kaku pohonan. Tak bergerakSampai ke puncak. Sepi memagutTak satu kuasa melepas renggutSegala menanti. Menanti. MenantiSepiTambah ini menanti menjadi mencekikMemberat-mencekung pundaSampai binasa segala. Belum apa-apaUdara bertuba. Setan bertempikIni sepi terus.

Siapa Takut Kawan!

Ledakan Bomb di pantai Kuta dan Jembaran di Bali, itu sejarah. Bulan lalu, aku makan siang di Kuta, menikmati udang bakar dengan sambel cabe di Warung Padang. Pada suatu malam bulan Purnama, aku makan malam di Jimbaran, .

Tak perlu takut!

Aku masih ingin ke Paris membeli parfum  merek Channel 5 untuk kekasihku. ALLEPO di Suriah hancur oleh perang yang dibakar, akibat perebutan kekuasaan yangmenganga di langit. Aku tidak mengerti kenapa peristiwa-peristiwa horor itu terjadi. Makanya,  aku jadi.

Kenangan

untuk Karinah MoordjonoChairil Anwar KadangDi antara jeriji itu-itu sajaMereksmi memberi warnaBenda usang dilupaAh! tercebar rasanya diriMembubung tinggi atas kiniSejenakSaja. Halus rapuh ini jalinan kenangHancur hilang belum dipegangTerhentakKembali di itu-itu sajaJiwa bertanya: Dari buahHidup kan banyakan jatuh ke.

Rumahku

Rumahku dari unggun-timbun sajakKaca jernih dari luar segala nampak Kulari dari gedung lebar halamanAku tersesat tak dapat jalan Kemah kudirikan ketika senjakalaDi pagi terbang entah ke mana Rumahku dari unggun-timbun sajakDi sini aku berbini dan beranak Rasanya.

Tahun Baru

Pesta kembang api itu semarakLangit malam terang beraneka warnaOrang-orang mendulang champagneKekasih-kekasih berpelukan Gelandangan-gelandangan mengais botol kosongPolitisi-politisi membual janjiJuragan-juragan berpesta poraPengungsi-pengungsi menahan bekuManusia-manusia saling membunuh Ah… setahun berlalu dan setahun tiba Pesta kembang api itu selesaiLangit malam gelap.

Musim Dingin

Sudah kubilang, pagi dingin kaliTapi ditariknya lenganku, lembut Angin dingin berhembusSenyap menyebarBotol whisky kosong teronggok Jangan lama-lama, kubilangTapi didekapnya lenganku, erat Hawa beku menyapuBurung kecil terbangPensepeda melintas kencang Kubilang lagi, masih panjang musim dinginDia berbisik ada cinta.

Kesabaran

Aku tak bisa tidurOrang ngomong, anjing-anjing nggonggongDunia jauh mengaburKelam mendinding batuDihantam suara bertalu-taluDi sebelahnya api dan abu Aku hendak berbicaraSuaraku hilang, tenaga terbangSudah! tidak jadi apa-apa!Ini dunia enggan disapa, ambil perduli Keras membeku air kaliDan hidup bukan.

Perhitungan

Banyak gores belum terputus sajaSatu rumah kecil putih dengan lampu merah muda caya Lanngit bersih-cerah dan purnama raya…Sudah itu tempatku tak tentu di mana Sekilap pandangan serupa dua klewang bergeser Sudah itu berlepasan dengan sedikit heranHembus kau.

Tubuh Miskin

Kalau tubuh miskin milikku, mustahil para raja matiKekayaan tidak melekat pada tubuhmuInvestasi sesungguhnya prilakuKarena baik buruk, suka dukaAntara kau atau dia, musnah semuaPrilaku memimpin setiap kelahiran dan kematianKehidupan awal nyatanya menanam investasi yang ditanamSeandainya tubuh miskin ini.

Setia Pada

Aku tetap Setia walau rakyat membencimu  Setiaku membela pada setia setia setiaTetap setia walau hujan hujatanMenjunjung tinggi setia dari pada jatuh jahanamKesakitanku pada setiaku kebahagiaan yang utuhKemaluanku pada setiaku kepuasan yang berbungaHidupku untuk setia jalan hidup selamanyaKesetiaanku.

Berapa Lama …

Di danau Inleaku bertemu Yesus.Ia masih berjalan di atas airtapi wajahnya kusutgemetar dibelai angin perbukitan. Kudengar letih ia berdoa :Bapa, berapa lama  anak-anak ini mesti lapar kedinginan?Sebelum tiba hangatmu abadi… Di kota Baganaku berjumpa Buddha Gautamasenyumnya senjaseteduh.

Kenangan

Hitam cemararebah merengkuh tepi segara.Ia simpan sepinya sendiri. Duh, Dewi Anjaniduka apa telah terjadiselama delapan abad kamu menanti ?Sedang sekejap   Rindumu begitu melumpuhkan. Tiap tubir Sangkereangadalah pertanda bahagia kita.Pada tebing-tebing Gunung Baru Jarisemua harapan pernah kita tatah..

Penerimaan

Kalau kau mau kuterima kau kembaliDengan sepenuh hati Aku masih tetap sendiri Kutahu kau bukan yang dulu lagiBak kembang sari sudah terbagi Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani Kalau kau mau kuterima kau kembaliUntukku sendiri tapi Maret.

Kesabaran

Aku tak bisa tidurOrang ngomong, anjing nggonggongDunia jauh mengaburKelam mendinding batuDihantam suaraDi sebelahnya api dan abu Aku hendak berbicaraSuaraku hilang, tenaga terbangSudah! tidak jadi apa-apa!Ini dunia enggan disapa, ambil perduli Keras membeku air kaliDan hidup bukan hidup.

Lelaki dan Kebunnya

Kaki kisut di tanah mengkeruttanah yang lama tak dibasuh hujan. Ia coba menggangsir-gangsirguludan  yang tak lagi lurus.Mata tuanya tak sanggup bedakan : legok dan gundukanTapi ia terus berharapbenih masih akan subur disemaikan “Abah, nanti saja cangkul kebunnya..

Semangat

Kalau sampai waktukukutahu tak seorang ‘kan merayuTidak juga kau Tak perlu sedu sedan itu! Aku ini binatang jalangDari kumpulan terbuang Biar peluru menembus kulitkuAku tetap meradang-menerjang Luka dan bisa kubawa berlariBerlari Hingga hilang pedih dan peri Dan.

Lagu Biasa

Di teras rumah makan kami kini berhadapanBaru berkenalan. Cuma berpandanganSungguhpun samudra jiwa sudah selam berselam Masih saja berpandanganDalam lakon pertamaOrkes meningkah dengan ‘Carmen’ pula Ia mengerling. Ia ketawaDan rumput kering terus menyalaIa berkata. Suaranya nyaring tinggiDarahku terhenti.

Kupu Malam Dan Biniku

Sambil berselisih lalumenggebu-gebu Kupercepat langkah. Tak noleh ke belakangNegeri ini luka terbuka sekali lagi terpandang Barah ternganga Melayang ingatan ke binikuLautan yang belum terdugaBiar lebih kami tujuh tahun bersatu Barangkali tak setahukuIa menipuku Maret 1943 ***

Hukum

Saban sore ia lalu di depan rumahkuDalamn baju tebal abu-abu Seorang jerih memikul. Banyak menangkis pukul. Bungkuk jalannya – LesuPucat mukanya – Lesu Orang menyebut satu nama jayaMengingat kerjanya dan jasa Melecut supaya terus ini padanya Tapi.

Taman

Taman punya kita berduatak lebar luas, kecil sajasatu tak kehilangan lain dalamnyaBagi kau dan aku cukuplahTaman kembangnya tak berpuluh warnaPadang rumputnya tak berbanding permadanihalus lembut dipijak kakiBagi kita bukan halanganKarenadalam taman punya berduaaku kumbang, kau kembangKecil, penuh.

Aku

Kalau sampai waktuku‘Ku mau tak seorang ‘kan merayuTidak juga kau Tak perlu sedu sedan itu Aku ini binatang jalangDari kumpulannya terbuang Biar peluru menembus kulitkuAku tetap meradang menerjang Luka dan bisa kubawa berlariBerlariHingga hilang pedih peri Dan.

Pancaran Cahaya Ilahi

Jangan takut gelap, karena gelap ketakutanJangan takut miskin, orang kaya juga mati  Jangan takut salah, benar juga masalahJangan takut bodoh, kalau pinter merusakJangan takut mati, takutlah pada ALLAHIkhlas ridha pancaran cahaya IllahiMasjid Gede 2015

Puisi Kali

Kali ini datangKali ini pergiKali ini dia datang dan pergi kembaliKali ini dia pergiKali ini dia datang kembaliKali ini mengalir tiada hentiKali ini berhentiKali ini terdampar di tepi kaliKali ini kali ituKali ini bagi ituKali itu tambah.

Pelarian

1 Tak tertahan lagiremang miang sengketa di siniDalam lariDihempaskannya pintu keras tak berhinggaHancur lulu sepi seketikaDan paduan dua jiwa 2 Dari kelam ke malamTertawa meringis malam menerimanyaIni batu baru tercampung dalam gelita“Mau apa? Rayu dan pelupa,Aku ada!.

Suara Malam

Dunia badai dan topanManusia mengingatkan “Kebakaran di Hutan”Jadi ke manaUntuk damai dan reda?MatiBarang kali ini diam dan kaku sajadengan ketenangan selama bersatumengatasi suka dan dukakekebalan terhadap debu dan nafsuBerbaring tak sedarSeperti kapal pecah di dasar lautanjemu dipukul.

Puasa

Puisi puasa, puasa puisiTunggu waktu buka puisiMengaji puisi bersamaBaca puisi berjamaahTerawehan puisiTadarus puisiSahur puisiKuliah puisi subuhMalam nujulul puisiLebaran puisiSyawalan puisiHalal bilhalal puisiKereta Parahiangan, 2015

Sia-Sia

Penghabisan kali itu kau datangmembawa karangan kembangMawar merah dan melati putihdarah dan suciKau tebarkan depankuserta pandang yang memastikan. Untukmu Sudah itu kita sama termanguSaling bertanya: Apakah ini?Cinta? Keduanya tak mengerti Sehari itu kita bersama. Tak hampir-menghampiri Ah!.

Sendiri

Sendiri Hidupnya tambah sepi, tambah hampaMalam apa lagiIa membenci. Dirinya dari segalaYang minta perempan untuk kawannya Bahaya dari tiap sudut. Mendekat jugaDalam ketakutan menanti ia menyebut satu nama Terkejut ia terduduk. Siapa memanggil itu?Ah! Lemah lesu ia.

Tak Sepadan

Aku kira:Beginilah jadinya nantiKau kawin, beranak dan berbahagiaSedang aku mengembara serupa Ahasveros Dikutuk-sumpahi ErosAku merangkaki dinding butaTak satu juga pintu terbuka Jadi baik juga kita padamiUnggunan api iniKarena kau tidak ‘kan apa-apaAku terpanggang tinggal rangka Februari 1943

Aku Ini Binatang Jalang

Editor: Pamusuk Eneste Satu hal yang hingga saat ini belum tuntas dibicarakan mengenai Chairil Anwar adalah sajak-sajaknya yang terdapat dalam beberapa versi, sebagaimana nampak dalam Deru Campur Debu (DCD), Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus.

Nisan

untuk nenekandaChairil Anwar Bukan kematian benar menusuk kalbuKeridlaanmu menerima segala tibaTak kutahu setinggi itu atas debudan duka maha tuan bertakhta Oktober 1942*diambil dari Aku Ini Binatang Jalang

Rembang Api

kepada lukisan pabrik semen(Jajang Kawentar) Di RembangKartini, Habis Gelap Terbitlah Terang Kartini, hari sudah gelapMari nyalakan api, mari nyalakan lampuApi lampu dalam hatiAgar terang tak hanya di luar tapi juga di dalamAgar tampak macam bentuk yang datang.

Arah Menentukan

Utara selatan timur laut barat dalam hatiSegala arah dalam hati bersembunyiDalam hati bersatu yang dicariKiri kanan darat atas langit bawah dalam hatiDalam hati semua bersua, bercengkrama menentukanHati hati dalam hati, hati hati pertemuan arahHancur, beku, atau terarah.

Jalan Batu Ke Danau

mengenang Sitor Situmorang (meninggal dunia 21 Desember 2014) Lewat Tarutung dan Siantarada dua jalan barumenuju danau aku tahu Lewat Tarutung dan Siantarada dua jalan batumenuju kau aku tahu Dari Tarutung dan Siantarada dua jalan rantauke pangkuanmu aku.

Elegi Jakarta

Asrul Sani (1949) Djakarta Dalam Puisi Indonesia I.Pada tapal terakhir sampai ke Yogya,bimbang telah datang pada nyalalangit telah tergantung suramKata-kata berantukan pada arti sendiriBimbang telah datang pada nyaladan cinta tanah air akan berupapeuru dalam darahserta nilai yang.

Pada Suatu Malam

: Ra Angin menamparku dengan aroma saraswatiHangat yang selembut es krim rasa gula kelapa pada sebuah kedai tua Mampus, aku! Ini bisa. Juga candu! Blitar, 16 September 2014

Cerita Satu Kota

:RaSyam AR Kota ini tak lagi dihuni para pecintaHanya ada tukang sol sepatuMenanti datang kaki-kaki gemetar para pejalan Beberapa tukang loakMenjajakan kenangan tak lagi berpemilik Blitar, 16 September 2014

Yang Terempas dan Yang Luput

Chairil Anwar (1949) Djakarta Dalam Puisi Indonesia Kelam dan angin lalu mempesiang diriku,mengigir juga ruang di mana dia yang kuinginMalam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu Di Karet di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru angin aku.

Nafiri Ciputat

Bahrum Rangkuti (1969) Djakarta Dalam Puisi Indonesia 1Mari bersinandung lagi, sayangsebagai dulu, pebila ramadhan datang kembaliKita lagukan insan, cinta, dan IlahiKita nyanyikan kehidupan: kini dan bakal datang Melodi cinta dan perjuangannyanyian mujahid mujahidah ditayang cita-citakadang remuk pecah.

Riswijk 17

Taufiq Ismail (1966) Djakarta Dalam Puisi Indonesia Malam itu kami duduk di beranda, bulanpun adaLalu lintas terasa hingar, deru deram sebentar-sebentarMemanjang kawat telepon di antara tiang yang merentang Redup temaram dalam garis-garis coretan hitamDengung karet beca, lewat.

Surat Buat Pa Said

Ajip Rosidi (1956) Djakarta Dalam Puisi Indonesia Kita hidup atas satu bumi tapi dua duniaKita hidup dalam satu hari tapi lain mimpiImpian yang sederhana, impian dalam mimpiYang mengendap, jadi keyakinan: Warna kan jadi hijau, malam secerlang pagi.

Depan Sekretariat Negara

Taufiq Ismail (1966) Djakarta Dalam Puisi Indonesia Setelah korban diusungTergesa-gesaKe luar jalanan Kami semua menyanyi‘Gugur Bunga’Perlahan-lahan Prajurit iniMembuka baretnyaAirmata tak tertahan Di puncak GayatriMenunduklah benderaDi belakangnya segumpal awan***

Benteng

Taufiq Ismail (1966) Djakarta Dalam Puisi Indonesia Sesudah siang panas yang meletihkanSehabis tembakan-tembakan yang tak bisa kita balasDan kita kembali ke kampus ini berlindungBersandar dan berbaring, ada yang merenung Di lantai bungkus nasi bertebaranDari para dermawan tidak.

Tekad

Mansur Samin (1966) Djakarta Dalam Puisi Indonesia Aksi muda yang menggugat kota JakartaBisa tumpas tapi tak bisa binasaSebab telah mendarah tekad perlawananRakyat menentang lapar dan penindasan***

Demonstran

Wahid Situmeang (1966) Djakarta Dalam Puisi Indonesia Melengking ringkik kuda lepas kendalisuara yang telah lama hilangsuara saksi yang tak diperlukan kesaksiannyasuara yang dirindukan anak negerimenghingarkan ibukotamembentur tembok istana Mereka berangkat ke istanatanpa upetikarena bukan mau menghadap rajamereka.

Catatan Harian Seorang Demonstran

Slamet Kirnanto (1966) Djakarta Dalam Puisi Indonesia Jaket kuning berlumur darahDengan sedih kutatap kawan-kawan rebahDi bumi, di terik matahari kota JakartaO kita tahu apa arti ini semua Tertegun di tengah galau beribu massaApakah benar peluru itu untuknya?Yang.

Sebuah Jaket Berlumur Darah

Taufiq Ismail (1966) Djakarta Dalam Puisi Indonesia Sebuah jaket berlumuran darahKita semua telah menatapmuTelah berbagi duka yang agungDalam kepedihan bertahun-tahun Sebuah sungai membatasi kitaDi bawah terik matahari JakartaAntara kebebasan dan penindasanBerlapis senjata dan sangkur baja Akan mundurkah.

Pesan Pencopet Kepada Pacarnya

W.S. Rendra (1967) Djakarta Dalam Puisi Indonesia Sitti,kini aku makin ngerti keadaanmutak kan lagi aku membujukmuuntuk nikah padakudan lari dari lelaki yang miaramu           (Lelawa terbang berkejaran         tandanya hari jadi sore         Aku bernyanyi di kamar mandi         Tubuhyu yang elok bersih kucuci         O,.

Sketsa Jakarta

Mansur Samin (1966) Djakarta Dalam Puisi Indonesia Orang, ceritai aku tentang Jakartagedung-gedung, monumen dan tugu bertahta megahdi hatiku: alangkah kaya tanah air Indonesia Ini Jakarta tempatku beranak dan berumahberisi mimpi, rahasia dan guha segala dustabagaimana aku di.

Jembatan Dukuh

Lagu duka buat istrikuAjip Rosidi (1955) Djakarta Dalam Puisi Indonesia Kita berdiri jauh di atas kota, angin lepas menusukKita berdiri diam semua rintih disilirkan lembutkarena antara kira dan kota yang kita tinggalikarena antara rumah dan kita sendiri,.

Silhuet

Gerimis telah menangisDi atas bumi yang sepiSehabis pawai genderangAngin jalanan yang panjangMenyusup-nyusupMenusuk-nusukBayang-bayang berjutaBerjuta bayang-bayang***

Silhuet

Taufiq Ismail (1965) Djakarta Dalam Puisi Indonesia Di bawah bayangan pilarDi bawah bayangan emasBerjuta bayang-bayangMenangisi gerimisMenangisi gunung apiKabut yang unguMembelai perlahanHutan-hutan***

Siapakah Laki-laki Yang Rebah di Taman Ini

Goenawan Mohamad (1964) Djakarta Dalam Puisi Indonesia Siapakah laki-laki yang rebah di taman iniYang hanya bercanda di matahariYang tak bercerita tentang rumah dan anak-anaknyaYang berwasiat kepada lapar semesta kita Siapa laki-laki yang rebah di taman iniTidak akankah.

Tangan-tangan Lapar

Dodong Djiwapradja (1959) Djakarta Dalam Puisi Indonesia Di mana-mana – ya di mana saja!Tangan-tangan lapar kian memanjang -kian memanjangDan jalan-jalan gemuruh oleh si kurus Pagi, siang, pun malam hariDan pada hari-hari peringatan Di mana-mana -ya di mana.

Nevermore

elegi buat tukang beca JakartaWing Kardjo (1959) Djakarta Dalam Puisi Indonesia Ini mimpi, ini hari, ini kotaaku telah melihatnya di garis tangandarahnya panasnasibnya naas. Ini hari, ini kota, ini jalanaku telah menempuhnya lewat matapulangnya tinggal riwanbayangan derita.

Kereta Mati

Toto S. Bachtiar (1950) Djakarta Dalam Puisi Indonesia Seorang pengendara keretaBeroda tiga, manisMengayuh hingga pelabuhan penghabisanMendaki dan menurun Jari-jari berjarak kakuMenjauhkan mimpi dalam rongga malamKalung bintang dan bulan berombak awan unguO, semua jauh manis Selingan cuma senyampang.

Risau di Rumah Sakit Cikini

untuk dr SinagaRamadhan K.H. (1972) Djakarta Dalam Puisi Indonesia Setelah kalimat di pintu kamar bedah:-dengan bantuan Yang Maha KuasaTelah diselamatkan satu jiwa-Campurlah diriku dari dua jenis kutub,Risau dan harapanAku batu karang yang perlahan mengambang,Semula di dasar sumur.

Anak Sumbawa

Ajip Rosidi (1954) Djakarta Dalam Puisi Indonesia di Sumbawa donggo punya kudadi Jakarta donggo beli sepedaia antar kota ke mimpinya, lampu jalanan pada matiia bangunkan kota dari tidur lelapnya pagi-pagi cuma sepeda dan seperak di kantongnyalewatlah malam.

Hampa

Bahrum Rangkuti (1946) Djakarta Dalam Puisi Indonesia Naik beca pulang ke Mampang, Larut malamDunia malam, sepi dan kelamDi pohon bimbang dan gelap diam Segala lena dan kakuAbang becak litak lesuTiada gaya dan napsu Bulan pun tak kelihatanSatu.

Trem

MH Rustandi Kartakusuma (1950) Djakarta Dalam Puisi Indonesia Trem mendudu terus!Mendengking-dengking mengular Aku putus asa,Teman di seberang kali mencemooh Payah aku berlari tadi,Orang mendesak ke arah yang kutinggalkan Pencopet mencari dompetkuDan keringat bersimbah Sia-sia kan segala nafasku.

Jakarta Di bawah Hujan

Sapardi Djoko Damono (1964) Djakarta Dalam Puisi Indonesia Jakarta di bawah hujan, lampu demi lampu laksana dalam impiansunyi hatiku seperti bukit, orang-orang bergerak bagai mainan: ketika semakin reda tersembul aneka suaraterjebak dalam sajakku, suasana dalam sebuah suasana.

Kemarin Sore, Tentang Kehilanganmu

Elfira Arisanti Ingatkah kau perjumpaan pertama kita, Sayang? Saat mentari padam,Dan bumi Tegalboto dalam kelamCakrawala menghitamHampir aku naik pitam Di sampingku kupegang payungDi tubuhmu melekat jaket bertudung Kau semakin mendekatMendadak langit semakin hilang pekatAku tercekatOoooh… kau sungguh.

Sendu

meliuk luluhbermalam kelamtersulam temaramlalu tergeletak lunglai***

Lebur

Aku dan kamu menepiAku dan kamu menyepiAku dan kamu mengerti Aku dan kamu yang ditakdirkan menjadi kita Kita terikat oleh rasa yang samaKita menyatu kuat melebur Jangan biarkan diri kita rapuhKita pasti bisa karena kita utuh

Selamat Tinggal, Kucium

Sapardi Djoko Damono (1964,) Djakarta Dalam Puisi Indonesia selamat tinggal. Kucium udara Jakarta yang bagai gambar abstrak.kemerlap kembali di bawah bulu-bulu mataku:matahari, debu, bintang, hujan, laut. tunggu sejenak,biarlah terbawa segala yang paling dekat dengan hatiku berhenti: suara, warna,.

Hampa

Sang Agung Murbaningrad (1952) Djakarta Dalam Puisi Indonesia Aku tak tahu diri terus berlombatersungkur oleh damba merontatersiksa dikoyak terik kota JakartaIbu menderita dalam penjaragubuk nista demi percayatersiksa oleh tak tahunyaharapan hampa kepada si bungsu datang membawapiala jatuhan swargaKekasihku.

Cikini Raya

Ajip Rosidi (1954) Djakarta Dalam Puisi Indonesia pedagang kembang yang menembang sumbangdilarikan karet becak ke ujung malamlampu-lampu jalan bersinar terang                                    lari bayangandan malam makin lenggang pedagang kembang mengebas ranjangtembang riang mau pulang                                    sama sisa malam jalan makin ratabening berbayang***

Dari Dukuh-Krakatau

Wing Kardjo (1958) Djakarta Dalam Puisi Indonesia *Untuk Surachman R.M. dan Budiman S, kawan lama danb teman bersepeda Kereta barang malam-malam menyemburkan bunga apimerah menyobek-nyobek badan hitammenjeritlah nada tinggi mengoyak-ngoyak sepimenyemburkan amarah dan dendam (Biar lebur, biar.

Sendiri, Sejenak, Aku Bicara Cinta

Sendiri, aku duduk di taman itu. Berusaha bercakap dengan siapa pun yang terlihat. Mengajak mereka agar sudi berbagi kelu denganku. Tapi, semuanya terasa asing. Terasa berjarak. Dan terasa nisbi. Sejenak, aku bersandar di bangku yang menghadirkan dirinya.

Sajak Rindu

Ajip Rosidi (1954) Djakarta Dalam Puisi Indonesia Kurindukan bulan di punggungTembang sejalanan menyuruk gang demi gangRumah ini tak bisa mengurung dukaAku lebih besar daripadanyaKamar takkan kuasa membikin aku betahDi luar ada yang lebih benar tuk kucinta Perempuan.

Tangan Dalam Kelam

Toto S. Bachtiar (1955) Djakarta Dalam Puisi Indonesia Tangan halus yang bisa dari jauh merabakuJadi tangan bisik yang mengulur belas padakuTangan mesra yang jari-jarinya sayangAku sangat rindu kepadanya Kalau hidup mengandung nerakaHendaklah hidupku ini sajaTanpa hidup orang-orang.

Sajak Pandak Tentang Negeri

Syam Asinar Radjam Negeri macam apa yang kusinggahi pada kehidupan kali ini?Jalan raya dan kepala politisisama kusut sama macet Negeri macam apa yang kusinggahi pada kehidupan kali ini?ilmu tani, benih tanaman, bahkan biji pangan,dibawa dari negeri jauh Negeri macam.

ki hujan tak berbunga

Tahun iniki hujan tak berbungaputiknya rontok dikacau musim  limbung seperti jiwakuyang terenggut jauh ke Timurbersama pergimu. Tahun iniki hujan tak berbungatak ada kelopak yang gugur  melayangberbaring lembut di dedaunan. Tapi aku,akan terus menyapa cintamuSemesra musim bunga di.

sajak Fragmen

Harijadi S. Hartowardojo (1953) Djakarta Dalam Puisi Indonesia Ada suara membenam ke dalamtidak mau ‘nggelegakseperti pusaran di laut dalamlahir hanya riak mencumbu lunaskapal yang lewat agak terlambatHanya hujan dan angin sering berputing seperti cerita kelas di ibukotamenyuruk.

Sajak Kawanku dan Aku

Chairil Anwar (1943) Djakarta Dalam Puisi Indonesia Kami sama pejalan larutMenembus kabutHujan mengucur badanBerkakuan kapal-kapal di pelabuhan Darahku mengental pekat. Aku tumpat pedat Siapa berkata-kata…?Kawanku hanya rangka sajaKarena dera mengelucak tenaga Dia bertanya jam berapa? Sudah larut.

sajak Hikayat Luka*

Tosca Santoso Malamadalahpersinggahanriwayatpedihkampung-kampungtua. AkusaksikanlerengGede membiru bekudukamereka yang kehilangan tanah. Tahunberlalu. Abad bertukarPenguasasilih berganti. Pasundanyang suburtak  juga wariskan makmur. Esokhariperempuanbercaping bambukembaliterbungkukmemagutpucuk-pucuk tehsebelumsubuh berangkat jauh. Keringatmerekamenjelmaemas entah dimana(2009)

Gerimis

 dibening matamumerintikair berpamitandikelu matakuadayang hanyut lepas genggaman Tanpamusepi  pasti semakin menjadisesepigerimis sore hariyangmenghapus  jejak puspadihutan kita Perihinitakkanhilang bersama masa.(2010)

Mencintamu

Mencintamuadalah liku menyusur kali di pegunungankian lama kian sempit dan sunyi.Tapi  tak pernahkulepas harapan.Mencintamuibarat mengikut gerak bintang di gelap malamkian hari kian jauh dan tak berujung.Tapi itu tak pernah kusesali. Sebab bersamamu adalah waktu terbaikdari umur manusia.

Jauh Malam di Pasar Matraman

Sobron Aidit (1953) Djakarta Dalam Puisi Indonesia Tukang bandrek berdiang daruratpembeli jauh, rumah jauhpelita mengecil, caya merebahMinah, mendamba tanpa menyerahMinah meminta, tanpa mengaduh Bulan empat belas kian meninggikadang terlindung daun menarikadang mengintai, manusia sangsaibaring mengingsut tanah berkisar-batang.

Dunia Sebelum Tidur

Toto S. Bachtiar (1954) Djakarta Dalam Puisi Indonesia Kenangan mati bagi yang matiHormat bagi yang hidup setiakan deritaUlurkan tanganmuSangkutkan sepatu pada kaki berdebuDan mimpilah merenung jendela terbukaNun adalah dunia dosa, duniaku sayangAku berpihak padamu Kau ingin dengarSuara.

Pasar Ikan

Bahrum Rangkuti (1948) – Djakarta Dalam Puisi Indonesia Senja sepoi melingkung Pasar Ikan, sinar lembutmembuai tebaran kolam. Di sepanjang pantai dan pematanglena mengapung jung, tongkang, sekonar dan lancangkuning, letih pulang dari laut Dan di ujung pandang mata.

Sajak Gadis Peminta-minta

Toto S. Bachtiar (1955) Djakarta Dalam Puisi Indonesia Setiap kita bertemu, gadis kecil berkaleng kecilSenyummu terlalu kekal untuk kenal dukaTengadah padaliu, pada bulan merah jambutapi kotaku jadi hilang tanpa jiwa Ingin aku ikut, gadis kecil berkaleng kecilPulang.

sajak Doger

Ajip Rosidi (1955) Djakarta Dalam Puisi Indonesia aku telah menari pada malam pertamakarena muka merah di lidah api pelitakarena hati terkungkung nafsu melingkungharapan si gadis remaja alit jangkung malam membuka batas senja dan hatikuiapun terbuka, semangka masak.

Autumn Leaves

Idrus F Shahab Memang hidup seperti iniPerpisahan tak membuat kita mati Senandung yang menusuk,ringkik kuda di malam buta Ahoi, api kemarahan inikeras-kepala ibarat seorang pelukis buta melukislengkung alis sang kekasih Pagi, sebelum kokok ayam pertamaia muncul, dengan.

Kalangan Ronggeng

W.S Rendra (1955) Djakarta Dalam Puisi Indonesia Bulan datang, datanglah ia!dengan kunyit di wajahnyadan ekor gaunputih panjangdiseret atas kepala-kepaladirahmati lupa Atas pejaman hatiyang relabergerak pinggul-pinggul bergerakronggeng palsu yang indahpara lelaki terlahir dari darahwahai manism, semua orang di.

Potret Diri

Ajip Rosidi (1956) Djakarta Dalam Puisi Indonesia begitu ia melirik arah kota Jakartacintanya menyanyi sepanjang malamdikandungnya dosa pada matadendamkan hari berbuahkan warnamerah menyala di sudut kanan :geram harimau meraung di wajahnyaadalah geram kegemasan begitua ia memandang arah.

Rumah Piano

—Ahmad Nurullah seketika aku disambutdua lagu Beethovendari jejari seorang putrilaras, anakmumenziarahi rumah tuadengan ketukan satu-duapada pintunya yang terbuka sebuah bioramaadalah dunianya sendiridi rumahmurumah bagi langit biorama itumenunjuk sebuah lorongruang-waktu yang berdebukau buka satu kelambuhuruf-huruf tanpa tanda bacamenyuruk.

Sajak Ariel 1

Bernando J Sujibto tubuh dari lekuk gitardipetik melingkarmelenguh di ujungmelepuh di belakang satu wajahmembuka seribu topeng ke ujung gangselalu petangkini ramai di makamjalan pulang malam telungkup di atas meja kosongbau sepatu, kaos kaki gosongseperti aroma tubuh-tubuh ditekandiiris.

Ariel II

ibarat dua langkat bukitia ada di antara batu-batu cadasdan akar pohon yang ranggastumbuh getas di semua sudut pada suatu hari yang tertelania menatap akar pohon itupohon yang dilapukkandibusukkan akarnya batu-batu itu berpeluhmerembesi punggungnyadan kini ia telah menyatutubuh.

sajak Bulan Kota Jakarta

W.S. Rendra (1955) Djakarta Dalam Puisi Indonesia Bulan telah pingsandi atas kota Jakartatapi tak seorang menatapnya!o, getirnya kulit limauo, betapa lunglainyaBulan telah pingsanMama, bulan telah pingsanMensukuk tikaman beracundari lampu-lampu kota Djakartadan gedung-gedung tua tak bedarahberpaling dari bundanyaBulannya!.

sajak Dengan Dua Gadis

S.M. Ardan (1952) Djakarta Dalam Puisi Indonesia Bila aku dapat honorariumAku ajak gadis I makan minum ke rumah makan dan atau menghirup malamApalagi kalau cuaca baikSerta kami bicara penuh cinta Bila kepala dana dada berat, kantong dan.

Getah Malam

Dodong Djiwapradja (1955) Djakarta Dalam Puisi Indonesia IKuhisapi udara malam sebab ia bagian dari kehidupanLampu-lampu pijar jalan panjang kesibukan orang dan kenderaanTulang dan jiwa di sini bersatu, kehidupan daging dan citaKusukai cinta di malam sunyi sebab suatu.

Malam Terang di Jakarta

Sobron Aidit (1954) Djakarta Dalam Puisi Indonesia Bulan berlayar, hatiku hambarMalam begini malam berbisaKarena aku bukan di tempatnyaDan rasa dada terbakar Bulan terang di jakartaSedang hati jauh menyisihMencari ibu dan kekasihDi pagi hijau terlontar menemu duka Di.

Surat Cinta Endaj Rasidin

Ajip Rosidi (1956) Djakarta Dalam Puisi Indonesia Kita telah pergi bersama senja yang tenggelamMasuk kerajaan besar yang juga lagi tenggelamMasuk gerbang yang tersundul kepala bersinar remangKita telah jalan dengan tangan di saku celana Negara di mana rumah.

Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta

W.S. Rendra (1967) Djakarta Dalam Puisi Indonesia Pelacur-pelacur kota Jakartadari klas tinggi dan klas rendahtelah diganyangtelah di haru-biruMereka kecutkederterhina dan tersipu-sipu Sesalkan mana yang mesti kau sesalkanTapi jangan kau klewat putus asaDan kau relakan dirimu dibikin korban.

Setangkai Daun Bodhi

TranzCuk Riomandha Kudengar Adzan dari balik Vihara, kucium aroma wangi dupa, di antara senyum sahabat, kuingat wajah perempuanku di rumah, kan kuselipkan setangkai daun bodhi, di sudut kerling kerudungmu.Sendangcoyo Lasem & Turi Sleman 21 April & 27 April 2012

Mengingat Sang Kudus

Malam bersimpuh purnamaKalam meluruh sempurnaMenunduk diri aku berkacaMeringkuk hati aku percayaPada senyum-MuDi sepertiga malam aku bertahmid: Alhamdulillah*mengingat Masjid Menara Kudus, 20 April 2012, Turi Sleman, 27 April 2012

Sajak Tuti Artic

Chairil Anwar (1947) Djakarta Dalam Puisi Indonesia Antara bahagia sekarang dan nanti jurang terngagaAdikku yang lagi keenakan menjilat es articSore ini kau cintaku, kuhiasi dengan sus + coca colaIstriku dalam latihan : kita hentikan jam berdetik Kau.

Aku, Dingis, dan Sawah

Limantina Sihaloho Saya baru pulang dari jalan-jalan pagi dari sawah dengan adikku, si Dingis Phea Phea. Saya telah mengadopsi anjingku yang baik hati menjadi adikku. Kalau saya ke luar rumah, dia tahu saya akan ke mana dari.

Sajak Kamar

Toto S Bachtiar (1955) Djakarta Dalam Puisi Indonesia Kalau aku menjenguk dari kamar ke kamarWarna di manapun sama : sakit dan kabur samarPedih karena panas yang menusuk rabuKalau siang, kalau malam jingga kelabu Apa yang lain dari.

sajak Jakarta

Sitor Situmorang (1953) Djakarta Dalam Puisi Indonesia Diriku rawaPanas membatu di puth dindingSemua punya arti, manusia dan malaria***

Suara

Toto S Bachtiar (1953) Djakarta Dalam Puisi Indonesia Kapan ada sesuatu, ialah kamarku di dalamSuara penutup paling jauh telah membawa bunyiSedang kubuat lagi jelaga diri semestaDi lorong-lorong kelam kotaku Jakarta Nafsu ialah bandingan suara dan jelagaO, perempuan-erppuan.

sajak Lagu Jakarta

Ajip Rosidi (1954) Djakarta Dalam Puisi Indonesia tiada nyanyi seduka jakartamenempel pada bibir keringmenggigil oleh malariamenyumpahi hari pengap-pesing semua telah hilang aslidibedaki lumpur ciliwungsemua telah hilang artidiwarnai langit lembayung Tinggal pergulatan dalam kerjakarena darah harus mengalirdan kehendak.

sajak Galau

Presiden Hayat Patah lidahku/ pada wajahmu/ patah sikuku/ pada tulusmu/ patah hatiku/ pada ragumu/ kalau ayam tak berkokok, akankah siang tak akan datang? Kuhanyutkan galau pada air sungai yang mengalir jauh ke muara menyambut azan dan meninggalkan.

Senja di Tanah Abang

M. Hussyn Umar (1953) Djakarta Dalam Puisi Indonesia Lusuh kaki membawa dakibukan jalan-jalan, bukan leha-leha, tapi larilari dokar, lari trem, lari becaabang-abang buru-buru mencari rumah dan jalan-jalannyaada yang menghindari kelamatau ada yang datang menyongsong malam Di gerbang.

Kepada Jakarta

Ajip Rosidi (1955) Djakarta Dalam Puisi Indonesia Kukutuk kau dalam debu keringat kotaKarena di balik keharuan paling dalamMengintip malaria Kucintai kau kala senjaMentari mengubur sinar menyirat bukit-bukit atapMentari di kening-kening rumah, membelai perut sungaiLalu lintas bergegas, kelip.

Ibukota Senja

Toto S. Bachtiar (1951) Djakarta Dalam Puisi Indonesia Penghidupan sehari-hari, kehidupan sehari-hariAntara kuli-kuli berdaki dan perempuan telanjang mandiDi sungai kesayangan, o, kota kekasihKlakson oto dan lonceng trem saling menyaingiUdara menekan berat di atas jalan panjang berkelokanGedung-gedung dan.

Aku Berkisar Antara Mereka

Chairil Anwar (1949) Djakarta Dalam Puisi Indonesia Aku berkisar antara mereka, sejak terpaksaBertukar rupa di pinggir jalan, aku pakai mata merekapergi ikut mengunjungi gelanggang bersenda:kenyataan-kenyataan yang didapatnya(bioskop Capitol putar film Amerikalagu-lagu baru irama mereka berdansa)Kami pulang tidak.

Sungai Ciliwung Yang Miskin

Slamet Kirnanto (1967) Djakarta Dalam Puisi Indonesia Sungai Ciliwung yang miskin, tak kutahu dukamuDukamu yang coklat, merambati kota Jakarta yang padatApakah itu tangisan membasahi bumi resah?tumpukan nasib menjelujuri kota gelisah Sungai Ciliwung yang miskin, tak kutahu dukamuDuka.

Ciliwung

W.S. Rendra (1955) Djakarta Dalam Puisi Indonesia Ciliwung kurengkuh dalam nyanyikarena punya coklat kali SoloMamma yang bermukim dalam cintadan berulang kusebut dalam sajakwajahnya tipis terapungdaun jati yang tembagaHanyutlah mantra-mantra dari dukunhati menemu segala yang hilang Keharuan adalah.

Ciliwung yang Manis

W.S. Rendra (1955) Djakarta Dalam Puisi Indonesia Ciliwung mengalirdan menyindir gedung-gedung kota Jakartakerna tiada bagai kota yang papa ituia tahu siapa bundanya CIliwung bagai lidah terjulurCiliwung yang manis tunjukkan lenggoknya Dan Jakarta kecapaiandalam bisingnya yang tawardalamnya berkeliaran.

Sepanjang Gunung Sahari

Ajip Rosidi (1954) Djakarta Dalam Puisi Indonesia Kami lupakan lapar dengan perempuanBersusu hitam: daki dan mentariKami lupakan kesibukan kotaDerum mobil dan kapal terbangAnak-anak berkejaran mengakhiri hari Kami bicara tentang kebakaranIbu hangus ayah tertembakKampung habis dan kota kepadatanNamun.

Merindu Purnama

Suhendri Cahya Purnama Dulu, suatu waktu, kau pernah berkata: “Lepaskan semua egomu, kau akan bertemu Tuhanmu. Ia hanya akan tersibak kala segala keberhalaanmu kau campakkan. Bahkan, untuk melafaskan namamu pun, kau tak kuasa. Manunggaling kawula gusti, dalam.

Sindang Laut

Ajip Rosidi (1955) Djakarta Dalam Puisi Indonesia Bulan ngambang di laut dan pecah di pucuk ombakBulan mengaca di nafas malam, redup lampu kapalDeru yang menderu berkejaran di kesepian pantaiDeru dari diri lebih dalam irama mimpi. DiajaknyaKita datang.

Sampur

Sugiarta Sriwibawa (1956) Djakarta Dalam Puisi Indonesia Wahai dunia kenang berkatalahpulas terbaring dalam sedekap tangankuAkan menitis, sealun lagu di lunglai rambutkuRenyap berdenyut, betapa kuangguk tahu Telah kubantah upah iman dengan curigaSekilas durjana dan pasi wajahku terjamahMeleleh peluh.

Teluk Jayakatera

Amir Hamzah (1941) – Djakarta Dalam Puisi Indonesia Ombak memecah di tepi pantaiAngin berhembus lemah lembutPuncak kelapa melambai-lambaiDi ruang angkasa awan bergelut Burung terbang melayang-layangSerunai berseru, “adikku sayang”Perikan berjanji, berimbang-imbangLaut harapan hijau terbentang Asap kapal bergumpal-gumpalMelayari tasik.

Khaidir

Idrus F Shahab Nanti, di penghujung sungai inipada kelokan terakhirkebenaran akan berlabuh… di bawah langit sekelam jelagaberbendera merah, hijau, lilin, dan pagar kawat berduri Khaidir lahir di laut, hadir di laut,datang ketika orang pergipergi ketika orang kembalimelihat.

Beri Aku Detakmu

Suhendri Cahya Purnama Beri akudetakmu di sini. Dan kan kubagi kisah kita pada dunia. Memahat hidup dan merangkai mimpi untuk meraih nirwana. Meleburkan surga-neraka jadi satu dunia. Beri akudetakmu di sini. Biarkan ia berkicau dalam nada harmoni..

Penantian

Bawakan aku secangkir hasratmu yang terpendamTuangkan ke dalam rindu yang mulai keropos iniTolong berikan walau hanya setetes biar aku dapat hidup dengan kesunyian iniAku masih menunggu di tempat yang pernah kita janjikanApakah kau sudah lupaBiar semua berlalu.

Sebuah awal yang begitu dekat

Awalnya saya ingin berbagi cerita tentang gadis antik yang barusan menyapa dengan seulas senyum indah. Paras elok menggoda kewibawaanmuDi hadapan publikpun kau tak peduliSerentak namun perlahan mencoba ingin mendekatDengan segenap keberanian yang tersisaMencoba kau buktikan kehebatan, bahwa.

Di Mana Kau Hujan

Mohamad Ulil Albab Di bawah selimut tebalAku menyelinapkan kaki dan tubuh mungil di setiap lipatan tubuhDi setiap rebahan angin yang menggerakkan bulu kudukkuDi sela-sela kesibukan, duh bagaimana, atapku bocor,Jemuran dan ketakutan-ketakutan karena air yang lainDi mana kau.

Aku, Lagi

Dan seperti kapas yang terhempas dari cangkangnyaMelayang tanpa mengerti arah kompasHembusan angin menerjang tak berperi Terjatuh dalam lumpur lengketMenggeliat lekat tak tersentuhBerlumur basah Kosong tanpa tatapanMenerobos sukma yang tertinggalSeperti kudis yg tak kunjung sembuh Kertas yang tak.

Aku

Rama Yunalis Oktavia Aku kembali menulisMenggurat irama kataBerpacu dalam neuron-neuron otakMenciptakan simponi rasa Aku kembali menulisLincah jemarii dalam tuts hitamMenari gemulai tanpa hentiMenciptakan asa jiwa Aku kembali menulisDalam dunia yang hanya ada aku dan DiaTerbenam dalam pusaran.

sajak Indonesia Satu

Yudistio Ismanto Indonesia Satu Wahai AnakkuHari ini akan kuajari engkau menulisA B C DSupaya nanti engkau tak akan menangisSaat membaca A P B D Indonesia DuaWahai AnakkuHari Ini akan kuajari engkau berhitungSatu dua tiga empatAgar kelak engkau.

Negeri Di Balik Purnama

Suhendri Cahya Purnama Marilah kitabermain sejenak sahabat Ketikalangit mulai menabiri wajahnya dengan tirai senja Dan Tuhanmenaburi rahmatnya yang begitu luar biasa Marilah kitabermain sejenak sahabat Saat petangmerambat dan surya berlahan menutup hari yang indah ini Dan kau.

Pena Darah

Bercak kecil menghunuskan kemaluanSeekor kodok menari di atas pena darahLoncat menemukan ketakutannya Si kapak berkuda bergoyang mengitari tangisanMerinding dengan tingkah laku sendiri Aturan yang dahulu telah mengutukDan si dadu kecil bergulling mencari rezeki Tterkapar hingga membusungkan dadaBanyuwangi,.

Pemberi Takdir

Mendadakaromamemanja indra Merasukporitubuh Entahakupun begitu Serentak paru-paruberhenti Sesak Ribuan belatimenjamahtubuh Teriak Gemalekukpenari telanjang Teluhpunmenyebartelinga hedonis Ketakutankenikmatan hidup Tuhanpemberi takdir Jember,31,03,2011. 1400

Salah Siapa

Mohamad Ulil Albab Di tanah gersangpun kau sempat memanjakan diri dengan sebongkah esTak kau berikan aku minum hHingga sekejap es lenyap di permukaan mulutSalah siapa, tak bersabar hidup dengan kekeringan Hah, ada juga adik kakak sedang  sempat.

Lelaki Gelisah Mengeja Nafas

Dieqy Hasby Widhana kau daki gelombang risaukala mentari terlalu ranum melahirkan silau sekolah anak,gizi kedua bayi,hutang membiak,tunggakan listrik,dan sebagainya,dan menumpuk sesak aliran darah pencarian upah layak selalu melemparmu jauh ke pundi sesallalu kau seret kedua bangkai sandal.

aku dan purnama

bagai sepasang kekasih yang terlahir kembalitak mengenal, malu saling sapapadahal puluhan tahun kami akrab tanpa perkenalan entah sembunyi di mana ribuan bintang ituaku rasa mereka sedang sibukmenyembunyikan gigil dalam pelukan angin malam hanya satu harapku, mentari melupa.

pergilah

gelisah bertubuh langsing mendobrak ramah bait jendela mimpikudeg    deg   deg deg degdegdeg berjalan pelan bertempo menggilas hening di antara kegelapanpergilah, jangan menatapku tanpa mata lagi Jember, 29032011

Obrolan Mayat-mayat

Presiden Hayat Di taman makam pahlawan ini kita saling berbagi kebohongan yang telah kita lakukanmenceritakan rahasia-rahasia yang tak lagi menjadi rahasiamenertawai si pengecut, cecunguk yang meringkuk di balik seragam gagahkita tersenyum kecut mengingat siasat divide et imperalempar.

Sepi Bergaduh

Tuhan menciptakan sepidi mana muhasabah dibiakkan Tuhan menciptakan sepidi mana marah dipenjarakan Tuhan menciptakan sepidi mana malam disenangkan Tuhan menciptakan sepidimana luka disembuhkan Tuhan menciptakan sepidi mana aku nyamanbersandar di sana di dalam sepi, aku tidak kesepian

Tuhan menciptakan riuh

Tuhan menciptakan riuh agar suara keadilan gaduhTuhan menciptakan riuh agar kekritisan kita tidak roboh jatuhTuhan menciptakan riuh agar demokrasi bisa berlabuhriuh bukan sekedar mengaduh-aduh tapi berpacu berbuat sesuatu yang ampuhsembari tetap bersimpuh padamu yang telah menyelamatkan nabi.

Orang-orang Sisa Kekalahan

Dieqy Hasbi Widhana revolusi berjalan mundurkurakit asap debu untuk selimut alam  pikiran pada cambukan pertama mental berserakanselanjutnya kau berlari memunggungi realitakembali kepada sisa usang bertubuh lima jalur indra,berjiwa semangkuk akal budi adonan dua alam pahit,berbuah tumpukan pengetahuan.

Pledoi Supir

salahkah aku mengejar asap rimba secepat kupasrahkan nafas masa depan keluargapada pundak  terkaman bus ini kutumpahkan segala amarah hingga anakku tak hanya berhenti mendadakdi bangku sekolah dasar kaca spion itu selalu mengingatkanku pada masa laluini pilihan lain.

Labirin Ibukota

Gendhotwukir SatuMemahami kata-katamu serasa memasuki labirin ibukota. Jalan-jalan telah menjadi jaring laba-laba dan orang-orang sibuk mengunci diri di dalam telepon genggam. Diam membatu seperti kekerasan dan petuah yang ingin kau tanamkan pada setiap generasi sebagai kebohongan anak-anak.

Yang Tersentuh dan Terindera Oleh Jiwa-jiwa Merindu

Suhendri Cahya Purnama Hening. Detik pun merambat kala sepasang kaki mengayuh ombak. Kegelapan menyelimuti dengan serat-serat kelam tak tertembus. Nun di penghujung timur, mentari masih teramat dini untuk memunculkan pias-pias kehangatan. Hanya deru angin memayungi setiap langkah.

Grrrrrrhhhhh!

Enak saja orang-orang yang punya sekarung uang itu mengencingi sistem hukum kita, menjijikkan, dan di dalam penjarapun mereka bisa plesiran sementara orang miskin hidup lebih buruk dari anjing namun orang menganggap biasa dan merasa nyaman diam berpikir.

Pernikahan

Pernikahan kau jadikan kuburan cintamakam kenangan indah yang kau buat waktu ta’aruflupakan janji akan bersama dalam duka di hadapan Tuhanpernikahan seharusnya menjadi penguat rasa rinduselalu sama-sama membutuhkanselalu sama-sama kangensama-sama selalu…

Neraka level 13

Presiden Hayat Kemiskinan sudah melontarkan mereka ke neraka level 13kalau mereka menangis dan putus asamereka akan menuju neraka level 99setiap bangun pagi tiga pilihantertawa, menangis atau tidak melanjutkan hidup yang melelahkandanmalaikatpun iri pada mereka yang memilih tertawa

Tragedi Sumiyati

Dukacita yang super pahit lagi-lagi harus kami telanberujud kapsul berisi tangis sumiyatiyang igunting mulutnya digunting iblisberderet-deret tragedi sejenisbertambah panjang kegagalan negaramembiakkan banalitas kekerasanmembantai kemanusiaan hingga terancam punahkalau di otak kita sudah menganggap biasa majikan menyiksa pembantunyamenganggap wajar.

Penulis Edisi 199

Rama Yunalis Oktavia, karyawan sastra, tinggal di Bekasi. Bambang Saswanda Harahap, mahasiswa Fakultas Sastra USU.

Sehabis Hujan Rumah Kita

Bambang Saswanda Harahap Aku tidak memaksamu untuk menggemetarkan bibir sujud kepada angin yang tajam yang harus kau tahu Kita adalah bagian yang terpasung dari musim yang tak pernah kita pinta lekaslah bangkit banyak di jalanan cahaya matahari.

Seperti

saat rindu sampai nangis-nangisbukan seperti aku rasanyabahkan sempat tak bisa tidur semalamansaat tidak ada kalimat sayang terbacaatau terdengar di telinga ampun aku akan rasa iniseperti anak remaja baru pacarantapi yang seperti inisungguh ini yang pertamatidak pernah aku.

Untuk Gambaran Doamu

Dewi Penyair aku inginengkau berdoa sepertikutidak dengan banyak kalimattapi intinya bisa membuat kitatidak terkungkung jarak batas dan waktuselama hidup menuai rasa cinta***HiddenPlace, 31 August 2010

Penulis Edisi 198

Arpan Rachman, pegiat sastra yang tinggal di Palembang.. Dewi Penyair, karyanya sudah diterbitkan dalam beberapa buku kumpulan puisi.. ___________________

Untuk Munir

Apakah engkau anggap aku batuMentang-mentang mulutku membisu Apakah engkau kira aku pasirKarena air mataku telah habis mengalir Aku bukan batu yang bisa masuk ke kantungmuAku bukan pasir dan tak bisa engkau lantik menjadi kasirAku bukan batu yang.

Pak Kari Pemimpin Kampung Kami

Yudistio Ismanto lebih baik aku bicara dengan sapikarena aku tahu sapi tak kan bisa bohongatau aku menolong bergotong royongdengan tahi sapi aku menyuburkan kebundan dengan daging sapi aku melamar istridari pada aku bicara dengan pak kariyang hampir.

Ricuh

Ruangan ini sudah penuh dengan egomu Hai gadis manis bermata curiga Kesabaran terhimpit dan hampir kehabisan nafas Kehangatan mengendap-endap pergi Akupun melayang terbang Terbawa seloka hati Diceburkan pelangi di bawah gerojokan air terjun bermata lima ***

Menjemput Ramadan

Presiden Hayat Bulan sebentar lagi jatuh di sajadahDisajikanAgar dipunguti orang-orang yang merunduk merendahYang membela orang-orang kalahKunang-kunang pun mengirim terang bagi jiwa-jiwa yang ingin bebasTerbang mengikuti-Nya

Ramadan

Seringkali aku engganBahkan takut matiMeninggalkan hangatnya kesenanganYang memeluk erat Di bulan RamadanAku siapKalau Kau memanggilTapi ada rajaReformatlah jiwakuUtuslah malaikat untuk melenyapkan koreng-korengnyaAgar Kau tidak memalingkan mukaSaat ku menghadap

Budak Waktu

Kita adalah budak waktuTerputar ke dalam pusarannyaTerayun-ayun dan tenggelam, kalau tangan waktu tak membebaskanSebelum nafas terakhir terenggutUlurkanlah rantingMu

Simpai Terlepas

Rama Yunalis Oktavia Terhanyut dalam perahu kertasMenyusuri riak laut tanpa batasTerayun dalam  gempuran ombak Membawa pesan perpisahanDalam guratan tinta kelamBeragam kata tak terperi Badan berlumpur liarTerbawa pulang ke haribaan menuju labuanSiraman air 7 warna menguliti Rasa yg.

Harusnya itu aku, Tuhan!

Harusnya itu aku, Tuhan!Ketika tangan tak berhenti menghadapMengapa kau palingkan itu padaku? Harusnya itu aku, Tuhan!Ketika lirih dan air mata bersahabat dengankuMengapa kau membuat genangan ini semakin besar? Harusnya itu aku, Tuhan! Ketika bibir tak berperi berharapMengapa.

Ku Kepadamu

Dewi Penyair demikian aku menyimpan rasa cemburu pada waktu-waktu punyamu yang tak bersamaku setelah kutahan-tahankan perasaanku dengan menyimak semua tulisan-tulisanmu agar aku selalu percaya bahwa cintamu adalah kepunyaanku dan ertahun lamanya engkau mengendap di kepalaku menjadi pikiran.

Rasaku Saat Menunggumu

alangkah telah aku rasakan bagaimana sepinya tanpa ada engkau disini, begitu sunyi sepanjang malamku ketika dingin di luar sana sempatmengigilkan sebagian tubuhku dan sesungguhnya tak ada yang bisa kuperbuat saat rindu dalam dada kuat membuncah sementara engkau.

Untuk Jalan yang Sedang Dibaca

Bambang Saswanda Harahap kita berangkat sebelum hutan-hutan dinyalakan matahari, kau berjalan berjingkat menahan gemetar dagu. aku tidak terlalu berharap engkau akan gembira dengan tempat yang akan kita tuju, sengaja aku tidak memberitahumu. dan sekarang saatnya kita pulang.

Sebungkus Bola Memantul

bola…bola…bola…MEMAN…tulmeman…TUL…BOLA…BOLA…BOLA tul…Meman…tul…MEMAN…tul…BOLA…BOLA…BOLAbola…bola…bola…TUL..meman…TUL…meman…TULMEMANTULmemantulbolaMEMANTUL…BOLA…MEMANTULbola…memantul…bola BOLA…BOLA…MEMANTULmemantul…bola…bolamemantul…mantul…BOLA…bola…bola…MEMANTUL…bola…ah…memantul dik,Bola yang semula memantul setelah kubungkus menjadi diam, maafkanaku dik, yang tidak mampu memberikanmu sebungkus bola memantul, mungkin lusa, bola memantul akan terbungkus.Tentunya untukmu dik.Kini bola memantul tapi setelah memantul tak bisa dibungkus, maafkan.

Di Depan Sebuah Tungku

sepertinya kita tidak majudan terus duduk terpakutapi kita terus digerus menjadi abuseiring bara yang terus memburusaat kita merancang hari barudi depan sebuah tungkuKomunitas Merapi, 2008

Menanti Hari Minggu

Seandainya sajaHari ini hari mingguAku akan menjemputmuDan membawamu ke kampungkuKarena kita telah berjanji bertemuTapi hari ini hari sabtuHanya sayuSaat dirimuMati terbujur kakuDi atas ranjang ibuKomunitas Merapi, 2008

Perpisahan

Gendhotwukirrumahbacakommerapi.multiply.com Perpisahan iniMengaburkan setiap mimpiYang telah dibangun bersamaSaat tangantangan bercengkramaPada malammalam bertabur janjiKomunitas Merapi, 2008

Tanah Berpasir Juang

Tanah ini bukan tanah biasa, bukan sekedar pijakan manusia belaka. Bukan hanya pelataran tempat lahirnya gedung-gedung , kantor–kantor dan rumah-rumah bertingkat dengan kemegahan. Bukan pula tempat memendam segala yang mati atau hidup. Bukan. Ini adalah tanah tanpa.

Surat Kepada Pangeran

Pangeran mulia, Kita telah menunggangi kuda-kuda sejati, memanah, menikam bersama. Kita telah setia menjaga lahan-lahan para petani, rumah-rumah rakyat darigerilya musuh, juga lembaran-lembaran wasiat dari bola-bola api. Kita telah memastikan musuh lari terbirit-birit melihat pasukan kita menggempur.

maka kelam

Herry Sudiyono maka kelam akan pulang kepada mataharidi manaiatiada***

Diet Lamunan Berat

Ganjar Sudibyopenyairpadipecandukata.blogspot.com Lebih dari setengah musim kemarau ia belajar menyusutkan lamunan berat di perut kepalanya. Seperti seorang dokter piawai akan pasien, ia pun piawai akan dirinya. Dengan sebuah catatan kecil ia coba menulis resep ampuh. Semusim beranjak,.

Pituah Lelaki Rambut Wangi pada Malam Puisi

Bambang Saswanda sejak sajakmu terjejak dalam barisan serdadu perang desemberkita berhujan-hujan kata, menuruti kayuh sepeda ontel lelaki tua berambut wangiyang sekali tempiasnya kita terjemahkan bersamadiatas teras rumah orang seberang yang asing menghambalah kita pada kertas-kertas yang telah.

Gerimis Subuh Buta

gerimis subuh butabangunkan lelap tidurberharap kau juga d isanaterjaga dan merindu aku dalam helai selimutaku mau hangatmusehangat napaskuyang selalu menyebut satu namadi bangun dan tidurku(Maitri, 09 June 2009)

Katamu

Ganjar Sudibyo Katamu sungai itu adalah belahanmuSedang delta adalah kepunyaankuDan kita bertemu di arus tenang rawa ituSesaat di penantian senja kelam Tapi ular kau!Membisik bujuk di puncak lelahkuMenyisa ciptakan adam adam baruMemecah puingkan kaca kaca tempat dua.

Kataku

Aku tak mau ditipu olehmuOleh irisan nada nada melodis busukmuOleh lembaran lukisan lukisan firdausmuOleh teduhan larik puisi puisi mawarmu sadar inderaku tak mudah terkelabuh dua kali***2009

Di Sini

Dewi Penyair wajahmu belum tiba juapadahal rindu sudah jadi doahanya cahayamu sajamenerangi seluruh diamdi sini cepatlahkekasihjangan biarkan aku menunggusampai lelap dan terlelap lagihingga esok dan esok lagidi sini(Maitri, 13 June 2009)

Sajak Bulan Kota Jakarta

W.S. Rendra (1955) Djakarta Dalam Puisi Indonesia Bulan telah pingsandi atas kota Jakartatapi tak seorang menatapnya! o, getirnya kulit limauo, betapa lunglainya Bulan telah pingsanMama, bulan telah pingsanMensukuk tikaman beracundari lampu-lampu kota Djakartadan gedung-gedung tua tak bedarahberpaling.

Tadarus Kesunyian

Bambang Saswanda Tadarus kesunyian khusuk pada musim-musim yang tak henti berputarbayang-banyang pun entah, berlari dari satu padang kepadang lainmembaca apa saja yang lekat dalam sadarmengilhami alam lain yang di luar tubuh satu kalimat sahajamembangunkan detak jantung yang.

Tentang madu, kumbang, dan bunga yang hanyut

Bambang Saswanda1Dalam dendam luka bibir bunga, ditingkah gemulai kepak sayap sayap yang teralun rindu, aku kelu, merafal mantra birahi yang singkap. Oh yang setaman, didihkan wangimu, sampai kita saling memuji digemetar waktu berikutnya, hingga aku khidmat mengeja.

Di Gang

toko toko sudah tutup. kosong memang.lewat gang yang lengang,teriakanmu lantang sepanjang gang.engkau pedagang,ketiadaanmu adalah heningyang membekap tiap gang,kecuali hingar petir yang sesekali menggaung.malam makin lama makin dingin dan seram,seganas kenaikan harga BBM.dan, pada gang yang lengangitu gerobakmu.

Nganggur

Amir Ramdhani Kita telah gagalnihil modaltersengal sengal dijejal aral mabuk cita-citasempoyongan melamar kerjahasilnya terjungkal trauma dan mungkin tetap terlantarkabel listrik otak rusakrentan tercekik konflik tengik tapi kita masih bisa bangkitwalau persaingan semakin sengittakkan membunuh ruh penuh semangat2005

Kota Yang Sepi

Dinar Emildawww.dinar02liebe.multiply.com rintik hujan tak menghalangi langkahmenyusuri kota tua tempat kita bertemu dahulumenyusuri jalan-jalan kau dan aku pernah singgahkudatangi cafe tempat kau nyatakan kasihkudatangi lapangan bola tempat kau bercengkeramakudatangi tempat latihan gitarmudi mana sering kurasakan getaran mengalunsambil.

Dendam Akan Cinta

dendam ku pada cinta initak bisa kulepasberharap waktu berpihakpada insan yang tak berdosa ingin kukejar cinta initapi ke mana ku lari?tak pernah terlihat jejaknyahanya dirasa oleh hati yang putih tak pernah ingin ku mengelaknamun sakit yang kurasamengapa.

Saat Ayam Berkokok

Saat ayam berkokokOrang orang berjejal bergerakMemecah hariDan berlari mewujudkan mimpiBerlomba melawan matahariMenjaga dan mewujudkan martabat diriKomunitas Merapi, 2008

Gugurnya Imaji

Keliaran imaji terpakuSelaksa sebentuk gundukan batuMembujur kakuDiam di menara gaguMemandang dunia dengan sayuSeperti hidup tak beribuTunduk mematung bisuKomunitas Merapi, 2008***

Pertobatan

Seandainya sajaKita pernah membayangkanBetapa lendir dan riuhDendam yang bersemayam di bibirSeonggok dosa yang terus bercokolBergelayutanBerjubah oranye selagi berkening abuTerus berputar putarDan kita akan meleburnya segeraBersama puri batin sunyiPada hari hari pertobatan iniMagelang, 2008

Ritual Suci

Gendhotwukirrumahbacakommerapi.multiply.com air suci dan api abadimengidungkan keheningan hatibatin terkunci dalam reinkarnasiberarak dan tegak berdirisaat orang orang bersamadipada pelataran bumi waktu yang terasa berhentiseiring detik detik sunyi di sesajipukul sembilan yang sunyibatin terpatripada api yang terus memberangus hatikita.

Setan, Dimanakah Malaikat?

Rama Yunalis Oktavia Setan mencengkram kuatMenjalarkan onak dalam neuron otakTak kuasa tertolak halal atau haramDimana malaikat berada? Setan menjalar dalam darahBerdenyut dalam venaBerpacu tanpa sekatDimana malaikat berada? Setan membekap mulutTerbisu dalam kebekuan kataTergores bisa lidahDimana malaikat berada?.

Hybridization

Segempal nasi menjadi alurBerbatu dalam hujan asaMerobek cita dalam riuhnya sarang semutJalan panjang terpapar membisuSiluet tak kan penah terangKilat kamera tergugah hasrat Tulang belulang menjerit pilu dalam tapak perjalananSepatu roda menentukan arahBeradu dalih dalam private roomGondola terayun.

Reingkarnasi

aku sudah lupaberapa kali hidup di duniamemang aku banyak kenal mukatapi waktu bikin lupa siapa mereka dari bakteri aku tumbuh menjadi padijiwaku terbang mengepak sayap seperti malaikat aku lahir ke lantai bumi sebagai bayikelak aku tua renta.

Habis Cerita

Moyank katakan kepadaku:manakah yang kau suka? haruskah kuhancurkan tubuhmuberulang di atas ranjangatau membiarkan waktu habisdalam cerita sampai pagi tiba? tapi aku merasa tanggungmembiarkan berahiku terjagajika kita harus mulai lagi dari merabasebab waktu telah menunjuk pukul limaBalikpapan, 20.

DirumahMu air mataku derai

aku yang terpaut jauh dari jalan menuju janjiMuberlama-lama di gaduh penggoda dari bara api nerakaMusemakin tenggelam ku sujudkan diri dalam rumahMuMekah yang berselubung takbir membuncah air mata***

Mimpi

purnama di ujung mata memecah buih di anginmelabuhkan segenggam asa dalam bukit-bukit menjulang ke awanmenyunting wanita-wanita yang tak pernah dicaci terikhingga membayang udara dalam tarikan nafas adalah surga teruslah menjejak pasir-pasir dalam angkasa lamunanmembumbung memuncak menanggalkan beban.

Duhai Nestapa

Duhai nestapaperihnya sudahlah senjabak peniti luka mencucuk usiarenta ia dirundung air mata duhai nestapatanggalkan ia yang di ujung sanagemetar tegak lapuk dicerca genangan siksamerenda duka merajut derita duhai nestapatiada usai jua padam kobaran deradari satu darah kedarah.

Sumbang

Bambang Saswanda terkutuklahcinta yang berderak-derak di pangkalan telingamengingang laju kumuhbersenggama hina kau bertanya pada sengsara sepasang sekoci berlumur lumutmembatu bersama karangdaripada kau terjungkal ke lautanmari kita eja perhelatan dengan semestinya terkutuklahcinta ditambah cinta menjadi sampahterciumi sengatan membesarkan.

Melentik

Tergelitik jari jemariMenunjuk jari telunjukKerling jari kelingkingTengadah jari tengahMeringis jari manisMenabuh ibu jariMelentik jarikuMenari beriramaBekasi 160109

Gie

Rama Yunalis Oktavia Apakah abu roh Gie terhirup olehkuMengalir mengikuti aliran darah?Menggelitik untuk selalu kembaliMenghirup hawa pegununganMandalawangi yg kurindu…Bekasi 060606

Torehan Keindahan Bundaku

Lemah bergelayut di lengan muAdakah karna menopang aku yang terlalu lama belajar berjalan?Goresan abstrak disudut matamuTerlukis memahat jelas, saat kau tersenyum,Adakah karena mengawasi gerak lincahku?Helaian rambut yang tak lagi legam.Tak lagi dapat kau sematkan hiasan indah.Lebih dari.

Meong Pada Bu Haji

Multama Nazri HSB Apakah manusia itu Bu Haji?Apa benar mereka kaum ilahi,Mengapa mereka banyak yang bunuh diri,Dukun santet dianggap ayah sendiri. Ini toh manusia itu Bu Haji ?Yang oleh mereka anak yatim dizolimi,Setelahnya enak tidur nyenyak dan.

Badai Anak Nelayan

Bambang Saswanda pecahan kaca dalam air matamenitikan racun dalam gamangmenyibakan luka-luka seperti terbawa ombakkepedihan yang teramat menganiaya sudah singgah dalam senja ada dua bocah setengah berbajuberbaris di jilat badaimenelentang menantang hujandi balik punggung-punggung mata kail menancap pongah.

Tanah Merah

pagi ini kupesan crysant ungudan mawar putih bersih, harum dan sucikuselipkan lily kuning keceriaandan pita warna emas bersinar aku sayang kau sore ini kupilih gaun hitamdan kacamata gelap pengusir silaukubawa air sejukdan sebungkah rindu kulihat bungakudi atas.

Sumbang

terkutuklahcinta yang berderak-derak di pangkalan telingamengingang laju kumuhbersenggama hina kau bertanya pada sengsara sepasang sekoci berlumur lumutmembatu bersama karangdaripada kau terjungkal ke lautanmari kita eja perhelatan dengan semestinya terkutuklahcinta ditambah cinta menjadi sampahterciumi sengatan membesarkan arwah di.

Embun Bandung

Rama Yunalis Oktavia sejenakdari ritme kerja yang mendesak seluruh otot dan otakmenghirup setiap tarikan nafasdari kesejukanwalau dingin menggigit tulang belulangku dingin malamdan tanah basah sisa hujan terdudukdiitemani temaram lampu yang meneduhkan mata asap hangat dan sup pangsittawa.

Dialog Semu Dalam Sujudku

Dalam sujudku malam ini, terbayang seraut wajah dengan tubuh kekar tersenyum seindah purnama yang selalu didampingi satu bintang. Wajah yang selalu kurindukan, yang selalu kupanggil. Ayah…Aku tidak tahu kau dimana, mungkinkah kau bahagia, mungkinkah tidak. Malam ini.

3 Menit Menjadi Cinta

Multama Nazri HSB (menit pertama) ku kan bercengkrama dengan nafsu dan turunannya membagi tugas dengan mereka agar aku bersih, suci, dan indah (menit kedua) ku kan berkunjung kepada logika bersekutu dengan beliau agar aku tidak tersesat dan.

Swasembada Dosa

Swasembada DosaAda perhelatanhari ini dosa berpesta poramereka ramai sekaliada yang senyum-senyum puasada yang tidur pulas setelah semalaman beranak pinak tadi pagi negeri kami swasembada dosamungkin hampir musim kiamatmayat bayi masuk tong sampahsalah apa mereka?tidak tau apa-apakok tega-teganya.

Pertaubatan

Bambang Saswanda aku terhenti di separuh malammenembus muara angan-anganbercampur adukbak rasa yang tak terjamah akhirnya muncrat seepisode pementasanlakon laki-laki dengan sorban melingkarbersama kelam ia begitu manjabermain dengan katabegitu mesra serak tapi menggemuruhseperti melintasi seluruh apa yang di.

penggalan

atau sebait “halo, siapa?” menjuntai di antara kabut yang tersesat dan lampu-lampu telah padamketika sebuah jejak pulang ke horizon, arah yang menyepi

kembali malam kepada kita

kembali malam kepada kita, tanpa nama,tanpa ketuk di pintu, di pesiangnya jelaga di kaca lentera-sebaris firman mengembun ketika bertanya kenapa,kau tak bisa berkata

sebuah kata

Herry Sudiyono sebuah kata terlahir dengan pijar tanah berjalin di akar-akar yang mengintip kepada cahaya di luar, (tuliskan sesuatu, ucapmu, tuliskan apa saja bila kita tak lagi bisa)Nu, sungguh kita tak lagi bisa…

di beranda

selarik cahaya singgah di berandaketika kau tertegun oleh sebuah kata yang purba –seperti terdengar derak patahsesaat lalu kau memerciklarut pada cuaca

Mak, Kutuk Aku Jadi Orang Kaya

Bambang Saswanda Mak… kutuk saja akuSebelum uang sekolah melumat angankuSebelum guru menghukumkuKarena tak mampu beli buku Mak cepat kutuk akuMasa depan terlalu buram untukkuSeperti memacu dalam mimpiSaat terbangun kuda hilang aku tak sampai Aku anak nelayanHidup dari.

Innalillahiwainnailaihi Rojiun

di ujung tiang biduk tuatersembul ketidak pastianmengayuh dan mengayuhsampai patah kayuh lamat-lamat riak berombakmengamuk dengan sepasukan anginterlunta-lunta nasib di tengah lautanhidup ditanggung-tanggungkan persinggahan turut benamkarang menghitammata kail tersangkut di matajala telah pula lupa terbawa sejauh jauh ia.

Rak Tulang

Rak-rak tulang mengerakmenutup ruang tiada berbatasangin menitipkan sisa debu pertempuranyang kalah merebut api matahari api matahari tak pernah berkisahapalagi menemukan panasnyasama seperti bulanyang enggan menanggalkan malamdari gelapnya dari gelapnya diri diketemukansebelum fajar mengambil embundari sisa daun kering.

Gerimis di Rongga Tulang

E.M. Yogiswara gerimis terperangkap di rongga tulangrinainya seperti garis yang tertutup debubeku. tak ada raga terahasiakandari matahari yang kehilangan apinya matahari kehilangan apinamun kita memburu wajah. hitammelampui dahaga pada sinarnya sinar kehilangan silaunyamendung telah disulamdi malam yang.

Debar Tulang

detik-detik di debar tulangtulang memicu jantung melintasi jalurnyadi jalurnya nadi tak jenuh membersihkan nadanada tak juga sampai pada suaranya

Hening

Duduk Termenung memandangi langit-langit kamarkuTerbaring aku dengan alas bantal yg kusamKu peluk guling dan k u letakkan diatas dadakuTiba-tiba terbersit hasrat untuk mematikan lampu kamarGelap.. sunyi… sepiNyanyian indah burung hantu & jangkrik tak kudengarDeru bisingnya suara dari.

Kesunyian

Feri Hendriyadi Langkah kaki semakin cepatBerusaha mencapai tujuan yang tak pastiAku sadar bahwa aku telah kehilangan sesuatuNamun aku tak tahuAku bingungAku terus berlari dan mencariNamun aku masih terus mencariMencari sesuatu yang hilang yang aku sendiri tak tahuBekalku.

Pada Sebuah Hujan

Gatot Arifianto laki laki adalah cemarayang bertahan dari invasi angin dan hujan!*** Nusantara, 2006

Tragedi Transendental

Pada sudut istal yang rapuh bumi ratapi hitam nasibnya dibiarkan nazar di atas jerami lunglai membiru tanpa hiasan kafan walau sehelai. Sementara harimau menyaksikan dari balik sayap belalang Kuda hitam meringkik, bersimpuh, cumbui kaki bumi “siapa ayah.

Nilai Cinta

kau paksa kejantananku melingga sewaktu malam diam-diam selinapkan sepi di kegelisahan ujung rambutku. hujan yang kau panggil sore tadi, deras, selimuti keakraban jemari berpagut tanpa menanggalkan dogma yang bermukim di jiwa. tetapi tak harus kita tertawa alpa.

penggalan

atau sebait “halo, siapa?” menjuntai di antara kabut yang tersesat dan lampu-lampu telah padam ketika sebuah jejak pulang ke horizon, arah yang menyepi

kembali malam kepada kita

kembali malam kepada kita, tanpa nama,tanpa ketuk di pintu, di pesiangnya jelaga di kaca lentera-sebaris firman mengembun ketika bertanya kenapa,kau tak bisa berkata

Sebuah Kata

Herry Sudiyono sebuah kata terlahir dengan pijar tanah berjalin di akar-akar yang mengintip kepada cahaya di luar, (tuliskan sesuatu, ucapmu, tuliskan apa saja bila kita tak lagi bisa)Nu, sungguh kita tak lagi bisa…

di beranda

selarik cahaya singgah di beranda ketika kau tertegun oleh sebuah kata yang purba –seperti terdengar derak patah, sesaat lalu kau memercik, larut pada cuaca

Setangkai Puisi Di Malam Bulan Separuh, Andhika Mappasomba

Baso Alang setelah puisi ini aku bacakanakan ada hati yang berdarahsebab ia kubacakan dengan napas tersengaldan ditulis dari tinta darah dan perahan air matayang dirangkai dari sisa kejujuran yang tergali dari kesadaran wahai bulan separuhsimaklah jiwa yang.

Pada Lengkung Takdir

di bawah sinar bulan pikiran melihat kematian menggambarkan jiwa beralih ke kehidupan lain aku melihatmu reinkarnasi jadi cahayamengitari tubuhenggan melepas pada lengkung takdiraku dan kau tiada bedatak berdayaterhadap persepsi TuhanThailand, 17 Maret 2008

Ketika Malam Tiba

ketika malam tiba seluruh ingatan memburumu tak pernah lelahmengusik bayang-bayanghadirkan wajahdan cinta di bola mata jantung menanti-nantikau adasebagai jawaban doaMaitri, 06 April 2008

Lelaki Dalam Pikiran

duduk dekat jendela memandang langit melepas impian menuju satu alamat hanya kaulelaki dalam pikiranmembangunkan rasa rindu betapa terasa dekatkau ke arahkuhingga aku tak mau ingatberapa lamatelah menungguMaitri, 18 April 2008

Lukisan Bidadari

tak mudah menemu kau yang sehati siang malam merindusejak pandang bola mata pada satu lukisanaku menjadi bidadari terbang ke arahmumemercikkan airmatabiar kau hidup terussampai kau menyadaribetapa akusangat mau bersamamubetapa akuhanya mencintaimuMaitri, 27 April 2007

Revolusi

Gatot Arifianto di sore kuning ketika surga tak juga surut dari fantasidan headline yang selalu saja digaungkan pada kemarau dengan gergasidaun daun berbaring dengan senyum hening siklus begitu bening menanamkan takdir dan senyap lengkapseperti manifesto ruh di.

Ilusi Lelaki Sepi

begitu tulus hasrat mendaratkan puisi di keningmu jika malam memperkenankan rindu jemari berpadu di sebuah negeri bernama mimpi Nusantara, 2000

Solitude

adalah aku kekasih dengan ketabahan cinta semata wayang menunggu sejak senja dilibatkan sebagai waktu jauh sebelum hujan mengekalkan senyap dan barangkali bukan air sendiri pasir, batu, ikan, serayu kangen perawan bibirmu telanjang menghardik kabut yang mengusir bulan.

Dalam Diam

tak ada garis senyum sejak bangkit dari tidur mata seakan menolak membelalak dan enggan mengintip langit sejak semalam hati coba diredam dengan diam dan mulut dibungkam tak ingin mengucap sepatah kata ke daerah mana harus berlari dan.

Ritual Hidup

Dewi Penyair aku ingin dirindu sepanjang kau menunggu entah pada ritual hidupku angkat namamu menghadap mataharibiar menyerap cahayakepada sang tubuh aku kepadamumau sempurnamelagukan setiapenuh kesadaranMaitri, 11 Maret 2008

Tubuh Cahaya

Moyank kemilau cahaya lahir dari tubuh halus menyelimuti kau aku dalam kenyataan samboghaka yang maha lembut adalah kita bukan lagi terbagi antara aku atau engkau lenyap dalam keesaan satu mantra pembuka : hong! Balikpapan, 08 Mei 2008

Aurora Kemarahan

Gendhotwukir Masuklah, ridna! Di luar orang-orang mulai mengigau dan tak pedulikan genangan air matamu yang telah membibir itu. Selama angin masih membelaimu. Kenangkanlah bahwa kita hanya seonggok sampah yang tak akan pernah mengerti makna perjalanan ini. Biarlah.

Waktu Purba

*Siska dan Ridna Kekasihku Setiap waktu engkau terdiam lalu tersenyum. Semburat sudut matamu mengabadikan gelombang rasa dari waktu purba. Luka yang tertahan. Kepedihan yang tersembunyi jauh di dasar lubuk hati yang tak seorang pun mampu menyelaminya. Di.

Ke Barat Kepada Bunga

Pak, mari kita pergi ke barat yang adalah timur juga. Ke barat mengejar matahari terbenam. Tetapi, janganlah sampai ke ujung barat karena di perempatan kita harus ke kiri memetik setangkai bunga. Setangkai Bunga Ridna. Bunga yang kata.

Total Kriminal

Amir Ramdhani entah, kebencian tak pernah punahdiarwahi dendam paling jahanamtanpa rasa dosa sadis membunuhmembabat sekelebat kedamaian kriminal mengentalbermoral begal bermental brutalawas! itu bisa fatal frustasi dengan segala keberingasanjangan terprovokasi, tahanlah emosiberkacalah pada darah, darah manusiaterka bahaya petaka.

Pedagang di Gang

toko toko sudah tutup. kosong memang.lewat gang yang lengang,teriakanmu lantang sepanjang gang.engkau pedagang,ketiadaanmu adalah heningyang membekap tiap gang,kecuali hingar petir yang sesekali menggaung.malam makin lama makin dingin dan seram,seganas kenaikan harga BBM.dan, pada gang yang lengangitu gerobakmu.

Nganggur

kita telah gagalnihil modaltersengalsengal dijejal aral mabuk cita-citasempoyongan melamar kerjahasilnya terjungkal trauma dan mungkin tetap terlantarkabel listrik otak rusakrentan tercekik konflik tengik tapi kita masih bisa bangkitwalau persaingan semakin sengittakkan membunuh ruh penuh semangat2005

senja

senjasesuatu sekejap lengang,dan kaupun risikdengan warna-warna kirmiji maka kelammaka kelam akan pulang kepada mataharidi manaiatiada***

kafilah 2

di perigi tua kau membasuh wajah.terasa ada yang tanggal meski kau tak tahu apa,meski kau bergegas ke sebuah cuacaada yang tinggal dan terus menyapa…

kafilah 1

Herry Sudiyono di perigi tua kau membasuh wajah –alang-alang berbisik tentang sebuah jejak yang hilang.apakah pulang, kau bertanya, hanya sebentuk erang yang kian memutih?sebilah detik terjatuh dan menepi pada batu yang bermimpi hikayat api.apakah akar perjalanan? kau.

Pemimpin Perang Memimpin Negara

-buat Status QuoM. Arpan Rahman sekarang rasanyasungguh tak sabarmenunggu hitungan waktumenuju hari terakhirmenanti ujung kehidupanbekas tentara itudemi tegaknya keadilandi muka bumi yang damai ini Hiduplah Indonesia Rayabagimu negeri, jiwa raga kami… harusnya begini, pemimpin negarabukan pemimpin peranglantaran.

Reinkarnasi

aku sudah lupaberapa kali hidup di duniamemang aku banyak kenal mukatapi waktu bikin lupa siapa mereka dari bakteri aku tumbuh menjadi padijiwaku terbang mengepak sayap seperti malaikat aku lahir ke lantai bumi sebagai bayikelak aku tua renta.

Habis Cerita

Moyank katakan kepadaku:manakah yang kau suka? haruskah kuhancurkan tubuhmuberulang di atas ranjangatau membiarkan waktu habisdalam cerita sampai pagi tiba? tapi aku merasa tanggungmembiarkan berahiku terjagajika kita harus mulai lagi dari merabasebab waktu telah menunjuk pukul lima(Balikpapan, 20.

Tak Ada Rahasia

puisi malam ini adasebab bayang menggodaharap bacakan isi hatiseapa-adanya rasa tak kusimpan rahasiasecuil pun tak ada hanya ada satu wajahserta satu cintakau!Maitri, 09 November 2007

Saat Ingin Kau Ada

Dewi Penyair dada terasa panaspadahal di luar hujan lebatsaat rindu mengaduhlalu rasa makin hebatmembuncah sekujur tubuh begitu tersiksasaat mau kau adaMaitri, 10 November 2007

rindu jauh

:entah pada siapaku beri kabar gembirabahwa betapa kau jauh tak tersentuhsungguh rinduku oh sungguh aku masih selalu menyimpan juta rinduwalau jauh23052007

hilang

:ku lenyap bersama leleh waktuketika kau melangkah pergimenuju senja paling jauh25052007

jika sepi itu

Ken Fitria:kau,akan kupeluksejuta senyumpada ribu kisah sendupada ribu kasih bernama rindu07082007

Buruh TaniMelarikan Diri

Jajang R. Kawentar batang-batang bebaris polisi pamong prajacangkul sengkuit menjadi jeruji besi di kantor polisipetani berperang melawan hama werengtanah tidak lagi mau kompromi dengan bibittuan tanah menaikkan harga sewa dari satu ke dua pikulharga-harga hidup semakin menjalar.

Kelabu di Mataku

hanya diam mendekap pelandan ruang dipenuhi nyanyian rinduseperti sesuatu, aku tersudut di situsedikit kelabu lekat di mataku(Balikpapan, 25 Juli 2007)

Burung Jiwa

Moyank jiwa seperti malaikattidak jantan tidak betinapunya sayap seperti burungberumah di lembah-lembahdan gunung-gunungjauh jiwaku terbang mencapaimupasrah bersandar di bahu kananmutak lagi gelisah mencari tahusiapa kekasih siapa cintaku(Balikpapan, 02 Agustus 2007)

Tangisku

Tangisku adalah kesedihan yang tak dapat kukisahkan. Tangisku adalah keluhku yang tak pernah tersampaikan, tak padamu pun teman, tak padamu jua kekasih hati. Tangisku adalah temanku, sahabatku, pun kekasihku. Tangisku adalah kekuatanku, jalanku, inspirasiku, semangatku. Tangisku adalah.

Kulalui

Ria Simanjuntak Kulalui tanpa sebab…kujalani tanpa kutahu…kunikmati tanpa kurasa….kulewati…kuingin…kutinggal… kuenggan…kugapai…kumau. Bila ku tak lalui…maka ku tak pernah tahu…apa yang kudapat, kugenggam, kugapai, kurasakan. Meski sakit…meski hati setengah terluka….bila ku tak lalui…ku takkan pernah ada untuk sekarang…untuk nya…untukmu…dan.

Di dalam Salib Christi

Di dalam salibBerkepak ribu rindu menghampiriTersedot  pesona nasib suciNasib yang termulia karma dihayatiPapah pincang-pincang insani demi Di dalam salibAda cinta terpatri kiniBeribu-ribu, berjuta-juta derita membebaniTiada lorong-lorong terkunciTiada pintu-pintu terapat rapiTiada sapa angkuh dalam hati membumi“Hai, kamu yang.

Mengiring Jenasah

Gendhotwukir Dipuja suka, mati mudaSalah dosa belum terkayaRia lekat wajah ronaBahgia terdampar. Di pulau tangisan gema Iring-iringan mencipta debu lesuKeruh linangan senja gerimisBergegas mengubang kikis 23 cukup. Kenapa tidak 70atau  80  jika ada daya ? alun melodikan.

testimony

bukankah kau jubah yang tergeletak di kaki beringin ketika si gelandang tua berpesiar ke garba cahaya?(gigil itu telah usai, telah tunai) bukankah kau beringin dengan rima sebuah jeda? bukankah kau…?

lanskap

bangku tamanberbisiksorehujanmenggigilkedinginan

kota tua

di bawah teras sebuah rumah kau mencuri sejumput tawa,ia sebentuk terakota sebuah kota yang tuagraffiti yang seperti hendak…yang tercekat oleh bercak darah dari rejan gelandang tua ingatan, ucapmu, selalu saja akhirnya memutih,menghadirkan yang tak pernah tunai, dan.

ia hanya

Hery Sudiyono ia hanya ingin menaridi lembah (kemarau, ucapmu, akan menghapuskanku)tengah malam ia hanya…

Ketika Angin Mendesis di Parangtritis

—buat Sonya ketika angin mendesis di Parangtritisdan mengemas senja amsal romantiskala gerimis,kau mendekatiku dengan ranum senyum manisterukir di bibirlangkahmu mendesir di pasirdisibak riak ombakdi mana kau-aku sama tak bertolaksimaklah,gairah merekah di pantai yang rebah,resah punah,lalu lusuh segala.

Tafakur Guru

tanpa memelaskami mengembara dari kelas ke kelasbahagia rasanya bersama anak-anak yang manistidak bahagia bila ada anak yang malasdan juga beringas tapi murid-muridlah guru-guru kamidi mana kami dapat belajar memaklumipotensi diri tanpa mesti emosisabar menanggung lelahdalam mendidik siswasupaya.

Stasiun Kota

Amir Ramdhani keringatkeringat berkembangbiakdi sekitar berisik kereta,pagar bangunan tua,rongsokan baja.mobilmobil terus saja berlari di lintasan kakitak percaya pada perhitungan nanti.selalu berdesakselalu, kota oleng oleh ombak masih ada yang tak pernah punah: jalanankerap terperangkap pengap asap menguapbeberapa kali.

Saya Bandit

Saya bandit. Saya bandit. Saya bandit. Saya bandit. Ini celana dalam saya! Mau apa Peter? Saya bandit. Saya bandit.            Sebentar, saya tidak mencopet, merampok, membunuh, menjadi tukang pukul di lokasi perjudian atau pelacuran. Saya bandit. Saya bukan.

Bos, Saya Berhenti Menggergaji Batu

T. Wijaya             Sebenarnya saya berhenti menggergaji batu. Saya menelan batu, Bos. Sebab bukan lagi 63 anak sungai dan 2.300 jenis ikan. Kebutekan air membuat semua penuh lumut, lumpur, serta anak-anak tangga di mulut. Istri saya yang terus.

Sepanjang Jalan Cinta Kita

Aku terbuai saat kau datangAku terkesima saat kau pelukKau kecup tanganku yang basah oleh keringat ketidak percayaanHampir aku tak pecaya dengan pertemuan ini Kau tatap mata hatiku…Aku merasa dalam belaian kasihmuSepanjang hariku tak pernah kulupakanDisaat kau hiasi.

Fajar di Bibir Ngarai Sianok

Feri Hendriadi Cerah hati ini kala memandang kau datangErat pelukan kasihmu padakuSeakan tak mau kau lepaskanDingin terasa tubuhmu oleh sejuknya udara pagi itu Wajahmu memancarkan sinar kelelahanSetelah mengarungi lautan asmara kitaNamun kita tak mau menampakannyaKarena takut akan.

Sajak Buat Gadis Kecilku

Teguh S. Usis embun itu bermain di pelupuk matamu, gadis kecilku.ada di sana, sejak kau terjaga pagi tadi.ah, sudahkah kau bermimpi semalam?tentang boneka kelincimu. tentang gaun pestamu.atau, tentang apa saja. gurauanmu ajakku tersenyum, gadis kecilku.ada saja ceritamu.

Ambang Batas

akan kemanakah  terbangnya layu kembangtelah digenggam oleh petangnamun petang tak segera mengungkap terangsukma kembang menebar pandangdijemput ‘tak bagi tamu agung lalu menangislah menatap kehancurankarena hanya senyum girang terkenangmembau tanah gembur yang senganberbalik memeluk luh yang genang tangis.

Di Muka Kathedral

Gendhotwukir Wadak lungsuh susuh menyudut di sela-sela jerujiPesona bibir terkatub mantup menggigilTanah berpijak bosan dan enggan  membau buah kuldiPintu angan tak terbuka untukmu yang dekil Wajah angkuh kukuhMembumbung tinggi beralaskan wadak-wadak kumalRaga kian gaduh riuhMenatap keindahan dunia.

Duhai Sang Waktu

pintaku tak banyak, duhai sang waktu.benamkan saja aku ke dalam pusaranmu.biar mengalir lelah. biar tanggal penat. tak bisakah kau penuhi inginku, duhai sang waktu?sebentar saja, hanya sebentar.aku cuma ingin menganyam rindu,jadi permadani cintaku.lantas kutautkan pada sampiran pilu.

Sepiring Embun Rindu

kekasih, basahi aku dengan keringatmu,karena aku tak bisa menghilangkan dahagaku,basahi jiwaku, sebelum matahari menyusun awan-awansebelum dedaunan bersentuhan dengan angin pagi bangunkan jiwaku, kekasihku…hingga aku tak tertidur sedetikpunmenyanyikan lagu malammelukiskan keceriaan kelip bintangmempersiapkan warna pada kelopak bungayang esok.

Tangisan Setetes Darah

Dewi Penyair mengapung rindu di permukaanmenyembunyikan lara pada sang bintangdiantara pedih, luka, cinta, dan rinduterkoyak malam, tak tertahankan setetes darah, telah berkecupandengan kulit lembut mempesona hatienggan beranjak, masih merindujangan diusap, aku tak mau pergi!menangis lirih tak berdaya.

Tetesan Embun Pelebur Sukma

Ketika aku hausDisaat aku dahagaHadir sesosok insan penentram jiwaIndah hidup terasaCahaya mentari hatiku diwaktu fajar Alam semesta seakan berkataWahai embun yang beningSirami jiwaku dengan tetesanmuSebagai pelebur sukmaYang haus akan kesejukanmu Jiwaku tergoncang dihantam badai asmaraKarang hatiku hancur.

Sesaat Kebahagian Dengamu

Pernah kurasakan itu…Saat dimana kebahagiaan menghampirikuHampir kuraih…Hampir kudekapTapi ia sirna bagai hembusan angin malamIa membuat aku kehilangan kendali hati Kau membuatku terfanaAkan indahnya ketenangan dan kedamaianKeindahan semu yg pernah kudapatkanMembuatku tegar Namun saat aku harus kehilangan dirimuAku.

Setetes Harapan Di Akhir Perjalanan

Feri Hendriyadi Sesaat hadirnya cintamu….Hati terasa dalam kedamaian abadiSemilir kesejukan dari hembusan angin kasih sayangmuMembuat aku terlena dalam ketenangan bathin hati ini Usapan kasih sayangmuTidak akan lepas dari fikiran yang menerawang jauh kedalam angan hatikuTitik-titk cinta hadir.

Adakah Kau Rasakan Gundah Itu?

Teguh S. Usis adakah kau rasakan gundah itu? ketika lembayung kabutmenyaput. pancaran matahari pelan-pelan redup. anehnya,aku masih tetap berdiri, tak hendak beranjak pergi. lalu, kau datang. bawakan aku mantra dalam doa.kau bilang, “sabar, sayangku”. kau kecup peluhku..

Aku Kupu Kau Bunga

aku kupuyang tak bisa terbang jauhaku kupuyang biasa mengitar taman cinta beri aku puisimukubalas dengan belaian rindu rindu lelaki kepada perempuan kau bungayang tumbuh terkembangkau bungadahaga sentuhan kumbang undang aku menyerbukcinta pada lapisan terdalam aku kupu kau.

Pada Rumah Tua

Moyank waktu telah mempertua usiatubuh kita renta sereot dipandi teras rumahyang berbunyi kreot kreot ketikakita duduki bersama ingatkah masa muda kita dahulu,perempuanku? laksana kupu terbang lincahbegitu perkasa meliuk indahmenembus angin mengitar kebunmenari di antara daun daun kita.

Save My Soul

IbrahimKehendak ialah wani iman pada kabutkabut Namrud yang pilon dan sepia sinetron!Maka desau angin pantai bagi nelayan, serangga di rumput real estate,serta pekik wong cilik bagi elitelit tengik sebuah republik.Lantaran hanya percuma licin yang dingin Mussolini,gotgot chikungunya,.

Suluk Transisi

Gatot. Arifianto di jamjam niscaya hujan tanpa hutan, kami telah kehilangan kami. sebagaimana ghaib sekian demonstran 98, sujud cahaya pada surga pertama selain kitab sebuah abad, eksodus kasus dari laci negri yang tak juga lurus, tak juga.

Sajak Kesepian

Gendhotwukir Tak ada azan magrib sepulang main bolaSambil menenteng degan atau tebu denganLusuh baju di sekujurnya. Atau juga azan subuhKetika hendak bergegas mandi setelah mimpi basah,siap berangkat sekolah. Tak ada kokok ayam di fajar yang menyadarkan,bahwa semua.

Puisi dan Manusia

Mengapa aku jadi penyair?Kerana puisi itu gambaran intelek manusiaKerana puisi adalah hasil industri manusiaKerana puisi digubal oleh kemahiran manusia Buat siapa?Buat manusia jugaYang sepatutnya ditegur dengan metafora pedasYang inginkan kebebasan dari hidup terkandas Puisi itu seharusnya indahBukan.

Ishazara – Wanita Falujjah

Elmi Zulkarnain Bumi diantara tiga corok segitiga Sunni,Tanah yang digempur diragut dari damai dan sunyi.Antara Ar Ramadi dan Tikrit, kota Fallujah berdiri.Seorang wanita menjerit berani,“Mengapa kota sejarahku menjadi tumpangan derita sengsara?Suara tangis anak-anakku yang dibebani cemas yang.

ia ingin tinggal sebentar

Hery Sudiyono ia ingin tinggal sebentartanpa batuk melerai, tanpa“selamat pagi kereta” di alun-alun bising akan cepat redakepada malam yang jemuoleh tiang pancang.ingatan bergegas lewat,serbuk-serbuk merunduk pada udara di kota bernama lupa seorang menggelar tikarkepada ziarah dari hutan.

Kutelisik Seonggok Batu

Kutelisik ceritamu dari balik mataMata tajam seorang pemburuAku melarut-kan pikiran dalam ceritamuTentang sesuatu yang tak kutahudan besok pasti begitu Tetapi telisikku membentur jidadJidad keras kepala batu-Mudan besok, kau onggokan batu didepankuAku paham inilah cermin diri-MuSe-onggok batu. Rumah.

Tentang Sabang

Kuceritakan Sabang dari UleleSabang Molek dan cantikTak ada petualang raguKarena Sabang, bali sumatera Galian batu adalah SabangDari Paya Seunara sampai BlangtunongGali batu bangun reklamasiGali batu tambah daratan Gali batu, siapa untung ?Aku tahu Gali batu, siapa yang.

Aku Bermimpi

Dewa Gumay Dalam cermin kulihat Aceh gegap gempitaJangankan hotel, rumahpun Se-tinggi petronasKanak-kanak mulai enggan ke pantai lhokngaKolam renang lebih segar katanya Ke-pasar aku terkejut,Orang-orang tak berbusanaAurat diobral murah, bukan muhrim tak ada bedaPasar kita bak eropa, transaksi.

Sandal Jepit Kuning

Mia Singgih Langkah gamang di jalan setapakBeralas sandal jepit berwarna kuningKerikil tajam menusuk telapak kakikuTerasa menembus perih dan tajamAku berjalan terusHingga perih ituBerganti jadi kenikmatan Langkah gamang di jalan setapakSambil mengusap keringat di keningKaos putih basah melekat di tubuhkuButiran peluh panas menghunjamAku berjalan.

Tentang Sabang

Kuceritakan Sabang dari UleleSabang Molek dan cantikTak ada petualang raguKarena Sabang, bali sumatera Galian batu adalah SabangDari Paya Seunara sampai BlangtunongGali batu bangun reklamasiGali batu tambah daratan Gali batu, siapa untung ?Aku tahu Gali batu, siapa yang.

Aku Bermimpi

Dalam cermin kulihat Aceh gegap gempitaJangankan hotel, rumahpun Se-tinggi petronasKanak-kanak mulai enggan ke pantai lhokngaKolam renang lebih segar katanya Ke-pasar aku terkejut,Orang-orang tak berbusanaAurat diobral murah, bukan muhrim tak ada bedaPasar kita bak eropa, transaksi tanpa moral.

Sajak Yang Begitu Dekat

sajak yang begitu dekatsejak kali terakhir kita bercerita tentang rumah kayuaku masih menyimpan sebait sajak yang kau ciptarumah kayu dengan pekarangan rindangdaun-daun hijau berserak di bangku bambuanak-anak dan rindu mendalamjuga celoteh-celoteh lucu aku masih menyimpan sebait sajak.

Melosa Sunyi

Dari sebuah tempat bernama sunyikau muncul mengabarkan keharuman sejatiAku terjerat vanili nafasmumengembarakan doa putih di ketinggian zenit malamWajahmu pelangi berpendaran diterpa bulan tembagamemecah ranting kealpaan batu jiwakuKau, bunga yang membunuh sebuah rasa dalam hidupku: lonely!***Nusantara 2000

Blues Guevara

: Ayi Antoko RatriGatot Arifianto Lintang lintang di malam PapuaMeneteskan liur binarung jakun lift-eskalatoratau lengan bermain barbel natkala vibrasi kafahmutektonik mengabarkan garis pedang kalifah lewat keberangkatan keretasungguh adalah niscayaSelain ghaib khilaf pun tolol cemetiderap dan derap biadabku.

Sajak Bisu

sajak bisu di kedua matamukubaca bait-bait sajak bisu di kedua matamutentang waktu yang bungkam dan penuh ragu  – dulu pernah kubiarkan darah mengucur deras   demi tanah air dan bangsaku   aku berjuang dan berteriak lantang   untuk negeriku   aku.

Di Jalan Mimpi Kita Kembali

Ken Fitria di jalan mimpi kita kembaliini adalah mimpi panjang yang berulangtentang janji dua hatitentang angan-angantentang ragu juga rinduini adalah mimpi panjang yang berulangsaat senja jatuhsaat bintang menjauhsaat malam kian rapuhini adalah mimpi panjang yang berulangdalam heningdalam.

Dagelan Altar

Dalam sajak aku meremangTolol rasanya mengoceh tetek bengek tentang hidup kita,Sementara sejarah peradapan pesat meninggalkan surgaEvolusi menguak misteri kehidupanUmur insan berkejaran di tengah noda kehidupanSang Pencipta tergolek lunglaiBudi menindas ritus-ritus riang berdawai Lantas, Aku lupa siapa Kau.

Detik Purnama

Gendhotwukir Benarkah Kau mengerti kembalinya bulan jingga ?Di bawah pengertian malam yang suram tiada cakap riaAku berdiri di atas awan yang goyahDi tengah galaksi yang menawan aku gundahTentu saja, aku menjadi ngeri dengan hampaSeorang diri menantang dewa.

khianat api

yang telah lupa, kembalimenyalakan api di bibir tebing.rajawali takjimdan kau disihir sebercak darahyang bertahan di lumut waktu “lengking itu seperti pernah kukenal”ingatan cepat lindap, darah menorehkan razah di kulit dadamu.sebuah nama, betapa tidak sederhanakau mendidih, meracau, rubuh,unggun.

Ngebatak

SiregarSelamat Hari Raya dan maaf lahir batin bah!

Fitrah

TanpanamaSemoga kita beruntung kembali ke fitrah.Maafin gua ya?

Syar’i

FiraMeminta maaf itu kewajibansementara memaafkan itu kemuliaan syar’i.Tak ada alasan untuk tak melakukan keduanya.Selamat Hari Raya Idul Fitri,mohon maaf lahir batin

Berharap

MaulanaBagaimana bisa berharap Allah kan maafkan dosa,jika kita tak saling memaafkan.Idul fitri mengajarkan manusia tuk hidup damai.Mohon maaf lahir batin.

Ngejowo

AndriDumugi wonten kalepatenipun kulo nyuwun ngapuro

Melayang

TerusanSputih cocaineSbening vodkaSnikmat Jack DanielsSharum bunga ganjaTeriring fikiran yang melayangMohon maaf lahir batin

Kemenangan

AndiSelamat Idul FitriSelamat dengan kemenanganUntuk jadi lebih baikMohon maaf lahir batin

Pintu

JonMohon bukakan pintu maaf buat saya yang sebesar-besarnya.

Maaf Lahir Batin

Kumpulan Pilar-pilarUzairDi antara pilar-pilar yang mendukung kebahagiaan dan ketenangan jiwaadalah kesadaran bahwa di sana ada Rabbi yang menyayangi,mengampuni, dan memafkan orang yang memohon maaf.Mari kita mohon ampun dan maaf kepada Rabbi yang maha agungdan mari kita saling.

Maaf Lahir Batin

Kumpulan Pilar-pilarUzairDi antara pilar-pilar yang mendukung kebahagiaan dan ketenangan jiwaadalah kesadaran bahwa di sana ada Rabbi yang menyayangi,mengampuni, dan memafkan orang yang memohon maaf.Mari kita mohon ampun dan maaf kepada Rabbi yang maha agungdan mari kita saling.

Tonil Manusia-Manusia Sampah

Gendhotwukir Yang terbuang dari kawananabergerak menjilati sisa atasanatasan adalah kesombongan yang tak ada dilawan yang tertindas oleh keangkuhanterjejal teror sosial, ekonomi bahkan keamananyang terpinggirkan rentan makan lalu apa katamu? “Kehinaan adalah jalanku. Memangku panji Ratu..Hangar-bingar tiada sajak.

Perempuan Menyoja Musim

Perempuan menyoja musim, merayu angin beraroma kuning. O, jangan kau jatuh, air mata membakar, telaga beriak, getir…( September 2005)

Hampir Saja Kau Bunuh Kupu-kupu

Bungarumputliar Kupu-kupu sayap lembut itu melayang diam-diam diantara dedaunan tua kuning layu. Tak ada lagi yang baru, keluhnya. Tak ada lagi yang cukup membuatnya tinggal lebih lama. Ia mengeluh. Bosan, katanya. Kupu-kupu sayap lembut itu terbang kian.

Tengkorak Kematian

orang-orangmenyembahyangi gedung-gedungdi sosok kota yang jorokdi sela-sela isyarat mautadalah ketenangan yang kian sekaratdipecut serbuk sobekan nilai-nilaidi ranting genting yang memicu pilumengerudungi dosa suram berbatu-batuditikam angin yang bekudaun-daun memerah, disepuh musimhari-hari adalah marjinalpenuh segala rasa sialmencabik-cabik kaum kumaldi.

Hujan Yang Tak Sempat Kita Keringkan

Amir Ramdhani hujan yang tak sempat kita keringkantak jadi menggumpal menjadi racundalam rotasi ban waktu yang menggelindingdengan payah melintasi lorong jantungkarena kita adalah hujan di musim genting2005

Dagelan Altar

Dalam sajak aku meremangTolol rasanya mengoceh tetek bengek tentang hidup kita,Sementara sejarah peradapan pesat meninggalkan surgaEvolusi menguak misteri kehidupanUmur insan berkejaran di tengah noda kehidupanSang Pencipta tergolek lunglaiBudi menindas ritus-ritus riang berdawai Lantas, Aku lupa siapa Kau.

Detik Purnama

Gendhotwukir Benarkah Kau mengerti kembalinya bulan jingga ?Di bawah pengertian malam yang suram tiada cakap riaAku berdiri di atas awan yang goyahDi tengah galaksi yang menawan aku gundahTentu saja, aku menjadi ngeri dengan hampaSeorang diri menantang dewa.

Dokter Zhivago

Boris Pasternak(alih bahasa Trisno Sumardjo), disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960) Menjelang pagi Yury bangun pula. Ia telah mimpi lagi tentang sesuatu yang menyenangkan dan tinggallah padanya perasaan gembira yang membebaskan jiwa. Kereta api berhenti lagi; barangkali.

Transitalia

tak ada kereta ke Barcelona hari inipadahal aku ingin teruskan mimpi di sana aku masih di stasiun Milanotadi pagi kuterima kabartak hilang sepi yang mendatangimu beria-riamau kau sukakan dengan anggursudah tak manis lagidan kau bilang semua ruangmu.

Eiffel

kau pernah lihat Paris bergaun malam?di sana dia menyembunyikan keperkasaannyadan memoles tebal-tebal bibirnyasupaya ketika tersenyumsiapa pun dibuatnya terpana aku mengeluh piludari sini kunikmati nafasmuyang tak pernah selesai bercumbu

Eiffel

Laura Paais mana puisi-puisi yang kau tulisdan kau kirim buat perempuan Afrikaberkaki panjang itu? dengan mawar sepuluh tangkaikau bilang itu cukup dengan puisi dua baitkau bilang dia gemetar dengan satu tatap matakau bilang dia terlena Eiffel…Eiffelaku termangu.

Kutelisik Cerita Seonggok Batu

Dewa GumayKutelisik ceritamu dari balik mataMata tajam seorang pemburuAku melarut-kan pikiran dalam ceritamuTentang sesuatu yang tak kutahudan besok pasti begitu Tetapi telisikku membentur jidadJidad keras kepala batu-Mudan besok, kau onggokan batu didepankuAku paham inilah cermin diri-MuSe-onggok batu.***Rumah.

Salju

D. Hasanudinseperti buku tamu di depan matamudi sini ditemukan kembaliberapa pedestrian berlalu-lalangyang di lain musim hilang tak berjejak.selengkapnya

Stasiun Kota

keringatkeringat berkembangbiakdi sekitar berisik kereta,pagar bangunan tua,rongsokan baja.mobilmobil terus saja berlari di lintasan kakitak percaya pada perhitungan nanti.selalu berdesakselalu, kota oleng oleh ombak masih ada yang tak pernah punah: jalanankerap terperangkap pengap asap menguapbeberapa kali menusuk jantung,.

Pemabuk Di Bangku Bar

ada denyar terdengar samardi sela-sela musik yang hingarbingardan kau tersadar bagai hampir tersambar petiryang mana cangkir-cangkir birtak mungkin mangkir; seseorang memanggilmu layang-layang olengseseorang memanggilmu layang-layang oleng2005

Bagaimana Harus Kulukis Sungai

Amir Ramdhani bagaimana harus kulukis sungaisedang hilang sungai ke inti lautlalu direguk oleh lidah mentaridan dimuntahkannya kembalimelalui awan awan karatke tanah tanah tajam menyengat arus berlari deras tak terbayangseperti mengejar hari esok yang terkurung kabutseperti pasir yang.

Sajak Selepas Tragedi Legian Bali

Di Kuta Bali yang tak lagi sunyi,ada gadis menyusur pesisir seorang diri,hendak menelan tragedi Legian di mimpi,tepat di dahinya yang tak berjejak hari. Ditatapnya hari-hari yang enggan diakrabi dan dikencani,setelah ratusan duri tak dapat dipercaki,juga setelah tapak.

Hujan Tiba

Hari ini mendung, pekat hendak meruntuhSegra saja aku ingin pulang kantor,menunggui bayiku,menggendongnya, kalau tiba-tiba saja hujan lebat jatuh. Seperti angin yang telah basah aku mengenalimu,dirimu akan segera tumpah-meruah. Sejak petaka tahun lalu di musim yang selalu bergantiDirimu.

Sajak Kesepian

Gendhotwukir Tak ada azan magrib sepulang main bolaSambil menenteng degan atau tebu denganLusuh baju di sekujurnya. Atau juga azan subuhKetika hendak bergegas mandi setelah mimpi basah,siap berangkat sekolah. Tak ada kokok ayam di fajar yang menyadarkan,bahwa semua.

Ilusivaganza

: Cahya Wulandari Seperti petani menikahi bumi dengan hati penuhhujan begitu ampuhTak bisa kutafsirkan dingin di beranda selain guano bagi melankoliyang dibajak waktu, janji dan janjiSebab tak hanya puisi atau Mata Indah Bola Ping Pong Iwan Fals yang.

Perempuan Berwajah Senja

dan mentari pun sembunyi di balik jubahnyasaat kau berjalan menuju singgasanaribuan peri kecil ikuti langkahmudengan tangan menari, mencumbu sang waktuo, perempuan berwajah senjahadirlah slalu dalam mimpi-mimpi dewa cintaberi kami secawan anggur asmaramabukkan jiwa kami dalam pesonamu yang.

Gerimis

ini kali tak ada yang sempatsemuanya sibuk merapatpada detik pertama yang hampir lewatgerimis jatuh sangat cepat sudut jalan terasa basahtak ada lagi yang pejalan kaki yang singgahburung gereja hanya bernyanyi di atap rumahdan aku sembunyi di balik.

Tak Ada Puisi Hari Ini

Novy Noorhayati Syahfida tak ada puisi hari iniketika kata-kata rindu tlah mati terkunciketika kalimat-kalimat cinta tlah usang dan basiketika bait-bait pujian tlah habis terkikistak ada, tak ada lagi yang dapat kutulismaka ijinkan aku ‘tuk jadikanmu puisidi hari.

Kelahiran Bulan

Dewi kegelapan mengandung tanpa persetubuhan. Di bulan ke-7 terhuyung-huyung memegang buncit di perutnya. Limbung di perjalanan bentang 7-9 bulan. Peluh di dahinya mengucur, membasahi malam panjang di paro sepi. Rintik air peluh jatuh menjadi hujan malam, menggenang.

Tragedi Pembunuhan Kenangan

Gendhotwukir Sejak aku membunuh kenangan, ada yang mengatakan aku akan membunuh kehidupan. Tidaklah demikian. Hidup tanpa kenangan berarti berenang-renang di lautan waktu obyektif. Dengan kekar tangan-tangan memegang rembulan dan matahari. Tiada malam tiada siang, karena telah kuhancurkan.

Sinesatron

Orang-orang di muncul di dalam tombol nomor remote control. Tiba-tiba kaya, tiba-tiba melarat dan kena cacar. Aku mengunyah suara calon biniku di ponsel. Garing seperti kerupuk kemplang ikan belida. Kadang gigiku tak kuat jadi kukulum saja. Istriku.

Dyah Nyiur, Anak Perempuan Kami

Syam Asinar Radjam Dyah Nyiur, anak perempuan pertama kami yang belum dibuat. Kemaluanku juga belum kugesekkan pada mesin auto-debet. Jangan cuma jadi perempuan. Matahari mulai sukar membentuk bayang-bayang. Jemuran basah diam saja. Angin hanya tertiup bersama genangan.

Dokter Zhivago

Boris Pasternak(alih bahasa Trisno Sumardjo), disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960) Waktu mereka tinggalkan Rusia Tengah dan pergi ke Timur, mulailah peristiwa-peristiwa yang jarang tersua. Orang lewat wilayah bergolak, daerah-daerah tempat gerombolan bersenjata sedang berkuasa, lewat dusun-dusun.

Putik Salju

Lukisan itu belum lagi selesaiCat airnya pun belum mengeringDi atas meja kerjaku masih terbaringSetumpuk lainnya yang terbengkalai Kuangkat mataku mencuri pandangMenembus jendela berkaca beningMusim dingin di hari yang heningSekuntum senyum menerawang Si putik salju telah menyeruakMenepuk pundak.

Musim dan Kamu

Mia Singgih Ketika bunga-bunga mulai bersemiKelopak demi kelopak merekah menghirup napas surgaBurung dan kupu berkejaran menyambut sang suryaLalu kamu berkataSeandainya saat itu waktu bersahabat dengan kitaMungkin degup di dada menyatu tak hanya sementara Ketika alam dibasuh terik.

Terimakasih

aku pasrah pada matahariyang telah renggut indah mimpi-mimpidiam-diam kudekap bayang sendirisambil kukecup lekat kelopak melati duh Gusti,terimakasih aku belum mati28022005

Luka

jalanan masih datar dan kakuketika kutemui peluhmu luruh malam ituentah duka atau suka yang kau suguhkanaku tak banyak tahukau beriba sendiri pada lukaluka yang kau rasa sejak aku adakau peluk aku penuh rindupulang berjuang demi aku, katamubunda,.

Sajak Sepi

ku kurung jiwa dalam sepijauh di sudut hatiku jejal mulut dengan gumamsebuah namaentah dengan kauku kurung jiwa dalam dukalena ku di surga senjaentah dengan kau ku hantar jiwa menepi di bibir pantaimutapientah dengan kau22032005

Remuk

Ken Fitria Indrawardani ini yang kumilikisisa-sisa rindu yang tertinggaldan masih sempat kuselipkandi bidang dadamu malam itu24032005

Vught

: kamp konsentrasi keterasingan menghampirikutanpa siapa-siapahanya papan peringatansungai dingin yang angkuhdan bunyi udara mendengung aku teruskan berjalanmenelan ludah mencerna kejadiansebetulnya tak perlukarena aku hanya singgahdan tak ingin membawa apa-apa dari sini suara alam berlomba mengisi sanubarisia-sia ditepismasuk.

Salatiga

:hutan kecil asrama susteran aku merasa tidak perlu bertanya kepada Tuhanmengapa ada yang luluh lantakselesai mendadakaku merasa diam-Nya membikinku kelumengerti tidak mengertikeras lembutnya Tuhan sama dahsyatnyamakin ke sinimanusia makin berkilahpadahal tak tahu masaasa pun serapuh rumputaku merasa.

Kintamani

Laura Paais anak malang,kenapa dingin kau timbun begini banyakpadahal selimut yang kutisik belum lagi jadimana bisa aku hangatkan jarimu

Menunggu

Aku menantimu berhentiKuhisap rokok kretekKopi tubruk Pagaralamtumpah di pisin tertinggal di mejakuhapus dengan tissu merah jambuHitam jadinyaTravel masih menungguDirimu rintik datangAku menunggu berangkatSatu batang tersisaSatu gelas air putih rataSatu gelas blimbingKopi tubruk kentalAmpasnya berbekasKubawa pulang di tenggorokanLahat,.

Palu Arit Darimu

Dalam dinding kotak yang mengukir taktik waktuKubelajar menghitung jeruji dengan jari-jarimuhingga penjaga membangunkanku Jarum jam menusuk jantung matahari65 derajat jatuh di celah dinding retak hari-hari menemuiku dengan jenuhperistiwa itu hanya sekali dalam sesaatdarah tergores abadi dalam kepenatantanah.

Penghuni Laut

Jajang R. KawentarAku penghuni laut melahirkan ombakDirimu berayun-ayun di atas perahuDirimu berlayar mengarungi samuderakuTiada kepuasan menghentikanmuDirimu merayu-rayu pada gelombangDirimu memastikanku pada air:Aku adalah air;Air pada matamuAir pada rawa-rawa hatimuAir pada sukacitamuDirimu ada padaku Aku penghunimu:Air hujan keringatmuAir.

Sebuah ruang bernama maya?

Di jambangan benih rindu yang kutanam paksaAkan tumbuh bunga apa?Aku ingin menyiraminya dengan tawaBukan airmata Di ruang kosong di atas sebuah meja kacaDisini cinta tak mengudara!( 8 November 2004)

Plung!

Hanya ketika aku melemparnya ia tempiasMembasahiSejauh ini ia adalah air yang sering lupa beriakDiam Akulah yang mengguncangnya dengan gempaBerusaha mencipta tsunamiAgar ia merengkuhku Penuh!( 24 Januari 2005)

Koper Lama

BuruliDidalamnya kutemukan celanaCelana yang dulu putih dan berendaLalu selembar berwarna jinggaSepertinya surat cinta Koper itu telah berkaratJauh lalu ia milik nenekkuKemudian ibukuAda foto tertutup debu: ayahku (24 Jan 2005)

Orang Yang Pelan-pelan Menyetubuhi Malam

orang yang pelan-pelan menyetubuhi malam,pelan-pelan langkah keongnyaterpelanting ke atas kasur lapukruang-ruang yang tak berwaktumenimpuk dunia dengan segenggam dustasedang, purnama telah penyok menjadi sabit kalian telah mengobrak-abrik kamar otaknyakalian telah mengacak-acak isi lemari otaknyabarangkali kalian akan sampai di.

Skhizoprenia

mau makan lapar makan mau laparorang kaya ada banyak pelit kayauang adalah daun yang rontok ke tanahuang adalah ketombe yang gugur ke jidatlalu tak sengaja kemakan ke mulutmau makan lapar malah makan ketombe butut mengapa suara itu.

Episode Penyair

Amir Ramdhani mengapa penyair bersinar redup? tiba tiba saja semesta jadi hampasegala hampa manusia berubah jadi sepisepi gurau tawanyasepi ocehannyasepi suara hatinya matahari jadi matibulan sekarattapi sebenarnya mati segalanya bermuara pada tapitapiku tapimutapi yang tak pernah bersatudan.

Catatan Malam di Sebuah Beranda

wajah perempuan dalam sampul majalah buram tersapu cahaya lampu minyak tanahbintang dan bulan gemerlap tak berdaya membubuhkan pesona pada senyumnyabibirnya masai setelah melewati berbagai tangan sejak entahtak ada air mata tentu sajakecuali gumam doa seorang dara yang.

Jakarta 2003

Pedjekota ini benar-benar telah menjadi pasar mahabesarkesunyian menampakkan wajahnya dalam senyum menggodatapi matanya bagai biji sagakantuk tertahan di antara derap mimpi yang ingar110203

Duh Gusti! (2)

Duh Gusti!jangan-jangan ayam goreng tepungyang kukubur di perut gendutkudi goreng dengan darah para peternak Duh Gusti!jangan-jangan air minum kemasanyang merawat ginjalkudi sedot dari keringat petani Duh Gusti!jangan-jangan ikan kalenganyang berjejalan di lambungkudi bumbui jantungnya para nelayan Duh.