{"id":238,"date":"2020-06-22T15:19:41","date_gmt":"2020-06-22T15:19:41","guid":{"rendered":"http:\/\/ceritanet.com\/?p=238"},"modified":"2020-08-28T12:22:52","modified_gmt":"2020-08-28T12:22:52","slug":"preman-corona","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=238","title":{"rendered":"Preman Corona"},"content":{"rendered":"\n<p>Melly Waty<\/p>\n\n\n\n<p>Desa Sindang lagi dihebohkan dengan huru hara\nhilangnya masker bantuan dari pemerintah daerah. Masker yang seharusnya\ndibagikan ke warga tiba-tiba raib. Masalahnya masker itu disimpan di gudang\nkelurahan. Secara musim pandemi corona begini harga barang tersebut jadi\nmelonjak. Tidak main-main, harganya bisa tiga kali lipat dari harga normal. <\/p>\n\n\n\n<p>Pak Lurah kayak kebakaran jenggot. Dari pagi\ndia sidak seluruh pegawai kelurahan. Satu-satu diinterogasi. Hasilnya nihil.\nSemua memang pada menggeleng tidak tahu. Lalu siapa yang mau dicurigai sebagai\npencurinya? <\/p>\n\n\n\n<p>\u201cHaniiip!\u201d teriak pak Lurah. <\/p>\n\n\n\n<p>Hansip gagap itu masuk dengan tergopoh-gopoh. <\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSi si siap, pak Lurah!\u201d jawabnya sambil\nmemberi hormat. <\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKamu tau nggak di mana Mat Jony berada?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cEm em emang kenapa, pak Lurah koq tum tum tumben\nnanya Mat Jony?\u201d Hanip balik nanya sambil melepas maskernya. <\/p>\n\n\n\n<p>\u201cLah kenapa maskernya kamu lepas?\u201d tanya pak\nLurah, bingung. <\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSa saya nggak bisa napas Pak klo ngomong pake\nmasker,\u201d jelas Hanip. <\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSaya curiga, hilangnya masker ada hubungannya\ndengan dia,\u201d jawab pak Lurah. <\/p>\n\n\n\n<p>\u201cTap tapi kan Mat Jony baru ke luar dari\npenjara, masa dia mau masuk lagi?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cYa mungkin saja, karena dia nggak ada\nkerjaan,\u201d jelas pak Lurah. <\/p>\n\n\n\n<p>Hanip bengong sejenak. Perasaan Mat Jony lagi\npergi ke kampung sebelah deh tiga hari yang lalu, pikirnya. <\/p>\n\n\n\n<p>\u201cEh kenapa kamu jadi bengong?!\u201d pak Lurah membentak\nHanip<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cHehe he&#8230; Ma ma maaf pak Lurah,\u201d jawabnya\nsambil cengengesan. \u201cTap tapi setahu saya, Mat Jony lagi pergi ke kampung\nsebelah pak, ss sudah tiga hari yang lalu,\u201d jelas Hanip. <\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBisa saja dia suruh anak buahnya.\u201d Pak Lurah\nseperti sedang memikirkan alibi Mat Jony. <\/p>\n\n\n\n<p>\u201cNggak mungkin, Pak. Jabrik dan Kepeng pas\nhilangnya masker lagi sama saya nongkrong di warung,\u201d jelas Hanip lagi. <\/p>\n\n\n\n<p>\u201cWaduuuh! Kalau begini makin pusing saya.\u201d Pak\nLurah memegang keningnya. \u201cKapan Mat Jony balik ke sini? Atau kamu cari tau di mana\ndia dan suruh menghadap saya secepatnya!\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSiap, Pak!\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Pak Lurah tidak mau tahu ke mana Hanip harus\ncari Mat Jony. Yang dia mau Mat Jony menghadap dan membantunya untuk memecahkan\nmasalah ini. Pasti Mat Jony bisa menganalisa. Secara, dia kan preman yang sudah\npunya pengalaman keluar masuk bui, pikir pak Lurah. <\/p>\n\n\n\n<p>Hanip biar gagap tapi kerjanya rapi. Dia bilang\nsama anak buah Mat Jony kalau pak Lurah mengamanatkan Jabrik dan Kepeng untuk\npanggil Mat Jony pulang secepatnya. Segeralah dua orang itu menyusul Mat Jony\nke desa sebelah. Alhasil, Mat Jony pulang dan menghadap pak Lurah. <\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAda apa pak Lurah panggil saya? Tumben\nbanget, Pak. Ada job ya?\u201d tanya Mat Jony. <\/p>\n\n\n\n<p>\u201cEmangnya kamu belum dengar apa kalau desa\nkita kemasukan pencuri dari luar?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Mat Jony terkejut, secara dialah preman yang\npaling disegani di kampung itu. Kalau ada pencuri masuk berarti orang itu tidak\nmenghargai dia. <\/p>\n\n\n\n<p>Braakk!! <\/p>\n\n\n\n<p>Mat Jony menggebrak meja. Pak Lurah sampai\nmendelik karena kaget. <\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSiapa pencuri yang berani masuk ke kampung\nkita, Pak?\u201d tanya Mat Jony, geram. <\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKalau saya tau ngapain juga pake manggil\nkamu. Saya mau tanya, gimana caranya supaya kita bisa menjebak pencuri itu?\u201d\nujar pak Lurah. <\/p>\n\n\n\n<p>Mat Jony kelihatan mikir keras. Kepalanya\nmenunduk sambil tangan kanannya memegang kening. <\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSaya tau bagaimana caranya, Pak!\u201d kata Mat\nJony. <\/p>\n\n\n\n<p>\u201cPakai cara apa?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Mat Jony membisikan sesuatu ke telinganya pak\nLurah. Hanip dan dua orang anak buah Mat Jony bengong, karena baru kali ini\nsejarah mencatat pejabat desa akur sama preman. Pak Lurah menjanjikan Mat Jony\nakan diberi uang untuk modal usaha kalau saja pencurinya tertangkap. Anak buah\nMat Jony senang sekali karena mereka akan pensiun jadi preman. <\/p>\n\n\n\n<p>Besoknya pak Lurah mengumpulkan warga kampung\ndi halaman kantor kelurahan. Di samping pak Lurah, berdiri Mat Jony bagai\nbodyguard. Lalu pak Lurah menyuruh Mat Jony untuk bicara. Warga kampung\nsemuanya pakai masker. <\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSodara-sodara sekalian, saya mewakili pak\nLurah akan membuka sayembara untuk mencari pencuri masker yang kemarin raib,\u201d suara\nMat Jony terdengar lantang. <\/p>\n\n\n\n<p>Warga kampung Sindang saling menatap penuh\ncuriga. Bisa jadi pencuri yang sebenarnya adalah tetangganya sendiri. <\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSodara-sodara semua, saya akan bagikan satu-satu\nmasker ini, tolong ganti masker yang kalian pake dengan yang baru ini dan besok\nkembalikan ke sini. Kalau besok masker ini tidak berubah baunya, maka itulah\npencurinya karena masker ini tidak di pake sepanjang hari. Paham semua?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cPahaaaaam!\u201d teriak warga. <\/p>\n\n\n\n<p>Mulailah Hanip dan anak buah Mat Jony\nmembagikan masker. Satu-satu mereka maju lalu melepas masker yang mereka pakai\ndan diganti yang baru. Setelah itu warga pulang ke rumah masing-masing. Si\npencuri masker yakin sekali kalau ulahnya tidak bakal ketahuan. <\/p>\n\n\n\n<p>Sampai di rumah, si pencuri buru-buru ganti\nmasker dengan masker yang lain. Ia langsung merendam masker itu dengan detergen.\nPasti saja baunya berubah karena sudah kucuci, pikir pencuri. <\/p>\n\n\n\n<p>Pencuri itu baru bisa tidur tenang setelah\nmencuci maskernya. Iya yakin bakal bisa mengelabui Mat Jony dan orang-orang\nkalau dia yang mencuri masker milik kelurahan. <\/p>\n\n\n\n<p>Esoknya, warga berkumpul lagi di halaman\nkantor kelurahan dengan jaga jarak. Semua masih memakai masker dari kelurahan.\nSatu per satu mereka maju dan memberikan masker yang dipakai pada anak buah Mat\nJony. <\/p>\n\n\n\n<p>Tiba giliran si pencuri maju dan memberikan\nmasker pada Hanip. Lalu Hanip memberikan pada Mat Jony. Preman yang satu ini\ncepat menebak kalau yang maju tadi adalah pencurinya. Maskernya wangi deterJen,\nitu bukti kalau ia mencuci masker dari kelurahan, sedang masker yang lain masih\ndengan bau yang sama sewaktu dibagikan. <\/p>\n\n\n\n<p>Mat Jony berbisik pada pak Lurah, memberitahu\nbahwa pencurinya ada di sekitar sini. Pak Lurah kelihatan senyum-senyum. Lantas\nmaju dan berdiri di samping Mat Jony. <\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSodara-sodara sekalian, setelah masker\ndikembalikan dan diperiksa, maka saya sudah bisa mengetahui siapa pencuri\nmasker yang tersimpan di kelurahan.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Semua warga saling menatap penuh curiga. Bukan\ntidak mungkin yang tidak bersalah malah jadi tertuduh dan pencurinya bebas. Dada\nmereka bergemuruh hebat. Tatapan mereka bagai tertuduh semuanya. <\/p>\n\n\n\n<p>\u201cNah, semua warga silakan pulang,\u201d ujar pak\nLurah. Warga saling bersorak, pertanda di antara mereka bukanlah pencurinya. Satu-satu\npada bubar. \u201cHey, yang pakai topi hitam, kamu jangan pulang dulu!\u201d teriak pak\nLurah. <\/p>\n\n\n\n<p>Spontan seluruh warga menoleh pada orang yang\nbertopi hitam. Orang yang diteriaki berdiri mematung. Lalu perlahan berbalik\nmenghadap ke arah pak Lurah. <\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKamu maju, sini!\u201d perintah pak Lurah. Orang\nitu masih mematung di tempatnya berdiri. \u201cHey, jangan pura-pura bingung atau\nmau saya teriaki maling biar warga pukuli kamu?\u201d lanjut pak Lurah. <\/p>\n\n\n\n<p>Orang itu langsung berlari mendekati pak Lurah\ndan Mat Jony. Di hadapan mereka, dia menunduk ketakutan. <\/p>\n\n\n\n<p>Mat Jony maju menghampirinya. \u201cKamu itu\ndisuruh siapa sampe berani mencuri di kampung ini, hah?\u201d tanya Mat Jony sambil\nmenjewer telinga orang itu. <\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAduuuh&#8230; Ampun bang, saya nggak mencuri kok,\u201d\nelaknya. <\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMasih nggak mau ngaku kalo kamu yang mencuri?\u201d\nMat Jony makin melintir telinga pencuri itu. <\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAdduuuuuh&#8230;ampun bang. Iya iya saya ngaku.\nSaya yang mencuri, habis saya nggak punya uang buat kasih makan anak istri,\nmana di rumah ibu saya lagi sakit. Apalagi musim corona gini, saya nggak bisa\ndagang cilok keliling,\u201d jelasnya. <\/p>\n\n\n\n<p>Warga jadi terharu mendengarnya. Pak Lurah\nmenunduk sedih. Mat Jony yang preman juga ikutan terharu. Di suruhnya Hanip\nmenyelidiki kebenaran cerita pencuri itu. <\/p>\n\n\n\n<p>Hanip tergopoh-gopoh ke desa sebelah untuk\nmencari tahu, sedang si pencuri masih diinterogasi pak Lurah dan Mat Jony di\nkantor kelurahan. Alhasil, Hanip pulang dengan membawa berita yang menyedihkan.\nTernyata cerita si pencuri itu benar. Anak dan istrinya lagi kelaparan di\nrumah, ibunya pun sedang sakit. Dan masker hasil curian masih utuh di rumah\nitu. <\/p>\n\n\n\n<p>Pak Lurah makin iba tapi yang namanya mencuri\ntetap tidak dibenarkan. Akhirnya dengan perjanjian tidak akan mengulangi\nperbuatannya, pencuri itu dibebaskan. Mat Jony menerima hadiah berupa uang\nuntuk modal usaha. <\/p>\n\n\n\n<p>Namun Mat Jony membagi uang itu untuk si\npencuri sebagai modal dagang. Sungguh luar biasa hati Mat Jony, biarpun preman\ntapi rasa kemanusiaannya masih tinggi. <br>\n***<\/p>\n\n\n\n<p><em>Meliwati,\npenulis novel&nbsp; dan cerpen, juga Founder Komunitas Perempuan Penulis\nIndonesia (P2I). Memiliki 145 buku antologi bersama penulis lain sebanyak dan\nlima novel solo serta empat novel kolaborasi. Aktif&nbsp;di berbagai komunitas\nmenulis dan editor freelance di beberapa penerbitan.<\/em><em><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Melly Waty Desa Sindang lagi dihebohkan dengan huru hara hilangnya masker bantuan dari pemerintah daerah. Masker yang seharusnya dibagikan ke warga tiba-tiba raib. Masalahnya masker itu disimpan di gudang kelurahan. Secara musim pandemi corona begini harga barang tersebut jadi melonjak. Tidak main-main, harganya bisa tiga kali lipat dari harga normal. Pak Lurah kayak kebakaran jenggot. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[12,800],"class_list":["post-238","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-cerpen","tag-12","tag-melly-waty"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/238","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=238"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/238\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4488,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/238\/revisions\/4488"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=238"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=238"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=238"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}