{"id":2176,"date":"2008-12-04T16:06:49","date_gmt":"2008-12-04T16:06:49","guid":{"rendered":"http:\/\/ceritanet.com\/?p=2176"},"modified":"2020-06-30T16:17:44","modified_gmt":"2020-06-30T16:17:44","slug":"terimakasih-ke-mama","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=2176","title":{"rendered":"Terimakasih ke Mama"},"content":{"rendered":"\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p>Terimakasih ke Mama<br>Juliana Wen<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p><em><strong>2008<\/strong><\/em><br>Srett&#8230; Bam!<\/p>\n\n\n\n<p>Mobil suamiku tabrakan dengan truk besar di simpang jalan.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Akkhhhh!,&#8221; jeritku dan tersentak dari mimpi buruk dengan sekujur tubuh berkeringat.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAda apa, Ma?\u201d tanya Happy, putriku yang berusia 8 tahun. Dia tertidur tepat di sampingku.<br>\u201c Tidak apa-apa, sayang,\u201d kataku lembut menenangkannya dan dia tidur kembali, juga aku.<\/p>\n\n\n\n<p>Namaku Rene, perempuan miskin yang berpacaran dengan putra tunggal keluarga konglomerat. Dialah suamiku; Rinaldy.<\/p>\n\n\n\n<p>Pagi tiba dan kringgg&#8230;<\/p>\n\n\n\n<p>Aku sedang masak di dapur menyiapkan bekal untuk Happy. Segera kuangkat telepon; &#8220;Halo.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>Ternyata telepon dari kantor polisi. &#8220;Ya. Rinaldy suami saya.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>Aku terdiam dan terperangah. Otakku kosong, mataku nanar tak bisa melihat yang ada di depanku. Telepon itu memberitahu suamiku meninggal dalam kecelakaan. Mimpiku menjadi kenyataan.<\/p>\n\n\n\n<p>Kutarik Happy menemui keluarga suamiku.<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p>\u201cKumohon, ijinkan aku mengantar kepergian suamiku untuk terakhir kalinya\u2026\u201d pintaku sambil menangis terisak-isak memohon pengertian ibunya Rinaldy.<br>\u201cKamu pikir kamu itu siapa?\u201d kata mertuaku sinis lalu menghempaskan genggaman tanganku dan berjalan menjauh. &#8220;Gara-gara dia menikahimu, hidupnya jadi berantakan dan sekarang semuanya hancur. Ini tidak akan terjadi kalau dia tidak bertemu denganmu.\u201d<br>\u201cMa\u2026\u201d panggil Happy dan berjalan ke arahku, memelukku.<br>\u201cTapi bu, ini anak Rinaldy dan dia juga ingin bertemu dengan papanya,&#8221; mohonku masih dengan berlinang air mata.<br>\u201cBawa pergi anak haram itu dan jangan pernah menginjakkan kaki ke rumah ini lagi,\u201d hardik Monica, kakak Rinaldy dari belakng. .<br>\u201cAku bukan anak haram!\u201d teriak Happy. Aku kaget dan bangga. Anak sekecil itu sudah memberontak pada penghinaan besar. Kupeluk Happy erat sekali, kucium ujung kepalanya dan kukirimkan seluruh sisa cintaku.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p>Aku hanya anak perempuan miskin, dan Happy anaknya anak perempuan miskin. Kami diusir dengan kasar dan tidak berhasil mengantar kepergian Rinaldy untuk terakhir kalinya.<\/p>\n\n\n\n<p>Sampai di rumah, aku duduk di kursi dengan mata membengkak. Happy menatapku dengan wajah cemas.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMa, jangan ke rumah nenek lagi ya, mereka semuanya orang jahat,\u201d pintanya.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku sangat sedih dan memeluk buah hatiku itu sambil menangis lebih terisak. Sungguh sangat merasa bersalah tidak bisa melakukan sesuatu untuk Happy.<br>***<\/p>\n\n\n\n<p>Hari-hariku berjalan dengan kesepian tanpa suami.<\/p>\n\n\n\n<p>Suatu hari yang panas aku menjemput Happy dari sekolah seperti biasa. Dari kejauhan aku lihat dia sedang berkelahi dengan teman-temannya. Kutahan bara marahku dalam perjalanan pulang.<\/p>\n\n\n\n<p>Plak! Aku memukul bokong Happy dengan rotan panjang begitu sampai rumah.<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p>\u201cAh!\u201d jerit Happy kesakitan. Sebenarnya aku juga sedih dan sakit tapi Happy tak boleh berkelahi dan aku memukulnya lagi.<br>\u201cKenapa berkelahi? Memangnya Mama suruh kamu berkelahi?\u201d<br>\u201cAmpun, Ma\u201d pinta Happy sambil menangis dengan keras.<br>\u201cSia-sia Mama menyekolahkanmu, kamu pikir untuk apa, Untuk berkelahi, hah?\u201d kulepas marahku sambil meneteskan air mata dan tanganku seperti tak terkendali lagi terus memukulnya.<br>\u201cMereka bilang aku anak janda.\u201d teriak Happy sambil terus menangis.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p>Kuhentikan pukulanku, dan kutarik dia, kupeluk sekuat mungkin tak mau melepaskannya.<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p>\u201cAku mau ikut pentas drama hari ibu, tapi mereka bilang aku tidak boleh. Aku anak janda, jadi tidak boleh ikut,\u201d suaranya terhambat pelukanku. Air mataku menetes ke kepalanya.<br>\u201cMemang apa bagusnya ikut drama? Hah? Coba bilang!\u201d teriakku marah dan membanting rotan panjang ke lantai.<br>\u201cKarena Happy tidak punya uang beli kado untuk mama, jadi mau ikut drama&#8230; hadiah hari ibu untuk mama,\u201d kata Happy sambil terisak-isak.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p>Aku menjadi tambah sedih dan tangisku makin keras.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMa, janji akan jadi anak baik. Aku&#8230;aku&#8230; tidak akan berkelahi lagi. Jangan pukul lagi ya Ma. Sa..sakittt,\u201d pintanya.<\/p>\n\n\n\n<p>Kulonggarkan pelukanku dan kulihat pantat dan kaki bagian atas Happy memerah. Cepat-cepat kupeluk lagi dia, kuat, kuat sekali. Aku tak mau melepaskan pelukanku, aku tak mau kehilangan Happy. Tinggal dia yang kupunya.<br>***<\/p>\n\n\n\n<p>Hari ibu tiba dan Happy boleh juga ikut drama. Segala sesuatu berjalan dengan baik. Aku ingin segera menyelesaikan pekerjaan rumah dan melihat drama itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Kringg!! Kutatap dingin telepon itu. Entah kenapa perasaan itu muncul lagi, perasaan ketika mendengar kabar tentang Rinaldy. &#8220;Halo.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>Perasaanku benar; dari klinik tempat aku <em>pap smear<\/em> 3 hari lalu; aku diserang kanker rahim dan sudah stadium akhir. Aku pergi ke klinik bertemu dengan dokter, bukan menonton drama Happy. Dokter memvonis hidupku tinggal 3 bulan lagi.<\/p>\n\n\n\n<p>Otakku kembali kosong, mataku kembali nanar tak bisa melihat yang ada di depanku. Hanya wajah Happy yang memenuhi semua horison pandangan. Happy, Happy, dan Happy. Bagaimana dengan Happy? Siapa yang menjaga Happy? Bagaimana dengan Happy selanjutnya? Aku langsung ke rumah mertuaku, melanggar janji bersama Happy bertemu dengan Monica, kakak Rinaldy.<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p>\u201cBagaimanapun Happy darah daging Rinaldy, keponakan kandungmu. Kalian hanya membenciku jadi tidak masalah kalau Happy kuserahkan pada kalian.\u201d<br>\u201cTapi melihat dia hanya akan membuat kami teringat padamu.\u201d Monica bersikeras menentang..<br>\u201cKumohon, Happy anak yang baik dia pintar. Dia selalu juara kelas. Dia juga pandai menyanyi dan ikut paduan suara sekolah. Walau masih 8 tahun, tapi dia sudah banyak koleksi piala di rumah..\u201d<br>\u201cSudah, sudah, kamu ini terus mempromosikanya,. Kalau bukan karena sebentar lagi akan mati, apa kamu mau menyerahkan dia?\u201d marah Monica .\u201dTapi baik, aku akan membesarkannya, dengan 1 syarat.\u201d<br>\u201cApa?\u201d<br>\u201cJangan muncul di hadapannya, walaupun sedetik. Jika kau tidak jadi mati atau hidupmu lebih lama jangan pernah berpikir untuk muncul kembali.\u201d<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p>Kutatap sorot mata Monica, wajahnya persis seperti iblis dalam cerita-cerita kuno. Iblis yang rela mengorbankan ibunya sendiri demi sepercik berlian. Tapi kembali mataku nanar dan hanya Happy yang terlihat. Happy, Happy, dan Happy.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku bergegas ke sekolah dan drama sudah hampir selesai. Hatiku masih berantakan dan kuminta pada gurunya supaya aku berdiam di belakang panggung saja. Melihatnya tanpa harus dilihatnya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMaafkan Mama, nak. Mama juga terpaksa. Mama harus lebih kejam supaya kamu mau ikut dengan nenek.\u201d<br>***<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMa, aku pulang\u201d kata Happy,<\/p>\n\n\n\n<p>Aku pura-pura duduk menonton TV walaupun mataku nanar tak melihat apapun di layar TV.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cTadi kenapa tidak menjemputku. Aku menunggu sangat lama.?\u201d tanyanya lagi. Melihat aku tak menjawab, \u201cMama sibuk ya? Tadi guru bilang tidak sempat kasih bunga di sana juga boleh di rumah,\u201d kata Happy dengan wajah berseri-seri. Dia mengeluarkan setangkai mawar dari tasnya; \u201cSelamat Hari Ibu,\u201d dan menyerahkan padaku.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku melihat bunga itu lalu menatap Happy. Tidak, dia tidak boleh terlalu menyayangiku. Aku sudah mau meninggalkannya. Aku lalu mencampakkan bunga itu ke lantai.<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p>\u201cKenapa dibuang?\u201dtanya Happy memelas.<br>\u201cKarena mama tidak suka,\u201d teriakku sambil menahan air mata. Dadaku terasa sesak. \u201cDan lagi besok nenek akan membawamu pergi. Jadi siap-siaplah,\u201d kataku berdiri bergegas ke kamar.<br>&#8220;Aku tidak mau&#8230; Nenek jahat&#8230; Aku tidak mau&#8230; Aku mau Mama\u201d teriak Happy histeris.<br>\u201cJangan teriak,&#8221; teriakku lebih keras. \u201cMama sudah tidak sayang lagi sama kamu, jadi sekarang kamu ikut nenek saja,\u201d sambungku dengan nada membentak.<br>\u201cAku tidak mau\u2026.\u201d Happy histeris dan berlari ke kamarnya.<br>***<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p>Jam 10 malam dan aku masih menangis di dalam kamar sambil memandangi foto suamiku.<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p>\u201cMa\u201d panggil Happy pelan dari luar kamar, dia juga belum tidur.<br>\u201cApa?\u201d tanyaku dengan nada ketus. Dadaku terasa sesak.<br>\u201cMaaf Ma, apa aku nakal lagi. Aku janji tidak akan nakal. Mama jangan membuangku ke nenek. Aku akan jadi anak baik.\u201d<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p>Air mataku mulai mengalir deras seolah tidak akan pernah berhenti lagi, tapi kutahan isakku agar tak terdengar oleh Happy.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAku akan jadi anak penurut, tidak akan berteriak lagi, tidak akan berkelahi lagi. Mama jangan membenciku ya\u2026 Aku mau mama.\u201d Happy menangis dan memukul-mukul pintu kamar dari luar. Tapi aku tidak membuka pintu. Kututup mataku. kupelukk uat foto suamiku.<\/p>\n\n\n\n<p>Pagi hari tiba, dan aku tidak tidur semalaman. Kuintip dari lubang kunci; Happy tertidur di depan pintu. Aku kembali berbaring di tempat tidur, menatap kosong ke langit-langit kamar, foto suamiku kudekap di dadaku.<\/p>\n\n\n\n<p>Tak berapa lama tedengar pintu diketuk. Aku keluar kamar dan dan Happy sudah berlutut di depan pintu. Tak kuperdulikan dan berjalan dingin membuka pintu.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMa,\u201d panggilku menyapa mertuaku. Dibelakangnya ada Monica. Ratu iblis dan dayangnya, kupikir. Pingin kuludahi muka mereka berdua, tapi kutahan. Mereka tidak memperdulikanku dan masuk ke dalam rumah. Begitu melihat neneknya masuk, Happy segera bangun dan berlari ke arahku, memelukku.<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p>\u201cMa, aku tidak mau&#8230; Aku mau mama saja&#8230;\u201d Happy kembali histeris menarik-narik daster.<br>\u201cIkut Nenek!\u201d perintahku tegas sambil menunjuk mertuaku.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p>Monica lalu menarik tangan Happy, tapi Happy terus merangkulku, \u201cAyo,\u201dkata Monica.<br>\u201cTIdak Mau!!!!\u201d<br>\u201cHappy!\u201d teriakku lebih keras lagi. \u201cBukankah kamu mau dengar kata Mama. Mama bilang pergi dengan Nenek, kenapa tidak menurut?\u201d<br>\u201cMama, aku mau Mama,\u201d suaranya melemah, kalah.<\/p>\n\n\n\n<p>Ratu iblis dan dayangnya mencuri Happy. Aku masih terus mendengar suara Happy. &#8220;Tidak mau&#8230;Tidak mau&#8230;Tidak mau&#8230;.&#8221; Seperti suara gema yang mengecil, mengecil, terus mengecil dan hilang.<br>***<\/p>\n\n\n\n<p><strong><em>2025<\/em><\/strong><br>Happy membawa sekuntum mawar merah dan meletakkannya di atas makam ibunya, Rene.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMa\u2026selamat Hari ibu!\u201d kata Happy. Air matanya menetes.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201dAkhirnya hari ini aku berhasil mengucapkannya langsung dihadapan Mama dan memberi bunga ini. Tiap tahun aku selalu meletakkan sekuntum mawar di depan pintu tapi tidak pernah bertemu Mama. Akhirnya aku tahu yang sebenarnya, Bibi Monica kasihan juga melihat aku yang sangat merindukan Mama dan memberitahu semuanya.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Happy menangis dan terus menangis.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMa\u2026kenapa mama tidak bilang? Kenapa mama harus menderita sendirian. Aku janji Ma, akan jadi anak yang baik. Akan baik-baik belajar agar aku tidak mengecewakan Mama. Terima kasih Ma. Terima kasih sudah melahirkan aku, Terima kasih sudah menjagaku, Terima kasih sudah mencintaiku, Terima kasih. Terima kasih.\u201d<br>***<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Terimakasih ke MamaJuliana Wen 2008Srett&#8230; Bam! Mobil suamiku tabrakan dengan truk besar di simpang jalan. &#8220;Akkhhhh!,&#8221; jeritku dan tersentak dari mimpi buruk dengan sekujur tubuh berkeringat. \u201cAda apa, Ma?\u201d tanya Happy, putriku yang berusia 8 tahun. Dia tertidur tepat di sampingku.\u201c Tidak apa-apa, sayang,\u201d kataku lembut menenangkannya dan dia tidur kembali, juga aku. Namaku Rene, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[461,463],"class_list":["post-2176","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-cerpen","tag-461","tag-juliana-wen"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2176","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2176"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2176\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2194,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2176\/revisions\/2194"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2176"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2176"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2176"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}