Awan Mendung Awan Harapan

Elmi Zulkarnain Gumpulan awan mendung pekat mula menitikkan titis-titis hujan. Setelah Suri menyeret langkahnya masuk ke kelas, dia terpaku di tempat duduknya dalam pasak rasa belahan jiwa yang kosong. Ingin sahaja dia merejamkan rasa benci untuk meneruskan hayatnya kepada dunia. “Saya mahu awak-awak semua mengarang sebuah cerita yang bertajuk Ibu. Mudah bukan? Interpretasi cerita terpulang […]

MORE
Penulis Edisi 163

Elmi Zulkarnain, sarjana muda Bahasa dan Kesusasteraan Inggris di Singapura yang hobby menulis puisi, Bambang Saswanda, mahasiswa Fakultas Sastra USU, Medan Imron Supriyadi, tamatan Fakultas Usuhuluddin Jurusan Dakwah, IAIN Raden Fatah Palembang dan menjadi jurnalis Tahun 1995 hingga sekarang. Karya-karyanya dimuat di sejumlah surat kabar. ___________________

MORE
Salam Sastra Buat Pujangga

Elmi Zulkarnain “I feel stupid whenever I speak Malay.” Akhbar itu menukil pernyataan seorang artis muda dari seberang yang bintang selebritinya sepatutnya bersinar. Aku menggerakkan kakiku merentas kulit bumi dari sekolahku yang terletak di kawasan Tanjong Katong menuju pulang ke Marine Drive. Aku seperti dirasuk dengan luahan si artis muda manja itu. Amnesia juga tidak […]

MORE
Tentang Penulis Edisi 134

Elmi Zulkarnain, sarjana muda Bahasa dan Kesusasteraan Inggris di Singapura yang hobby menulis puisi. M. Arpan Rachaman, pegiat Fokus Grup Diskusi Membaca Indonesia dan kerap menulis di media massa, tinggal di Palembang. Dyah Nyiur, guru sekolah di Jakarta

MORE
Puisi dan Manusia

Mengapa aku jadi penyair?Kerana puisi itu gambaran intelek manusiaKerana puisi adalah hasil industri manusiaKerana puisi digubal oleh kemahiran manusia Buat siapa?Buat manusia jugaYang sepatutnya ditegur dengan metafora pedasYang inginkan kebebasan dari hidup terkandas Puisi itu seharusnya indahBukan setakat permainan kekataBukan digunakan untuk memperdayaMengawang di minda melukis nan nyataHingga kini menjadi perantaraan kisah cinta Penyair asli […]

MORE
Ishazara – Wanita Falujjah

Elmi Zulkarnain Bumi diantara tiga corok segitiga Sunni,Tanah yang digempur diragut dari damai dan sunyi.Antara Ar Ramadi dan Tikrit, kota Fallujah berdiri.Seorang wanita menjerit berani,“Mengapa kota sejarahku menjadi tumpangan derita sengsara?Suara tangis anak-anakku yang dibebani cemas yang tiada sementara?Kuping telinga dunia dituli siapa?Mayat rentung suamiku yang tergelimpang di hujung sana,Diteman rakan syuhadah yang menerima padah […]

MORE
Tentang Penulis Edisi 127

Herry Sudiyono, pernah masuk Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial Bandung namun tidak selesai dan menerbitkan buku terjemahan puisi Alejandra Pizarnik. Kini tinggal di Yogyakarta. Elmi Zulkarnain, sarjana muda Bahasa dan Kesusasteraan Inggris di Singapura yang hobby menulis puisi, Tobi Damaris, anak kelahiran Bogor yang mengajar Bahasa Mandarin di salah satu sekolah di Batam.

MORE