Isebel

Abednego Afriadi 22.00 WIB : Oooo…oooo…letakkan senjata! Sudah satu jam, tangan kanan Supran menggenggam sebilah belati. Nafasnya berhembus tak teratur. Meski berbatang-batang rokok telah habis dihisapnya. Kedua kakinya masih dirasakannya gemetaran, meski beberapa detik sempat kembali berdiri tenang. Apa yang dinantikan? Hanya sebuah pertikaian. Ia ingin pertikaian itu lekas selesai dengan jawaban siapa yang kalah […]

MORE
Penulis Edisi 162

___________________ Abednego Afriadi, kelahiran Solo, aktif di Teater Teras Universitas Bantara Sukoharjo. Cerpen dan cerita anaknya dimuat di Solopos, Koran Sindo, Jurnal Sastra Pendar, Antologi Cerpen Joglo 2, serta di Majalah Pawon Sastra Solo Presiden Hayat, penikmat seni dan sayur asam. Imron Supriyadi, tamatan Fakultas Usuhuluddin Jurusan Dakwah, IAIN Raden Fatah Palembang dan menjadi jurnalis […]

MORE
Sonya

Abednego Afriadi Sonya, wajahnya biasa saja. Tak ada yang istimewa, jika dilihat sepintas. Namun luar biasa jika aku menatapnya lebih dalam. Bibirnya tipis, namun bagian bawahnya sedikit lebih ukurannya. Warnanya saja kemerah-merahan. Lesung pipitnya terlihat seperti lukisan alam di atas air. Lantas tercipta puisi-puisi yang maha cengeng. Matanya, oh matanya begitu sayu. Bulu matanya meliuk […]

MORE
Tentang Penulis Edisi 136

Imron Supriyadi, jurnalis Indonesia tinggal di Tanjung Enim, Sumatera Selatan. Abednego Afriadi, kelahiran Solo, aktif di Teater Teras Universitas Bantara Sukoharjo. Cerpen dan cerita anaknya dimuat di Solopos, Koran Sindo, Jurnal Sastra Pendar, Antologi Cerpen Joglo 2, serta di Majalah Pawon Sastra Solo.Teguh Satyawan Usis, lahir di Jambi, berprofesi sebagai jurnalis di Trans/7, sudah menulis […]

MORE
Sonya

Abednego Afriadi Sonya, wajahnya biasa saja. Tak ada yang istimewa, jika dilihat sepintas. Namun luar biasa jika aku menatapnya lebih dalam. Bibirnya tipis, namun bagian bawahnya sedikit lebih ukurannya. Warnanya saja kemerah-merahan. Lesung pipitnya terlihat seperti lukisan alam di atas air. Lantas tercipta puisi-puisi yang maha cengeng. Matanya, oh matanya begitu sayu. Bulu matanya meliuk […]

MORE