{"id":1011,"date":"2013-09-20T16:42:12","date_gmt":"2013-09-20T16:42:12","guid":{"rendered":"http:\/\/ceritanet.com\/?p=1011"},"modified":"2020-06-27T16:45:59","modified_gmt":"2020-06-27T16:45:59","slug":"jembatan-dukuh","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=1011","title":{"rendered":"Jembatan Dukuh"},"content":{"rendered":"\n<p>Lagu duka buat istriku<br><em>Ajip Rosidi (1955) Djakarta Dalam Puisi Indonesia<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Kita berdiri jauh di atas kota, angin lepas menusuk<br>Kita berdiri diam semua rintih disilirkan lembut<br>karena antara kira dan kota yang kita tinggali<br>karena antara rumah dan kita sendiri, tiada lagi hubungan<br>Kita kini berdiri terasing dari segala yang kita cintai<br>Mereka tidak ambil peduli tapi toh sebagian dari hidup dan daging kita sendiri<br>Ingin mendekapkan wajah ke dada kota karena cinta padahal sudah tak ada lagi jabat tangan, semua lepas seperti tangan yang sudah kelu terkulai lemar<br>Kota yang dibangun dan megah berdiri di depan kita tidak punya tempat buat kita, pun kita terusir dari pojok-pojoknya yang paling hina<\/p>\n\n\n\n<p>Malam-malam dingin dan pekat, kita masih berjalan<br>Rumah-rumah besar dan megah kita lewati tegap dan angkuh tapi kita musti terus berjalan menyusuri malam, menyusuri kepekatan untuk sejemput harapan, untuk sejumput kecintaan<\/p>\n\n\n\n<p>Berdiri lama-lama dalam lorong penuh nafas megap-megap berhenti lama-lama di jalan-jalan terang penuh cahaya tapi senyap<br>Bulan yang tergantung lemah kehilangan indah, pucat mega yang melekat di langit, saat-saatpun lewat dan kita musti terus menyusuri malam, mengucur hujan di badan<br>Bukankah kita warga kota yang cinta kepadanya?<\/p>\n\n\n\n<p>Ada daerah penuh rumah-rumah indah dalam malam mandi cahaya<br>Ada daerah bersesakkan gubuk-gubuk, gelap dan melarat dari bocah-bocah yang tersita daerah mainnya, menghitung-hitung jam di jari-jari tangannya, gosong, dan terasing<br>Bukankah merka warga kota yang cinta kepadanya?<\/p>\n\n\n\n<p>Jauh dalam malam di liku-liku lorong samar sinar<br>Jauh dalam malam di rusuk-rusuk tulang kota terbujur tubuh-tubuh tersia, terkapar dalam sepinya bisik adalah bisik buat hati sendiri mengusap kening dengan mesra karena nasib yang sama kutukan dilepaskan, meluncur giling-giling malam disapa keasingan diri sendiri<\/p>\n\n\n\n<p>Akan lelapkah kota tidur malam ini, sedang kita gelandangan, padahal kita warga yang mencintainya? Akan cenderakah tangan yang mengulurkan kasih sedang kita dilewatinya, walau kita warganya setia?<\/p>\n\n\n\n<p>Pandanglah kota di bawah yang megah dan sibuk sekali<br>Pandanglah redup oleh kesia-siaan yang mesra, karena antara kota yang kita tinggali dan rumah kita sendiri<br>Padahal kita warganya yang setia cinta padanya<\/p>\n\n\n\n<p>Tangan yang digenggamkan sudah lepaskan harapan demi harapan<br>Hati yang berdegup sudah lekapkan darahnya ke bibir mati<br>Tanpa satu yang bisa diperdapat, karena kitapun tak percaya pada kekuatan tangan dan degup hati sendiri<br>Jauh dalam malam di liku-liku lorong samar sinar membujur<br>kesepian dan hidup tak ambil perduli<\/p>\n\n\n\n<p>Lorong-lorong yang kita jalani, penuh nafas-nafas megap<br>Jalan-jalan hitam dan bening penuh rumah mandi cahaya adalah tempat tinggal kita, tapi kita terasing daripadanya<br>***<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lagu duka buat istrikuAjip Rosidi (1955) Djakarta Dalam Puisi Indonesia Kita berdiri jauh di atas kota, angin lepas menusukKita berdiri diam semua rintih disilirkan lembutkarena antara kira dan kota yang kita tinggalikarena antara rumah dan kita sendiri, tiada lagi hubunganKita kini berdiri terasing dari segala yang kita cintaiMereka tidak ambil peduli tapi toh sebagian dari [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[122,112],"class_list":["post-1011","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-puisi","tag-122","tag-ajip-rosidi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1011","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1011"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1011\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1014,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1011\/revisions\/1014"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1011"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1011"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1011"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}