{"id":2251,"date":"2001-10-30T16:44:00","date_gmt":"2001-10-30T16:44:00","guid":{"rendered":"http:\/\/ceritanet.com\/?p=2251"},"modified":"2022-12-13T22:29:45","modified_gmt":"2022-12-13T22:29:45","slug":"rakyat-tak-mungkin-merdeka-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=2251","title":{"rendered":"Rakyat Tak Mungkin Merdeka &#8211; Sutrisno Budiharto"},"content":{"rendered":"\n<p>Orang dunia banyak tahu, pada 17 Agustus 1945 lalu negeri yang dinamai Indonesia ini telah merdeka, dengan pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan oleh Soekarno-Hatta atas. Sejak itu yang mengklaim sebagai para pejuang mulai mengklaim Indonesia telah bebas dari penjajahan, merdeka dari penindasan kolonial. Tapi apakah pembacaan teks proklamasi itu telah mengantarkan rakyat Indonesia benar-benar menjadi merdeka dari segala penindasan? WS Rendra menilai rakyat Indonesia tetap belum merdeka &#8211;Rendra, Mei 2000. &#8221;Saya memberi kesaksian bahwa meskipun Negara Indonesia adalah negara merdeka, tetapi rakyat Indonesia atau bangsa Indonesia, belum merdeka.&#8221; Para penindas rakyat utama, kata Rendra, adalah pemerintah Orde Lama-Orde Baru, dan semua partai politik.<\/p>\n\n\n\n<p>Lantas Hamid Jabbar, seorang penyair parodi, membuat sebuah sajak mengenai kemerdekaan Indonesia yang kedua kalinya. Judulnya Proklamasi 2, isinya seperti ini;<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p><em>Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia untuk kedua kalinya! Hal-hal mengenai hak asasi manusia, utang-piutang, dan lain-lain yang tak habis-habisnya INSYA ALLAH akan habis diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.<\/em><\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p><em>Jakarta, 25 Maret 1992<br>Atas Nama Bangsa Indonesia Boleh siapa saja<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Mantan Sekretaris Dewan Kesenian Jakarta (1993-1996) itu pernah juga bersajak;<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p><em>Tekdung tralala, tekdung tralala! Kepada Bangsaku, Bangsa Hilang, ingatlah kita telah berjaya di pasar yang bebas lepas ini, berpacu laju menuju pusat kendali rasa monopoli paling strawberry dalam kerja merampok abad-abad mendatang. Tekdung tralala, kendalikan diri! Sebab tak ada guna berang ataupun sayang yang berlebihan kepada siapa saja, juga kepada para tetangga, apalagi kepada anak bini yang suka hati gagah berani mengaku sebagai koruptor yang belum masuk kalkulator&#8230;<\/em><\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p>Kalau Rendra menganggap rakyat belum merdeka dan Hamid Jabbar membuat Proklamasi 2, maka saya berpuisi rakyat memang tidak mungkin bisa merdeka;<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p><em>Rakyat belum merdeka, katamu<br>itu bukan hanya kau yang tahu<br>para gelandangan dan lalat-lalat di bak sampah<br><\/em><em>para pengamen jalanan dan<br>tikus-tikus di lorong pertokoan<br>para babu dan anjing-anjing penjaga di perumahan parlemen<br>juga bisa merasakan itu<br><\/em><\/p><p><em>Rakyat belum merdeka, katamu<br>aku juga tahu itu<br>sebab, rakyatmu memang tetap menjadi rakyat sejak dulu<br>entah sudah berapa ribu politisi menawarkan<br>keadilan dan kemakmuran<br>entah sudah berapa juta janji<br>dikobarkan di panggung-panggung orasi politisi<br>tapi keadilan selalu terperosok ke dalam perut para politisi sendiri<br><\/em><\/p><p><em>Rakyat belum merdeka, katamu<br>aku juga sangat tahu itu<br>mana mungkin bisa merdeka, bila keadilan hanya menjadi tulisan dan puisi<br>mana mungkin bisa merdeka,<br>bila mereka hanya jadi tunggangan kesana-kemari<br>mana mungkin rakyat bisa merdeka, bila kerakusan selalu menjadi nabi<\/em><\/p><p><em>Rakyat belum merdeka, katamu<br>ya, aku juga sangat tahu itu<br>sebab, rakyatmu memang tak kan mungkin merdeka<br>sebab, tanah air ini hanya bagai penjara bagi mereka<\/em><\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p>Rendra mengaku pernah diingatkan seorang mahasiswa Unpad bahwa Che Guevara, seorang revolusioner romantik dari Cuba, pada akhirnya juga melihat bahwa rakyat yang sudah terlalu lama ditindas amat sulit dibawa merdeka. Karena secara tidak disadari lama-kelamaan rakyat yang tertindas itu sangat terpengaruh oleh sistem dan mental para penindasnya. Sehingga saat mereka sudah dimerdekakan melewati revolusi, tanpa disadari mengadopsi sistem, metode, mental dan tingkah laku para penindasnya tempo dulu. Persoalannya, apakah rakyat Indonesia masa kini, yang nota benenya generasi kelahiran Orde Baru, banyak yang sulit diajak merdeka setelah lama ditindas Orde Baru?<\/p>\n\n\n\n<p>Ketika ngobrol ngalor-ngidul di internet, saya pernah mencorat-coret puisi;<\/p>\n\n\n\n<p><em>Di Indonesia ini,<br>antara Sabang-Merauke,aku tak tahu;<br>apakah masih ada bahasa yang mampu ungkapkan kebenaran tentang cinta dan ketulusan.<br>Sebab, bahasa Tuhan-pun, kudengar, sering diperkosa.<br><\/em><em>Dengarlah sendiri, o duniaku<br>di Indonesia ini banyak mulut-mulut suci yang selalu nyanyikan suara Tuhan<br>tapi tengoklah sendiri ke dalam hati<br>Tuhanku sering ditikam dengan ayat-ayat firman-Nya sendiri<br>darahpun hanya bagai mainan kanak-kanak<br>di Aceh, Maluku, Sampit dan entah di mana lagi.<br>Lihatlah sendiri, o duniaku<br>orang-orang salah itu tetap saja tak mau kalah dan menyerah<br>seolah malah ingin menjadi Tuhan.<br>Dan, Merah-putih itupun semakin pucat kehabisan darah<br>Di Indonesia ini, o duniaku<br>Tuhan-ku telah ditikam dengan ayat-ayat firman-Nya sendiri<\/em><br><\/p>\n\n\n\n<p>Jalaluddin Rumi, seorang sufi dan penyair besar Timur Tengah, pernah memaparkan betapa mulianya jiwa yang merdeka, betapa pentingnya pemimpin yang berjiwa merdeka. Rumi mengutip hadis Nabi Muhammad SAW ;<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p><em>Seburuk-buruknya ulama adalah ulama yang mengunjungi penguasa, dan sebaik-baik penguasa adalah penguasa yang mengunjungi ulama. Berbahagialah seorang penguasa yang berada di depan pintu orang miskin dan celakalah orang miskin yang berada di gerbang<br>penguasa.<\/em><\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p>Seorang Mahatma Gandhi punya daftar tujuh dosa orang-orang yang menodai prinsip atau nuraninya;<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p><em>meraih kekayaan tanpa kerja, kenikmatan tanpa suara hati, pengetahuan tanpa karakter, perdagangan tanpa etika, ilmu pengetahuan tanpa kemanusiaan, agama tanpa pengorbanan, dan politik tanpa prinsip<\/em><\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p>Orang yang berjiwa merdeka, setidaknya tidak akan menjadi pelacur penjaja kebenaran. Rakyat tidak butuh orang cerdas yang kecerdsannya hanya untuk membajak keadaulatan rakyat. Semoga saja para pemimpin di bawah komando Megawati Soekarnoputri banyak yang berjiwa merdeka.<\/p>\n\n\n\n<p>Merdeka!<br>***<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Orang dunia banyak tahu, pada 17 Agustus 1945 lalu negeri yang dinamai Indonesia ini telah merdeka, dengan pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan oleh Soekarno-Hatta atas. Sejak itu yang mengklaim sebagai para pejuang mulai mengklaim Indonesia telah bebas dari penjajahan, merdeka dari penindasan kolonial. Tapi apakah pembacaan teks proklamasi itu telah mengantarkan rakyat Indonesia benar-benar menjadi merdeka [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[61,5],"tags":[471,1317,824,344],"class_list":["post-2251","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-catatan","category-laporan","tag-471","tag-indonesia","tag-sajak","tag-sutrisno-budiharto"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2251","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2251"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2251\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6591,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2251\/revisions\/6591"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2251"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2251"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2251"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}