{"id":2123,"date":"2009-02-06T10:46:47","date_gmt":"2009-02-06T10:46:47","guid":{"rendered":"http:\/\/ceritanet.com\/?p=2123"},"modified":"2020-06-30T10:57:24","modified_gmt":"2020-06-30T10:57:24","slug":"untung-ada-bugil","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=2123","title":{"rendered":"Untung Ada Bugil"},"content":{"rendered":"\n<p>Liston P. Siregar<\/p>\n\n\n\n<p>Acara utama mau nonton bareng pelantikan Barack Obama, persisnya mau sok ikut-ikutan \u2018menyaksikan sejarah ditulis\u2019 biarpun cuma dari layar TV sejauh 16.355 kilometer dari Washington; di rumah susun Kebon Kacang, Jakarta Pusat. Tapi hanya sekitar 1,1 kilometer dari SDN 01 Menteng, bekas sekolahnya Obama\u2013yang katanya\u2014 pernah menang lomba makan kerupuk.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cCocoklah tempatmu itu,\u201d kata Alan yang sudah minta cuti dari kantor. \u201cKalo lapar tinggal teriak ke tukang soto mie dari terasmu.\u201d Jam 8 pagi, dia kirim&nbsp; SMS; \u201cgw sdg tgng bgt, klu bini ngasih, gw ngk ikt.\u201d Alan tidak jadi datang, mungkin memang istrinya mau bersetubuh atau dia cuma mendengkur sendirian karena istrinya ngantar anak ke sekolah.<br>&nbsp;<br>Kketika layar CNN &nbsp;mulai menampilkan ribuan orang antri di stasiun kereta api Washington, hanya ada Abubakar dan James di depan Sony Bravia 42 inci, yang mulai kuangsur awal Desember untuk nonton pesta kembang api tahun baru di Sydney, London, dan New York. Tiga lain gagal datang; Alan \u2013entah karena bersetubuh sama istri atau mendengkur&#8211;&nbsp; Suparno \u2013 yang mengaku cutinya mendadak dibatalkan bos&#8211; dan Ahmad \u2013\u201csorry bro, macet berat di sini, ogut balik ke rumah lagilah.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Perasaanku tak enak, tapi kutenang-tenangkan. Sambil membawa 3 mangkuk coklat panas ke ruang tamu aku hidupkan suasana; \u201cMantab punya, orang Indonesia nonton sejarah Amerika pakai teknologi Jepang.\u201d Abubakar mengibaskan kecil kepalan tangannya, James memukul pelan meja dengan punggung tangan. Semangat tinggi, pikirku, yang membuat jadi semakin cemas.<\/p>\n\n\n\n<p>Abubakar dan James sudah beberapa kali ketemu, di rumah susunku. Bahkan istri keduanya juga pernah bertemu, juga di rumah susunku. Karena masih bujang, aku lebih fleksibel mengundang kawan-kawan ngumpul sekaligus pula mereka bisa jadi korban eksperimen masakanku. \u201cPantas elo single terus. Hidupmu sudah terlalu enak,\u201d kata Abubakar sekali waktu. Hidup bujang memang sudah masuk menyerap ke hati dan akalku. Aku tak bisa membayangkan ada orang lain yang lalu lalang di teritori pribadiku selama sehari sekalipun.<\/p>\n\n\n\n<p>Tapi aku akan amat tersiksa kalau nonton sendirian, entah itu final Liga Champion, film Che Guevara, main PS3 Gears of Wars, atau pesta kembang api tahun baru Sydney. Lempar komentar sana sini &#8211;dan sekaligus mendengar komentar sana sini dari orang lain\u2014mutlak kubutuhkan. Untuk menikmati ketegangan secara optimal, maka aku harus mengelolanya dengan menyalurkan sedikit demi sedikit lewat celutukan sana sini.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMasak satu tim tergantung Gerard, ya nggak mungkin,\u201d waktu nonton Liverpool kalah dari Manchester United di Champions. \u201cKalau Guevara masih hidup, kira-kira mendukung Osama nggak?\u201d atau \u201clu lindungi dari belakang, biar gua terobos pos musuh yang ujung kiri sana noh,\u201d maupun \u201cgile, katanya krisis keuangan tapi kembang api besar-besaran 15 menit habis berape.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Itu mutlak. Atau kumatikan TV dan tidur. Besok tinggal baca koran dan internet; tanpa tekanan dan ketegangan. Sekedar informasi kering bisa langsung masuk dengan lancar ke otakku sebelah kiri.&nbsp;<br>***<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cApa kira-kira yang dipikirkan kedua anak Obama ya?\u201d Abubakar memulai.<br>\u201cMungkin janji bokapnya boleh melihara anjing. Yang pasti mereka ikut kursus senyum bersahabat dan beradab 2 minggu penuh,\u201d balasku.<br>\u201cKalo istrinya 2 minggu membahas pakaian,\u201d tambah James.<\/p>\n\n\n\n<p>Di layar TV tampak Presiden Bush melambaikan tangan, masuk ke helikopter yang akan membawanya pensiun ke kampungnya di Texas. Senyap.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku duduk di tengah, Abubakar di sebelah kanan melonjorkan kaki, dan James di kiri dengan satu kaki bersila di sofa. Keduanya sudah duduk nikmat, jadi tak enak meminta James bergeser ke tengah supaya aku lebih leluasa bolak balik ke dapur.<\/p>\n\n\n\n<p>Kamera bergerak ke ratusan ribu massa.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMantab\u2026nggak perlu minta cuti untuk nonton sejarah,\u201d kuhidupkan lagi suasana.<br>\u201cKalau bos marah, laporin ke polisi. Ya nggak,\u201d kata Abubakar. \u201cGile, muka bos gua langsung kebayang.\u201d<br>\u201cInikan sejarah dunia cing, bukan cuma Amerika,\u201d James nyelutuk.<\/p>\n\n\n\n<p>Suasana sudah cair. Aku lega, senang, dan agak lupa daratan.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cYoi, pelantikannya saja bisa menghentikan serangan Israel ke Gaza.\u201d &nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Tiba-tiba aku mendengar jelas debar jantungku. Kesalahan besar telah kulakukan.<\/p>\n\n\n\n<p>Terdengar suara kaki Abubakar ditarik; posisi duduknya kini bersandar tegak. Di kiriku terdengar gerakan James menurunkan kaki kanan; dia bersandar agak ke kiri ke arah lengan sofa, sedikit menghadap ke aku dan Abubakar. Aku membatu, darahku membeku. Kutarik nafas pelan, tapi tak berhasil memancing komentar yang mencairkan, yang sekaligus akan membantuku mengendalikan atmosfir ketegangan di atas sofa biru di ruang tamuku. Kutatap layar TV tapi nanar; hanya titik-titik pasir.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKeterlaluan\u2026 orang Palestina dibantai dan seluruh dunia diam,\u201d kata Abubakar sambil tangan kanannya menggaruk-garuk kepala.<br>\u201cTimur Tengah itu rumit, dan dunia belum ketemu perspektif yang tepat,\u201d kata James mencoba meredakan. Aku lega; di layar TV terlihat lagi marinir Amerika berbaris rapi dan gagah.<\/p>\n\n\n\n<p>Tapi Abubakar sudah duduk tegak.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cPerspektif apa lagi. 1.300 orang Palestina di Gaza dibantai terang-terangan sama Isreael. Ngerti masalahnya nggak? Kalau nggak ngerti, ya nggak apa-apa., tapi diam\u2026 jangan ngaco.\u201d<br>\u201cBukan ngaco, tapi gimana dengan hak membela diri Israel?\u201d<br>\u201cMembela diri apaan. Membunuh 1.300 orang, sebagian besar anak-anak dan perempuan\u2026. Membela diri??? Salah besar. Itu namanya pembantaian,\u201d Abubakar mengangkat telunjuk menuding-nuding Sony Bravia. Di layar TV tampak seorang ibu kulit hitam. Entah apa yang dikatakannya tak bisa kudengar. Suara Abubakar dan James berlintasan seperti desing peluru di telingaku.<br>&nbsp;&nbsp;<br>\u201cSiapa yang duluan menyerang? Dua hari setelah Natal, roket Palestina terbang ke Israel. Hamas yang tidak mau memperpanjang gencatan senjata.\u201d<br>\u201cGini. Anak singkong di belakang kompleksmu melempar batu ke rumahmu. Kaca jendela pecah, atau taruhlah kepalamu bocor, kena 2 jahitan. Tapi apa besoknya kau bawa senapan mesin M16 untuk menembaki seluruh kampung sampai semua anak kecil di sana mati supaya tak ada lagi lemparan batu. Begitu\u2026,\u201d Abubakar menggeser arah badannya setengah menghadap aku dan James.<br>\u201cOh. jadi menurutmu orang Palestina baru satu kali menembak roket ke Israel?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Aku masih berjuang mencari jalan untuk mengkoreksi kesalahan terbesarku. Palestina adalah satu-satunya hal yang tak bisa kukomentari. Terlalu rumit dan terlalu banyak pihak luar yang ikut campur, juga terlalu banyak darah dan emosi yang terlibat. Aku berani berkomentar apapun \u2013Liga Utama Inggris, Liga PSSI, dangdut, jazz, mode pakaian, jihad, sepeda gunung, motor gede, Uni Eropa, program nuklir Iran, credit crunch atau apa saja \u2014 terlepas dari ngawur tidaknya. Berkomentar sudah menjadi mekanisme otak dan tubuhku untuk bisa bertahan hidup, tapi tidak tentang Palestina dan Israel. Tidak.<\/p>\n\n\n\n<p>Dan aku tak bisa langsung keluar dari perdebatan &#8211;seperti yang kulakukan selama ini\u2014 karena Abubakar dan James duduk di sebelah kiri dan kanan di sofa rumahku atas undanganku.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKembali ke soal perspektif tadi. Lu kurung orang pakai tembok setinggi &nbsp;2 meter sampai makanan, minuman, dan obat-obatan tak bisa masuk. Terus lu harapkan orang di dalam kurungan tembok itu diam saja, manggut-manggut. Emangnya orang Palestina burung beo? Mereka itu manusia, sama seperti kita-kita ini, sama persis!\u201d teriak Abubakar sambil menunjuk hidungnya.<br>\u201cTerus tembok itu dibangun untuk apa?\u201d James menyorongkan mukanya ke arah Abubakar sampai dengus nafasnya terasa menghembus pipi kiriku.<br>\u201cKarena Israel bangsat, barbar, pembunuh. Dan selalu berhasil lolos dari hukuman,\u201d tangan kanan Abubakar yang dikepal mengayun-ayun di udara.<\/p>\n\n\n\n<p>Kupegang kepalaku dengan kedua tangan. Kutarik semua energiku. \u201cBegini kawan-kawan. Untuk menyelesaikan masalah Palestina, diperlukan orang yang pertama-tama harus berpihak pada perdamaian, tapi juga berpihak pada Palestina dan sekaligus berpihak pada Israel,\u201d kuselesaikan kalimatku perlahan-lahan.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAh wartawan bijak,\u201d Abubakar melambaikan tangan kanannya seolah-olah memperkenalkan aku kepada ratusan ribu orang di layar TV. \u201cPeliputan yang dicanangkan sebagai seimbang dan adil itulah yang telah membiarkan pembantaian manusia tak berdosa berlangsung terang-terangan.\u201d<br>\u201cMedia yang terlalu berpihak pada selera murahan yang membuat jadi makin rumit. Demi dramatisasi dan sensasi. Gambar-gambar penguburan dengan ribuan penduka, gedung yang ambruk di Gaza, pesawat tempur Israel, tank-tank Israel. Seolah-olah di Israel tak ada orang yang mati, tak ada rumah yang rusak. Sensasi memang laris,\u201d sambung James.<br>\u201cLu gila kali ya. Tiga belas orang mati lu persoalkan, yang 10-nya cuma &nbsp;tentara lagi. Kau harus lihat dengan perspektif kemanusian; 1.300 mati dibantai, puluhan ribu rumah hancur. Nah ini dia yang diperlukan; perspektif kemanusiaan, yang tadi kau cari-cari itu. Cuma justru itulah yang tidak ada,\u201d Dan Abubakar setengah berteriak dan mengeja; \u201cT i d a k a d a.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Aku menyerah. Bobot kepala dan dada kujatuhkan seluruhnya ke perut, menunduk tak berdaya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKompleksitas Timur Tengah nggak bisa dibuat jadi satu potong doang. Hamas tidak mengakui Israel dan berjuang dengan kekerasan. Artinya Hamas yang memulai kekerasan. Untung mereka tidak punya senjata nuklir. Kalau punya, bukan cuma Israel yang mereka musnahkan\u2026 seluruh dunia bos.\u201d<br>\u201cKalau ada orang yang masuk ke rumahmu dan tak mau keluar, terus kau diam saja duduk-duduk sambil merokok di luar. Kalau orang idiot ya begitu\u2026 Negara Israel itu berdiri di atas tanah Palestina!!!!\u201d Abubakar memekik sampai aku yakin terdengar tetangga.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cJadi Israel sebagai negara mau diabaikan??? Negara itu nyata, dengan kekuatan ekonomi, militer, dan sistem politik sama sosial yang jalan beneran. Itu kenyataan. Mau dimusnahkan? Suruhlah Hamas beli senjata nuklir dari Iran\u2026 lha memang cuma kekerasan yang mereka bisa.\u201d<br>\u201cNggak ngerti gua jalan pikiranmu. Asli, nggak ngerti\u2026 Nggak ngerti. Apakah persoalan politik antara Hamas dan pemerintah Israel bisa menjadi alasan dari pembantaian 1.300 orang yang nggak tahu apa-apa tentang politik. Lu punya hati nggak.\u201d<br>\u201cBung, hati gua teriris setiap melihat foto-foto dari Gaza\u2026kebayang anak dan istri. Tapi sekarang ini yang penting adalah bagaimana supaya tragedi itu tidak terulang\u2026\u201d<br>\u201cSeret Ehud Olmert dan antek-anteknya ke pengadilan internasional Den Hag dan hukum seberat-beratnya,\u201d Abubakar menyela dengan pekik terkerasnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Sekarang, tukang soto mie di bawah pasti juga bisa mendengar. Matilah aku, apa kata orang; keributan di rumahku telah menggoncang ketenangan rutin tengah hari di Kebon Kacang. Tinggal menunggu siapa yang lebih dulu tergerak untuk mengetok pintu. Rina di sebelah kanan &#8211;kalau dia juga pas minta cuti\u2014 &nbsp;atau istri Rahmat di sebelah \u2013kalau sedang tidak jemput anak dari sekolah\u2014 mungkin tukang soto mie di bawah atau Mang Ajap di atas, yang pasti sedang nonton TV juga. Bisa jadi Pak RT sudah mendapat laporan. \u2018Eureka,\u2019 badanku mendadak tegak kembali.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cTerus setelah Ehud Olmert ditembak mati, urusan selesai?\u201d<br>\u201cPemerintah Israel berikutnya pasti mikir 20 kali untuk membantai orang Palestina. Sekarang ini tak ada tekanan internasional dan Israel bebas membantai orang tak berdaya. Bukan Sekjen PBB yang cuma ngomong doing, tapi yang bertindak membela kemanusiaan. Itu yang dibutuhkan, Tangan kita semua sudah berdarah membiarkan orang Palestina dibantai\u2026 Jelas???\u201d<br>\u201cOke, terus setelah itu apa\u2026 Satu-satunya jalan keluar adalah Hamas mengakui Israel; ada dua Negara yaitu Israel dan Palestina yang berdampingan dengan damai. Itulah yang diusulkan bertahun-tahun tapi dimanakah Hamas berada\u2026\u201d balas James dengan suara yang lebih pelan, mungkin merasa memenangkan perdebatan.<br>\u201cTapi Hamas menang pemilu dan suaranya adalah suara mayoritas rakyat Palestina. Hormati demokrasi bung, kan itu yang didengung-dengungkan Negara Barat yang selalu pakai standard ganda,\u201d Abubakar kembali menggelegar tak mau kalah.<\/p>\n\n\n\n<p>Kutarik nafasku. \u201cSudahlah, memang semuanya bangsat dan anjing. Kalau sudah politik tak akan kemana-mana,\u201d teriakku sambil menggebrak meja. Ketiga mangkuk coklat panas dan piring berisi kacang bergetar kecil. Abubakar dan James kaget; keduanya melongo.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMau Ehud Olmert, mau Ismail Haniyeh, Mahmoud Abbas, Bush, Obama, SBY, semuanya penipu. Tukang tipu rakyat, harus diadili. Bangsat, kurang ajar, anjing kurap, setan alas!\u201d genggaman tangan kupukulkan ke udara kosong. \u201cKita semua harus kembali ke khitah John Lennon; <em>imagine there is no country<\/em>,\u201d kuhentakkan kaki ke lantai sambil membayangkan Mbok Sarinah di tingkat bawah sedang tidur dan tersentak bangun. \u2018Kok belum ada juga yang mengetok pintu,\u2019 aku mulai cemas.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cItu masalah utamanya; pemerintah dan kekuasaan. Anjing pemerintah, anjing negara, ganyang senjata, hidup kemanusiaan,\u201d teriakku sambil menggebrak meja dan menghentak kaki bersamaan, dengan harapan satpam di Plaza Indonesia bisa ikut mendengar.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cTok\u2026tok\u2026 tok\u2026.\u201d Aku langsung bangkit melompati kaki Abubakar dan membuka pintu; ada Rina, di sampingnya berdiri istri Rahmat dengan anaknya yang masih pakai seragam sekolah putih merah di belakang, juga ada Mang Ajap dan Mbok Sarinah.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMaaf&nbsp; Mas, kami bukan mau mengganggu, tapi mungkin perlu bantuan,\u201d tanya istri Rahmat halus. Aku intip pakai ekor mataku Rina dan Mang Ajap melotot ke dalam rumah, menyelidik.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMaaf, maaf\u2026 saya jadi bikin repot. Nggak apa-apa Mbak, cuma asyik berdebat. Itu teman saya Abubakar dan James,\u201d kataku dengan senyum direnyah-renyahkan sambil menunjuk ke arah Abubakar dan James. Keduanya tersenyum membalas &#8211;senyum beradab kayak kedua anak Obama di TV.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cYa sudah, kalau perlu apa-apa, kasih tahu kami Mas,\u201d kata istri Rahmat sambil berbalik diikuti yang lain. Rina dan Mang Ajap masih melempar sorotan tajam penasaran ke dalam. \u201cBeneran lu Ok,\u201d bisik Rina sebelum benar-benar pergi. &nbsp;\u201cOk berat \u2018Rin, makasih ya,\u201d dan kututup pintu.<\/p>\n\n\n\n<p>Layar TV sudah berganti dengan sinetron Bugil, Bule Gile &#8211;acara TV yang paling menjijikkan di seluruh alam semesta. Kukeraskan suaranya; \u201cnah pas banget acaranya; Bule Gile,\u201d celutukku mencoba menguasai kembali keadaan.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Aku mau melangkah kembali ke tengah sofa dan Abubakar berdiri; \u201dGua cabut.\u201d<br>Basa-basi aku tanya; \u201cnggak nonton Bule Gile dulu.\u201d<br>\u201cUdah cukup ketemu orang gila hari ini.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Giliranku melongo. Untunglah tak ada suara James terdengar dari belakangku. Abubakar pergi, kututup pintu, dan basa-basi ke James; \u201clu makan siang di sini ya bro.\u201d<br>\u201cNggaklah, nunggu bentar biar nggak ketemu orang sinting di tempat parkir.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Aku duduk di sofa, kira-kira diantara Abubakar dan aku duduk tadi. Pantat bagian sebelah kanan terasa hangat sedikit, sisa-sisa peninggalan Abubakar. Kukeraskan suara TV. Untuk pertama kalinya &#8211;dan sekali-kalinya\u2014 &nbsp;aku tersenyum riang nonton Bugil.<br>***<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Liston P. Siregar Acara utama mau nonton bareng pelantikan Barack Obama, persisnya mau sok ikut-ikutan \u2018menyaksikan sejarah ditulis\u2019 biarpun cuma dari layar TV sejauh 16.355 kilometer dari Washington; di rumah susun Kebon Kacang, Jakarta Pusat. Tapi hanya sekitar 1,1 kilometer dari SDN 01 Menteng, bekas sekolahnya Obama\u2013yang katanya\u2014 pernah menang lomba makan kerupuk. \u201cCocoklah tempatmu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[457,15],"class_list":["post-2123","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-cerpen","tag-457","tag-liston-siregar"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2123","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2123"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2123\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2127,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2123\/revisions\/2127"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2123"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2123"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2123"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}