{"id":240,"date":"2020-06-22T22:21:25","date_gmt":"2020-06-22T22:21:25","guid":{"rendered":"http:\/\/ceritanet.com\/?p=240"},"modified":"2020-06-25T12:17:36","modified_gmt":"2020-06-25T12:17:36","slug":"kenangan-pribadi-dengan-mas-arief-budiman-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=240","title":{"rendered":"Kenangan Pribadi Dengan Mas Arief Budiman 2"},"content":{"rendered":"\n<p>Bela Kusumah Kasim <\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"960\" height=\"628\" src=\"http:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/kenangan-bersama-arif-budiman.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-289\" srcset=\"https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/kenangan-bersama-arif-budiman.jpg 960w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/kenangan-bersama-arif-budiman-300x196.jpg 300w, https:\/\/ceritanet.com\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/kenangan-bersama-arif-budiman-768x502.jpg 768w\" sizes=\"(max-width: 960px) 100vw, 960px\" \/><figcaption>Bersama Arief Budiman dan istri, Mbak Leila<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Harian the Age pada bulan April memuat sebuah berita yang\nmeliput kunjungan Menteri Pendidikan Phil Honeywood ke Jakarta. Di bawah\nheadline ditulis \u201cAustralia\u2019s Universities Becomes Safe Heaven for Indonesia\u2019s\nDissident\u201d, Australia menjadi tempat \u2018Safe Heaven\u2019 bagi para dissident\nIndonesia. Pernyataan itu diberitakan dalam liputan kunjungan Menteri\nPendidikan Pemerintah bagian Victoria Phil Honeywood, yang berkunjung ke\nJakarta bersama rombongan Australia\u2013Indonesia Business Association. (lihat\nBuku: Kebebasan, Negara, Pembangunan: Kumpulan Tulisan 1965 -2005 oleh Arief\nBudiman hal 427). <\/p>\n\n\n\n<p>Pemerintah Victoria waktu itu dipimpin oleh Jeff Kennett\nsebagai Premier dari Partai Konservative Liberal yang berkoalisi dengan Partai\nNasional dan berhasil merebut pemerintahan dari Partai Buruh ALP.&nbsp; Jeff Kennett dikenal sangat pro-bisnis,\nbanyak kebijakan-kebijakannya mendapat reaksi keras dari publik, terutama di\nbidang pendidikan, lingkungan dan social welfare. <\/p>\n\n\n\n<p>Setelah membaca artikel tersebut, saya telepon Arief Budiman,\u201dMas\nsudah baca berita koran the Age hari ini.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSudah Bel, saya dikasih tahu sama Lisa Ting,\u201d suaranya\nkalem tidak menunjukan rasa kaget atau kecewa dan marah.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201dPhill Honeywood menteri pendidikan Pemerintah Jeff Kennett\nMas, orang konservatif, kenapa ngomong begitu, maksudnya \u2018dissident\u2019 itu\nditujukan ke Mas Arief. Karena Mas Arief mengajar di Melbourne Uni atau yang\ndimaksud itu Goerge Aditjondro?\u201d tanya saya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201dYa, mungkin ada kelompok yang khawatir saya mengajar di\nMelbourne,\u201d jawabnya pendek.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201dTapi pasti ada yang lapor Mas, mungkin dari the\nAustralian-Indonesia Business Council. Mereka banyak yang menjalin hubungan bisnis\ndengan kroni-kroninya Suharto,\u201d saya jawab dengan rasa gusar.<\/p>\n\n\n\n<p>Kami bercakap lama via telepon tentang berita yang membuat\nsaya khawatir, karena pernyataan itu akan menimbulkan pemulangan terhadap\ntokoh-tokoh intelektual yang outspoken. Sementara itu, Arief Budiman (AB)\nberbicara dengan santai dan kalem, seolah-olah hal itu \u201cit\u2019s not a big deal\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>Keesokan harinya, saya mengadakan pertemuan dengan Lisa\nTing, untuk membahas artikel itu. Kami kemudian menghubungi George Aditjondro\n(GA) via telepon yang mengajar di Universitas New Castle.<\/p>\n\n\n\n<p>Setelah diberi tahu, Goerge Aditjondro marah terhadap\nartikel itu. Menurutnya ada orang-orang di Kedubes RI di Canberra dan Konjen RI\nyang sengaja lobby untuk mengekpos para tokoh Intelektual yang kritis terhadap\npemerintah Orba, terutama yang datang ke Australia. <\/p>\n\n\n\n<p>\u201dBela, paspor saya diambil sama Konjen RI di Sydney. Saya\nlapor mau perpanjang paspor, eh terus diambil, sampai sekarang tak pernah\ndikembalikan. Saya \u2018stateless\u2019 sekarang nggak punya paspor\u201d. Kata Goerge dengan\nnada marah.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201dGoerge, kalau Anda memang dissident, dikejar sama\npemerintah Orba, tapi AB kan dipecat dari Universitas Satya Wacana, dan ke\nMelbourne melamar posisi sebagai Kepala Indonesia Study. Jadi AB datang secara\nresmi,\u201d Saya jawab sambil mencoba menenangkannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Dari pembicaraan dengan Lisa Ting dan GA, kami sepakat untuk\nmenyampaikan protes atau reaksi terhadap artikel yang dimuat koran the Age.\nLisa kemudian menulis surat yang dimuat di koran the Age di kolom Surat\nPembaca. Surat itu juga dikirim ke Rektor atau Vice Chancellor Melbourne\nUniversity. Sementara GA menulis sebuah artikel menanggapi pernyataan Phil\nHoneywood yang dimuat di koran Sydney Morning Herald (lihat Artikel GA di koran\nthe Australian 23 April). <\/p>\n\n\n\n<p>Rupanya, upaya kami membuahkan hasil yang menggembirakan. <\/p>\n\n\n\n<p>Sebuah tanggapan dari Vice Cancellor dimuat di koran the\nAge. Pada dasarnya, pihak Melbourne universitas sebagai lembaga pendidikan yang\nindependen mempunyai prinsip menghormati kebebasan berpendapat, bahwa setiap\ndosen atau lecturer dari negara manapun asalnya berhak untuk mengeluarkan\npendapat, \u201cFree Thinking and Freedom of Expression\u201d (Buku: Kebebasan, Negara,\nPembangunan: Kumpulan Tulisan 1965 -2005 oleh Arief Budiman hal 427).<\/p>\n\n\n\n<p>Universitas Melbourne merasa banggga dan mendapat kehormatan\nmenerima tokoh Prominent Intellectual seperti AB, yang menduduki Kepala\nPengkajian Indonesia dengan melalui proses pemilihan menurut standard Melbourne\nUniversitas, begitu komentar Vice Chanchelor.<\/p>\n\n\n\n<p>Kehadiran Arief Budiman memang membuat suasana di Konsulat\nJendral RI di Melbourne menjadi makin khawatir terhadap hubungan diplomatik\nantara Australia- Indonesia. Pertemuan dan seminar tentang Indonesia di\nkampus-kampus atau yang diselenggarakan di Kantor-kantor NGO, sering disatroni\noleh pejabat Konjen RI. <\/p>\n\n\n\n<p><strong>Grup Diskusi Melbourne<br>\n<\/strong>Minggu-minggu pertama AB mengajar di Universitas Melbourne, saya sering\nmenelpon dan sering berkunjung ke apartemen AB. Istri AB, Ibu Leila Budiman (saya\nsering memanggilnya Mbak Leila) waktu itu masih di Indonesia, jadi kami sering\nkeluar makan siang atau makan malam ke restoran Vietnam, Cina, dan Libanon di\ndaerah Brunswick. <\/p>\n\n\n\n<p>\u201dBel, bisa kumpulkan teman-teman dan mahasiswa untuk\nmengadakan diskusi di kampus?\u201d tanya AB.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201dMas Arief, saya sudah cukup lama di Melbourne, jadi sudah\ntahu kalau diskusi soal politik tidak banyak orang-orang Indonesia dan\nmahasiswa yang datang Mas,\u201d jawab saya mencoba meyakinkan AB. <\/p>\n\n\n\n<p>\u201dMas, saya dan teman-teman mengelola majalah Suara\nIndependen di sini. Itu majalah \u2018underground\u2019 diselundupkan dari Jakarta oleh\nteman-teman AJI (Aliansi Jurnalis Independen), kemudian dikirim ke toko Buku\nNusatantara di Melbourne. Majalah itu kami photo copy, dan kami sebarkan ke\nmasyarakat Indonesia dan mahasiswa.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201dOh Iya, saya kirim yah, dimana dijualnya, banyak\npembelinya?\u201d AB penasaran.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201dOrang-orang Indonesia pada takut membeli atau membaca, apa\nlagi diskusi dengan \u201cDoktor Dissident\u201d-Guru Besar Penentang Orde Baru seperti\nMas,\u201d jawab saya sambil guyon.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201dKumpulkan saja, nanti saya fasilitasi di Kampus,\u201d jawab AB.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201dMas ini Melbourne Universitas, hehehe, bukan Salatiga, lagi\npula student Indonesia di Melbourne kebanyakan kelas menengah, banyak yang\nsudah kena P4, mereka wajib lapor, dan banyak intelnya di kampus-kampus, jadi\ntakut kena cekal,\u201d jawab saya serius.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada awalnya saya merasa skeptical diskusi akan berhasil\natau berlanjut dan bisa menarik para perserta, terutama dengan situasi politik\ndi Indonesia. Para mahasiwa kebanyakan merasa takut terlibat dalam percakapan,\ndiskusi atau kegiatan politik, karena mereka harus meminta perpanjangan paspor\ndan urusan tetek-bengek dengan Perwakilan Indonesia. Bayangkan, di Konjen RI\nada staf bagian Sosial Politik, Staff Atase Militer dan staf lainnya yang\nsering tiba-tiba masuk ke ruang diskusi atau seminar untuk mengintimidasi para\npeserta.&nbsp; <\/p>\n\n\n\n<p>Namun meskipuan sudah saya coba menjelaskan, AB tetap\nbersikeras mengajak saya untuk mengumpulkan para mahasiswa, pelajar, dan\norang-orang Indonesia serta para mahahasiwa Australia yang belajar tentang\nIndonesia. Pertemuan setiap dua Mingguan itu (forthnightly) awalnya hanya\ndihadiri sekitar 5 sampai 7 orang. Kadang-kadang kalau topik dan pesertanya\nbanyak, maka diskusi informal bisa sampai malam.<\/p>\n\n\n\n<p>AB memang mengetahui benar cara untuk mendekati dan\nberkomunikasi untuk mengundang para mamasiswa-mahasiswi Under Graduate, Post\nGraduate bahkan non-akademi, dan para mahasiswa Australia yang belajar Bahasa\nIndonesia, Hukum, Bisnis dan yang lain, untuk datang ke group diskusi. <\/p>\n\n\n\n<p>Dengan adanya internet serta email, komunikasi makin cepat\ndan Group Diskusi Melbourne yang dimotori AB makin menarik. Ruang yang biasanya\ndipakai cukup memuat 20 orang, makin sempit, sehingga ruang diskusi sering\ndipindahkan secara mendadak. Nara sumber untuk jadi pembicara dan topik-topik\npembicaraan makin luas, dari masalah Bahasa, Budaya, Islam, Ideologi Pancasila,\nkebebasan Pers, Dwi Fungsi ABRI, sampai topik KKN Keluarga Cendana. <\/p>\n\n\n\n<p>Para peserta diskusi merambah ke Univeritas-universitas\nlainya, para mahasiswa, dosen, guru, dari suburb yang jauh, seperti dari\nUniversitas Monash, La Trobe, Victoria University, datang ke kampus MelU.\nPadahal sebelum kedatangan AB, terus terang saja, saya jarang datang ke\nMelbourne University karena jarang ada kegiatan-kegiatan semacam Diskusi\nInformal gaya Satya Wacana.<\/p>\n\n\n\n<p>Kegiatan diskusi dan seminar mulai bergeser dari Universitas\nMonash Kampus Clayton ke Universitas Melbourne. Fasilitas ruangan di Universitas\nMelbourne sejak AB jadi Guru Besar menjadi terbuka dan tersedia tanpa harus\nmengajukan permintaan izin secara formalitas. <\/p>\n\n\n\n<p>Tamu-tamu yang menjadi pembicara sering diundang mendadak\noleh AB, termasuk para pejabat pemerintah Indonesia yang berkunjung ke\nMelbourne. Pertemuan dadakan yang saya ingat, adalah pertermuan dengan Prof.\nMagnis Suseno, yang diundang oleh AB khusus untuk membicarakan situasi politik\npasca-Suharto. <\/p>\n\n\n\n<p><strong>Suara Independen<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pemberedelan tiga majalah Mingguan Tempo, Detik dan Editor\npada tahun 1994 oleh pemerintah Orde Baru menimbulkan reaksi besar baik di\nIndonesia maupun di luar negeri.&nbsp; <\/p>\n\n\n\n<p>Para wartawan yang terkena dampak dari pemberedelan,\nkemudian melakukan protes dan menghimpun para wartawan yang merasa simpatik\nuntuk melawan keputusan menteri Penerangan Harmoko.&nbsp; Dunia Internasional terutama kalangan media\nmenyorot aksi-aksi unjuk rasa di Indonesia dan aksi solidaritas yang terjadi di\nluar negeri, seperti Australia. <\/p>\n\n\n\n<p>Keputusan pemerintah Orde Baru melalui Kementrian Penerangan\nmenjadi bomerang, karena akibat dari pemberedelan ke tiga majalah popular\ntersebut, media asing yang sebelumnya focus kepada masalah-masalah Timor Timur,\nberubah makin memusat ke pemerintahan di Jakarta. <\/p>\n\n\n\n<p>Pada bulan Juni tahun 1994, saya mengorganisasi aksi\nunjukrasa memprotes penindasan Orde Baru terhadap kebebasan pers. Aksi unjuk\nrasa diselenggarakan di depan Kantor Pos Umum GPO- di Burke St di kawasan\nBisnis CBD, kira-kira diikuti oleh sekitar 200 orang. Para pembicara terdiri\ndari Pat Walsh dari ACFOA (Australian Council for Overseas Aid), tokoh Partai\nBuruh ACTU cabang Melbourne dan saya sendiri yang mewakili sebagai wartawan\nIndonesia. <\/p>\n\n\n\n<p>Pada tanggal 15 Agustus saya mendapat berita bahwa para\nwartawan yang bergabung dalam organisasi Aliansi Jurnalis Independen\u2013AJI\nberkumpul di Sirnagalih Bogor, dan menyatakan pembentukan Organisasi AJI\nsebagai organisasi wartawan yang tidak berafiliasi dengan PWI, yang dikenal\ndengan \u201cDeklarasi Sirnagalih\u201d. <\/p>\n\n\n\n<p>Ketika saya mendapat informasi dari sejumlah tokoh yang\nmenanda-tanganinya, ada nama-nama yang sudah saya kenal dan pernah saya\nwawancarai seperti, Eros Djarot Pemimpin Redaksi Detik, Aristides Katoppo,\nGoenawan Muhammad, Ati Nurbati (Jakarta Post) dan Arief Budiman. (Lihat\nDeklarasi Sirna Galih- <a href=\"http:\/\/dhm86.blogspot.com.au\/2016\/07\/deklarasi-sinargalih.html)\">http:\/\/dhm86.blogspot.com.au\/2016\/07\/deklarasi-sinargalih.html)<\/a>.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada pertemuan saya dengan AB di Melbourne, saya ungkapkan\ntentang keterlibatan saya dan teman-teman menyebar luaskan majalah bulanan\nSuara Independen. Kami mendirikan Yayasan Suara Independen dengan kotak Pos:\nSurrey Hills 173 beralamat 100 Union Rd, Surrey Hills VIC 3127.&nbsp; Dalam suatu pertemuan, saya minta agar AB\nmenjadi patron dari yayasan yang kami dirikan bersama Hilarius Tokan untuk\nmembantu perjuangan teman-teman wartawan di tanah air.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMas Arief, ini majalah Suara Independen yang kami jual dan\ndisebarkan di Melbourne buat membantu kawan-kawan kita,\u201d kelihatan raut muka AB\ntersenyum cerah menerima copy majalah yang selama ini ternyata sering dibaca.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cIya saya dengar ada kantor cabang di Melbourne ya? Siapa\nsaja Bel, tolong kenalkan, terus nanti kita kumpulkan untuk berdiskusi,\u201d jawab\nAB bersemangat.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201dWah hanya beberapa gelintir saja Mas yang mau ikut\npergerakan, hehehe, pada takut soalnya masyarakat Indonesia di Melbourne sudah\nhidup dalam \u2018comfort zone\u2019, dan di sini banyak intelnya Mas,\u201d jawab saya. <\/p>\n\n\n\n<p>\u201dLha ini alamat kotak Posnya di Melbourne? Kantornya di mana\nBel?\u201d pertanyaan AB terbaca bahwa dia makin penasaran.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201dKami sewa Kotak Pos Surrey Hill 173. Saya dan Hila sudah\nmendirikan Yayasan Suara Independen, komplit dengan No ABN (Nomer Bisnis) jadi\nkami bisa mengumpulkan dana dan menjual copy majalah.\u201d Jawab saya.<\/p>\n\n\n\n<p>Kedatangan AB di Melbourne, secara pribadi membuat semangat\nsaya dan teman-teman makin besar untuk membantu&nbsp;\nAJI mendistribusikan majalah \u201cUnder Ground\u201d. <\/p>\n\n\n\n<p>AB menjadi langganan Majalah Suara Independen, dan namanya\nterdaftar sebagai Patron dari Yayasan Suara Independen, bersama saya dan Hila\nyang tercatat sebagai pengurus. <\/p>\n\n\n\n<p>Kehadiran majalah yang dilarang Pemerintah Indonesia di\nMelbourne, ternyata menambah keresahan pihak Konsulat Jendral RI di Melbourne.\nSebuah toko Hongkong Asian Grocery di Clayton pernah didatangi seorang warga\nIndonesia yang mengaku utusan dari Konjen RI. Pemilik toko yang saya kenal\nmenceritakan bahwa orang tersebut mengaku dari pihak Konjen dan mengatakan\nbahwa Suara Independen atau \u2018SI\u2019, yang saya kirim ke toko itu untuk dijual,\ndilarang karena diangap majalah \u2018Underground\u2019. <\/p>\n\n\n\n<p>Stanley, pemilik toko itu, mengatakan bahwa kalau majalah\nIndonesia seperti Femina, dan lainnya tidak ada masalah. Tapi kalau majalah\n\u201cSuara Independen\u201d, ia tidak mau menjualnya karena tidak mau berurusan soal\npolitik.<\/p>\n\n\n\n<p>Saya hanya bisa geleng-geleng kepala, berpikir betapa\n\u201cparanoidnya\u201d pemerintah Indonesia, terhadap kehadiran Majalah SI yang berkotak\nPos di Melbourne. Ketika hal ini saya ungkapkan kepada AB, kami hanya tertawa,\nmereka tidak tahu bahwa salah satu pendukung majalah ini adalah Guru Besar\njebolan Harvard University. <\/p>\n\n\n\n<p>***<\/p>\n\n\n\n<p><em>bersambung<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Dikutip dari buku \u2018Arief Budiman, Melawan Tanpa Kebencian\u2019<\/p>\n\n\n\n<p><em>Bela Kusumah\nKasim,&nbsp;wartawan yang tinggal di Melbourne dan berperan aktif pada masa\nreformasi politik masa 1998 lewat tulisan-tulisannya dan mengelola\ndiksusi-diskusi politik.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bela Kusumah Kasim Harian the Age pada bulan April memuat sebuah berita yang meliput kunjungan Menteri Pendidikan Phil Honeywood ke Jakarta. Di bawah headline ditulis \u201cAustralia\u2019s Universities Becomes Safe Heaven for Indonesia\u2019s Dissident\u201d, Australia menjadi tempat \u2018Safe Heaven\u2019 bagi para dissident Indonesia. Pernyataan itu diberitakan dalam liputan kunjungan Menteri Pendidikan Pemerintah bagian Victoria Phil Honeywood, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[12,13],"class_list":["post-240","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-memoar","tag-12","tag-bela-kusumah-kasim"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/240","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=240"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/240\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":351,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/240\/revisions\/351"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=240"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=240"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=240"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}