{"id":1233,"date":"2012-06-12T19:25:00","date_gmt":"2012-06-12T19:25:00","guid":{"rendered":"http:\/\/ceritanet.com\/?p=1233"},"modified":"2020-06-28T19:33:51","modified_gmt":"2020-06-28T19:33:51","slug":"bersatulah-pelacur-pelacur-kota-jakarta","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=1233","title":{"rendered":"Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta"},"content":{"rendered":"\n<p><em>W.S. Rendra (1967) Djakarta Dalam Puisi Indonesia<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Pelacur-pelacur kota Jakarta<br>dari klas tinggi dan klas rendah<br>telah diganyang<br>telah di haru-biru<br>Mereka kecut<br>keder<br>terhina dan tersipu-sipu<\/p>\n\n\n\n<p>Sesalkan mana yang mesti kau sesalkan<br>Tapi jangan kau klewat putus asa<br>Dan kau relakan dirimu dibikin korban<\/p>\n\n\n\n<p>Wahai, pelacur-pelacur kota Jakarta<br>Sekarang bangkitlah<br>Sanggul kembali rambutmu<br>Karena setelah menyesal<br>datanglah kini giliranmu<br>bukan untuk membela diri melulu<br>tapi untuk lancarkan serangan<br>Kerna:<br>Sesalkan mana yang mesti kau sesalkan<br>tapi jangan kau rela dibikin korban<\/p>\n\n\n\n<p>Sarinah<br>Katakan kepada mereka<br>bagaimana kau dipanggil ke kantor mentri<br>bagaimana ia bicara panjang lebar kepadamu<br>tentang perjuangan nusa bangsa<br>dan tiba-tiba tanpa ujung pangkal<br>ia sebut kau inspirasi revolusi<br>sambil ia buka kutangmu<\/p>\n\n\n\n<p>Dan kau, Dasima<br>Katakan kepada rakyat<br>bagaimana para pemimpin revolusi<br>secara bergiliran memelukmu<br>bicara tentang kemakmuran rakyat dan api revolusi<br>sambil celananya basah<br>dan tubuhnya lemes<br>terkapai di sampingmu<br>ototnya keburu tak berdaya<\/p>\n\n\n\n<p>Politisi dan pegawai tinggi<br>adalah caluk yang rapi<br>Kongres-kongres dan konferensi<br>tak pernah berjalan tanpa kalian<br>Kalian tak pernah bisa bilang &#8216;tidak&#8217;<br>lantara kelaparan yang menakutkan<br>kemiskinan yang mengekang<br>dan telah lama sia-sia cari kerja<br>Ijazah sekolah tanpa guna<br>para kepala jawatan<br>akan membuka kesempatan<br>kalau kau membuka paha<br>Sedang di luar pemerintahan<br>perusahaan-perusahaan macet<br>lapangan kerja tdak ada<\/p>\n\n\n\n<p>Revolusi para pemimpin<br>Adalah revolusi dewa-dewa<br>mereka berjuang untuk surga<br>dan tidak untuk bumi<br>revolusi dewa-dewa<br>tak pernah menghasilkan<br>lebih banyak lapangan kerja<br>bagi rakyatnya<br>Kalian adalah sebagian kaum penganggur<br>yang mereka ciptakan<br>Namun<br>sesalkan mana yang mesti kau sesalkan<br>tapi jangan kau klewat putus asa<br>dan kau rela dibikin korban<br><\/p>\n\n\n\n<p>Pelacur-pelacur kota Jakarta<br>Berhentilah tersipu-sipu<br>Ketika kubaca di koran<br>bagaimana badut-badut mengganyang kalian<br>menuduh kalian sumber bencana negara<br>aku jadi murka<br>Kalian adalah temanku<br>Ini tak bisa dibiarkan<br>Astaga<br>mulut-mulut badut<br>Mulut-mulut yang latah<br>Bahkan sex mereka perpolitikkan<\/p>\n\n\n\n<p>Saudara-saudariku<br>Membubarkan kalian<br>tidak semudah membubarkan partai politik<br>Mereka harus beri kalian kerja<br>Mereka harus pulihkan drajat kalian<br>Mereka harus ikut memikul kesalahan<br>Saudara-saudaraiku. Bersatulah<br>Ambillah galah<br>Kibarkan kutang-kutangmu di ujungnya<br>Araklah keliling kota<br>sebagai panji-panji yang telah mereka nodai<br>Kinilah giliranmu menuntut<br>Katakanlah kepada mereka<br>menganjurkan mengganyang pelacuran<br>tanpa menganjurkan<br>mengawaini para bekas pelacur<br>adalah omong kosong<\/p>\n\n\n\n<p>Pelacur-pelacur kota Jakarta<br>Saudara-saudariku<br>Jangan melulu keder pada lelaki<br>Dengan mudah<br>kalian bisa telanjangi kaum palsu<br>naikkan taripmu dua kali<br>dan mereka akan kelabakan<br>Mogoklah satu bulan<br>dan mereka akan puyeng<br>lalu mereka akan berzina<br>dengan istri saudaranya<br>***<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>W.S. Rendra (1967) Djakarta Dalam Puisi Indonesia Pelacur-pelacur kota Jakartadari klas tinggi dan klas rendahtelah diganyangtelah di haru-biruMereka kecutkederterhina dan tersipu-sipu Sesalkan mana yang mesti kau sesalkanTapi jangan kau klewat putus asaDan kau relakan dirimu dibikin korban Wahai, pelacur-pelacur kota JakartaSekarang bangkitlahSanggul kembali rambutmuKarena setelah menyesaldatanglah kini giliranmubukan untuk membela diri melulutapi untuk lancarkan seranganKerna:Sesalkan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[175,121],"class_list":["post-1233","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-puisi","tag-175","tag-ws-rendra"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1233","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1233"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1233\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1239,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1233\/revisions\/1239"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1233"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1233"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1233"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}