Dokter Zhivago

Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo), disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960. Yury sedang keliling ke kantor-kantor dimana ia perlu minta ijin dan prioritas untuk kepulangannya ke Moskow pun untuk menemui para sahabat dan kenalannya, guna pamit. Waktu itu komisaris muda yang baru diangkat untuk sektor setempat di medan perang tinggal beberapa hari di Melyuzeyevo […]

MORE
Tentang Penulis Edisi 57

Liston Siregar, editor ceritanet. Ikun Eska, penulis tinggal di Yogya, Rezki S. Wibowo, mahasiswa School of Oriental and African Studies. Bramantyo Prijosusilo, pegiat seni asal Yogya sekarang tinggal di London. Syam Asinar Radjam, menulis novel Smaradina Muda Mangin di Bogor.

MORE
Pertanyan tentang Irak

Liston Siregar Patung dan gambar Saddam Hussein diambrukkan, Tikrit –kota kampung halaman Saddam Hussein jatuh–, tak ada lagi pernyataan pers ala Harmoko dari Menteri Penerangan Irak, dua kapal induk Amerika dipanggil pulang, Amerika sudah mengatur pertemuan pertama mantan kelompok oposisi, dan pertemuan puncak Uni Eropa di Athena membahas persatuan sikap Eropa untuk Irak paska perang. […]

MORE
Manusia dan Perang Irak

Rezki S. Wibowo Di depan kampus saya ada semacam plasa tempat para mahasiswa maupun umum biasa duduk-duduk. Sore itu tidak seperti awal musim semi yang biasa mendung dan muram, London amat terang, hangat dan ceria dengan terik sinar matahari. Dan semua bergegas menuju ke taman-taman terdekat untuk berbagai kegiatan. Saya juga ikut menikmati hari dengan […]

MORE
Dua Departemen Dikawal

Robert Fisk ‘Burung pemakan bangkai’ Irak menjarah dan mengancurkan semua yang boleh dijarah dan dibakar oleh Amerika –dan dua jam perjalanan mobil keliling Baghdad memperlihatkan dengan jelas apa yang ingin dilindungi Amerika. Setelah hari-hari kerusuhan dan penjarahan, ada kartu catatan pendek yang terlihat. Pasukan Amerika menjauh dan membiarkan para perusuh merusak dan membakar Departemen Perencanaan, […]

MORE
Mayat yang Pertama

Ikun Eska Mayat itu ditemukan seorang jurnalis. Ketika perang hari pertama masih berkecamuk. Tanpa uniform. Tanpa secuwil identitas. Kecuali tujuh lubang yang menembus tubuhnya; di jidat, di dua telapak tangan, di kedua belah paha dan di kedua telapak kakinya. Luka itu pun tidak jelas. Mungkin karena peluru. Bisa jadi pecahan mortir. Jurnalis itu menyeretnya sampai […]

MORE
Smaradina Muda Mangin

Syam Asinar Radjam LimaLima belas ribu perak lagi sisa rekening di ATM. Bagaimana Mangin bisa pulang, pergi dari ibu kota negara yang panas ini. Panas suhu, panas konstelasi politik… Mengutang lagi? Mangin teringat Kantata Takwa ;.. menghutang lagi-lagi menghutang,… tahu tahu menipu. Walaupun lagu itu tak disindirkan baginya –lebih tepat untuk pengutang luar negeri yang […]

MORE
ABerkatalah Tjoet Nyak Din

Mestilah kita berteriakKetika bendera tak lagi berkibarLayu…tertunduk, ragu Bulan sabit enggan munculDigantikan kilatan desing peluruYang angkuh berbicara, menutup lubang jiwa Kemana langkah hendak dituju?Ketika hijau daun, birunya lautDigantikan merah darah,Kemana harapan hendak ditanam?Ketika pekik ayam jagoDigantikan oleh pekik kesakitanPerempuan malang korban perkosaan Kabut cerobong asap minyakMenghitamkan bendera dan bulan sabitkuDimana tawa riang si buyung,Dimana gelegar […]

MORE
Anak Perempuanku Belum Pulang

Selma W. Hayati Anak perempuanku belum pulangMasih di perbatasan Menantu tak membawa anak perempuanku pulang:             Memasak bunga pepaya obat malaria,             bersembahyang bersama di Motael,             Mencium pipi dan merengkuhku,             Menghibur dengan kidung tangis cucuku Anak perempuanku,Apakah takut masih mencumbui mesra, laki-lakimu?Ingatkah rumah batako kita di atas aliran Mantane?Ingatkah kau akan bau bunga kopi, jugaLari kuda di tengah ladang jagung di […]

MORE