{"id":2811,"date":"2008-06-05T05:11:00","date_gmt":"2008-06-05T05:11:00","guid":{"rendered":"http:\/\/ceritanet.com\/?p=2811"},"modified":"2020-07-01T05:29:34","modified_gmt":"2020-07-01T05:29:34","slug":"ketika-syukur-datang-dari-sebuah-pub","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=2811","title":{"rendered":"Ketika Syukur datang dari Sebuah Pub"},"content":{"rendered":"\n<p>Presiden Hayat<\/p>\n\n\n\n<p>Penyanyi cantik berbaju minimalis itu mendatangi meja kami begitu istirahat dimulai. \u201cNyanyi lagi ya bang nanti. Tapi samaku.\u201d &nbsp;Aku hanya menggeleng. Teman yang duduk disebelahku beranjak dari kursinya, menawarkan segelas <em>long island<\/em>, dan mem-<em>fait accomply<\/em> penyanyi itu untuk menggantikan dia duduk disebelahku. Beruntung suasananya gelap, jadi tidak ada yang melihat rona merah yang &#8211;avrakedavra&#8211; tiba-tiba muncul menggambari wajahku. Kilatan sinar laser hijau kuning merah juga belum mengenai giliranku.&nbsp;&nbsp;\u201cNyanyi lagi ya bang nanti, suara abang bagus,\u201c penyanyi lain, dan anggota band bergiliran menyalamiku. Menyapaku dengan ucapan yang sama. Sekarang, hampir semuanya berkumpul di meja kami.Temanku yang tadinya duduk disebelah, kulihat, sudah berbincang mesra dengan PR <em>pub <\/em>yang sejak kedatangan kami sudah menyambut dan menemani. Sedari tadi, perempuan cantik ini dengan sabar dan ramah menjaga agar kami semua betah. Bahkan beberapa saat kemudian dia sudah menemani temanku berdansa, mesra sekali.Nada-nada rancak menghentak, menyihir kami semua untuk bergoyang. Tapi aku memilih asyik menenggelamkan stress dan kepenatan ke dalam <em>lime squash<\/em> yang segar. Atau menerbangkannya melalui asap Marlboroku. \u201cKok diam aja bang!\u201d Kuletakkan gelas. Aku menoleh kearah penyanyi itu.\u201cAku. Sedikit bicara, banyak bekerja.\u201c<br>\u201cHa..ha..ha,\u201c dia terbahak-bahak. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &nbsp;&nbsp;<br>\u201cKalau hanya diam saja, buat apa kesini,\u201cdia coba menyeret obrolan manjanya.<br>\u201cTeman-teman mengajakku dan aku menghargai ajakannya. Refreshing! Mencari kunci kebahagian mungkin?\u201c<br>\u201cHa..ha..ha..Abang salah. Tidak ada itu kunci kebahagiaan karena pintunya selalu terbuka. Setiap orang akan bahagia kalau bersyukur. Kebanyakan orang hanya fokus pada apa yang diinginkan bukan fokus pada apa yang dimiliki.\u201c &nbsp;Aku merenungkan ucapannya dan nyengir. Aku menemukan pernyataan atau proposisi menarik itu di sini. Di pub! Tiba-tiba matanya menatap nakal kearahku. Bahunya hanya digoyang-goyangkan sedikit. Tapi asyik banget dilihatnya, hingga menulariku bergoyang. Dari tempat dudukku, dengan mengacung-acung kan telunjuk kiriku, aku mencoba menyelaraskan gerakan tubuh bagian atasku dengan musik. Meskipun <em>wagu<\/em>, tapi cuek. <em>There is no right way to deal with this, right?<\/em>. <em>Just shake your body! step aside the f\u2026\u2026 role (of dance)<\/em>. <em>That\u2019s it!<\/em>&nbsp; &nbsp;Tapi dasar sudah capek banget. <em>Mood<\/em>-ku cepat betul hilang. Aku malah sempat tertidur meskipun hanya duduk di kursi. Tahu-tahu, <em>live music<\/em> sudah mulai lagi.<br>*** Bersyukur. Kebanyakan dari kita baru mampu mengimplementasikannya di mulut saja. Atau mungkin baru sebatas menggumamkannya dalam hati. Bersyukur adalah kata kerja. Mengucapkan Alhamdulillah atau Puji Tuhan bukanlah akhir dari bersyukur. Tetapi awal untuk berbuat yang lebih baik. Kita bersyukur karena punya pekerjaan. Kita bersyukur karena tidak harus berbaju minimalis di malam yang dingin untuk mendapatkan uang. Jadi mari kita cintai pekerjaan yang sudah kita miliki. Kita kurangi mengeluh, kita naikkan standar, dan kita jaga mutu pekerjaan kita.Mari bung!<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Presiden Hayat Penyanyi cantik berbaju minimalis itu mendatangi meja kami begitu istirahat dimulai. \u201cNyanyi lagi ya bang nanti. Tapi samaku.\u201d &nbsp;Aku hanya menggeleng. Teman yang duduk disebelahku beranjak dari kursinya, menawarkan segelas long island, dan mem-fait accomply penyanyi itu untuk menggantikan dia duduk disebelahku. Beruntung suasananya gelap, jadi tidak ada yang melihat rona merah yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[550,176],"class_list":["post-2811","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-memoar","tag-550","tag-presiden-hayat"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2811","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2811"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2811\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2817,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2811\/revisions\/2817"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2811"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2811"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2811"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}