{"id":232,"date":"2020-06-22T23:12:54","date_gmt":"2020-06-22T23:12:54","guid":{"rendered":"http:\/\/ceritanet.com\/?p=232"},"modified":"2020-08-28T12:19:57","modified_gmt":"2020-08-28T12:19:57","slug":"pagebluk","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=232","title":{"rendered":"Pagebluk"},"content":{"rendered":"\n<p>Edhie Prayitno Ige<\/p>\n\n\n\n<p>Brongkos melipat\nlengan bajunya. Ia masih masygul memandang Kikil, anak tunggalnya yang sakit.\nSudah tiga bulan ini kampung Brongkos dilanda pagebluk. Orang-orang memilih mengurung\ndiri dan mengenakan penutup mulut agar tak\nketularan.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cTak ada yang\nbisa dilakukan. Kita harus ke dokter,\u201d kata Santen, istri Brongkos.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBerdoa bu. Berdoa,\u201d kata Brongkos.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSampai kapan aku\nharus berdoa? Jangan-jangan doa itu adalah gambaran dari rasa takut. Kalau kita\ntidak takut, doa itu tidak kita perlukan lagi,\u201d kata Santen.<\/p>\n\n\n\n<p>Mereka terdiam.\nKikil mengerang, nafasnya satu-satu dan kelihatan sesak. Sementara pertengkaran\nBrongkos dan Santen terhenti. Keduanya mengelus kepala Kikil.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSemua doa yang\nkau ajarkan sudah aku praktekkan. Tapi tak ada perubahan. Aku ragu,\njangan-jangan doamu itu adalah doa mulut. Mulutmu berdoa tapi laku hidupmu\ntidak,\u201d kata Santen pelan.<\/p>\n\n\n\n<p>Brongkos diam. Ia\ntak mau lagi cekcok dengan istrinya di hadapan anaknya yang sedang sekarat. Ia\nmeyakini bahwa doa dan bacaan sunnah maupun wajib merupakan salah satu pintu\nkesembuhan.<\/p>\n\n\n\n<p>Brongkos menolak\nbahwa sakitnya Kikil karena ulahnya. Ia membeberkan betapa keluarga Sarjo,\nkeluarga Ngatman dan masih banyak lagi keluarga di kampung mereka juga\nmengalami hal yang sama. Anak-anak mereka terserang penyakit dan sesak nafas.<\/p>\n\n\n\n<p>Bahkan anaknya\nSolekan malah sudah mati duluan. Brongkos tak mau dipersalahkan karena hidupnya\nyang terlalu santai.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cIni pagebluk.\nPagebluk itu tak peduli\nkaya miskin, ganteng atau\njelek, semua bisa kena,\u201d kata Brongkos.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cIya, tapi apakah\npagebluk ini akan membuat semua nasib menjadi seragam? Tidak bukan? Kamu\nmestinya bisa menghitung apakah doa-doamu itu berguna bagi keselamatan dan\nkesembuhan anakmu,\u201d Santen membantah.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cIya. Nasib\nmemang tak harus seragam. Dan ketika aku lebih banyak berdoa, kondisi Kikil\nmakin payah, aku jadi bingung,\u201d kata Brongkos lirih.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAyolah kita ke\ndokter. Segera. Lepaskan dulu semua doamu. Doa bagi yang sakit adalah dokter\ndan rumah sakit,\u201d kata Santen.<\/p>\n\n\n\n<p>Tak menunggu\njawaban, Santen langsung menggendong Kikil. Ia keluar rumah dan Brongkos hanya\nbisa mengikuti di belakangnya. Yang ada di benak Brongkos adalah biaya yang harus ia keluarkan, bukan kesembuhan\nanaknya.<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan langkah\nmantap Santen menuju ke tempat praktek dokter. Dari kejauhan ia melihat plang\npapan namanya dan merasa lebih tenang.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cItu tempat\ndokter sudah kelihatan. Jarak kita dengan kesembuhan anak kita tinggal\nsejengkal. Ayo pak,\u201d kata Santen.<\/p>\n\n\n\n<p>Kurang sepuluh\nmeter, langkah Brongkos terhenti. Matanya memandang nanar papan nama dokter\nitu. Tak main-main di depan namanya ada tulisan berderet. Prof dr Bawono SpPD, K-EMD, FINASIM. Brongkos membayangkan\nbetapa lama dan mahalnya bersekolah untuk mendapatkan deretan gelar di depan\ndan belakang namanya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAyolah. Ini kita\nsudah sampai. Bahkan ruang prakteknya sudah terlihat,\u201d kata Santen.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cIya. Bukan hanya\nruang praktek, ongkosnya juga sudah kelihatan,\u201d kata Brongkos.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cYa Allah, dalam\nkondisi seperti ini kamu masih juga mikir soal ongkos?\u201d Santen menahan\nkemarahannya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKarena tanpa\nongkos, Kikil tak mungkin sembuh. Ini sebuah langkah nekat,\u201d kata Brongkos.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cLebih nekat mana\ndengan orang tua yang takut mencari obat bagi anaknya,\u201d sergah Santen.<\/p>\n\n\n\n<p>Mereka kembali\nberdebat. Sungguh kemiskinan telah membuat mereka menjadi makhluk yang sangat\nreaktif. <\/p>\n\n\n\n<p>Di kampungnya\nBrongkos dan Santen tak sendiri. Ada puluhan atau bahkan ratusan keluarga yang\nmemang harus berjuang setiap hari untuk tetap hidup. Jangankan menabung, untuk\nberobat saat sakit atau untuk makan saja mereka sangat sulit. <\/p>\n\n\n\n<p>Keduanya nekat ke\nrumah doker Bawono juga tak membawa apapun. Hanya pakaian yang menempel saja.\nBahkan perut mereka juga kosong.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKita sudah\nsampai sini. Akankah kita biarkan anak kita mati?\u201d Santen berteriak histeris.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKita tetap akan\nberjuang untuk kesembuhan Kikil, tapi tentu secara biasa saja sesuai kemampuan\nkita. Tidak dengan bertindak nekat di luar batas,\u201d kata Brongkos.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKemampuan kita\nakan membuat anak kita mati. Ini situasi luar biasa dan butuh sikap luar biasa\npula,\u201d kata Santen.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cTapi kita\nbergerak luar biasa dan diatas normal akan membuat semua mati. Bukan hanya\nKikil, namun juga kamu dan aku,\u201d kata Brongkos.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cIh, penakut.\nTernyata aku bersuamikan seorang pengecut,\u201d kata Santen.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBetapa istriku\nadalah sosok yang ambisius. Aku tetap tak mau anakku dibiayai dengan\nketidakwajaran. Hidupnya digadaikan dengan jaminan yang kita tak bakal mampu\nmenebusnya,\u201d kata Brongkos.<\/p>\n\n\n\n<p>Demikianlah\nBrongkos dan istrinya terus berdebat. Sampai mereka tanpa sadar nekat masuk ke\nruang dokter. Banyak antrean untuk diobati tangan dingin sang dokter. Nyaris\nsemua sakitnya seperti Kikil. Petugas administrasi dan petugas yang menyiapkan\nobat sangat sibuk. Tangan mereka sangat mekanis. Sudah hapal apa saja yang\nmesti disiapkan.<\/p>\n\n\n\n<p>Spidol hitam\nmencoret-coret nama pasien di plastik pembungkusnya. Satu petugas lain\nmemanggil pasien satu persatu. Tak ada antrean, semua seperti berebut mendapat\nlayanan dokter Bawono lebih dulu.<\/p>\n\n\n\n<p>Di dalam ruang\nperiksa, Brongkos dan istrinya tenang mendengarkan ceramah dokter Bawono. Kikil\nsudah sejak tadi berbaring dengan nafas sesak dan pendek-pendek di kasur\nperiksa. <\/p>\n\n\n\n<p>\u201cJadi begini pak\nBrongkos. Saat ini kita sedang menghadapi pagebluk. Jumlah dokter sangat\nsedikit. Apalagi dokter yang mumpuni. Pagebluk ini sangat aneh. Berjangkit\ncepat dan parah. Mulai flu, pilek influenza, SARS, Chikungunya sampai Demam\nBerdarah Dengue,\u201d dokter Bawono mulai menjelaskan.<\/p>\n\n\n\n<p>Pagebluk itu\nsangat mengancam kelangsungan\nsejarah hidup manusia. Dokter\nBawono kemudian menjelaskan bahwa sebagai dokter dan atas panggilan kemanusiaan\nia merasa harus bisa\nmomong masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p>Brongkos dan\nSanten saling memandang.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cLuar biasa pak dokter,\u201d kata Brongkos pura-pura mengapresiasi\ndemi kesopanan.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cIya. Saya memang\nluar biasa. Tapi ini sikap saya secara pribadi. Bukan secara profesional\ndokter. Bukan pula standar dan pedoman perilaku dokter. Paham?\u201d kata dokter\nBawono.<\/p>\n\n\n\n<p>Brongkos diam. Ia\ntak ingin memperpanjang. Ia mencoba menyelami isi kepala dokter Bawono dan\nmenyinkronkan dengan hati dan pembawaan dokter hebat itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Sementara itu\nSanten dan Brongkos justru melirik ke pasien-pasien yang antre. Mereka seperti\ntidak terurus. Saling berebut, bahkan obat pun mereka berebut. Bukan lagi\ntempat duduk, karena tempat duduk sudah disingkirkan. Agar tak meninggalkan\nvirus dan menular keluarga dokter.<\/p>\n\n\n\n<p>Pemandangan\nitu sebenarnya sangat jarang\nditemui di tempat praktek dokter, rumah sakit, bahkan puskesmas sekalipun. Ada\npagebluk atau tidak semua akan tampak manusiawi.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cJadi pada\nmuaranya, tak ada dokter atau rumah sakit yang benar-benar manusiawi. Tahukah\nkalian mengapa sekarang harus pakai masker? Ya karena masker itu topeng. Dan\nrumah sakit harusnya memang bersikap mengenakan topeng,\u201d kata dokter Bawono.<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan gagap isi\nkepala Brongkos mencerna kalimat itu. Santen sudah sejak tadi diam. Ia hanya\nsesekali melirik Kikil yang sejak datang belum disentuh atau diperiksa dokter\nBawono.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurut dokter\nBawono, rumah sakit yang sejati adalah sebuah tempat yang mengenakan topeng kenyamanan. Dari situ bisa mengeruk keuntungan dari pasien. <\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBaik dokter.\nTapi begitu kami sampai disini, kami sangat bergembira dan yakin dokter akan\nmenolong penderitaan anak kami,\u201d kata Santen.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cItu sudah pasti\nbu. Dokter itu sudah disumpah untuk menolong sesama. Tapi\nibu juga harus mulai membuka mata dan meyakini bahwa di dunia ini juga ada sumpah palsu,\u201d kata\ndokter Bawono.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMaksudnya?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMari kita\nberpikir realistis. Seorang\ndokter pasti akan pusing dan bingung sendiri kalau sumpah itu dijalankan secara\nkaku. Seperti fakta antrean\nitu. Jumlah pasien dan dokter kan tidak seimbang. Dalam keadaan begini, dokterlah yang diobati pasien,\u201d kata dokter Bawono.<\/p>\n\n\n\n<p>Mereka lalu\nberdiskusi panjang tentangb relasi dokter dan pasien. Dijelaskan pula bahwa\ndokter tak akan bisa menyembuhkan pasien, namun pasienlah yang menyembuhkan\npara dokter. <\/p>\n\n\n\n<p>\u201cLebih jelasnya dokter ingin apa? Kenapa kikil tak juga diperiksa dan juga\npasien-pasien lain diluar itu?\u201d Santen tak sabar.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cJika saya harus taat prosedur dan memulainya dari pasien paling ujung. Kalau itu\nsaya lakukan, maka anak ibu sudah harus kehilangan nyawa begitu tiba gilirannya\nsaya obati,\u201d kata dokter\nBawono tersenyum.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAh. Kenapa dokter mau saja kami tak sesuai antrean?\u201d\nBrongkos mulai menduga-duga.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKarena sampeyan\ngila tak mau antre. Jadi saya harus mengimbangi dengan kegilaan pula,\u201d kata\ndokter.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cTapi karena kami tadi panik. Dokter kan tidak\npanik. Dokterlah yang harus mengajari kami berdisiplin,\u201d kata Brongkos.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBegini. Sebagai\ndokter, saya juga memiliki hak untuk rekreasi. Saya sekolah tinggi juga\nmengeluarkan biaya mahal. Dan hal-hal semacam inilah rekreasi saya,\u201d kata\ndokter Bawono.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cRekreasi macam\napa itu?\u201d brongkos bersungut. Ia berdiri dan tangannya mengepal.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBegini saja. Saya sudah kehabisan waktu untuk menjelaskan. Waktu adalah uang. Sampeyan\njuga tak bakalan bisa membayar waktu saya yang hilang. Lebih gampangnya,\nsekarang pilih. Bayar sesuai tarif atau nyawa anak sampeyan akan hilang,\u201d kata\ndokter Bawono tetap sambil tersenyum.<\/p>\n\n\n\n<p>Rupanya Brongkos\ndan Santen benar-benar sudah menyerah. Karena tak membawa apapun, mereka\nakhirnya pulang dan meninggalkan semua yang melekat di badan sebagai jaminan.\nTiga puluh menit lagi ia harus datang dan juga menyerahkan semua yang ia\nmiliki.<\/p>\n\n\n\n<p>Kikil tetap saja\nbernafas pendek-pendek. Ketika digendong suami isteri yang bertelanjang bulat\nkarena pakaiannya sebagai jaminan pembayaran itu, maka Kikil akhirnya mati di\ntengah jalan.<\/p>\n\n\n\n<p>Keesokan harinya\nsebuah portal berita nasional memberitakan kematian Kikil dan kedua\norangtuanya. Kecil saja dan sangat tidak menarik perhatian.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cTAK MAU BEROBAT,\nKELUARGA GILA INI PILIH BUNUH DIRI,\u201d demikian judul berita itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Sampai berita itu\nditulis, semua masih takut akan menjadi korban pagebluk berikutnya. Sementara\npemerintah setempat sudah menyiapkan aturan bahwa semua yang sakit akan\ndibiayai oleh negara. Itulah sebabnya negara kemudian menyiapkan aturan\npungutan retribusi berbagai bidang.<\/p>\n\n\n\n<p>Anggaran\npenanganan pagebluk ini tak boleh diperiksa karena akan melukai rasa\nkemanusiaan. Paraktek dokter seperti dokter Bawono akhirnya ditutup, dan\ndigantikan dengan keharusan membawa ke rumah sakit.<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan dibawa ke\nrumah sakit, apa yang dilakukan doketr Bawono menjadi standar resmi. Bedanya\njika dahulu yang menjadi korban adalah para pasien, sekarang korbannya para\npasien dan juga masyarakat yang sehat melalui berbagai pungutan.<\/p>\n\n\n\n<p>Untuk mengamankan\nsituasi, sejumlah begundal dikeluarkan dari penjara. Dan ketika penjara kosong,\nmaka akan digantikan para penghuni baru yang tak mampu membayar berbagai\nretribusi itu. <br>\n***<br>\nTanjungsari 2020<\/p>\n\n\n\n<p>*. Pagebluk\n= wabah<\/p>\n\n\n\n<p><em>E<\/em><em>dhie <\/em><em>P<\/em><em>rayitno\n<\/em><em>I<\/em><em>ge<\/em><em>, pegiat seni dan\nwartawan yang kerap menulis, antara lain yang sudah dibukukan adalah \u2018Sang\nKoruptor\u2019 dan \u2018Peradaban Salah Urus\u2019. Sehari-harinya mengelola Sanggar Batik Semarang\n16: galeri, hotel, dan juga tempat belajar &nbsp;membatik (<\/em><a href=\"https:\/\/batiksemarang16.com\/\"><em>https:\/\/batiksemarang16.com\/<\/em><\/a><em>)<\/em><em> <\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Edhie Prayitno Ige Brongkos melipat lengan bajunya. Ia masih masygul memandang Kikil, anak tunggalnya yang sakit. Sudah tiga bulan ini kampung Brongkos dilanda pagebluk. Orang-orang memilih mengurung diri dan mengenakan penutup mulut agar tak ketularan. \u201cTak ada yang bisa dilakukan. Kita harus ke dokter,\u201d kata Santen, istri Brongkos. \u201cBerdoa bu. Berdoa,\u201d kata Brongkos. \u201cSampai kapan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[12,799],"class_list":["post-232","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-cerpen","tag-12","tag-edhie-prayitno-ige"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/232","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=232"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/232\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":233,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/232\/revisions\/233"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=232"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=232"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=232"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}