{"id":3227,"date":"2003-09-18T00:11:47","date_gmt":"2003-09-18T00:11:47","guid":{"rendered":"http:\/\/ceritanet.com\/?p=3227"},"modified":"2020-07-02T00:14:08","modified_gmt":"2020-07-02T00:14:08","slug":"wartawan-malaikat-pelacur","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ceritanet.com\/?p=3227","title":{"rendered":"Wartawan Malaikat Pelacur"},"content":{"rendered":"\n<p><em>A. Hermawan<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Keringat belum lagi kering, ketika saya tiba di kantor. Ira, orang sekretariat langsung nyeletuk, \u201cAda orang ngaku wartawan kita. Dia mau wawancara orang yang nelepon ini,\u201d kata Ira. Gagang telepon masih menempel di telinganya. \u201cSuruh tahan Ra, nanti gue ke sana,\u201d kata saya.<\/p>\n\n\n\n<p>Selintas cuma keisengan saja, untuk menangkap orang-orang yang mengaku wartawan dan memeras. Di Indonesia, mungkin ratusan, bahkan ribuan, orang yang bekerja dengan mengaku sebagai wartawan, lengkap dengan kartu identitas, palsu, aspal maupun asli.<\/p>\n\n\n\n<p>Saya bersama tiga orang teman bergegas ke arah kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat. Orang yang menelepon memang diminta menahan orang yang mengaku wartawan dari harian kami itu. Begitu tiba di lokasi, tampak empat orang sedang mengobrol. \u201cGile! gede-gede juga, berani apa kita?\u201d kata seorang rekan. Saya tertawa saja.<\/p>\n\n\n\n<p>Ternyata hanya seorang di antara empat orang itu yang mengaku wartawan. Begitu teman saya turun dari kendaraan dan menanyakan, \u201cYang mana wartawannya?\u201d. Tiba-tiba saja salah seorang di antaranya langsung melarikan diri. Entah siapa yang memulai tiba-tiba saja, seseorang meneriaki orang itu maling. Warga permukiman padat di sekitar pekuburan Karet itu langsung saja ramai-ramai menggebuki orang itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Untung salah seorang teman saya\u2014seorang anak Irian yang berbadan besar\u2014mencegah melindungi &#8216;wartawan&#8217; itu. Sejumlah warga masih teriak-teriak, \u201cBakar-bakar\u2026!!\u201d. Kami segera membawa orang itu ke tempat aman. Tepatnya sebuah klinik, di mana dia mengaku sebagai wartawan harian kami dan ingin mewawancarai pengelola klinik itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Kasihan juga. Wajahnya bengap, darah mengalir dari hidungnya. Bajunya robek karena ditarik-tarik massa pengeroyok. Gila, ternyata dia memang melengkapi dirinya dengan identitas palsu. Sebuah kartu identitas nama, lengkap dengan foto dan nama dan logo media kami dibawanya. Tidak lupa puluhan kartu namanya lengkap di sakunya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKasihani saya, bang. Jangan dibawa ke polisi,\u201d katanya memelas. Namun aparat keamanan kampung itu terlanjur menelepon polisi, yang tidak lama kemudian datang menjemput. \u201cSaya cuma cari makan&#8230;\u201d katanya pelan. Dia bercerita bahwa kartu identitas yang dia miliki dia pesan dari temannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Di Jakarta\u2014boleh jadi juga di kota-kota di negeri kami\u2014mereka yang mengaku sebagai wartawan bukanlah hal aneh. Mereka tersebar di mana-mana, dari mulai gedung instansi pemerintah, gedung parlemen, hingga hotel-hotel atau di mana ada acara apa saja berlangsung. Apalagi di jaman orang bebas terbitkan media massa apa saja seperti sekarang, siapa saja bisa mengaku sebagai wartawan. Belum lagi, banyaknya media berita internet, para pemalsu itu dengan gampang mengaku sebagai wartawan &#8216;dot com.&#8217;<\/p>\n\n\n\n<p>Seperti lazimnya wartawan beneran, mereka juga tergabung dalam organisasi-organisasi (atau gerombolan). Modusnya jelas: mencari uang dengan mengatasnamakan wartawan. Para &#8216;wartawan&#8217;\u2014wartawan yang mengaku bersih, biasanya memanggil gerombolan mereka sebagai wartawan bodrek. (Mungkin , ini mungkin lho, istilah itu muncul dari iklan obat sakit kepala Bodrex awal 70-an. Saat itu digambarkan pil-pil Bodrex berbaris bergerombol ke sana-kemari, membasmi sakit kepala, flu dan pilek).<\/p>\n\n\n\n<p>Cerita model begini\u2014tentang wartawan boongan itu&#8211; memang bukan cerita baru. Dengan berpenampilan seperti wartawan, menenteng kamera, rompi dengan tulisan &#8216;PERS&#8217; besar di punggung, mereka tampil percaya diri. Pernah, suatu saat bahkan, usai wawancara seorang direktur perusahaan yang baru saja mengumumkan perusahannya go public dimintai uang. Saat sumber itu mengaku tidak memiliki dana cash, mereka dengan tenang menggiring orang itu ke sebuah anjungan tunai mandiri (ATM) untuk menguras isinya.<\/p>\n\n\n\n<p>Pernah juga seorang sumber\u2014seingat saya&#8211; ini terjadi di kawasan Gedung DPR malah seorang pejabat sampai terobek-rombek dompetnya. Gara-garanya, dia membagi kartu namanya ke sejumlah wartawan. Eh, melihat hal itu puluhan &#8216;wartawan&#8217;lainnya segera mengerubuti orang itu, dan menarik dompet dan segala isinya! Bukan hanya kartu nama. Pejabat itu hanya tersenyum pahit.<\/p>\n\n\n\n<p>Pernah juga terjadi, sejumlah anggota DPR didatangi sejumlah &#8216;wartawan&#8217; yang membawa semacam list sumbangan duka cita karena, katanya, ada seorang wartawan meninggal. Sejumlah anggota DPR pun memberikan sejumlah dana, hingga ratusan ribu rupiah\u2014maklum, anggota Dewan\u2014kepada mereka. Belakangan diketahui, orang yang disebutkan meninggal itu ternyata masih sehat wal afiat alias masih hidup. Para peminta sumbangan itu memang hanya penipu-penipu tengik yang mengaku wartawan<\/p>\n\n\n\n<p>Mereka memang hebat untuk bidangnya. Mereka bahkan bisa tahu acara apa saja yang terselenggara di hotel atau gedung mana pun. Apalagi, jika penyelenggara acara tersebut sebuah perusahaan atau lembaga tertentu yang tajir.<\/p>\n\n\n\n<p>Itu baru cerita di Jakarta. Pernah suatu saat, adik saya\u2014seorang guru di sebuah kota kecil selatan Bandung\u2014 menelepon. Dia menceritakan, bagaimana saat pendaftaran murid baru banyak &#8216;wartawan&#8217; berdatangan ke sekolahnya. Mereka meminta wawancara kepala sekolah karena menemukan penyimpangan dalam proses penerimaan mahasiswa baru. \u201cEh, belakangan pulangnya mereka minta ongkos,\u201d cerita adik saya di ujung telepon. \u201cPak Kepsek enggak punya uang,\u201d katanya. Terus? \u201cAkhirnya kami patungan, dan mereka kami bagi masing-masing Rp Rp 5.000 (!) untuk ongkos ojek,\u201d katanya.<\/p>\n\n\n\n<p>Rp 5.000 ! Harga semangkuk bakso. Para guru memilih memberi uang itu karena malas berurusan dengan para &#8216;wartawan&#8217; yang kata adik saya, sangar-sangar dan pertanyaannya galak-galak&#8230;.<br>***<\/p>\n\n\n\n<p>Ah, sepertinya halaman ini terlalu sempit untuk membahas persoalan para bandit yang mengaku-ngaku wartawan itu.Menulis ringan semacam ini saja, bisa berbuku-buku kita susun dengan isi melulu wartawan bodrek, wartawan amplop. Mungkin saatnya, para wartawan beneran pun saatnya merenung diri. Mengapa mereka bisa muncul, merajalela dengan leluasa?<\/p>\n\n\n\n<p>Tengok diri kita, teman-teman wartawan sekitar kita, apa memang isinya wartawan malaikat semua. Wartawan yang anti-amplop (dan isinya) tentu? Saya sendiri menjadikan semua itu sebagai bahan tertawaan yang pahit. Saya mungkin jujur\u2014(Gila, saya pernah janjian dengan seorang teman kalau salah seorang dari kami menerima amplop, seorang lainnya berhak membunuhnya!). Tetapi betapa menyedihkannya teman-teman di sekitar, yang dengan enteng bisa menerima barang haram itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Banyak di antara wartawan beneran, jujur saja, menerima apa yang juga diterima wartawan bodrek itu. Bahkan, ada kelompok-kelompok wartawan, organisasi, club, atau apalah namanya yang bisa mengatur sebuah berita bisa turun di berbagai media. Sumber-sumber berita, orang-orang public relation, setahu saya juga &#8216;memegang&#8217; wartawan-wartawan tertentu di berbagai media. Mungkin saja, sekarang hampir semua media mengumumkan, &#8216;wartawannya dilarang menerima apapun dari sumbernya.&#8217;<\/p>\n\n\n\n<p>Tetapi berapa banyak media atau bahkan organiasi kewartawanan, yang mempunyai semacam Dewan Kehormatan Wartawan. Atau mungkin sebuah lembaga etik, yang bertugas menelusuri, membuktikan dan memecat mereka yang terbukti menerima amplop? Bahkan, ada pula organisasi wartawan yang secara terbuka membolehkan wartawan menerima amplop atau imbalan. \u201cSepanjang dia tidak meminta,\u201d kata pimpinan organisasi pers itu. \u201cJuga tidak mempengaruhi isi beritanya,\u201d lanjutnya. Hah! Bualan macam apa itu?<\/p>\n\n\n\n<p>Memang ada media yang konsisten memecat wartawan yang menerima amplop, apalagi meminta imbalan, atau apa saja dari medianya. Tetapi sejauh mana konsistensinya menelusuri setiap laporan yang masuk mengenai &#8216;kelakuan&#8217; wartawannya itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Bagi banyak wartawan penerima amplop alasan gaji yang minim selalu menjadi alasan. \u201cKita enggak boleh menerima amplop. Harus idealis. Tetapi kalau media kita juga dijalankan dengan orientasi bisnis, apa idealisme masih menjadi bendera perusahaan kita. Bisnis adalah mencari untung sebanyak mungkin, dan mencari untung sebanyak mungkin itu bukan idealisme&#8230;,\u201d kata seorang wartawan beneran beralasan.<\/p>\n\n\n\n<p>Tetapi kita juga tahu, banyak dari wartawan yang menghalalkan amplop, imbalan atau sejenisnya hidup dengan gelimang kaya. Bahkan, bukan rahasia lagi, jika ada media yang memang menawarkan halamannya kepada siapa saja dengan imbalan tertentu. Jika begitu, apa bedanya mereka dengan pelacur. Pelacur. Semua tahu diharamkan, tetapi selalu saja dicari karena diperlukan.<\/p>\n\n\n\n<p>Sudah ah, jadi ngelantur. Akhirnya, kira-kira , selama wartawan beneran juga menerima amplop, fasilitas, atau imbalan apa saja jangan harap mereka yang mengaku wartawan, wartawan bodrek, WTS atau apa saja bisa lenyap. Lha, kalau di lapangan, saat mereka berbaur dengan wartawan beneran pun enggak ada bedanya.<\/p>\n\n\n\n<p>Sudah membedakannya, mana malaikat mana pelacur&#8230;<br>***<br><em>Pamulang, 11 September 2003<\/em><br><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>A. Hermawan Keringat belum lagi kering, ketika saya tiba di kantor. Ira, orang sekretariat langsung nyeletuk, \u201cAda orang ngaku wartawan kita. Dia mau wawancara orang yang nelepon ini,\u201d kata Ira. Gagang telepon masih menempel di telinganya. \u201cSuruh tahan Ra, nanti gue ke sana,\u201d kata saya. Selintas cuma keisengan saja, untuk menangkap orang-orang yang mengaku wartawan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[21],"tags":[614,615],"class_list":["post-3227","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-esai","tag-614","tag-a-hermawan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3227","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=3227"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3227\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3228,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3227\/revisions\/3228"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=3227"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=3227"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ceritanet.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=3227"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}